Menjadi Selingkuhan Suamiku

Menjadi Selingkuhan Suamiku
Ektra part 2


__ADS_3

Karenina Larasati


Sesampainya di rumah, ku lirik jam di pergelangan tanganku menunjukan pukul 10 lewat.


"Mas" panggilku sesaat setelah turun dari mobil


Mas Danu tak langsung menjawabnya, karena tengah fokus memutar kunci pada lubang pintu. Sampai kami memasuki rumah, dia tetap tak mengatakan apapun, kami sama-sama melangkahkan kaki menuju dapur. Aku meraih gelas kosong, lalu mengisinya dengan air putih, setelahnya ku serahkan pada mas Danu.


"Aku ke atas dulu" pamitku ingin mendahului masuk ke kamar. Namun baru hendak melangkahkan kaki, mas Danu meraih tanganku


"Kenapa mendadak jadi posesif seperti ini?" ucapnya lagi lalu menarik tubuhku hingga menempel mengikis jarak ke tubuhnya


Aku menatap tajam pada mas Danu yang juga sedang menatapku tak kalah tajam "Entahlah, kenapa aku mendadak takut jika aku belum bisa memberinya anak ke dua, dan dia akan pergi dengan wanita lain"


Aku hanya bisa mengucapkannya dalam hati. Ku hembuskan napas dan berusaha melepaskan diri dari cengkramannya, namun tak berhasil "Lepas mas, ada mang Tomo di luar"


"Biarkan saja, yang ku peluk ini istriku, bukan istri orang lain


"Terserah mas saja"


"Kalau ada yang penting, langsung telfon mas" dan jika mas lama merespon, jangan buru-buru berprasangka buruk.


Aku mengangguk, detik kemudian mas Danu ikut menganggukan kepala. Aku mencermati sorot matanya yang tak teralihkan selama melakukan kontak mata. Tatapan yang bagiku sangat teduh dan menenangkan.


Fokusku buyar ketika tiba-tiba mas Danu melepas hijabku, dengan gesit menciumi ceruk leherku.


Aku mencubit lengannya yang melingkari pinggangku ketika menyadari bahwa saat ini kami masih berada di meja makan yang menyatu dengan dapur. "Ini dapur mas" ucapku yang di respon kekehan oleh mas Danu.


"After coming home, we make a baby"


Mas Danu membawaku ke kamar, kami bergantian memasuki kamar mandi, untuk sekedar menggosok gigi, dan cuci muka.


Saat sudah berada di atas tempat tidur, kami berbincang ringan mengenai kegiatan Kennan hari ini, yang sesekali terhenti karena tangan dan bibir mas Danu semakin liar bermain-main dengan tubuhku.


Obrolan ringan yang berlanjut dengan candaan, dan berahir dengan fitnes malam, menyisakan sensasi yang menggelenyar di setiap aliran darah, sensasi yang membuat pikiranku kacau jika mengingatnya.


Masih dengan posisi menindihku, mas Danu mengecup batang lerheku dalam dan lama.


"Tidurlah, kamu perlu istirahat" sambungnya, dan aku seketika melingkarkan tanganku di atas perutnya.


*******


Pagi hari aku selalu sibuk menyiapkan sarapan, karena ART baru berangkat sekitar jam 7 pagi, dan karena ini hari minggu, si mbak ART tidak bekerja.

__ADS_1


Saat tengah memanaskan minyak, tiba-tiba saja mas Danu mematikan kompornya, lalu membawaku duduk di tempat makan, membuatku mengernyitkan dahiku "Ada apa mas?"


"Apa kamu menggunakan ini lagi?" tanya mas Danu sambil menunjukan sebuah tespek di tangannya. Aku hanya mampu menganggukan kepala, karena saat aku menggunakannya, hasilnya tetap sama yaitu garis satu, dan itu membuatku lagi-lagi menelan kekecewaan, dan aku menaruhnya begitu saja di atas meja wetafel kamar mandi.


Melihat perubahan di wajahku mas Danu mengerutkan dahinya, entah apa maksud kerutan di dahinya itu. "Apa kamu melihat hasilnya?" lagi, aku mengangguk "Apa?" tanyanya


"Garis satu"


"Yakin?"


Aku mengangguk lagi untuk meresponya


"Kamu memang keras kepala ya, sudah mas bilang jangan gunakan ini, masih saja diam-diam menggunakannya" ucapnya lalu berdiri dan memasukan benda tipis itu ke sakunya. Ku lirik mas Danu berjalan ke arah kompor, dan menyalakannya. Aku berfikir saat ini pasti dia sedang marah, karena aku tak mematuhi ucapannya


"Kenapa mudah sekali melanggar aturan suamimu hah?" kata mas Danu sembari menumis sayur putren.


