Menjadi Selingkuhan Suamiku

Menjadi Selingkuhan Suamiku
Part 59


__ADS_3

Saat Danu menuruni anak tangga, terlihat sepasang suami istri duduk di ruang keluarga, mereka tampak sedang mendiskusikan sesuatu di ponselnya.


"Kalian pagi sekali, ada apa si?" Danu duduk bersebrangan dengan Rio dan Irma


"Ini sudah hampir jam 8, kamunya saja yang keangetan"


"Nina sama Kennan mana mas?" Irma bertanya seraya mengedarkan pandangannya, mencari sosok Nina dan Kennan


"Nina masih di kamar, kalau Kennan nginep di rumah oma opanya"


Irma mengerucutkan bibirnya, ada raut kekecewaan terlukis di wajahnya. Tidak lama kemudian, Nina ikut bergabung di sana, ia memeluk sahabatnya, lalu mencium pipi kanan kirinya


"Kalian dari mana?"


"Dari rumah, tuh maminya kangen pengin ketemu Kennan, dari semalam dia merengek minta kesini, eh sampai sini malah Kennannya tidak ada" ungkap Rio


"Si Kennan lagi nginep di rumah mamah, nanti sore paling baru pulang"


"Mas Rio, nanti sore jemput ya, suruh bobo di rumah kita"


"Noh tanya sama yang punya?"


"Boleh Ir" Sambar Nina


"Gimana bokapnya?" Rio bertanya seraya melirik Danu


"Ya gimana, aku disini bosnya, tapi keputusan ada di tangan Nina. Nina ok, ya aku ok"


"Pak bu, sarapan dulu" ucap teh Wati tiba-tiba "Sekalian sama pak Rio dan ibu, yuk sudah saya siapin"


"Ayo Ir kita sarapan, ayo mas Rio" ajak Nina. Mereka berempat berdiri dari duduknya, lalu berjalan menuju meja makan.


"Mas Danu duduk sini sama mas Rio ya, aku sama Irma di sana" Nina menarik kursi untuk di duduki sang suami dan temannya. Sedangkan Nina dan Irma duduk berjejer bersebrangan dengan suami mereka.


Para Istri menyidukan nasi dan berbagai lauk untuk suami mereka masing-masing.


Disana sembari mengunyah makanan, Danu dan Rio tengah membicarakan soal perusahaan.


"Nin, aku punya kabar baik, tapi belum tentu juga si" Ucap Irma lirih


"Apa tuh?"


"Aku sudah telat datang bulan, tapi mas Rio belum aku beri tahu"


"Waahh selamat ya Ir?" Nina melonjak kegirangan membuat kedua pria di hadapannya kompak menatap wajahnya, Dengan cepat Irma mencubit lembut paha Nina


"Selamat apa?" Tanya Rio penuh selidik


"Bu bukan apa-apa mas" Nina menjawab dengan mulut terisi makanan "Ayo mas di makan lagi"


"Ada tanda-tanda apa Ir?" bisik Nina


"Tidak ada si Nin, cuma ya itu sudah telat sekitar 2 minggu"


"Semoga jadi deh, yang cewe ya biar bisa di jadikan menantu" canda Nina seraya terkikik


"Kalian cepat sedikit makannya, sudah jam 9 ini, kita mau ke rumah abi. Tidak lupa kan kalau kajian minggu di mulai pukul 10, kamu juga belum mandi dhe?" pekik Danu lalu meneguk air dalam gelas


************


"Ada beberapa hal yang harus di perhatikan pak bapak untuk mencetak anak sholeh sholehah"

__ADS_1


Danu dan Rio tampak serius mendengarkan ceramah dari abi


"Yang pertama, carilah calon suami, calon istri yang seiman, yang memiliki pemahaman agama. Kedua berdoalah sebelum berjima, sesuai hadist Rosulullah"


"Kemudian jika Allah menakdirkan (lahirnya) anak dari hubungan intim tersebut, maka setan tidak akan bisa mencelakakan anak tersebut selamanya.” (HR. al-Bukhari no.6388 dan Muslim no. 1434)"


