Menjadi Selingkuhan Suamiku

Menjadi Selingkuhan Suamiku
Ektra part 1


__ADS_3

"Jangan sedih-sedih ya kalian, ayah enggak mau lihat Ken sama bunda sedih apalagi nangis"


"Iya ayah" jawab Kennan


"Kami sayang ayah" istriku ikut menyahuti


"Ayah juga sayang kalian"


"Ken mandi sama ayah ya, nanti bunda masak terus kita bawa ke rumah mami Irma, kita makan di sana"


"Sudah beri tahu Irma, supaya jangan memasak?"


"Sudah ayah, Irma nggak akan masak kok" jawab Nina lalu melepaskan diri dari dekapanku


"Ya udah, nanti selesai mandiin Ken, ayah bantuin bunda masak"


****


Sebelum memandikan Kennan, aku melepaskan kemejaku, yang belum sempat ku ganti setelah pulang kantor. Hanya menyisakan kaos daleman dan celana panjangku yang tetap melekat di badanku, aku dan Ken bergegas menuju ke kamar Kennan


******


Ku hampiri istriku yang tengah fokus memasak. Tubuhnya berjengit saat aku memeluknya dari belakang, lalu mengecup pipi kanannya singkat


"Mas nanti Ken lihat, bingung lagi ngejelasinnya gimana" ucapan istriku membuatku terkikik.


Memang selama hubunganku dan Nina membaik, kami sering sekali kepergok oleh anak kami.


"Dia sedang pakai baju di kamar" ujarku dan sedikit mengecup ceruk lehernya yang tertutup jilbab, lalu melepas pelukannya. "Mas harus bantu apa sayang?" tanyaku kemudian


"Mas ulekin ini ya"


"Mau bikin sambal dek?"


"Iya, nanti kalau udah, taruh di kotak kecil ini" Dia menggeser sebuah tupperware mini ke hadapanku " terus nanti taruh dulu di meja makan"


"Siap"


"Ayah bunda, udah selesai pakai baju" Aku dan Nina kompak menoleh ke arah anaku yang sedang menarik kursi di meja makan.


"Oh iya ternyata udah pinter pakai baju sendiri" ucapku lalu melanjutkan mengulek sambal.


"Iya dong, kan bunda yang ajarin, iya kan bund?"

__ADS_1


Kali ini pandangan ku arahkan pada istriku, ia tengah fokus menumis cumi-cumi, dia tampak mengangguk tipis. Reflek tanganku mengusap kepalanya. "Terimakasih, sudah ajari Kennan hal yang baik-baik" bisiku tepat di telinga kirinya, dan kami saling berbalas senyum.


Aktifitas memasak selesai sesaat setelah adzan maghrib. Beberapa lauk, sayur dan sop sudah di kemas dalam kotak mewah bernama tupperware, hanya nasi yang tidak kami masak, karena Nina bilang, Rio yang akan memasak di rumahnya.


Usai mandi dan sholat maghrib berjamaah, kami bersiap untuk pergi ke rumah Rio. Ku lajukan mobilku dengan kecepatan stabil, membelah jalanan, melewati berbagai macam stand pedagang kaki lima, yang sudah siap dengan dagannya. Karena ini malam minggu, jalanan tampak ramai dan sedikit macet.


Ku lirik Kennan, yang duduk di kursi penumpang lewat spion tengah, lalu beralih melirik istriku yang duduk di sebelahku. Dia sedang melipat tangannya di dada dengan pandangan ke arah luar.


"Apa kamu kedinginan dek?"


"Iya mas, kayaknya AC nya kebesaran"


Padahal kalau berkendara di malam hari juga segini suhunya batinku


Seketika ku ulurkan tangan kiriku untuk mengecek AC yang terarah padanya, lalu sedikit menutupnya. "Masih dingin dek?" tanyaku, lalu kembali fokus mengendalikan roda kemudiku


"Sedikit mas"


Apa AC nya di matiin saja, jendelanya di buka sedikit"


"Tidak usah mas"


"Coba mana tanganmu?"


