
Keesokan harinya, Irma kembali menghubungi Yuni via visual call.
"Nin, bagaimana bisa kamu melahirkan secepat ini?" Irma menatap wajah sendu milik Nina di layar ponsel.
"Aku mengalami kecelakaan, jadi harus segera melakukan caesar"
"Bagaimana dengan bayimu?"
"Doain saja semoga anaku kuat, Dia laki-laki Ir"
"Tapi kenapa kamu tidak memberitahuku?" Walaupun Irma hanya berbicara lewat sambungan jarak jauh, namun seolah dia sedang bersama Nina saat ini.
"Aku tidak mau mengganggumu?" sahut Nina.
Hening selama beberapa saat mereka saling diam.
"Ir kenapa diam?"
"Aku pengin marah sama kamu, kenapa kamu tidak jujur saja sama keluargamu, aku kasihan sama umi"
"Beliau baik-baik saja kan Ir?"
"Dia merindukanmu? dia juga minta alamatmu"
"Apa kamu memberitahunya?"
Irma menggeleng "Aku minta nomor ponsel milik mas Haidar, umi bilang, dia sedang ada tugas di Papua, mas Haidar juga membawa serta mba Dini dan Jenaira. Tolong kamu katakan pada kakakmu ya, nanti nomornya aku kirim by sms"
"Iya"
"Sekarang kondisimu gimana?" tanya Irma masih menatap wajah Nina.
"Aku sudah mulai membaik, dua hari lagi di izinkan pulang, tapi anaku masih harus tinggal disini"
"Coba kamu bicarakan pada keluargamu, setidaknya kamu tidak akan melewati ini sendiri. Walaupun suamimu tidak mencintaimu, tapi kamu punya abi dan umi, kakak yang menyayangimu, dan mertua yang baik. Pasti kamu akan mendapat dukungan dari banyak orang"
"Aku takut Ir, apalagi caraku hamil ini sangat memalukan, yang harus menjadi selingkuhan suamiku terlebih dulu. Bukan berarti aku menyesal atas kehamilanku, hanya saja aku menyesal sudah melakukan hal gila itu. Jika aku tahu kegilaanku berujung seperti ini, aku tidak akan melakukan penyamaran itu, dan entah kenapa waktu itu aku benar-benar tidak bisa menahannya, aku merasa di cintai sama suamiku saat itu, aku terhanyut dengan sentuhannya"
Irma menarik napas dalam "Ya sudah, aku mau nanti kamu cerita semua sama mas Haidar"
"Bisa di sambungkan sama mas Haidar Ir?"
Tanpa menjawab, Irma segera menelfon Haidar.
__ADS_1
"Assalamualaikum"
"Wa'alaikumsalam, mas Haidar?" sahut Irma, kini sambungan sudah terhubung dengan Nina. Mereka melakukan panggilan conference.
"Iya siapa Ini?"
"Irma Mas" Tiba-tiba Nina dan Irma kompak menampakkan wajahnya.
"Nina, Irma" Haidar mendesah lega, wajah di balik layar ponselnya, adalah adik yang dia cari selama ini.
"Nina, bagaimana kabarmu, kenapa membuat abi dan umi cemas?"
"Maaf mas, waktu itu ponsel ku hilang, kabar ku baik, mas sendiri bagaimana?"
"Mas baik juga"
Irma membiarkan kakak adik itu terlibat perbincangan.
"Mas" panggil Nina pelan.
"Ada apa?"
"Bisa tidak untuk sementara jangan mencariku dulu, aku masih ingin berkarir"
"Aku kakakmu, jika kamu tidak ada kabar, apa salahnya seorang kakak mencari adiknya?"
"Tidak ada yang salah, tapi tolong banget mas, nanti pasti aku pulang kok"
"Tapi kenapa?" tanyanya penasaran.
"Aku pengin menata diriku saja, nanti kalau siap, aku akan jelaskan semuanya?"
"Menjelaskan tentang apa?" Haidar tampak menautkan alisnya.
