
Cuplikan bab 14
Menarik nafas dalam-dalam, lalu menghembuskannya perlahan, Erlan terus melangkah melewati koridor rumah sakit menuju lift yang akan membawanya turun. Ia memilih pergi dari kamar Boby, dari pada harus meladeninya dengan semua omongan gilanya.
Setibanya di depan lift, dengan cepat tangan sang sekertaris menekan tombol digital yang menyerupai tanda panah kebawah.
Sembari berdiri menunggu lift, Otaknya masih terus memikirkan ucapan sang paman yang berusaha menjebak untuk menyingkirkannya.
Erlan dengan santainya memasukan salah satu tangan ke dalam saku celananya, tiba-tiba mendengar suara gaduh berasal dari depan bangsal seseorang.
Per sekian detik, ia memusatkan perhatian pada suara bising tersebut.
Di sana, dengan sangat jelas bisa di lihat sosok yang tengah membuat keributan dengan begitu sadis. Fokus Erlan terarah pada wanita yang terus mendebat sang pengawal dengan suara lantangnya.
Wanita itu adalah Vania, istri sah ayah Grace, yang sangat membenci bu Rosa karena sudah main gila dengan suaminya.
Dan kini kebenciannya kian mendarah daging saat mengetahui bahwa Rosa mendapatkan perawatan terbaik di rumah sakit ini.
Minggir kamu, aku ingin bertemu dengannya" pekik Vania menahan geram.
Dengan tidak sopannya, wanita itu berteriak-teriak ingin memasuki bangsal milik Rosa. Bahkan dia tidak tahu malunya mencaci maki si pengawal yang bertugas pagi ini, ia terus memaksanya agar bisa masuk menemui Rosa, tapi langkahnya terus di hentikan oleh pengawal rumah sakit.
"Maaf bu, kami tidak bisa mengizinkan sembarang orang untuk menemui bu Rosa"
Mendengar ucapan sang pengawal, seketika raut wajah Vania berubah masam, ia tersenyum kecut seolah tak percaya.
"Memangnya dia siapa hah?" tanya Vania kepada sang pengawal, ia sedikit mendongakkan kepala karena perbedaan tingggi badannya yang lebih pendek. "Dia hanya wanita miskin yang dengan beraninya merebut suami orang, wanita penggoda, pelakor dia," sinisnya.
"Minggir kamu?"
"Maaf bu, saya tidak bisa"
Mata Vania memicing, nafasnya menderu tak teratur. "Biarkan aku masuk, atau kamu akan di pecat?" Ancamnya dengan emosi yang semakin menggelegak.
"Maaf sekali lagi, ibu tidak bisa masuk untuk menemuinya, tolong jangan memaksa"
__ADS_1
"Oh, jadi kamu ingin di pecat?" tanyanya Ketika sang pengawal masih dengan pendiriannya untuk tidak mengijinkannya memasuki bangsal Rosa. "Akan aku adukan sikapmu ini pada kepala rumah sakit di sini, setelah itu aku pastikan kamu akan segera di pecat dari pekerjaanmu"
"Maaf bu, harus saya sampaikan bahwa kepala rumah sakit sudah di berhentikan" ujar sang pengawal setenang mungkin. "Mulai sekarang wakil kepala rumah sakitlah yang mengambil setiap keputusan" lanjutnya menegaskan.
"Apa?" kata Vania yang tak bisa menyembunyikan keterkejutannya. "D-di berhentikan?" k-kok mendadak?" tanyanya dengan tergagap.
Berkali-kali ia menelan ludahnya sendiri karena syok mendengar apa yang di katakan pria di hadapannya.
Mengerutkan kening, Vania menatap sang pengawal penuh selidik.
Baik semalam, atau kemarin, ia merasa tak mendapat kabar apapun tentang rencana pemberhentian kepala rumah sakit.
"Iya bu, kemarin kepala rumah sakit sudah resmi di berhentikan, dan sambil menunggu kepala rumah sakit yang baru, untuk sementara ini, semua keputusan atas ijin wakil kepala rumah sakit. Dan wakil kepala rumah sakit mengatakan bahwa bu Rosa di larang di jenguk oleh sembarang orang" jelasnya panjang lebar.
"Tidak mungkin" desisnya dengan fokus masih menatap si pengawal.
"Lebih baik ibu pergi dari sini"
Mengabaikan pengusiran si pengawal rumah sakit, ia justru memunculkan senyum sinisnya.
Vania masih terus berusaha ingin masuk ke dalam ruang perawatan Rosa yang terkesan begitu mewah.
