
Sore hari tepat pukul 04:00, Danu keluar dari kantornya, ia berencana untuk menjemput Kennan di rumah Irma.
Sebelumnya Rio sudah memberitahukan tentang rencananya menitipkan Kennan pada Danu selama Dia dan Irma bulan madu. Danu pun tidak keberatan dan justru merasa senang karena setiap melihat wajah bocah kecil itu, ada rasa sayang yang tidak bisa di ungkapkan.
"Titip anak bro, jangan sampai lecet" pungkas Rio.
"Siap, kamu nikmati saja bulan madumu" Danu mengedarkan pandangan. "Dimana Kennan?"
"Maminya lagi bantu dia siap-siap. Nanti mbak Yuni juga akan ikut menginap di rumah abi, dia akan menemani Kennan selama kamu bekerja, dan setelah kamu pulang kerja, kamu harus temani dia"
"Beres" jawab Danu singkat.
Kedua pria itu pun berbincang banyak hal.
*******
Sementara di kamar, setelah Irma mengemasi semua barang-barang Kennan, ia berbicara pada Yuni.
"Mba, nanti ayahnya Kennan mau jemput dia, dan mba Yun ikut dengannya ke rumah orang tua Nina. Tapi ingat, mba Yuni jangan bilang dulu kalau Kennan anak Nina, biar Nina nanti yang jelaskan sendiri, soalnya Nina tidak mau Danu tahu tentang Kennan dari orang lain"
"Ok mba" jawab Yuni mengangguk.
"Titip Kennan ya mba Yun, sebentar lagi Nina pulang kok" Irma memegang tangan Yuni. "Tolong banget jangan katakan apapun, mba Yun bekerja seperti biasa aja di depan abi dan umi"
"Mba Irma tenang saja, saya sudah dari kecil merawat Kennan, akan saya jaga dengan baik, mbak Irma juga tak perlu khawatir, insya Allah saya bisa menjaga rahasia"
"Makasih mba, kalau gitu ayo sekarang kita keluar, ayahnya sudah datang" Irma menarik koper berisi barang-barang Kennan, satu tangan lainnya menggandeng tangan anaknya. Mereka hendak menuju ke ruang Tamu.
"Sudah siap anak papi?" Rio berdiri dari sofa, berjalan beberapa langkah menghampiri Kennan lalu mengangkat tubuhnya "Kennan nanti malam main PS sama om Danu ya, Kennan bisa panggil om Danu, ayah"
Mendengar ucapan Rio, Danu mengerutkan kening. "Jangan, sebentar lagi Nina kembali, kalau dia tahu bocah ini memanggilku ayah, dia bisa salah paham"
"Yakin nih tidak mau di panggil ayah?" tanya Rio seraya memicingkan mata.
"Bukannya tidak mau" Sergah danu mengelak. "Ok Kennan, sudah siap ke rumah kakek abi?"
"Sudah om, tapi janji, besok main layang-layang"
Seketika Danu mengalihkan tatapannya pada Rio seolah meminta penjelasan
"Apa?" tanya Rio lalu melipat tangannya di dada.
Danu tersenyum getir melihat tingkah asistennya, tatapannya ia alihkan kembali pada Kennan "Siap deh, besok om beli layang-layang, kita terbangin sama-sama"
"Yeeyy" Seru Kennan riang.
"Dada mami" Kenan menyalami dan mencium tangan Irma dan Rio bergantian. Lalu beralih meraih tangan mamanya Irma "Nenek, Ken pelgi dulu ya?"
"Iya sayang, Kennan selalu hati-hati ya, jangan nakal" sang Nenek lalu mencium pucuk kepala bocah yang sudah ia anggap cucunya sendiri.
"Ayo sayang" Ajak Danu bersamaan dengan tangan Danu yang menggandeng tangannya. "Sini mba Yun, biar saya saja yang bawa koper Kennan" Ucapan Danu di anggukan kepala oleh Yuni.
"Pulang dulu Ri, kalian hati-hati, Nikmatin saja bulan madunya, jangan pikirkan urusan kantor" Tambah Danu pada Rio.
