
Nina telah menceritakan semua pada papa dan mama mertua, ia berkali-kali meminta maaf atas tindakan yang sudah di lakukan. Sang mertuapun tak sepenuhnya menyalahkan Nina, karena putra mereka pun turut bersalah dalam hal ini.
Kini mereka tengah menyantap makan malam, kebahagiaan terpancar di keluarga Buana dengan hadirnya Kennan di tengah-tengah keluarga mereka.
"Sandra kenapa kamu senyum-senyum" tanya mama sambil memicingkan ekor matanya. Sontak saja papa, Danu dan juga Nina mengalihkan pandangan ke arah Sandra
"Tidak kenapa-kenapa mah"
"Jangan bohong kamu"
"Tidak mah, Sandra cuma ingat ceritanya mba Nina saja, habisnya lucu kalau di ingat-ingat, pengin ketawa jadinya"
"Iya si, tapi gara-gara kekonyolan mereka, mama untung banyak"
Beberapa pasang mata kompak menatap sang mama yang masih cantik di usia lebih dari 50 tahun
"Kenapa kalian menatap mama, ada apa dengan mama?" tanyanya
"Untung apa mah? Danu bertanya dengan muka penuh selidik
"Iya lah mama untung banyak dapat cucu"
"Mamah" Pekik papa.
"Papa tidak mau bahas soal itu, yang sudah terjadi, biarkan berlalu. Pokoknya, jika kalian melakukan ini lagi, Danu berselingkuh ataupun Nina, kalian tidak akan mendapatkan ampunan dari papa. Dan kamu Danu, papa minta kejadian ini di rahasiakan dari media, papa tidak mau kelakuan kalian tersebar sampai ke telinga rekan-rekan dan kolega papa"
"Iya pah"
Hening selama beberapa menit
"Ken, bobo sini ya sama tante, nanti kita lihat tom and jerry, lucu loh"
"Tom and Jelly itu apa tante"
"Itu film kartun sayang lucu banget, Tomnya selalu kalah sama si jerry yang memiliki tubuh kecil" Kennan begitu antusias mendengarkan penjelasan tantenya
"Ken mau lihat tante"
"Makannya bobo sini"
"Iya Ken, bobo sini sama oma sama opa, besok kan hari minggu, tante sama opa tidak bekerja, kita bisa ajak opa dan tantenya jalan-jalan" sambar mama
"Bun boleh ya"
"Memangnya tidak nangis nanti malam?"
"Kamu ikut tidur sini saja Nin, mama juga masih kangen sama kamu"
"Tidak bisa mah" Dengan cepat Danu melarangnya "Aku dan Nina ada urusan"
__ADS_1
"Kita ada urusan apa mas?" tanya Nina
"Nah loh, pasti bohong tuh mas Danu"
"Sayang kita kan harus bicara sama teh Wati, katamu dia mau berhenti kerja" Danu benar-benar terbiasa dengan panggilan sayang untuk istrinya.
Beruntung Danu mempunyai alasan, padahal yang sebenarnya, dia ingin menghabiskan waktu bersama Nina tanpa gangguan dari Kennan.
"Kennan boleh bobo sini, tapi jangan nangis, besok minta beliin mobil remot sama opa, sorenya ayah jemput"
"Boleh ya bun"
Nina tampak berfikir sebelum mengiyakan "Beneran ya tidak nangis, tidak cari-cari bunda tengah malam?"
"Iya bunda"
******
Satu jam setelah makan malam, Danu dan Nina berpamitan untuk pulang. Nina memastikan sekali lagi pada sang putra "Bunda pulang ya, Kennan jangan nangis"
Anak itu menganggukan kepala meyakinkan bundanya.
"Mah, semua perlengkapan Kennan ada di tas"
"Pulang dulu pah mah" pamitnya
"Aku?" Sahut Nina
"Memangnya ada orang lain di sini?" Cepat katakan apa yang mengganggu pikiranmu?"
"Tidak ada mas, cuma khawatir saja sama Kennan"
"Apa yang kamu khawatirkan, anak itu sangat baik, bundanya di Australia saja, dia tidak rewel, di tinggal maminya bulan madu pun tidak menangis. Kennan mudah akrab dengan orang lain, jadi jangan khawatir, toh dia sama kakek neneknya. Besok sore setelah kajian minggu di rumah abi, kita akan langsung menjemputnya"
Nina tak berani menjawabnya, benar yang di katakan Danu, Kennan bersama dengan kakek dan juga nenek, yang sangat menyayanginya.
