Menjadi Selingkuhan Suamiku

Menjadi Selingkuhan Suamiku
Part 64


__ADS_3

Malam ini mas Danu akan pulang terlambat, karena ada lembur di kantor. Aku yang sedang menunggunya di dalam kamar, tiba-tiba muncul sebuah ide untuk memoles wajahku dengan beberapa make up.


Tepat pukul sepuluh, ku dengar decitan pintu terbuka, menampilkan sosok suamiku. Saat langkahnya semakin dekat, ku lihat dia terkejut dengan penampilan wajahku. Namun keterkejutannya hanya sesaat, ia menghirup napas panjang, dan kembali dengan gestur santai.


"Mas mandi dulu" ucapnya tanpa menoleh ke wajahku.


Detik berganti menit, hingga mas Danu telah selesai dengan aktifitas mandinya, saat baru saja keluar dari kamar mandi, wangi sabun semerbak seketika memenuhi ruangan kamar kami.


Ia duduk tepat di samping tempat ku berbaring. Sedangkan aku, hanya mampu menatap dada bidangnya yang sudah di balut kaos polos yang sangat tipis


Hening, hanya ada suara jarum jam yang terdengar beraturan.


"Jangan terus-terusan mengingatkan kesalahanku, kamu pikir aku tidak tersinggung dengan kamu berdandan seperti Nesa?"


Ucapan mas Danu seketika membuatku merasa bersalah "Maaf" ujarku lirih.


Sepersekian detik mas Danu menciumku kasar, ciuman yang menyiratkan sebuah amarah atau kekesalan atau apa entahlah. Yang jelas aku merasa tersiksa dengan pertemuan bibir yang membuatku merasa kesakitan akibat gigitan-gigitan darinya.


"Suka ku cium dengan kasar?"


Aku menggeleng sembari mengusap titik bening yang tiba-tiba meluncur membasahi pipi.


"Jangan melakukan apa yang orang lain tidak suka. Seperti kamu yang tidak suka aku cium dengan kasar. Aku juga tidak suka jika kamu berdandan seperti ini, hanya untuk mengingatkanku akan dosa yang sudah aku lakukan" kata mas Danu.


"Aku tidak suka mengulang kesalahan yang sama. Cukup sekali aku melakukan kesalahan dalam hidupku" tambah mas Danu lalu mengecup bibirku singkat. "Jangan ulangi lagi, mas tidak suka. Sekarang hapus make upmu, dan cuci muka" Aku hanya diam tak mengindahi perintah mas danu.


"Cuci muka ke kamar mandi" perintahnya lagi, namun aku masih bergeming dari tempatku.


"Huftt " ujarnya lalu menarik tangan dan membawaku ke kamar mandi.


Setelah beberapa menit, mas Danu kembali masuk dengan membawa botol make up eraser dan sebuah kapas. Ia menuangkan cairan penghapus make up itu ke kapas, dengan gerakan yang lembut mas Danu mulai menghapus make up yang menempel di wajahku.

__ADS_1


Setelah itu, mas Danu menyalakan kran air, membasahi wajahku dengan air hangat.


"Kamu boleh berdandan, tapi jangan berlebihan seperti Nesa, mengerti?" mas Danu mengatakannya saat kami sama-sama melangkah keluar kamar mandi.


"Maaf, ku pikir dengan berdandan seperti Nesa, mas akan senang"


Mas Danu menyunggingkan senyuman, lalu mengecup keningku lembut "Maaf juga sudah menciummu dengan rakus" ucapnya "Mas ke kamar Kennan sebentar, jangan tidur dulu"


Setelah kepergian mas Danu, Di dalam sini aku merenungi tindakanku yang membuat mas Danu sangat marah, aku tidak menyangka bahwa respon mas Danu akan sekesal itu.


Aku memang benar-benar harus melupakan apa yang berhubungan dengan Nesa, seperti mas Danu yang tidak mau lagi mengingat tentangnya.


"Kamu tidak apa-apa kan Dek" tanyanya membuyarkan lamunanku. Dia berjalan melangkah ke tempat tidur, dan membaringkan badannya di sisiku. Kami sama-sama terdiam dan hanya saling menatap.


Tiba-tiba, aku Mel*umat bibirnya lembut dan dalam, mas Danu tampak bergeming mendapat ciumanku.


"Pelan-pelan lupakan Nesa oke, jangan ingatkan mas lagi tentang dia, dia adalah dosa mas, dan kamu adalah pahala mas" katanya usai melepas ciumanku.


Dek?" panggilan mas Danu menyadarkanku bahwa aku baru saja sibuk dengan pikiranku sendiri "Bosan?" tanyanya lagi.


"Tidak"


Ucapanku barusan membuat mas Danu tersenyum.


"Mari kita realisasikan anak ke dua" ucap mas Danu yang langsung meraup bibirku, tangannya terus menyusup ke bagian punggung, melepaskan kaitan pakaian dalamku, tangan lainnya, membuka satu persatu kancing piyamaku. Gerakan demi gerakan, hingga beberapa menit berlalu, sesuatu membuat kami tenggelam dalam lautan madu yang memabukan.


"Kita lanjutkan pembicaraan yang kemarin" ucap mas Danu usai kami bercinta.


"Pembicaraan yang mana?"


Mas Danu mendesah, lalu membawaku ke dalam dekapannya "Kenapa kamu selalu melarang Ken untuk jangan main air lama-lama?"

__ADS_1


Rahangku seketika mengeras mendengar ucapannya, membuatku harus menceritakan pertanyaannya "Dia lahir prematur, fisiknya sangat lemah, dulu saat Ken berusia satu tahun, dia pernah kehujanan, dia sempat kritis, Aku dan Irma sangat panik waktu itu, beruntung kritisnya hanya semalam"


Mas Danu tampak terkejut dengan ucapanku "Prematur?, kritis?"


Aku mengangguk dalam dadanya.


"Aku kecelakaan waktu itu, membuat dokter harus segera melakukan tindakan caesar di usia kehamilanku 7 bulan"


Mas danu sedikit mengangkat kepalanya, tangannya memeluku kian erat.


"Apa yang membuatmu kecelakaan?"


Dan akhirnya aku menceritakan semua tentang kejadian saat Sinta mendorongku dalam keadaan tangan terborgol, tanpa terlewat sedikitpun.


"Bukannya ada dua polisi di sampingnya?"


"Iya, dan saat polisi itu tak memeganginya, dengan cepat Sinta berlari ke arahku menubrukan badannya, ke badanku, membuatku seketika jatuh"


"Lalu sekarang wanita itu di mana?"


"Dia di penjara mas, atasanku yang menuntutnya"


"Apa sekarang dia sudah bebas?"


"Entahlah, kejadian itu sudah 3 tahun berlalu, mungkin sudah di bebaskan"


"Sekali lagi mas minta maaf. Penderitaanmu, mas yang ciptakan"


"Jangan melulu meminta maaf, aku bosan mendengarnya. Mas Sendiri yang bilang, kita harus fokus ke masa depan, bukan masa lalu"


"Mas janji akan selalu menjaga dan melindungi kalian, kalian adalah harta mas yang paling berharga" ujarnya lalu mengecup pucuk kepalaku.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2