"Pokoknya aku minta tolong, mas bisa bilang ke abi dan umi kalau aku baik-baik saja. Please mas, kalau mas Haidar tidak mau membantuku, aku akan pergi dan tidak akan pulang"
"Nina" sambar Irma "Kamu apa-apaan?"
"Kamu kalau ada masalah tidak begini caranya, suamimu juga mencarimu" Haidar sedikit menaikan nada bicaranya.
Dada Nina tiba-tiba berdesir hebat kala mendengar kata Suamimu.
"Pokoknya, jangan mencariku dulu, sampai aku kembali nanti, dan tolong bilang ke mas Danu untuk jangan mencariku juga"
__ADS_1
Nina langsung memutuskan panggilannya secara sepihak.
"Dimatiin mas" ujar Irma.
"Ada apa sebenarnya sama Nina Ir?"
"Mas lebih baik kita turuti dulu permintaan Nina, kalau dia sudah siap, pasti akan kembali dan menceritakan semuanya"
"Tapi sampai kapan Ir, mas khawatir"
"Mas Haidar jangan khawatir, Nina ada ART yang menemaninya, aku akan menemaninya juga, nanti kalau terjadi sesuatu, aku pasti segera hubungi mas Haidar"
"Ya sudah kalau begitu, mas juga tidak bisa berbuat apa-apa, mas sekarang sedang di Papua. Tapi titip Nina ya Ir, kalau ada apa-apa segera telfon mas"
"Pasti mas"
"Ya sudah mas banyak kerjaan" Sambungan di putus oleh Haidar.
...🌻🌻🌻🌻🌻🌻...
Angin berhembus romantis terasa begitu mesra membelai tubuh Danu dan Rio, mereka tengah duduk di tepi danau kecil yang berada di samping vila milik Danu. Vila dimana Danu pernah menikmati cinta bersama istrinya saat dia belum mengetahui kebenarannya.
Dua hari yang lalu, Danu mendapat pesan whatsapp dari kakak iparnya untuk tidak lagi mencari Nina. Itu merupakan perintah dari Nina istrinya.
"Mungkin dia ingin bebas, sejenak melupakan perlakuanmu terhadapnya. Kamu sadar kan, sikapmu padanya sudah sangat menyakiti hatinya" pungkas Rio "bayangkan dua tahun dia seperti hidup dalam penjara, dengan aktifitasnya di rumahmu yang itu-itu saja. Dan kamu, tidak pernah menghargainya. Masih mending Nina akan kembali, kalau aku jadi Nina, tidak sudi balik lagi ke kamu"
"Jika dia ingin menghukumku, kenapa harus pergi dari orang tuanya juga Rio"
"Jika kamu tidak bisa menunggunya, ceraikan saja Nina" Seketika Rio mendapat tatapan tajam dari Danu. Rio yang mendapat tatapan itu tampak santai.
"Entah itu kapan, mas Haidar bilang Nina akan kembali. Kalau begitu baiklah akan aku tunggu dia" pungkas Danu lalu berdiri dan pergi meninggalkan Rio,.Dia berniat masuk ke dalam vila karena hawa dingin sudah menjalar ke tubuhnya.
Danu menghangatkan tubuhnya di perapian, dengan pikiran yang carut marut mengingat hal apa saja yang di lakukan Nina selama hidup bersama.
Kenangan menginap di sini bersama Nina yang ia kira Nesa pun berputar di otaknya. Ia menggelengkan kepala, lalu sedikit menyunggingkan senyum saat teringat percintaannya di ranjang.
"Padahal rasa masakan Nesa dengan masakan Nina itu sama, kopi buatan Nesa pun sama persis dengan takaran buatan Nina, tapi kenapa aku tidak menyadarinya saat itu"
"Ternyata wanita yang aku pilih dan ingin aku pertahankan itu istriku sendiri"
"Wanita yang memiliki wajah teduh dan membuatku nyaman itu adalah wanita yang halal ku sentuh"
Minimnya pengetahuan tentang agama membuat Danu tak tahu bahkan tak menyadari bahwa kata perceraian yang kerap ia lontarkan pada Nina sudah menjatuhi talak satu. Namun itu semua tanpa sepengetahuan keluarga.
__ADS_1
BERSAMBUNG