Menjadi Selingkuhan Suamiku

Menjadi Selingkuhan Suamiku
Part 54


__ADS_3

Keterkejutan menghampiri Danu. Ia segera berdiri lalu berjalan ke arah sofa


"Ken, papi Rio memanggilmu, ayo ayah antar ke ruangan papi" Danu menggandeng tangan Kennan "Kamu jangan beranjak dari sini, kita bicara setelah aku mengantar Kennan ke ruangan Rio" ucap Danu pada Nina sebelum keluar dari ruangannya.


Beberapa menit pun berlalu, Dada Nina bertabuh kencang saat tahu Danu sudah kembali ke dalam ruangannya. Tampak dia berjalan meraih kursi yang terletak di depan meja kerjanya, lalu menggesernya dan meletakannya tepat di depan Nina. tanpa basa basi Danu segera menduduki kursi itu, saat ini posisi mereka duduk saling berhadapan. Pandangan Nina tetap tertuju ke bawah menatap kedua sepatu yang di kenakan oleh sang suami.


Danu menyenderkan punggungnya pada kursi itu, lalu melipat kedua tangannya di dada.


"Nina" panggil Danu, Namun Nina tak menyahut panggilannya, ia masih setia dengan pandangannya yang ia arahkan ke lantai


"Memangnya di bawah sana ada apanya hem?" tanya Danu masih dengan posisi yang sama


Hening, wanitanya masih tetap diam


"Nina, biasakan tatap wajah seseorang yang sedang berbicara denganmu?"


Sang istri tampaknya masih membisu, dengan menggigit bibir bawahnya. Danu menghirup napas panjang lalu membuangnya sedikit kasar.


"Aku hanya meminta sedikit ruang un..."


Belum sempat Nina melanjutkan ucapannya, dengan cepat Danu memotongnya


"Apa kamu sedang bicara dengan sepatuku?, tatap wajah lawan bicaramu, ini suamimu, bukan dosenmu"


Dada Nina makin bergemuruh, lalu ia sedikit mendongak, bukan wajah suaminya yang ia tatap, tapi sebuah dasi yang melingkar di krah kemejanya


"Tatap aku Nin" Danu mengangkat sedikit dagu Nina


"Jangan terlalu sadis mas, aku kan jadi gugup dan takut"


"Dasar lidah tak bertulang, bisa-bisanya dia bilang seperti itu, Nina Nina lucu sekali kamu, berhadapan dengan suamimu masih saja takut" Batin Danu, ia ingin sekali tertawa, bahkan ingin sekali memakan bibir merahnya saat itu juga, namun sebisa mungkin ia tahan

__ADS_1


"Kenapa takut, aku ini bukan monster"


"Tapi mas benar-benar membuatku insecure, bisakan mas duduknya agak jauh sedikit"


Danu menggelengkan kepala dan sedikit mengangkat sudut bibirnya "Kenapa kamu ingin tidur terpisah?, apa kamu tidak takut berdosa, kamu tidak lupa kan kalau aku ini suamimu?"


"Kenapa sekarang mas senang sekali mengakui diri mas sebagai suamiku, padahal dulu menyebut namaku saja mas enggan?


"Kenapa kamu begitu keras kepala Karenina?"


"Mas yang membuatku menjadi keras" ucap Nina lalu menunduk "Karena kesabaranku tidak pernah mas hargai selama kita bersama" sambung Nina, lirih sangat lirih, namun masih bisa di tangkap oleh telinga Danu


Danu membenarkan ucapan Nina, memang selama terikat dalam ikatan pernikahan, dia tak pernah menganggapnya, apa lagi menghargainya


Namun semenjak kepergiannya selama tiga tahun, membuat Danu merasa mati.


"Aku tidak akan mengabulkan permintaanmu untuk tidur terpisah, aku tahu aku salah, sangat salah. Mau tidak mau, setuju tidak setuju, suka tidak suka, kita akan tidur satu kamar


"Aku tidak egois, aku menyelamatkanmu, kamu pikir tidak berdosa jika istri tidur di kamar yang berbeda dengan suami?" menurutmu apa itu benar?"


"Tapi dulu mas seperti itu" jawab Nina


"Maka dari itu sekarang aku ingin menebus kesalahanku, aku ingin memperbaiki semuanya, mari kita mulai dari awal"


"Lalu bagaimana dengan Nesa?"


"Huft.. aku butuh kesabaran ekstra untuk menghadapinya, biar bagaimanapun, aku harus membawanya pulang, aku sangat mencintainya, aku tidak mau lagi kehilangan dia untuk yang ke dua kalinya" Danu membatin lalu mengambil nafas panjang, ia merasa frustasi dengan sikap sang istri


"Hhhhh aku sudah tidak peduli lagi dengan Nesa si penipu sialan itu, gara-gara dia istriku meninggalkanku"


"Nesa itu aku mas, kenapa mengataiku penipu"

__ADS_1


"Salah lagi" seloroh danu sambil mendesah "Pokoknya, aku tidak akan setuju kalau kita pisah ranjang. Kalau kamu kekeh dengan permintaanmu, aku akan mengadukanmu pada abi, aku pastikan jika abi tahu, kamu akan mendapatkan siraman rohani darinya"


"Tapi aku masih suka ingat ucapan manismu pada Nesa"


"Sudahlah, ucapanku dulu itu hanya gombalan saja, dan tidak serius. Jangan merusak misiku yang ingin menebus kesalahanku padamu okey" Danu meraih selembar tisu di atas meja, lalu ia usapkan tisu itu di kening sang istri yang di penuhi dengan buliran keringat


"Pulanglah, kasihan rumahmu dan segala isinya, mereka sangat merindukanmu berada di dalamnya. Besok hari sabtu aku tidak berkerja, aku akan menjemputmu dan juga Kennan" pungkas Danu lalu ia melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya.


"Hari minggu saja mas, selepas kajian minggu"


"Kamu suka sekali membantah ya sekarang" ucapan Danu membuat Nina seketika mengatupkan bibirnya "Pokoknya besok aku jemput. Aku lapar, aku ingin makan masakan yang kamu bawa" Danu melirik kotak makan yang bertengger di atas meja


"Ayolah Nina jangan membohongi dirimu sendiri, perasaanmu masih sama seperti dulu, kamu mencintainya, kamu juga rindu melayaninya kan?"


"Tapi aku ingin mas mengucapkan ijab qobul lagi sebelum membawaku pulang"


Danu mengernyit mendengar ucapan Nina" Kenapa?"


"Dulu mas terpaksa kan mengucapkannya, dan sekarang aku ingin mendengar mas tulus dan benar-benar menerima pernikahan ini"


"Baiklah mas turuti permintaanmu, apa kamu juga mau pesta?"


Nina menggeleng "ijab qobul yang penting mas, di depan penghulu, wali dan para saksi"


Danu mengangguk memenuhi permintaan Nina "Sekarang aku ingin makan, boleh?"


"Suamimu minta makan, bukan minta ponsel" sambar Danu ketika dia melihat Nina mengeluarkan ponsel dari dalam tasnya


"Aku mau menghubungi Irma mas, menyuruh mas Rio ke sini untuk makan bersama"


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2