
"Mulai hari ini aku akan berbagi ranjang dengan mas Danu, aku merasa dia lebih tegas sekarang, aku benar-benar tidak bisa membantahnya"
Selesai menata pakaiannya, Nina berjalan menuruni anak tangga, ia melihat teh Wati yang sedang berkutat di dapur.
"Teh Wati, mas danu sama Kennan dimana ya, aku belum melihatnya?"
"Pak Danu sama Kennan sedang berenang bu"
"Ooh, hmm teh Wati mau masak apa untuk makan siang?"
"Belum tahu bu, kira-kira mau masak apa ya?" atau bu Nina mau di masakin makanan kesukaan ibu?"
"Aku suka makan apa saja teh, lebih baik masak makanan kesukaan mas Danu saja. Di kulkas ada daging?" Nina bertanya seraya membuka kulkas.
"Ada bu, stik sapi sama ikan nila, ada jamur juga terong"
"Apa tidak apa-apa kalau aku nyuruh teh wati buat cuciin bahan-bahan untuk masak, nanti biar aku yang masak teh"
"Bu Nina ini bagaimana, ya tidak apa-apa, mau nyuruh apa saja saya siap bu"
"Kalau gitu, tolong cuciin stik sapi, nanti tiriskan, terus ikan Nila juga, terongnya nanti kita balado"
"Siap bu"
"Makasih ya teh, aku ke belakang dulu"
Sesaat setelah mendapatkan informasi dari sang ART bahwa suami dan anaknya sedang berenang, Nina melangkahkan kakinya menuju kolam.
Dari kejauhan nampak Danu tengah mengajari Kennan, ia menengkurapkan dan menyanggah badan milik Kennan dengan kedua tangannya. Dan Kennan tampak melebarkan lengan bak pesawat, membiarkan tangan serta kakinya bergerak-gerak sendiri.
"Lucu sekali"
Di tengah-tengah keasyikan ayah dan anak yang begitu bahagia bermain air, Nina menyuruh mereka untuk menyudahi aktifitas berenangnya, Nina sudah membawa dua handuk untuk suami dan putranya
"Sudah yuk mainnya"
"Sebental lagi bun" sahut Kennan sedikit berteriak
"Kalau bunda bilang sudah, ya sudah, ayo naik"
"Tidak apa-apa dhe, sebentar lagi kita naik, biarkan dia puas bermain, ada ayah yang mengawasinya"
"Pokoknya naik sekarang, Kennan tahu kan tidak boleh lama-lama main air, ayo sini nurut sama bunda" Tidak ada pilihan lain, Danu segera mendudukan tubuh Kennan di tepi kolam, lalu Nina membalut tubuh anak kecil itu dengan handuk. Tak cuma itu, ia juga menyerahkan satu handuk lainnya untuk membalut tubuh sang suami. Nina menggendong Kennan lalu membawanya ke dalam rumah.
Disana, Danu merasa heran atas ucapan sang istri. Rasanya ingin sekali meminta penjelasan pada Nina.
"Bunda besok belenang lagi boleh?"
"Boleh, tapi jangan terlalu lama. Ayo cepat pakai bajumu"
"Ayah besok belenang lagi ya" Kennan bertanya pada Danu yang baru saja memasuki kamarnya. jantung Nina berdebar saat mendapati suaminya hanya memakai handuk bertelanjang dada.
"Tanya bunda sayang, kalau sama bunda boleh, ok kita berenang" jawabnya lalu masuk ke kamar mandi
"Ayah malah ya bun?"
"Marah?" Nina menautkan kedua alisnya, bocah itu tampak mengangguk "Masa si, memang marah kenapa ayahnya?"
"Tadi ayah langsung masuk ke kamal mandi"
"Ayah tidak marah sayang, mungkin ayah kedinginan, jadi mau langsung mandi. Kennan tunggu ayah di sini, bunda mau masak buat makan siang"
"Ok bunda"
Jam menunjukan pukul 11 siang, Nina akan ke dapur untuk menyiapkan makanan.
__ADS_1
"Bahannya sudah di cuci semua ya teh?" tanya Nina
"Sudah bu"
"Makasih teh"
"Bu, saya ingin berhenti kerja" ucapan teh Wati barusan membuat Nina mengalihkan pandangan padanya "Loh, kenapa teh, aku baru saja kembali"
"Ibu saya sakit bu, di bandung tidak ada yang merawatnya, rencananya saya akan membawa kemari, dan merawatnya di sini"
"Begitu ya teh, ya sudah nanti aku bicara sama suami"
Stik sapi, Nila bakar, dan balado terong, sudah siap untuk di santap, ini pertama kali Nina memasak setelah kepergiannya.
"Dhe, nanti setelah ini, kita ke rumah mamah, Ucap Danu saat tengah menikmati makan siang. Setelah sekian lama, kini ia bisa menyantap masakan buatan Nina.
"Kerumah mamah?"
Danu mengangguk "Mereka ingin bertemu denganmu, dan juga Kennan, nanti sekalian kita makan malam di sana"
"Mereka sudah tahu tentang Kennan?"
"Sudah, Sandra yang memberitahunya" Danu menatap lekat wajah Nina "Kenapa wajahmu mendadak pucat, ada apa?"
"Apa mereka tahu, soal Nesa?"
"Tahu, tapi belum tahu kalau Nesa itu kamu"
Suasana makan mendadak hening, hanya suara dentingan sendok yang saling beradu
"O ya mas, teh Wati mau berhenti kerja, dia akan merawat ibunya yang sakit"
"Loh, kok mendadak?"
"Tidak tahu mas"
...🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷...
Di tengah teriknya matahari, sebuah mobil mewah melaju membelah kota, Danu membawa keluarga kecilnya mengunjungi rumah orang tuanya.
