
Danu tercengang mendengar ucapan Kennan yang mengatakan bahwa Nina adalah bundanya.
"Apa Nina ibu kandung Kennan yang sebenarnya, dan Kennan adalah anak hasil dari hubungan gelapku dengan Nesa yang ternyata adalah Nina istriku sendiri, tapi kenapa anak itu juga memanggil Irma dengan sebutan mami ?" Danu membatin dengan seribu pertanyaan yang ingin sekali mendapat jawaban.
Keduanya masih saling membisu, beberapa saat kemudian, ekor mata Nina menangkap Umi yang sedang berlari kecil memasuki rumahnya. Bergegas Nina ikut berlari menyusul wanita yang telah melahirkannya. Sedangkan Kennan dan Danu, mereka menatap heran ke arah Nina yang tiba-tiba saja berlari, Kennan hendak menyusul Nina, namun langkahnya di hentikan oleh Danu.
Danu berlutut di depan anaknya "Sayang biarkan bunda bicara dengan Nenek, kita bantu bunda bawa koper ke dalam yuk"
Kennan menganggukan kepala meski hatinya masih di rundung kecewa.
**********
Saat di ambang pintu, Nina berpapasan dengan ustad Arifin, sebelumnya ia juga berpapasan dengan sang istri.
"Nina" ucap Abi, pak Arifin terkejut mendapati putrinya ada di hadapannya.
"Abi, Assalamu'alaikum bi" Nina segera maraih tangan abi lalu menciumnya, setelah itu, ia memeluk tubuh laki-laki yang sangat ia hormati.
"Abi, maafin Nina bi, maaf"
Abi menepuk pelan punggung Nina, "Temui umimu, dia masuk ke kamarmu" ucap abi lalu mengurai pelukannya. "Minta maaflah pada umi, dia sangat merindukanmu"
"Iya bi"
Dengan gontai Nina memasuki kamarnya, perlahan pintu terbuka, tampak umi yang sedang duduk di bibir ranjang, dengan pandangan kosong menunduk menatap lantai. Nina segera menghampiri umi setelah menutup pintu kamarnya.
Ia mengambil posisi berlutut di hadapan uminya, Nina memegang tangan wanita itu, mengusapnya lembut, lalu menciumi punggung tangannya berkali-kali.
"Umi, maafkan Nina"
"Kenapa kamu kembali di saat umi sudah bisa melupakanmu?" Nina mendongak seketika, ia menatap dalam bola mata umi, berusaha mencari tahu maksud dari ucapan umi Lela.
"Umi ngomong apa?" tanyanya dengan gurat sedih.
"Kenapa kamu tega meninggalkan abi dan umimu hah?" teriak umi dengan suara lantang.
"Maaf umi, maaf" Nina kembali menunduk.
Sejujurnya Nina pun tidak pernah merasa tenang selama meninggalkan abi dan umi, ia ingin sekali pulang dan kembali pada keluarganya. Namun, nyalinya seketika menciut, ia terlalu takut untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya.
"Kamu tahu, setiap malam bahkan umi tidak pernah tidur nyenyak karena terus memikirkanmu, apa kamu tidak berfikir sedikitpun tentang perasaan kami, apa yang akan kamu lakukan jika saat kamu kembali, abi dan umi sudah tidak ada di dunia ini, apa kamu tidak pernah berfikir ke sana Karenina?"
"Nina minta ampun, ampun umi ampun" ucapnya dengan deraian air mata.
Rasanya ngilu sekali, ia tidak pernah membayangkan ini sebelumnya.
"Hidupku penuh rasa bersalah karna selalu membuat abi dan umi malu" Lirihnya penuh sesal. "Umi dari lahir sampai sebesar ini, Nina belum pernah membahagiakan kalian"
"Nina minta maaf karna selalu menyusahkan umi, Nina mohon ampun untuk semua kesalahan Nina umi" tambahnya dengan sorot serius.
Umi mendaratkan tangan di kepala Nina, lalu merangkum wajah sang putri, wanita paruh baya itu mencium kening putrinya lama.
"Jangan kamu ulangi lagi nak, dosa" sekejap Umi memeluk Nina yang masih berlutut, berharap pelukan singkat ini mampu melenyapkan rasa rindunya selama ini.
"Iya umi, Nina janji tidak akan mengulanginya lagi" Nina menjawab di sertai anggukan kepala.
