Menjadi Selingkuhan Suamiku

Menjadi Selingkuhan Suamiku
Part 62


__ADS_3

"Assalamu'alaikum" sapaku saat memasuki rumah. Ku lihat Kennan sedang menyusun puzzlenya di temani teh Wati


"Wa'alaikumsalam bunda?" jawab Kennan sekejap meliriku, ia kembali fokus dengan puzzlenya.


Ku hampiri dia dan duduk di sebelahnya, tangan anak kecil ini meraih tanganku lalu mengecupnya, seperti yang aku lakukan pada abi dan umi.


"Bu, mulai besok, saya sudah tidak bekerja di sini" teh Wati yang tiba-tiba membuka suaranya, membuatku memindai pandanganku ke arahnya.


"Teh, benar-benar sudah tidak bisa bekerja lagi ya?"


"Maaf bu"


"Tidak apa-apa teh" ujarku seraya tersenyum. "Semoga ibunya cepat sembuh ya, dan kalau ingin bekerja lagi, teh Wati bisa hubungi kami"


"Terimakasih bu, kalau begitu, saya permisi mau merampungkan pekerjaan saya yang tertunda", Aku tersenyum mengangguk merespon ucapannya.


"Bun, sudah selesai puzzlenya, bunda lihat ya"


Mataku menatap lekat pada puzzle yang tegeletak di meja "Ini bukan di sini sayang"


"Terus dimana bunda?" Aku tersenyum mendengar pertanyaannya "Bunda ajarin ya, Kennan perhatikan bunda menyusun puzzelnya, nanti Ken susun ulang lagi, biar tambah bisa"


Kennan begitu serius melihat gerakan tanganku yang sedang menata potongan puzzle bergambar mobil. Tak bergeming, seolah dia tengah mengingat-ingat dimana saja letak potongan itu harus tertata.


"Nah selesai deh, sekarang Ken coba ya, ini bunda berantakin puzzelnya"


"Iya bunda" sahutnya di ikuti gerakan tangan meraih mainannya.


...********...


Selepas makan malam, tepat pukul 9, aku membereskan meja makan, di bantu oleh mas Danu yang mencuci piring bekas kami makan. Karena Teh Wati sudah pamit tadi sore, aku dan mas Danu harus berbagi tugas.

__ADS_1


Jika dulu hanya aku yang selalu membereskannya, tapi kali ini, dia ikut turun tangan membantuku menyelesaikan pekerjaan rumah. Dia terlihat begitu lihai dalam mencuci piring.


Ternyata ada untungnya juga kepergianku selama ini, mas Danu lebih bisa bersikap dewasa dan belajar banyak tentang apa saja, termasuk pekerjaan rumah dan memasak.


"Dek, besok mas akan cari ART baru untuk membantumu mengerjakan pekerjaan rumah" ucap mas Danu, tangannya masih sibuk membilas busa yang masih menempel di piring.


"Sepertinya tidak perlu mas, aku akan menyelesaikan pekerjaan rumah seperti waktu dulu, tanpa bantuan ART"


"Tidak dek, mas akan tetap cari yang baru"


"Mas"


"Hemm" tanpa menoleh, ia sibuk menata piring di sisi wastafle.


"Boleh aku kasih saran?" tanyaku seraya meliriknya.


"Saran apa?"


"Cari ART nya yang berangkat pagi pulang sore ya, cuma beres-beres rumah saja, sama cuci setrika, nanti soal masak, aku yang handle, dan untuk cuci piring setelah makan malam, aku akan melakukannya sendiri, atau kita lakukan sama-sama seperti ini, boleh?"


"Tidak apa-apa mas, aku hanya ingin mas sama Kennan selalu makan masakanku"


"Boleh sayang, tapi mas minta jangan terlalu cape ya, dan kalau sudah merasa butuh ART menginap, kamu bilang sama mas"


"Bunda ngantuk" seloroh Kennan dengan suara seraknya. Aku dan mas Danu kompak menatap wajahnya.


"Kamu tidurin Kennan dek, mas yang lanjutin"


"Tidak apa-apa kan mas?" tanyaku khawatir.


"Tidak apa-apa, urusin Kennan dulu, nanti tinggal urusin mas"

__ADS_1


"Ayah kan udah gede, kenapa minta bunda buat ngurus ayah" protes Kennan membuatku membelakan mataku "Bunda minta di sayang-sayang Ken" Lanjut mas Danu, sontak ku layangkan tatapan tajam padanya, dia terkikik meresponku.


Mas Danu selalu saja bercanda di depan anaknya, nanti kalau anaknya minta penjelasan, dia bingung sendiri.


"Ken bobo dulu ya ayah" sebelum beranjak, mas Danu mencium pipinya bertubi-tubi.


********


Aku berniat memberikan haknya malam ini, tapi lagi-lagi bayangan Nesa mempengaruhi pikiranku. Aku merasa canggung dan takut memasuki kamar ini, laki-laki itu pasti sudah berada di kamarnya.


Sebelum membuka pintu, aku menarik nafas dalam, mencoba untuk menormalkan rasa gugupku. Saat pintu terbuka, netra kami bertemu, tampak mas Danu duduk di atas tempat tidur, punggungnya bersandar pada headboard dan memangku sebuah notebook, dengan suasana kamar yang temaram, karena lampu utama sudah mas Danu matikan, dan hanya menyisakan lampu yang menempel di dinding atas kepala ranjang.


"Sudah tidur?"


"Sudah" jawabku singkat lalu melangkah menuju lemari "Sudah mas siapkan piyama tuh" mas danu menunjuk pada baju yang teronggok di atas sofa. Saat ku alihkan pandanganku ke arahnya, benar saja satu stel baju beserta pakaian dalam tergeletak di sana.


Selesai mandi ku rebahkan badanku di atas ranjang, tepat di samping mas Danu yang masih fokus menatap layar selebar 10 inchi, sesaat kemudian, terdengar bunyi turn of, dia meletakan benda itu di atas nakas.


"Kenapa?" tanyanya tiba-tiba, tanpa berkedip mengunci sepasang mataku. "Masih takut dengan suamimu?"


Aku menggelengkan kepalaku "Lalu?" tanyanya lagi seraya menggeser dirinya lebih dekat denganku.


"Apa mas benar-benar sudah tidak teringat Nesa?" sahutku reflek, membuat mas Danu terkejut meski sesaat. Detik berikutnya ganti aku yang di buat terkejut. Tiba-tiba bibir kami menyatu, dengan lembut dia memagut bibirku. Tak sampai semenit, mas Danu melepaskan pagutannya, lalu menatapku dengan jarak yang sangat dekat.


"Kamu benar-benar masih berfikir kalau aku menganggapmu Nesa saat ini?"


Dengan pelan aku mengangguk.


"Mas mencintaimu" ujarnya, lalu menciumi ceruk leherku.


Dengan gerak cepat mas Danu menanggalkan seluruh pakaianku, aku masih belum percaya bisa seintim ini, dengan lelaki yang sudah membuatku jatuh cinta sejak usia pernikahanku tiga bulan dulu, tentu saja sebagai Nina, bukan Nesa.

__ADS_1


Setelah beberapa saat, mas Danu bergerak, tubuhnya kini bertumpu di kedua sikunya. Setelahnya memberikan ciuman lembut di keningku, mas Danu membalik posisi kami. Mas Danu yang berada di bawahku, sedikit meninggikan bantal untuk mendaratkan kepalanya. Dia memeluku dangan kedua tangannya


***BERSAMBUNG


__ADS_2