Menjadi Selingkuhan Suamiku

Menjadi Selingkuhan Suamiku
Part 53


__ADS_3

Bacanya pelan-pelan saja ya biar paham, alurnya maju mundur, yang tidak suka skip saja, jangan ninggalin komentar yang membuat mood saya terjun bebas 😁😁 ini hanya novel, cerita yang mungkin tidak terjadi di dunia nyata. Dan disini saya tidak bermaksud mempermainkan hijab atau agama. Intinya, yang baik silahkan di petik, yang buruk tolong tinggalkan... 😇😇😇


...🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹...


"Sayang, Kennan duduk sini ya, ayah sebentar lagi mau ada meeting, Kennan nanti mainan ponsel ayah" Danu mendaratkan tubuh Kennan di sofa ruang kerja.


"Nih di ponsel ayah ada banyak permainan, Kennan bisa pilih sesuka Kennan"


"Ada mobil-mobilan yah"


"Ada sayang" Danu memilih menu permainan yang sudah ia download di market place "ini Kennan bisa pilih sendiri" Ia menyerahkan ponsel pada putranya "Ayah duduk di sana ya" Danu menunjuk sebuah meja kerja "Mau ganggu ayah kerja?"


"Tidak ayah" jawab Kennan dengan pandangan tetap fokus ke layar ponsel.


"Ok pinter" Ia mengusap pucuk kepala Kennan dan mendaratkan satu kecupan, lalu berjalan menuju meja kerja.


Zoom meeting berakhir di menit ke lima puluh tiga. Danu segera mengklik tombol exit, lalu shut down pada laptopnya. Ia bergegas membawa Kennan ke meja makan untuk makan malam.


Keesokan paginya, Danu sudah bersiap untuk ke kantor, dia akan ke rumah abi terlebih dahulu, untuk mengantar Kennan.


"Kita ke rumah kakek abi sayang, ayah mau kerja. Nanti sepulang kerja, kita main lagi"


"Ok ayah"


Danu mengendarai mobilnya sambari mendengarkan lantunan sholawat, hingga tak terasa, mobil sudah sampai ke tempat tujuan.


"Ken turunya pelan-pelan, kalau mau lari hati-hati ya"


"Bunda" teriak Kennan dari luar, Nina yang mendengar suara putranya, segera membuka pintu.


"Salam dulu sayang"


"Assalamu'alaikum bunda" ucap Kennan lalu mengecup punggung tangan Nina.


"Wa'alaikumsalam anak bunda, gimana tadi malam bobo sama ayah"


"Seneng dong bunda, main mobil di hape ayah, asik bund"


Danu berjalan menghampiri Nina, ia segera meraih tangan Danu lalu mengecupnya masih dengan canggung.


"Maaf mas, ngerepotin?"


"Kamu ngomong apa Nin, kamu lupa kalau Kennan juga anaku, aku tidak merasa di repotkan"


"Tapi mas jadi cape harus bolak-balik, jadi terlambat juga kan ke kantor"


"Tidak masalah, aku kan bosnya" Sahut Danu. "Ken, ayah kerja dulu ya"


"Ken mau ikut ayah kelja" Bocah kecil itu mendongakan kepala menatap ayahnya yang jauh lebih tinggi darinya.


"No Kennan, itu bukan tempat bermain, anak kecil tidak boleh masuk"


"Tapi pengin ikut ayah, bund"


"Kennan mau ikut ayah kerja?" tanya Danu serius


Anak itu dengan cepat menganggukan kepala "Ok, tapi mandi dulu, Kennan kan belum mandi"


"Tapi mandi sama ayah"


"Kennan, ayah sudah pakai baju kerja, nanti basah bagaimana, ayah sudah terlambat, mandi sama bunda ya"


"Ya bunda, tapi di temani ayah"


"Siap, bunda yang mandiin, ayah yang nemenin" Sahut Danu girang.


"Ayo bunda cepetan" Kennan menarik tangan sang bunda lalu membawanya ke kamar mandi.


Aktivitas memandikan Kennan tidak membutuhkan waktu lama, sebab Nina mengerti jika suaminya sudah terlambat. Secepat mungkin Nina memakaikan baju pada Kennan.