Kennan berada di pangkuan Nina, tampak tertidur pulas dengan desiran nafas yang teratur. Setelah 20 menit, mereka telah sampai di rumah papa dan mama.
Danu segera keluar dari dalam mobil, ia setengah berlari mengitari mobil, membukakan pintu untuk Nina "Sini dhe, mas yang gendong"
"Tidak usah mas, nanti kalau pindah tangan malah kebangun"
"Ya sudah sini tasmu, mas bantu bawa"
Perlakuan Danu memang sangat manis, tapi seolah Nina masih belum bisa melupakan perlakukannya pada Nesa yang juga sangat romantis
"Kennan bobo ya mba, ayo masuk?"
"Iya San"
"Mba, tidurin di kamar tamu saja, lebih dekat"
Sandra membantu membuka pintu kamar, dengan hati-hati Nina merebahkan tubuh Kennan di atas kasur, anak itu sedikit menggeliat, gegas Nina menepuk pelan punggung putranya.
"Mba Nina, I miss you" pertemuan pertama setelah sekian lama, mereka saling berpelukan untuk melepas rasa rindu.
Saat keluar dari kamar tamu, terlihat papa dan mama sudah duduk di ruang TV bersama Danu
"Mah" Nina meraih tangan ibu mertua, memeluk erat tubuhnya sejenak lalu beralih meraih tangan ayah mertua
"Bagaimana kabarmu Nin?"
__ADS_1
"Baik pah, maaf sudah ninggalin kalian" Nina mengambil tempat duduk di sebelah Danu
"Kenapa minta maaf, Danu yang salah, apa dia sudah meminta maaf padamu"
"Sudah berkali-kali pah" Sambar Danu
"Papa tanya Nina, bukan kamu?" mama ikut menimpali
"Sudah pah, mah"
"Pah, mah, mba minum tehnya, tapi masih panas" Sandra menaruh cangkir itu ke atas meja satu persatu
"Danu, papa mau tanya sama kamu" Danu mendongakan kepala menatap penasaran ke arah wajah papah "Tanya apa pah?"
"Dulu, sesaat setelah kepergian Nina, kamu kekeh mau menikahi Nesa" pungkas papa
Deg,, Deg,, mendengar nama Nesa di sebut, dada Nina seolah melompat-lompat seperti mau keluar dari tempatnya
"Kamu bilang, Nina tidak akan rugi jika kamu menceraikannya, karena kamu belum pernah menyentuh Nina, tapi kenapa tiba-tiba Nina pulang dengan membawa darah dagingmu?"
Wajah Nina dan Danu memanas mendengar apa yang di katakan papa
"Iya mama juga ingat, coba Nu kamu jelaskan, kok bisa Nina mengandung anakmu, mama bingung saat Sandra memberitahu bahwa Kennan anak kandung kalian"
Danu mengusap tengkuknya, sedangkan Nina masih berusaha melawan rasa gugupnya
Mama memindai wajah anak dan menantunya secara bergantian
"Anu mah, sebenarnya..." Danu menggantung kalimatnya saat kaki Nina menyentuh kakinya lalu menoleh ke wajah sang istri, yang tampak menggelengkan kepala
Papa dan mama serta Sandra mencurigai gerak-gerik pasangan suami istri itu yang terlihat aneh
"Kalian kenapa?" kok pucat?" tanya Sandra penuh selidik
"Nin apa Kennan anaknya Danu dari selingkuhannya?" Danu bilang dia akan menikahi Nesa karena sudah merenggut keperawanannya"
"Bukan mah"
"Lalu?" mama melempar sorotan mata tajam pada Danu
"Sebenarnya Nesa itu Nina mah, dia mengecohku dengan berdandan dan tidak memakai hijabnya, jadi aku tertipu, tapi itu wajar mah, aku kan tidak pernah menatap wajahnya, menatappun hanya 2 detik paling lama 3 detik" ungkap Danu, kalimat itu meluncur begitu saja dari mulutnya.
Mereka terlonjak kaget mendengar pengakuan Danu. Sandra dengan mata melotot dan mulut menganga, mama tampak mengerjapkan matanya beberapa kali, sedangkan papa, menggeleng entah apa maksud dari gelengan kepalanya.
"What" seloroh Sandra
"Jadi selingkuhan Danu yang bernama Nesa itu kamu Nin?", ya ampun Danu, Nina kenapa bisa?" mama seolah tidak percaya
"Kamu benar-benar keterlaluan Danu, bisa-bisanya hidup dua tahun tidak pernah menatapnya" papa berdecak geram "Nin, kamu mau di hukum apa anak ini?" tanya papa, dagunya menunjuk ke arah putranya "Apa perlu papa pukul dia?"
"Nina yang salah pah"
"Ini Mas Danu yang terlalu bego, apa mba Nina yang kelewat cerdik?" Apa mas Danu sama sekali tidak bisa mengenali wajah mba Nina?"
"Dia pakai make up San, hijabnya juga di lepas, pakaiannya juga kurang bahan, Mas kan biasa lihat dia pakai hijab, jadi mas sama sekali tidak mengenalinya"
"Nin kamu lepas hijab, dan berpakaian mini?" tanya mama
"Iya mah, tapi tidak di tempat umum, kami selalu bertemu di Vila abi" Danu menjawab sedikit terbata.
Nina merasa saat ini mereka sedang mengulitinya, ia menunduk dan tidak berani menatap wajah mertuanya
"Mama masih bingung, coba ceritakan sejelas-jelasnya"
"Sayang sudahlah kita beri tahu saja, kita sudah tidak bisa menyembunyikan semua dari papa dan mama" Danu meminta Nina untuk menjelaskan secara detail
__ADS_1
BERSAMBUNG