Menjadi Selingkuhan Suamiku

Menjadi Selingkuhan Suamiku
Part 39


__ADS_3

Danu sudah siap dengan gloves di kedua tangan. Ia mengambil posisi berdiri di depan samsak, lalu mengepalkan tangannya sambil menempatkan ibu jari di luar tangan. Dengan sekuat tenaga ia melancarkan pukulan snap yang menyebabkan pergelangan tangannya tersentak balik akibat benturan dengan samsak. Setelah puas dengan snap, ia mencoba meluncurkan pukulan jab, di ikuti dengan hook.


Sudah dua tahun berlalu, semenjak kakak ipar menyuruhnya untuk berhenti mencari Nina. Namun dia masih tetap dengan pendiriannya, padahal sang kakak ipar dan juga mertuanya sudah menyuruhnya untuk memberikan ikrar talak, namun dengan tegas ia tolak. Ia masih berharap Nina mau kembali padanya.


"Aku akan meminta maaf padamu, dan memintamu agar kembali padaku, jika kamu menolak, maka aku akan segera menalakmu, tapi aku harus bertemu dulu denganmu. Aku ingin dengar jawabanmu, dan aku akan menunggumu"


Bughh.. satu pukulan kembali ia luncurkan pada samsak yang menggantung.


Hari-hari ia lalui dengan mengurus perusahaannya, mengaji, pergi kerumah abi, juga berolahraga yang membuat staminanya semakin kuat dan memiliki bentuk tubuh yang proporsional.


Di lain tempat, Nina sedang melamun memikirkan tawaran dari bu Agata untuk ikut dengannya ke Australia. Selama kurang lebih dua bulan untuk membuat sepasang gaun pengantin, seragam breadmaids, dan seragam keluarga untuk pernikahan anaknya. Dengan bayaran yang sangat tinggi, membuat Nina tergiur ingin mennyetujui tawaran itu.


"Nin" panggil Irma. Dia yang sudah kembali ke Jakarta, sudah bekerja di perusahaan BOM & FOOD, selama hampir dua tahun. Irma tinggal bersama Nina serta Kennan, bayi yang dulu lahir prematur, namun kini tumbuh menjadi anak yang pintar.


"Eh Ir" Nina tersentak kaget. "Apa Ken sudah tidur?"


"Sudah, dia marah sama kamu" Irma turut mendudukan bobotnya di kursi di samping Nina yang di batasi sebuah meja.


"Aku tahu Ir" sahut Nina lalu menyenderkan punggungg pada kursi, dan menyilangkan tangan di dada "Dia terus menanyakan tentang ayahnya"


Irma mengerutkan dahi, ia memindai pandangannya pada Nina yang sedang menatap lurus ke jalan. Saat ini mereka sedang duduk di teras rumah.


"Apa masalah, jika Kennan ingin bertemu ayahnya?" tanya Irma memicing "Tega kamu Nin, hanya karena dia menanyakan dimana ayahnya, kamu membentak anakmu sendiri"


"Iya aku salah" sesal Nina.


"Baguslah kamu menyadari, aku harap kamu segera mempertemukan mereka"


Hening, Nina bahkan tak mampu menyahut ucapan Irma.


"Ir" Tiba-tiba suara Nina 5edengar setelah sempat hening selama sekian menit.


Panggilan Nina sepersekian detik membuat Irma menoleh ke arahnya.


"Bu Agata memintaku merancang gaun pernikahan untuk anaknya yang tinggal di Australi" Ucapan Nina membuat Irma menampilkan ekspresi serius. "Dia mengajaku untuk menggarap gaun untuk pernikahan anaknya di sana. Bayarannya sangat tinggi, sebenarnya aku ingin sekali menerimanya, tapi aku bingung dengan Kennan, tidak mungkin aku bawa dia juga"


"Memang berapa royalty yang akan kamu dapat?"


"Sekitar dua M Ir" jawab Nina masih fokus menatap kendaraan yang lalu lalang lewat depan rumahnya.


"Dua M?"


Nina mengangguk "Kemana lagi aku dapat uang sebanyak itu dalam waktu dua bulan?" Ucapnya sendu, ia menunduk menatap kedua tangannya yang kini saling bertaut. "Uang itu pasti akan cukup untuk melawan mas Danu jika dia menggugat anak kandungnya ke pengadilan"


"Tapi kan belum tentu dia merebut Kenan darimu Nin" Irma berusaha menangkis pikiran Nina.


"Syukur kalau begitu, kalau dia tetap akan merebutnya, dan aku belum menyiapkan dana, pasti aku akan kehilangan Kennan"

__ADS_1


Satu detik, dua detik,,, tak ada yang bersuara diantara mereka hingga leeat beberapa detik.


"Pergilah Nin, Kenan akan bersamaku" Pungkas Irma Akhirnya.


Seketika Nina menatap Irma penuh lekat.


"Tapi lusa kan kamu sudah harus kembali ke Surabaya, kamu juga harus merawat papahmu yang sakit"


"Tidak apa-apa, aku bisa kok, lagian Kennan bukan anak yang nakal"


"Kamu serius Ir?" tanya Nina.


Irma menganggukan kepala sebagai jawaban.