"Nin, kita pulang ke rumah kita ya?" ucap Danu tiba-tiba.


Sontak Nina memindai pandangan sejenak pada pria yang berdiri tegap di samping kirinya, lalu beralih menatap Kennan yang tengah memakai baju di bantu olehnya

__ADS_1


"Kennan sudah sarapan mas?"


"Cuma sarapan roti tadi"


"Kennan ke dapur ya, di sana ada nenek umi dan mba Yun, minta bikin susu ke mba Yuni"


Setelah mengiyakan perintah bundanya, Kennan berlari menuju dapur, meninggalkan kedua orangtuanya yang masih di dalam kamar


"Nina kita pulang ya" Danu mengulang ajakannya.


"Nanti setelah abi pulang mas, aku ingin berpamitan padanya"


Mendengar jawaban sang Istri, senyum Danu seketika terbit dari sudut bibirnya


"Baiklah"


"Mas yakin akan mengajak Ken ke kantor?" apa tidak mengganggumu nanti di sana?"


"Tidak apa-apa Nin"


"Nanti agak siangan aku ke kantor jemput Kennan" ucapnya seraya memunguti pakaian kotor milik Kennan. Saat hendak melangkahkan kaki keluar kamar, Danu segera meraih pergelangan tangannya yang membuat Nina seketika menoleh pada cengkramannya.


"Aku belum dengar kamu memaafkanku Nin. Aku sungguh minta maaf padamu"


"Aku memaafkanmu mas"


"Tapi aku merasa kamu masih marah padaku"


"Lalu aku harus bagaimana?"


"Jangan mendiamkanku" kata itu meluncur begitu saja dari mulut Danu.


Nina tersenyum getir mendengarnya. "Bagaimana denganku yang sudah mas diamkan selama dua tahun?"


Danu melepaskan cengkramannya pada tangan Nina "Apa kamu dendam?"


"Tidak mas, aku hanya bertanya saja"


***********


Sesampainya di kantor, Dengan menggendong Kennan, dan tangan lainnya membawa tas kerja, Ia dengan lepas melenggangkan kaki memasuki gedung miliknya yang menjulang tinggi.


Beberapa pasang mata tak lepas dari pandangan para karyawan, mereka memandang bosnya penuh tanya. Namun tidak lama, rasa penasaran mereka pun terjawab saat Rio sang asisten menyapa Kennan dan Kennan langsung memanggilnya papi. Para karyawan yang sudah mengetahui dan menyangka bahwa Rio telah menikahi janda sesuai dengan gosip yang beredar, mereka hanya ber oh ria dalam hatinya.


"Loh, kamu kapan pulang?" Tanya Danu menyelidik.


"Tadi malam" Rio segera meraih Kennan dari gendongan Danu.


"Kenapa Kennan ikut om Danu ke kantor?"


"Kennan pengin lihat ayah kelja pi" Rio mengernyitkan dahi saat mendengar Kennan memanggil Danu dengan sebutan ayah, lalu tersenyum tipis seolah ikut merasakan kebahagiaan atasan sekaligus sahabatnya.


"Apa?, ayah?" tanya Rio pura-pura kaget.


Mereka berjalan bersisian menuju lift yang akan mengantarnya ke ruang kerja.


"Iya kata bunda, om Danu itu ayah Kennan pi"


"Oh ya, bunda sudah pulang?"


Anak itu mengangguk. Kini mereka berada di dalam lift.


"Bagaimana pertemuan pertama kalian?"


"Bagaimana memangnya?" jelas menyenangkan" jawab Danu jujur.


Ting,


Bunyi lift menandakan kalau mereka telah sampai di lantai tujuan, mereka bergantian keluar dari dalam lift.


"Kennan ikut ayah ke ruangan ayah yuk" ajak Danu, namun segera di tepis oleh Rio.