"Tepati itu nak, jangan lagi pergi dari rumah di saat kamu ada masalah. Masalah itu di selesaikan, bukan di bawa lari"
"Paham umi, paham"
"Sekarang ceritakan tentang Kennan, umi penasaran kenapa anak itu memanggilmu bunda"
__ADS_1
"Dia anaku um, cucu umi dan abi"
"Lalu siapa ayahnya?" tanya umi seraya mengerutkan dahi.
"Mas Danu umi" Ada kelegaan di hati umi mendengar jawaban Nina.
"Kenapa kamu meninggalkan suamimu saat sedang hamil?"
"Waktu itu Nina belum tahu kalau hamil"
"Dan setelah kamu tahu, kenapa tidak pulang?" tanyanya lagi penuh selidik.
"Umi, Nina malu" sahutnya menunduk.
"Malu kenapa memangnya?", kamu hamil ada suamimu"
"Karena, Ni_"
Dung,,dung,,
Suara bedug memutus ucapan Nina, waktu sudah memasuki adzan maghrib para pria sudah bersiap di masjid dekat ponpes, Umi dan Nina akan menjalankan sholat di rumah.
"Kita sholat maghrib dulu" pungkas umi lalu bergerak bangkit dan sama-sama melangkah ke luar.
"Kennan mana mba Yun?" tanya Nina saat baru saja keluar dari kamar.
"Kennan sama pak Danu mba, di bawa ke masjid tadi bareng abi"
Nina membulatkan mulutnya membentuk huruf O, matanya terlihat sembab karena habis menangis.
"Mba Yuni sudah wudhu? kita sholat jamaah di rumah, nanti umi yang imami" Ucap umi yang di anggukan oleh Yuni.
Usai sholat, Nina kembali menuju kamar untuk membongkar kopernya, ia berniat untuk menata bajunya ke dalam lemari. Merasa sedikit panas, dan badan juga sedikit lengket, Nina melepaskan khimarnya lalu melemparkannya ke atas kasur.
*****
Di luar, Danu dan Kennan baru saja pulang dari masjid, Kennan yang berada di gendongan Danu sambil tertawa riang, membuat umi menyunggingkan senyum.
"Assalamualaikum" ucap mereka kompak.
"Wa'alaikumsalam" Jawab umi lengkap dengan seulas senyum. "Nak, Nina ada di kamar, bicaralah dengan lembut pada istrimu"
"Iya umi" jawab Danu patuh.
Sebelumnya Danu juga sudah di beri wejangan oleh ayah mertuanya untuk menyelesaikan masalah dengan sabar dan kepala dingin. Danu menurunkan Kennan dari gendongannya lalu segera menuju kamar.
"Kennan sama nenek dulu sini, ayah mau bicara sama bunda" Umi membawa Kennan ke dapur. Umi, bi Tati, dan mba Yuni, sedang menyiapkan makan malam, mereka akan makan lesehan di gazebo depan rumah.
☆
☆
Seseorang mengetuk pintu kamar, Nina berpikir itu umi, tapi tenyata Danu. Dia segera menyambar khimar yang teronggok si atas kasur, lalu memakainya dengan gugup sebelum dia mendengar Danu memakinya.
Ia menundukan kepala, sungguh wanita itu tidak berani menatap suaminya. Perasaan takut mendadak menyerang Nina, rasa bersalah pun ikut nimbrung mendominasi di benaknya.
"Nina" panggil Danu lembut.
Dada Nina berdesir mendengar panggilannya. Baru kali ini ia mendengar Danu memanggilnya dengan suara selembut itu, Ia merasa gugup, dengan debaran jantung yang sangat tidak nyaman. Nina meremas tangannya, berharap mampu menetralisir rasa itu. Persekian detik, tiba-tiba memorinya jatuh pada saat ia menipu suaminya dengan menatas namakan dirinya Nesa.
Pria itu melangkahkan kaki, perlahan berjalan mendekat ke arah Nina. Ketika langkahnya kian dekat, jarak mereka pun kian terkikis. Kini mereka berdiri saling berhadapan dengan jarak kurang dari satu meter.
__ADS_1
"Nin" panggilnya lagi.
Satu detik, dua detik, tiga detik, wanita itu mengangkat kepalanya pelan.
Sepersekian detik, pandangan mereka pun bertemu. Sepasang mata mereka lekat saling menatap. Kedua orang itu kompak menelan saliva nyaris di waktu yang sama.
Melihat mata Nina yang sembab, membuat hati Danu teriris.