"Sudah mana tanganmu?"


Tangan kiriku menggenggam tangan kanannya begitu ia mengulurkannya, berharap genggamanku mampu mengurangi rasa dingin yang menjalar di tubuhnya, sedikit memberikan usapan dengan ibu jariku. Andai saja tidak ada Kennan di belakang, pasti sudah ku cium tangannya yang halus ini.


Memasuki pelataran rumah Rio, Kennan segera turun dari mobil, sesaat setelah aku memarkirkan lalu mematikan mesin mobilnya. Gadis kecil bernama Azara Yuanda Anggara tengah duduk di pangkuan ayahnya, di kursi teras, senyumnya seketika terbit kala mendapati Kennan berlari ke arahnya, tak mau kalah, gadis kecil itu langsung beranjak dari pangkuan ayahnya dan berlari menghampiri putraku.


"Mas Ken" teriaknya


"Ade kok di luar memangnya enggak dingin?"


"Kan ade tungguin mas Ken" jawab Zara.


"Irma dimana mas"


"Ada di dalam lagi nyiapin piring buat makan, masuk saja Nin"


"Nih bawa" ucapku seraya menyodorkan paperbag berisi beberapa kotak makanan ke hadapan Rio


"Nina masak banyak ya"

__ADS_1


"Masaknya dari siang ini, dan baru selesai tadi pas Adzan maghrib"


*********


"Ingat Nu, hari senin kamu harus ke Thailand, gantiin aku" ucap Rio saat kami sedang menyantap makan malam "Nin, sudah tahu kan, senin Danu terbang ke Thailand, ada perjalanan bisnis selama 5 hari"


"Tahu mas" sahut istriku


"Enggak apa-apa kan Nin?"


"Ya enggak lah mas, Irma lebih butuh mas Rio di rumah"


"Berati kamu enggak butuh suamimu ya dek?"Selaku seraya meneguk air dalam gelas


"Bukan begitu mas, Irma kan lagi hamil muda, dia lebih butuh suaminya buat stand by di rumah"


Jujur aku terkikik dalam hati melihat ekspresi Nina saat menjelaskan, padahal aku sudah tahu maksudnya


"Nin, padahal kamu sudah lama balik, tapi lemotnya masih saja dia pelihara" sambung Rio dengan dagunya menunjuk ke arahku


Aku yang tadi terkikik sendirian dalam hati, kini giliran Nina dan Irma yang terang-terangan menertawakanku.


"Apa liat-liat?" tanya Rio saat aku melempar delikan mata padanya "Mau ngajak berantem?" tanyanya lagi


"Hufft dasar Nobita" gerutuku yang di respon gelak tawa oleh Irma dan Nina. Aku sempat melirik ke arah anak-anak, mereka tengah asik dengan obrolannya.


"Nobita sama lemot, selesai makan, kalian beresin meja makan sama cuci piring ya" ucapan itu keluar dari bibir wanitaku


Aku dan Rio kompak menatap Nina


"Kenapa?" tanya Nina "kalau enggak mau, entar malam suruh tidur di luar aja Nin" sambung Irma, nadanya terdengar cuek.


Dua sahabat itu memang sangat kompak, aku tak pernah lihat mereka beradu argumen, berbeda denganku dan Rio, selalu saja berlawanan arah, kalau di luar pekerjaan.


Tapi kami cukup kompak dalam mengurus bisnisku, Asisten sekaligus sahabat, selalu memberikan yang terbaik untuk perusahaanku.


Selesai makan malam, membereskan meja makan, dan mencuci piring bekas makan, kami berempat duduk menonton tv, sembari mengobrol. Tepat pukul 10 malam, aku mengajak Nina untuk pulang


"Pulang yuk Dek, udah malam banget ini"


Ku lirik Nina menatap jam di dinding "Bentar lagi ya mas?"


"Kenapa buru-buru, baru jam 10, biasa juga jam 12 pulang" pungkas Rio

__ADS_1


🤔🤔🤔


__ADS_2