"No, No, kamu sudah dua minggu bersama Kennan, dia akan ikut denganku ke ruanganku"

__ADS_1


"Tidak, dia anaku harus ikut ayahnya"


"Kamu bilang apa? anakmu?" lagi-lagi Rio berakting. "Jangan ngaku-ngaku ya"


"Eh siapa yang ngaku-ngaku" Mereka terlibat memperebutkan Kennan, tanpa mereka sadari ada sepasang mata yang menyaksikan keributan mereka.


"Yang di panggil mami siapa?" tanya Rio pada Danu


"Irma" jawab Danu singkat.


"Yang di panggil papi?"


"Kamu lah"


"Berati dia anaku" sahut Rio. "Yang tidak mau di panggil ayah waktu itu siapa?" pertanyaan terahir Rio bagaikan skakmatt untuk Danu.


"Tapi dia anak kandungku" jawab Danu seraya mengambil alih Kennan dari gendongan Rio


Brugh..


Tiba-tiba Rara menjatuhkan beberapa tumpukan dokumen, ia terkejut mendengar pengakuan Danu. Dua pria sebaya itu sontak mengalihkan pandangan ke arah sumber suara.


"Ra, ada apa denganmu?" tanya Rio mengernyit keheranan.


"An-anak kan-dung pak Danu?"


Kedua pria itu menggeleng tanpa merespon pertanyasan Rars barusan. "Ken, ayo kita masuk ke ruangan ayah" kata Danu pada Kennan. "Kamu fokus kerja saja, dua minggu bulan madu, tugasmu menumpuk di meja" imbuhnya tertuju pada asistennya.


"Ken, nanti kalau sudah bosen di ruangan ayah, Kennan ke ruangan papi ya, ruangan papi yang itu" Rio menunjuk ruangannya pada pintu yang masih tertutup rapat. "Atau Ken bisa antar sama mba itu" kali ini Rio menunjuk Rara dengan jari telunjuknya. Tampak Rara masih bengong dengan beberapa pertanyaan yang memenuhi kepalanya.


Sementara Danu, dengan santainya Danu berlenggang melewati sang sekertaris, setelah merespon ucapan Rio.


Aktifitas di kantor berjalan seperti biasanya, hingga tak terasa jam makan siang hampir tiba.


Saat Rio hendak menuju ruangan Danu, Dia bertemu Nina dan sang istri yang tiba-tiba saja ada di kantornya.


"Kalian?"


"Mas Rio, apa kabar?" Tanya Nina menundukan kepala.


"Baik Nin"


"Tadi pas aku ke rumah abi, Nina mau jalan ke sini katanya mau jemput Kennan, ya sudah aku ikut sekalian pengin jalan-jalan juga sama Nina sama Kennan" sela Irma cepat.


"Oo begitu, Ruangan Danu masih di sana Nin"


Rio mengurungkan niatnya yang hendak ke ruangan Danu, lalu mengajak Irma ke ruangannya.


"Bu Nina sudah kembali?" tanya Rara saat Nina melewati mejanya, seolah dia tidak percaya dengan apa yang di lihatnya saat ini.


Nina hanya menyunggingkan senyum dan tidak menyahut ucapan Rara "Selamat siang mba Rara"


"Selamat siang bu, pak Danu ada di dalam"


"Iya, Permisi saya masuk dulu"


Dengan langkah sedikit gugup Nina melewati meja Rara yang menampilkan ekspresi terkejut.


"Kamu sudah datang Nin"


Nina menutup pintu kemudian berjalan menuju Kennan yang tengah duduk si sofa "Sudah mas, Kennan ada ganggu ayah kerja?" dia bertanya pada anaknya.


"Tidak ada bun, Kennan duduk telus main mobil-mobilan sama lobot aja. Bunda bawa apa?" ia melirik pada tupperware yang baru saja di letakan bundanya di atas meja.


"Bunda bawa makan siang buat ayah, sama papi Rio"


"Nin, aku sudah menyuruh teh Wati buat nyiapin kamar untuk Kennan, aku akan menjemputmu kalau kamu sudah siap"


"Tolong siapin kamar juga untuku mas"


"Sudah siap kok Nin"


"Aku mau kita tidur terpisah mas" Danu memindai pandangannya sesaat setelah mendengar ucapan istrinya.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2