"Yaa Rabb, kenapa hatiku sakit melihat wajahnya yang terlihat sembab serta kuyu? Jantungku? ada apa dengan jantungku yang berdetak tak nyaman? Andai saja bisa, aku inhin memeluknya detik ini juga, melampiaskan segenap rasa rinduku padanya, mengecup kening, bibir, dan pipinya. Andai lidahku tidak kelu, aku ingin mengatakan permintaan maafku padanya, aku ingin mengatakan tentang kerinduanku padanya, aku ingin bilang bahwa aku tidak bisa hidup tanpanya"
Larut dalam lamunan dalam kondisi saling beradu pandang, Danu akhirnya menyadari jika ternyata Nina sangat mirip dengan Nesa jika di lihat dari jarak dekat.
"Baru kali ini aku menatapnya begitu lama, begitu dalam. Benar dugaanku, Nina dan Nesa sangatlah mirip, Mereka ternyata mereka adalah satu orang yang sama. Dia begitu cerdik melakukan penyamaran menjadi wanita lain.
Sementara aku, betapa bodohnya sampai terkecoh oleh dirinya, istriku sendiri"
Danu membatin dengan sekelumit rasa yang tidak bisa ia jelaskan.
"Mas Danu, apa yang akan aku jelaskan pada mas, aku tak tahu bagaiman kalimat yang tepat untuk menjelaskan semua tentang Nesa. Sekarang mas pasti sedang berfikir jika wajahku sangat mirip dengan Nesa, sekarang mas pasti bisa menyimpulkan kalau Nesa itu aku. Maafkan aku mas, maaf. Aku adalah istri yang buruk bahkan sampai berani menipu suaminya sendiri"
Tidak ada percakapan apapun di antara keduanyan perasaan canggung mendadak menyelimutinya. Mereka sibuk dengan pikirannya masing-masing.
"Bunda" Kennan menerobos memasuki kamar dimana ada ayah dan bundanya, bocah kecil itu setengah berlari melewati Danu. Danu serta Nina sedikit terkejut di tengah-tengah lamunannya. Dengan tangkas Nina mengangkat tubuh Kennan lalu membawanya kedalam gendongan.
"Nenek umi nyuluh bunda cama om Danu makan cekalang" ucapnya polos lalu mengecup pipi Nina singkat.
"Kennan sini gendong om, bunda masih capek" Kata Danu seraya mengulurkan tangannya, Kennan pun segera beralih ke gendongan Danu.
Bundanya cape kenapa?"
Nina tak menjawab, dia hanya menyunggingkan senyum. Ragu-ragu ia bersuara "M-mas duluan saja, aku segera menyusul"
Danu pun keluar dari kamar setelah sebelumnya menganggukkan kepala, lalu melenggangkan kaki menuju gazebo.
Sementara Nina sedikit memoles wajah dengan bedak untuk menyamarkan kulitnya yang sedikit terlihat kusam, lalu segera melangkahkan kaki menghampiri abi dan umi yang sudah duduk berdampingan, menghadap mba Yuni dan Kennan.
Sedangkan Danu ada di sisi lainnya. Mereks tampak sedang berbincang dengan beberapa menu tersaji di depan mereka.
"Duduk di samping suamimu Nak, layani dia" ucap Umi setelah Nina sudah berada di Hazebo. Sedikit terpaksa, Ninaduduk di sebelah sang suami.
Mereka bersama-sama menyantap makan malam.
Makan malam yang berbeda dari biasanya, apalagi ada Kennan yang pintar sekali bercerita, membuat suasana tambah ramai dengan gurauan dan canda tawa.
Tiba-tiba saja ponsel Danu berbunyi, Ia segera menggeser ikon hijau dengan ibu jarinya.
"Iya Assalamualaikum san?"
"Ok besok pagi mas ke Rumah sakit sebelum ke kantor"
Panggilanpun di tutup dengan singkatnya.
"Siapa yang sakit Nak?" tanya Umi, membuat Nina menoleh ke samping kiri.
"Tidak ada umi, cuma mau ambil hasil pemeriksaan"
"Pemeriksaan apa?" tiba-tiba Nina menyolot, membuat Danu menatapnya penuh intens. Lagi, desiran jantung kedua orang itu mendadak berdetak sangat kencang.
"Pemeriksaan apa maksud mas Danu?, apakah dia sakit?" Nina menghirup napas panjang, lalu menghembuskannya perlahan.
BERSAMBUNG
__ADS_1