"Yang ketiga, bacakan Al-Qur'an saat berada dalam kandungan. Selanjutnya, apabila anak itu telah lahir kedunia, segera adzani dia di telinga kanan, dan iqomah di telinga kiri, Tidak sampai di sini, sang ibu juga harus memberikan ASI selama dua tahun berturut-turut, ajarkan sholat sejak dini, beri pendidikan formal, dan informal misalnya mengaji di TPQ atau Madin, dan berilah kasih sayang yang cukup, Insya Allah dengan izin Allah, kita akan mendapatkan anak sholeh dan sholehah"


"Masih ingat doa memohon agar di karuniai anak sholeh-sholehah, bapak-bapak?" Tanya Abi pada jamaah yang mayoritas adalah kaum laki-laki.


"Robbi habli minassholihin" dengan kompak para jamaah menjawabnya.


...🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹...


Malam harinya, Danu tampak tidak bisa tidur karena memikirkan ceramah pagi tadi, Ia menghempaskan nafas kasar, sebab rasa kantuk tak kunjung datang, berkali-kali mencoba merubah posisi, sebentar miring ke kanan, tidak lama miring ke kiri, agar mata bisa terpejam, namun tetap saja tidak bisa.


"Ada apa denganmu mas, apa mas sakit?" tanya Nina saat menyadari kegelisahan suaminya


Danu membelai pipi Nina "Maaf saat kamu hamil, aku tidak berada di sisimu"


"Tidak perlu minta maaf, itu salahku" sahut Nina dengan suara parau


"Apa yang kamu inginkan saat hamil Kennan?"


"Aku ingin mencari uang sebanyak-banyaknya untuk mempertahankan Kennan dari mas?"


Mendapat jawaban dari istrinya yang terdengar konyol, Danu mengernyitkan dahinya "Mempertahankan bagaimana?"


"Ku pikir mas membenciku, aku takut jika mas tahu kalau Kennan anak kandung mas, mas akan menuntut hak asuh ke pengadilan, dari situ aku bertekad mencari uang sebanyak-banyaknya untuk melawan mas"


"Apa aku sejahat itu di matamu?"


"Bukan begitu mas?" sudahlah jangan di bahas"


"Tidak" sahut Nina


"Apa kamu sering membaca Qur'an saat hamil?"


"Tentu saja, selepas subuh aku baca Al-Waqi'ah, di malam jum'at, selalu baca Yaasiin, pada hari jum'atnya, baca Al-Kahfi, malam sebelum tidur selalu ku bacakan Al-Mulk, kalau ada waktu senggang, baca Maryam, Yusuf, Lukman dan yang lainnya" jelas Nina panjang lebar


"Siapa yang mengadzani saat Kennan lahir?"


"Kata mba Yuni si salah satu dokter di sana, tapi saat aku sadar pasca operasi caesar, aku juga mengadzaninya"


"Kamu caesar dhe?" Danu terlonjak kaget


"Iya"


"Maafkan aku" seloroh Danu


"Tidurlah sudah malam" Nina membalikan badan membelakangi Danu.


Danu hanya bisa menatap punggung Nina, ia masih tetap terjaga, sebab larut dalam penyesalannya, hingga adzan subuh berkumandang, Danu melangkahkan kakinya ke kamar mandi untuk wudhu dan sholat. Setelahnya ia membangunkan Nina, lalu kembali merebahkan diri, dan baru bisa memejamkan matanya di pagi buta.


Danu tampak terburu-buru menuruni tangga, ia sudah siap dengan atribut kantor yang sebelumnya sudah Nina siapkan "Dhe sudah siang, mas langsung ke kantor" ucap Danu lalu meneguk teh chamomile buatan Nina


"Tidak sarapan dulu mas"


"Tidak, mas buru-buru" Nina segera meraih tangan Danu, lalu mengecupnya


"Asalamu'alaikum" ucap Danu, ia menyambar dua lembar roti tawar untuk mengganjal perutnya, bergegas ia melangkahkan kaki menuju pintu utama.