"Mas marah?"


"Menurutmu, apa suami akan diam saja, jika istrinya tidak menuruti ucapannya?"


Aku diam mendapat omelannya. "Aku hanya tidak ingin melihatmu menelan kecewa mentah-mentah Karenina, terus ahirnya kamu sedih. Apa yang terjadi setelah itu?" kamu pasti enggak akan fokus mengurus anak dan suamimu"


Fix, jika namaku di sebut seperti itu, itu artinya mas Danu benar-benar marah.


Mas Danu tak merespon lagi ucapanku, selama beberapa menit, hanya suara dentingan sutil dan wajan yang saling beradu


"Mas?"


"Apa?" sahutnya ketus


"Anna Uhibbuka Fillah. Aku bantu ya", ucapku seraya berjalan ke arahnya


"Kembali ke tempat dudukmu!"


Aku pun menuruti perintahnya.


di sini aku memperhatikan mas Danu yang sangat lihai menggerakan tangannya dalam mengolah makanan.


Hingga beberapa menit berlalu, pria hebatku menata hasil masakannya di atas meja makan.


Oseng putren, Oseng udang dengan campuran kuning telur asin, ada juga telur dadar dengan campuran irisan wortel dan daun bawang.


Dengan telaten mas Danu menyidukan nasi dan lauk ke atas piring lalu menggesernya ke hadapanku.

__ADS_1


"Makan yang banyak, biar sehat, setelah ini mandi, lalu kita pergi mengaji ke rumah abi" pungkasnya "Pulang dari rumah abi, Kita akan mampir ke rumah mamah, dan ke supermarket"


"Enggak ke rumah mas Rio buat jemput Ken?"


"Rio dan Irma akan ikut kajian juga di rumah abi, kita akan ketemu Ken di sana, kita mampir ke rumah mamah saja, jemput mama buat nemenin kamu sama Kennan selama mas pergi"


"Terus mau beli apa ke supermarket, nggak biasanya mas ngajakin ke sana?"


"Beli susu hamil"


"Apa untuk Irma?" tanyaku yang di jawab gelengan kepala oleh mas Danu


Aku, seketika menghentikan gerakan menyuapkan nasi ke mulutku, tiba-tiba saja aku berfikir kalau mas Danu punya istri selain aku, namun pikiranku segera di tepis oleh mas Danu, saat pria di depanku meraih tespek di saku celananya dan menaruhnya di sebelah piringku


"Garis dua?" gumamku lirih aku tak bisa lagi membendung air mataku, ku lihat mas Danu menjatuhkan sendok ke piringnya


"Garis satu nangis, garis dua nangis, hufft aku benar-benar ingin menghancurkan pabrik pembuat tespek" ucapnya dengan satu tangan berkacak pinggang, dan tangan lainnya memijit pelipisnya


"Aku bahagia mas"


Alih-alih meresponku, mas Danu mengulurkan tangan memboyongku untuk duduk di pangkuannya "Selalu ingat pesan mas ya, mulai saat ini, sedihmu, marahmu, dan takutmu, jangan di pendam sendiri, karena ada kehidupan di dalam sini" ujarnya mengusap perutku "Eits mau kemana?" tanyanya saat aku hendak beranjak dari pangkuannya


"Ke kamar, mau cek sekali lagi mas"


"Habisin sarapanmu dulu"


Aku melirik sisa makananku di atas piring yang baru aku makan sekitar 3 sendok


Selesai makan, kami bersama-sama membereskan meja makan, meski mas Danu melarangku untuk membantunya, namun aku tetap melakukannya walaupun hanya sekedar mengelap meja.


Setelahnya, kami bersama-sama menaiki anak tangga menuju kamar, dengan cepat aku meraih tespek yang selalu aku sediakan di lemari kamar mandi


Satu, detik, dua detik, hingga berganti menjadi tiga detik, satu garis mulai muncul, detik berikutnya samar-samar mulai tampak dua garis, sampai pada waktu kurang dari satu menit, dua garis itu terlihat sempurna. Ternyata instingku beberapa hari ini, yang kurasa sangat kuat, benar terjadi, aku hamil untuk ke dua kalinya.


Ku perlihatkan sekali lagi pada pria hebatku. Dan seketika aku mendapatkan ciuman bertubi-tubi "Sepulang dari bangkok, kita perikasa ke dokter" ucapnya ketika berhenti menciumku


"Kenapa enggak besok saja mas, aku sendiri juga bisa"


"Jangan, harus sama mas"


Kalau suamiku sudah memutuskan, aku tidak berani membantahnya..


######END######

__ADS_1


__ADS_2