Tepat pukul 9 malam, mereka telah sampai di rumah, Nina bergegas masuk ke kamar, ia ingin sekali mengguyur tubuhnya yang lengket dengan air hangat. Sedangkan Danu, ia berjalan menuju ruang kerja untuk menyelesaikan pekerjaan kantor yang sempat tertunda.
Ketika Danu memasuki kamarnya, pada saat yang bersamaan, Nina keluar dari kamar mandi dengan hanya memakai jubah mandi, dan rambut terlilit handuk. Tatapan mereka pun bertemu, Danu meliarkan pandangannya pada bagian tubuh Nina yang hanya tertutup handuk sebatas dada hingga lutut, Ia menelan saliva, tangan kanannya tampak bergerak menutup pintu kamar.
"M,,mas mau mandi?"
"Iya" jawabnya singkat. Nina segera melangkah menuju lemari, meraih handuk bersih untuk sang suami
"Ini mas handuknya" Nina menyerahkan kain berwarna putih itu, Danu menerimanya tanpa menoleh ke arahnya, lalu bergegas memasuki kamar mandi.
Beberapa menit berlalu, Satu stel piyama sudah di persiapkan Nina untuk di kenakan sang suami.
"Dhe kamu mau tidur kan?" Kenapa pake jilbab?" tanya Danu sesaat setelah membuka pintu kamar mandi. Ia meraih piyama di atas sofa, dengan cepat ia memakainya
__ADS_1
Setelah itu bergegas menuju tempat tidur, memiringkan badannya di atas kasur, dengan posisi tangan menopang kepalanya
"Bukannya mas tidak suka aku memamerkan rambutku?"
Danu mengambil nafas panjang, ia membuangnya sambil menggembungkan kedua pipinya
"Jangan ingatkan mas tentang dosa-dosa yang sudah mas lakukan sama kamu, mas minta maaf"
Tanpa menjawab, Nina segera melepas kain yang menutup kepalanya, lalu tidur merebahkan dirinya membelakangi Danu
"Dhe, kamu tahu azab seorang istri yang tidur membelakangi suami?"
Seketika Nina merubah posisinya menjadi terlentang, tangan kirinya ia daratkan di perut.
"Hadap sini sayang, kalau tidak mau, mas akan mengadukanmu ke abi"
Dengan tubuh masih terlentang, Nina menolehkan kepalanya ke samping dimana ada Danu dengan tatapan menyeringai.
Nina memejamkan mata, tak berani menatapnya
"Miring kesini dong" perintah Danu
"Sudah malam mas, tidurlah"
"Mas akan tidur kalau kamu menghadap ke sini"
Nina tak menuruti ucapan Danu, ia sibuk mengkondisikan jantungnya yang berdetak sangat liar.
"Ayolah sayang ada banyak pahala di wajah suamimu ini"
Tak sampai di situ, Danu terus membujuk Nina
"Kamu tahu azab istri yang tidak nurut sama suami?"
Hening, wanita itu tak menjawabnya "Azabnya, si istri nangis guling-guling karena suaminya balikan sama Nesa" Sambung Danu
Dengan terpaksa Nina memiringkan tubuhnya menghadap sang suami
"Nah gitu dong"
Kini posisi mereka saling berhadapan, Tangannya membelai rambut Nina, dan matanya meneliti setiap jengkal wajah ayu wanitanya
"Aku akan selalu menjagamu Nina, aku janji tidak akan pernah menyakitimu, aku akan selalu membuatmu bahagia"
"Tidurlah, besok pagi kita kerumah abi. Aku tidak akan menyentuhmu sampai kamu siap. Aku mencintaimu" Bisik Danu lalu mengecup keningnya sedikit lebih lama.
Nina memejamkan mata, menikmati sentuhan lembut dari sang suami. Ia meyakinkan dirinya sendiri bahwa saat ini, dia berperan sebagai Nina, dan ucapan Danu hanya di tujukan padanya.
Bersambung
__ADS_1