Sekeras apapun sang pengawal menghentikan niatnya, maka sekeras itu pula Vania memaksa masuk.
Dari luar bangsal, Vania terus mengeluarkan umpatan dan hinaan untuk Rosa.
"Hei kamu" Desis Vania yang tidak tahu seperti apa ekspresi wajah Rosa saat ini. "Sudah miskin, penyakitan, dan parahnya menggoda suami orang"
Emosinya kian meluap-luap, otaknya berfikir keras kenapa dia bisa sampai di ruangan termewah dan mahal.
"Suami siapa lagi yang sudah kamu goda hah?" teriaknya semakin kencang. "Bagaimana bisa orang miskin sepertimu membayar tarif kamar mewah ini?" wajahnya kian memanas, matanya menyiratkan amarah yang kian menjadi.
Sementara di dalam bangsal, bu Rosa menahan diri untuk tidak keluar dari ruangannya, bahkan ia menulikan telinga saat mendengar hinaan yang keluar dari mulut Rosa.
"Tolong bu, jangan membuat keributan disini, sikap ibu bisa mengganggu pasien-pasien yang lain. Lebih baik ibu pergi sekarang juga"
__ADS_1
"Hei kamu" ujarnya seraya menunjuk kepada sang pengawal yang masih terus berusaha mengusirnya. "Sudah ku bilang aku tidak akan pergi sebelum bertemu dengan wanita ******* penghuni kamar itu"
Dari sisi lain, Erlan terus termangu menyaksikan bagaimana Vania menghina seseorang dengan kata-kata kasarnya. Bahkan ia sangat terkejut ada seorang wanita yang begitu sadis dan kejam seperti Vania.
"Hei Rosa, jika berani, keluar kamu sekarang juga" seru Vania, masih terus menghinanya.
Hilang kesabaran, akhirnya Rosa memberanikan diri untuk keluar. Ia membuka pintu dengan wajah yang menyiratkan amarah, dadanya bergemuruh hebat, dan sorot matanya tajam.
Setelah pintu terbuka, netranya langsung menangkap Vania yang tengah tersenyum ironis.
"Akhirnya keluar juga kamu Rosa?"
"Apa yang kamu inginkan sebenarnya?" tanya Rosa, sepasang matanya mendelik penuh amarah. "Selama ini aku sudah berusaha menulikan telinga untuk tidak mendengarkan semua hinaanmu, membutakan mata untuk tidak melihat sikap burukmu padaku dan anaku. Tapi kamu memang dasar wanita tak berhati, dengan kejinya kamu memfitnah anak saya"
"Siapa yang memfitnah" sanggah Vania cepat. "itu memang kenyataan, anakmu pasti menjadi pela*cur, atau menjadi simpanan pria kaya" Kali ini ucapan dan senyumannya benar-benar meremehkan. "Apa kamu tidak sadar, bahwa orang miskin seperti kamu tidak akan mungkin bisa membayar kamar semewah ini, kecuali merayu seorang pria kaya"
"Cukup" teriak Rosa, jantungnya berdetak tak karuan.
Senyum sinis Vania kian terbit, dia senang jika bisa membuat Rosa semakin emosi, dengan begitu, ia berharap kondisi Rosa kembali memburuk. "Pria sial mana yang sudah kalian rayu?" tanyanya dengan nada pelan, tapi tak serta merta meredakan kebenciannya terhadap Rosa dan Grace.
"Pria sial mana yang sudah berhubungan dengan kalian berdua hah?" Tanyanya lagi dengan intonasi sedikit meninggi.
Rosa terdiam usai mendengar pertanyaan Vania, netranya berusaha menyelami manik mata Vania yang masih menyiratkan kemarahan.
Sementara Erlan, sudah tidak bisa lagi menahan diri untuk diam saja, dengan langkah penuh wibawa, ia berjalan menghampiri dua wanita yang tengah terlibat perdebatan sengit"
"Pria sial mana hah?" tanyanya ulang ketika Rosa masih saja bungkam.
"Pria itu aku" Suara dari balik punggung Vania, membuat dua wanita itu mengalihkan fokus ke arah sumber suara nyaris bersamaan.
Sekertaris Erlan terkejut begitu mendengar ucapan yang di lontarkan oleh atasannya. Reflek ia meneguk ludahnya sendiri, matanya membulat sempurna, dan mulutnya tanpa sadar terbuka lebar.
BERSAMBUNG
Karena masih baru banget, dan baru di publish, jadi mungkin agak susah di kolom pencarian. so, langsung klik aja profilku.
__ADS_1