"Thanks bro, cuma dua minggu aku titip anak" Rio memukul lembut lengan sahabatnya.
Pria itu berjalan dengan menggandeng tangan Kennan, sementara tangan lainnya menarik koper kecil berisi baju Kennan.
Mobil hendak melaju meninggalkan Rumah Irma, Danu menekan klakson sebelum keluar dari pintu gerbang. Rio dan Irma kompak melambaikan tangannya.
__ADS_1
"Dada mami, dada papi" teriak Kennan dari dalam mobil.
Rio dan Irma kembali masuk saat mobil sudah tak terlihat dari pandangan mereka.
"Mas apa tidak apa-apa?"
"Kamu jangan khawatirkan Kennan, dia sudah bersama ayahnya, lebih baik kamu kemasi barang-barangmu, sepulang dari Paris, kita akan pindah dan tinggal di rumah mas"
"Tapi kan Danu belum tahu kalau Kennan anaknya"
"Sebentar lagi akan tahu sayang, kita hanya menunggu kurang lebih satu minggu, Nina akan pulang dan menjelaskan semuanya"
...🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹...
"Mba Yun nanti kita mampir dulu ke rumah mamahku ya, ada sesuatu yang ingin aku ambil di sana" ucap Danu melirik ke kursi belakang melalui pantulan spion.
"Iya pak"
"Mba Yun, kata mami Ilma, sebentar lagi bunda pulang"
"Iya sayang, nanti Kennan boleh bobo sama bunda sepuasnya"
Danu heran dengan obrolan Kennan dan mba Yuni, Ia menggelengkan kepalanya bingung.
"Bunda siapa maksudnya? anak itu lucu sekali, baru saja maminya mau berangkat, dia bilang sebentar lagi pulang. Dasar anak kecil, mau-maunya di bohongin maminya, padahal maminya mau enak-enak bikinin dia adek"
Hampir mau maghrib, Danu sampai di rumah orang tuanya, Ia memarkirkan mobilnya di pelataran rumah masa kecilnya.
"Ayo Ken kita masuk, kita makan malam di sini, setelah itu, baru kita pulang ke rumah kakek abi" ujar Danu menggandeng tangan Kennan.
"Assalamualaikum"
"Mama kemana bi?" tanyanya
"Ada di dapur den"
"Mba Yun ayo masuk" perintah Danu pada pengasuh Kennan.
"Ini lumah siapa om besal banget?" Anak itu berdecak kagum.
"Ini rumah mamahnya om Danu sayang, Kennan nanti boleh panggil Oma sama opa"
"Siapa yang datang bi?" tanya mamah saat sang ART sudah berada di dapur.
"Itu bu, den Danu, dia bawa anak kecil, dan seorang wanita"
Mama mengerutkan dahinya "Anak kecil dan seorang wanita? apa wanita itu Nina bi?"
"Bukan bu, dia sepertinya wanita biasa"
"Ya sudah saya lihat dulu ya bi, bibi tolong lanjutin ini, lima menit lagi matiin kompornya, tutupnya jangan di buka dulu, biar dagingnya empuk bi"
Ketika sang mama berjalan menuju ruang Tamu, mamah melihat Danu dan anak kecil itu sedang bermain mobil remot, mereka sangat kompak bak Ayah dan anak.
Persekian detik, tingkah mereka mengingatkan pada Danu yang saat masih kecil juga suka sekali beradu mobil remot dengan sang papa.
Hati mama berdesir saat menatap wajah anak itu, dia benar-benar mirip dengan Danu saat seusianya. Matanya, hidungnya, bibirnya, membuat mamah mengerjapkan mata beberapa kali.
"Mamah" panggil Danu. Sang mama masih fokus menatap Kennan "mamah kenapa?" Danu mengecup punggung tangan mamanya.
__ADS_1
"Oh tidak apa-apa, siapa anak ini Nu?"
"Kennan mah, dia anaknya Irma, istrinya Rio dan juga temannya Nina"
"Jadi ini anak sambungnya Rio?"
