
POV NINA
Aku yang baru saja sampai di rumah, setelah menjemput Kennan di rumah Irma, saat pintu gerbang terbuka, tampak mobil mas Danu sudah terparkir di halaman rumah. "Mas Danu sudah pulang"
"Ayah di lumah ya bunda?"
"Iya, ternyata ayah sudah pulang sayang" dengan hati-hati aku memarkirkan mobilnya di samping mobil mas Danu.
Kennan berlari saat melihat ayahnya berdiri di ambang pintu, mas Danu sudah mengganti bajunya dengan yang lebih santai.
"Ayaah" teriaknya sembari berlari.
Mas Danu merentangkan kedua tangan lalu mengangkat tubuh putra kesayangannya, ia menciumi pipinya dengan gemas.
"Mas tumben sudah pulang?" ku kecup punggung tangan mas Danu.
"Iya, sudah tidak ada kerjaan di kantor, jadi pulang"
"Jam berapa sampai rumah?"
"Baru saja, sekitar setengah jam yang lalu"
"Sudah makan?" tanyaku, Kami berjalan bersisian, melangkahkan kaki memasuki rumah, sementara Kennan masih berada dalam gendongan mas Danu.
"Sudah di kantor, makasih sudah antar makan siang ke kantor?"
"Apa sekertaris kesayangan yang memberitahu mas?" tanyaku dengan ketus, membuat mas Danu menatapku penuh heran, saat ini kami tengah duduk di meja makan.
"Tidak, mas sudah tahu pasti kamu yang kirim makanan. Kenapa kamu bilang sekertaris kesayangan?"
Hening, mata kami saling memandang selama beberapa detik, namun aku menyerah, ku lemparkan pandanganku menatap Kennan yang berada di pangkuannya, aku tidak sanggup menatapnya lebih lama.
"Ayah, ayo belenang" ucapan Kennan membuyarkan tatapan mas Danu padaku.
"Tanya bunda dulu"
__ADS_1
"Boleh ya bund"
"Jangan lama-lama ya" ucapku lalu berdiri dari tempat duduk. Rasanya aku ingin sekali menumpahkan rasa cemburuku di hadapannya.
**********
Malam hari setelah menidurkan Kennan, aku berjalan ke arah jendela untuk menutup tirainya, lalu berjalan menuju meja rias, aku menyisir rambutku setelah mengoleskan cream di wajah. Sementara mas Danu, ia duduk di tempat tidur menyenderkan punggungnya di kepala ranjang dengan sebuah ponsel berada di tangannya.
"Mas" panggilku ikut merebahkan diri di sisi ranjang.
"Hem..." Ia menjawab tanpa menoleh, matanya masih fokus menatap layar ponselnya.
"Bisa mas jelaskan, kenapa sekertaris mas bilang kalau mas tertarik padanya?"
Mas Danu meletakan ponselnya di atas nakas ketika mendengar pertanyaanku.
Jantungku seperti mau runtuh, dan seketika wajahku memanas. "Menikah dengan mas adalah sebuah ketakutan bagiku"
Ku lirik dengan ekor mataku, mas Danu mengangkat satu alisnya "Itu dulu, tapi sekarang, apa masih takut, sedangkan aku sudah tulus mencintaimu"
Berkali-kali aku menelan salivaku. "Aku hanya memin___"
"Apa susahnya mengatakan kalau kamu cemburu" ucap mas Danu dengan posisi ujung hidung kami yang saling bersentuhan. "Jelaskan apa yang membuatmu jengkel"
"Sekertaris mas bilang kenapa aku kembali setelah sekian lama menghilang, ucapannya membuatku tersinggung, apalagi saat dia mengatakan mas tertarik padanya"
Hening...
"Kenapa diam, apa kamu menyesal telah memberitahu ucapan Rara pada suamimu?"
"Apa???? mas Danu tahu apa yang sedang ku pikirkan?" tanyaku dalam hati
"Aku tidak pernah tertarik pada Rara, dan kamu adalah istri dari atasannya, seharusnya kamu bisa lebih berkuasa dari pada dia. Kamu bisa memarahinya saat dia menyinggungmu, atau kamu bisa langsung memecatnya"
Mas Danu tampak menggeser tubuh Kennan ke tepian ranjang.
__ADS_1
Mas Danu menyuruhku untuk ketengah, Dengan cepat dia merebahkan diri. Tangannya yang panjang dan kekar memeluk tubuhku yang membelakanginya "Tidurlah, aku milikmu, aku tidak pernah tertarik dengan wanita selain kamu, cukup pengalaman waktu dulu yang mengajariku untuk lebih menghargai istriku"
Ucapan mas Danu melegakan hatiku, Pelan-pelan ku pejamkan mata hingga beberapa menit, kesadaranku pun menghilang di pelukan mas Danu.
*******
Pagi harinya, ku lihat mas Danu sudah siap dengan pakaian kantor. Mengenakan kemeja dan dasi berwarna biru navy, di padukan dengan jas warna senada, setelan yang sudah ku siapkan tadi pagi, membawanya tampil mempesona hari ini.
Mas Danu berdiri tegap di hadapan cermin, Ia menatap dirinya melalui pantulan kaca, dengan kedua tangan di masukan ke dalam saku celana, sorotan matanya, menyiratkan ketegasan seorang pemimpin.
"Mas sudah siap?" ku hampiri dia, yang masih fokus meneliti penampilannya di balik cermin.
"Sudah" sahutnya, dengan gerak cepat mas Danu meraih pergelangan tangan ku,
"Drama apa lagi ini?"
Mas Danu menariku hingga tubuh kami menempel begitu rapat, tangan kokohnya melingkar di pinggangku. Lagi-lagi sikapnya membuatku seolah tersengat listrik. ku dongakan kepalaku, kedua tangan ku daratkan di dada bidangnya, aroma maskulin mas Danu menusuk indra penciumanku, aku semakin tidak bisa mengendalikan diri.
"A-ada apa mas?" tanyaku gugup seraya menundukan kepala.
Tanpa menjawab, Mas Danu justru mengangkat daguku, ia sedikit menunduk hingga mempertemukan bibir kami, sedikit memberikan lum*atan, Ciuman yang rileks dan luwes, dan jujur ini sangat menentramkan jiwaku.
Setelah puas, mas Danu melepaskan pagutannya, lalu melayangkan tatapan teduh padaku, membuatku terhipnotis untuk menyelami matanya hingga kedalam retinanya.
"Setiap hari harus melakukan ini, agar terbiasa" bisiknya dengan ibu jari mengusap lembut bibirku.
Tanpa menghiraukan ucapannya, aku berusaha melepaskan tangannya dari pinggangku, namun tidak bisa, ia kembali mel*umat bibirku. Hingga tiba-tiba ada suara anak kecil menggema di ruangan ini.
"Bunda sama ayah lagi ngapain?" tanyanya tiba-tiba.
Sontak saja aku mendorong tubuh mas Danu.
"Sayang kan tadi bunda sudah bilang supaya Kennan tunggu di meja makan"
"Bunda lama, jadinya Kennan naik"
__ADS_1
Aku berjalan menuju meja rias di belakang mas Danu. Tidak berbeda denganku, mas danu juga tampak gugup kedapatan oleh putranya dengan bibir kami yang saling bertaut. Aku menyapukan sedikit lipstik yang memudar akibat ulah mas Danu
BERSAMBUNG