"Tapi setelah ini, kamu harus janji untuk mengatakan yang sebenarnya pada suami dan keluargamu. Jika kamu masih menundanya, maka aku yang akan mengatakannya" Irma berkata dengan nada menegaskan.


"Aku akan mengatakan setelah aku cukup uang"


"Setelah ini kamu akan mendapatkan uang itu Nin, tidak ada alasan lagi untuk menyembunyikan anakmu" Kilahnya dengan sorot sepenuhnya menatap wajah Nina. "Kapan kamu akan berangkat?"


"Kalau aku bersedia, sekitar empat hari lagi"


"Pergilah, aku akan menjaga dan merahasiakan anakmu, sampai kamu kembali. Aku akan sering membawa Kennan ke rumah Abi dan Umi nanti, untuk membiasakan Kennan kenal lebih dekat dengan kakek neneknya"


"Jangan Ir, aku tidak setuju"


"Setuju atau tidak, aku tetap akan melakukannya"


"Kalau kamu tidak setuju, maka aku akan mengatakannya sepulang dari sini" Ancam Irma lebih tegas dari sebelumnya.


"Baiklah, kamu boleh membawa Kennan kerumah abi, tapi jangan katakan apapun dulu tentang Kennan, aku takut jika mas Danu mengetahuinya, dia akan langsung membawanya pergi"


"Ok, mari kita saling berjanji, aku tidak akan memberitahu mereka sebelum kamu kembali, dan janjimu, harus mengatakan semuanya saat kamu sudah kembali"


"Janji" Imbuh Irma.


Nina mengulurkan jari kelingkingnya "Janji" sahut Nina seraya mengulas senyum. "Makasih ya Ir, aku harap hubungan kita bukan hanya sededar teman, bukan hanya sekedar sahabat, tapi lebih ke saudara kandung"


Irma mengangguk tanpa ragu.


"Aku juga tidak bisa terima jika Danu membawa pergi, dan memisahkan kita dari Kennan Nin, dia seperti anakku sendiri, aku sayang sama Kennan layaknya ibu menyayangi anaknya"


"Makasih Ir. Oh ya, soal mba Yuni, kalau dia masih mau mengasuh Kennan, ajak dia ke Surabaya, supaya kamu tidak kewalahan mengurus Kennan"


"Besok saja Nin kita tanyakan ke mba Yuni"


**********

__ADS_1


Malam semakin larut, Nina masih membuka matanya seraya memeluk anaknya yang sudah pulas menjelajahi alam mimpi.


"Abi, umi, maaf atas sikapku selama ini yang sudah menyakiti kalian" Gumam Nina sambil mengusap rambut Kenna, lalu Nina mengecup lama pucuk kepala anaknya yang sudah berusia dua Tahun lebih beberapa bulan. Setelah itu, ia menarik selimut dan memejamkan mata dengan tangan masih memeluk tubuh mungil putranya.


Keesokan paginya Kennan tampak masih marah dengan bundanya, Nina merasa tidak nyaman dengan Kennan yang mendiamkannya.


"Bunda minta maaf nak" ucap Nina saat sedang sarapan.


Anak itu masih ambigu, tak menyahut ucapan sang bunda.


"Bibi Yun, Ken mo mam di cana" Kennan menunjuk ruang tv dengan tangannya.


"Baik, ayo kita maem di sana"


Nina dan Irma kompak menatap Kennan dan Yuni yang berjalan menuju ruang tv.


Wanita itu mendesah frustasi, ia merasa bersalah pada anak lelakinya.


"Kennan tidak akan marah terlalu lama padamu Nin, aku akan membujuknya nanti" hibur Irma tulus.


"Makasih ya Ir" Ia meneguk sisa air dalam gelas hingga tandas "Sepulang dari butik, kita bicara sama-sama pada Mba Yuni"


"Iya"


"Aku berangkat Ir"


"Ok hati-hati di jalan"


"Okey"


Tak perlu naik kendaraan untuk menuju ke tempatnya bekerja, Nina hanya berjalan sejauh dua ratus meter dari rumahnya.


Di butik, karena tidak ada pesanan yang di garap oleh Nina, dengan senyum seramah mungkin, dia melayani beberapa pelanggan. Banyak pelanggan yang puas dengan pelayanannya. Wanita dengan senyuman yang mampu memikat hati para pria, pakaian yang ia kenakan pun sangat tertutup serta sopan, membuat orang-orang berdecak kagum padanya. Pemilik butik pun sangat puas dengan kinerja Nina selama ini.


"Mba Nina, bu Agata menyuruhmu ke ruangannya sekarang" ucap Wulan tiba-tiba.


"Oh iya, tolong kamu gantiin saya dulu ya lan"


Dengan langkah yang tenang Nina menuju ruang atasannya.


"Bagaimana tawaran saya Nin, anak saya sangat suka dengan rancangan-rancanganmu" tanya Agata setelah mereka duduk saling berhadapan dengan di batasi meja.


"Insya Allah saya siap bu"


Sang atasan tersenyum senang. "Ok Nin selasa kita berangkat, saya akan menyiapkan tiketnya"


"Baik bu"

__ADS_1


Tak perlu membuat Visa terlebih dahulu sebab Agata sudah berencana menggunakan Visa on Arrival.


BERSAMBUNG


__ADS_2