__ADS_1


"Wa'alaikumsalam"


"Bagaimana tidak terlambat, semalaman tidak tidur, dan baru bisa memejamkan mata saat subuh tadi" gumam Nina


*********


Siangnya, Nina memasak daging untuk di bawa ke kantor sang suami, sebab tadi pagi Danu tidak sempat sarapan dirumah.


"Teh Wati serius mau berhenti kerja?" tanya Nina, Ia hampir selesai memasak untuk makan siang


"Iya bu maaf ya, ibu saya benar-benar tidak bisa di tinggal, belum lagi ngurus anak saya, jadi suami saya nyuruh untuk berhenti saja"


"Kalau boleh tahu, teh Wati di sini sudah berapa lama?"


"Sekitar tiga tahun bu"


"Berati sesaat setelah kepergianku, mas Danu mempekerjakannya" Batin Nina tangannya bergerak memutar mematikan kompor.


"Dan lusa saya sudah tidak bekerja bu, kemarin pagi, saat pak Danu selesai olahraga, kami sempat berbicara, dan terimakasih untuk pesangon yang ibu berikan untuk saya"


"Pesangon teh?"


"Iya bu, pak Danu bilang itu pemberian dari bu Nina"


"Dasar mas Danu padahal aku sama sekali tidak tahu menahu soal pesangon, tapi baguslah, ada pengertiannya juga" Lagi-lagi Nina membatin.


"Teh, saya ke kantor mas Danu dulu ya, nganter makan siang, mungkin pulangnya agak sore, soalnya mau jemput Kennan di rumah mas Rio"


"Iya, hati-hati di jalan bu"


Perjalanan dari rumah menuju kantor hanya memerlukan waktu 25 menit, para karyawan menunduk hormat, dan menyapa saat berpapasan dengan istri dari atasannya, Ia menuju lift khusus yang di gunakan untuk menuju ruangan para direksi.


Saat di depan ruangan sang suami, Nina melihat sekretaris suaminya sedang fokus membuka lembar demi lembar pada dokumen bercover merah


"Mba Rara, apa suami saya ada di dalam?" tanya Nina


"Bu Nina" Rara segera berdiri "Pak Danu sedang ada rapat bu, mungkin sebentar lagi selesai"


"Boleh saya masuk?"


"Silakan bu"


Saat memasuki ruangan kantor, Nina melihat sebuah jas berada di punggung kursi, ada teh chamomile yang masih utuh di dalam cangkir, ia meletakan beberapa kotak makan di atas meja kerja milik suaminya, tak berniat menunggunya, Nina segera keluar dari ruangan bernuansa maroon, ia ingin pergi ke rumah Irma untuk menjemput putranya.


"Mba saya langsung pulang ya, tolong sampaikan ke suami saya, kalau saya yang antar makanan" pungkas Nina pada Rara


"Maaf bu"


"Iya ada apa?" Nina mengurungkan Niatnya untuk melangkah saat mendengar ucapannya


"Kenapa bu Nina kembali setelah beberapa tahun menghilang?" kenapa bu Nina kembali saat pak Danu sudah mulai tertarik padaku, dia juga menaikan gajiku secara tiba-tiba, dia menyuruhku untuk membeli beberapa pakaian dari kenaikan gajiku" Ujar Rara


Wajah Nina memanas, ucapan sekretaris suaminya bak petir yang seketika mampu menghantam hingga ke gendang telinganya.


"Tertarik?"


Rara tampak menganggukan kepalanya lalu menunduk.


Tanpa berkata apa-apa lagi, Nina segera melangkahkan kaki meninggalkan kantor sang suami. Beruntung dia masih bisa mengendalikan dirinya.


"Padahal baru saja aku mempercayai mas Danu, tapi dia sudah merusaknya" batin Nina ia terus melajukan mobilnya membelah jalanan

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2