"Iya mah" sahut Danu. "Ken, ini mamahnya om, panggil Oma ya!" Kennan mengangguk seraya meraih tangan mama lalu mencium punggung tangannya. "Dan itu mba Yuni, baby sisternya" Danu menunjuk mba Yun dengan dagunya.
"Danu, kenapa anaknya Irma bisa sangat mirip denganmu?" bisik mamah di telinga Danu sesaat setelah bersalaman dengan Yuni.
"Mama yang benar saja"
"Kamu tidak percaya sama mama?" Mama masih berbisik "Ayo sekarang ikut mamah ke kamar mamah"
"Mba Yun, tolong jaga Kennan dulu ya" mama lalu menarik tangan Danu, dan bergegas membawanya ke kamar.
Sesampainya di kamar, mama membuka laci nakas berisi album foto masa kecil Danu, lalu meraihnya.
Ia membuka lembar demi lembar, untuk di perlihatkan pada Danu. Walaupun sedikit usang, namun tetap terlihat jelas, kemiripan antara Danu kecil, dengan Kennan.
"Coba Nu, kamu lihat ini, sangat mirip kan?" ucap mama seraya menunjukan foto anak kecil yang sedang memegang remot mobil-mobilan.
Dengan gesit Danu meraih ponsel di saku celananya, ia ingat saat itu sempat memfoto Kennan saat bermain bersama di rumah abi.
"Benar mah, kok bisa si?" Danu menatap layar ponsel lalu beralih menatap album foto masa kecilnya.
"Papanya Kennan ada di mana Nu?" tanya mama serius.
"Danu juga tidak tahu mah, umi cuma bilang kalau Irma tidak ada suami. Mungkin ini cuma kebetulan saja mah"
"Apa kamu pernah berpacaran dengan Irma?"
"Mama kok semakin ngaco si, jelas tidak pernahlah mah, Danu baru kenal Irma dua bulan"
"Coba kamu ingat-ingat lagi, siapa tahu Irma pernah berkencan denganmu, bisa saja kan kamu melakukannya tanpa sadar"
Jantung Danu mendadak berdetak kencang. "Aku saja tidak menyadari bahwa Nesa itu Nina, apa mungkin aku melakukannya pada Irma saat aku sedang mabuk?" Danu menyugar rambutnya Ia merasa sangat frustasi.
"Danu" panggilan mamah membuyarkan lamunan Danu. Terlihat wajah Danu memerah.
"Nu, mama saranin kamu cek DNA Kennan, untuk memastikan saja. Kalau memang DNA kalian tidak cocok, berarti itu hanya sebuah kebetulan"
"Kita lihat saja nanti mah, Danu bingung, bagaimana kalau cocok, Nina sebentar lagi kembali mah. Dan Rio baru saja menikahi Irma"
"Kita lakukan diam-diam saja sayang" ujar Mama.
Danu mengusap wajahnya gusar. Antara mau menyetujui permintaan sang mama, atau menolaknya.
*****
Usai sholat maghrib, papa, mama, Danu, Kennan dan juga mba Yun berkumpul di meja makan untuk menyantap makan malam, mba Yun fokus menyuapi Kennan yang sangat suka makan daging buatan mama.
Sang mama terus memperhatikan Kennan yang sangat mirip dengan anaknya. Mulai dari mainan kesukaannya, cara makannya, makanan favoritpun sama dengan Danu. Tidak berbeda dengan papa, beliau juga faham betul saat Danu masih seusia Kennan. Kennan benar-benar reinkarnasi dari Danu putra sulungnya. Namun sang papa segera menepis pikiran buruknya.
**BERSAMBUNG
Next part pertemuan Danu-Nina 😀😀 terimakasih yang sudah mengikuti ceritanya sampai di episode ini, dan mau bersabar untuk pertemuan suami bodoh seperti Danu dan istri gila seperti Nina..
Pliss kalian jangan ikut-ikutan ide gilanya Nina yah 😂😂 dan jangan jadi suami bodoh macam Danu... ini hanya karangan author saja**
__ADS_1