
Aku pikir cintaku akan bertepuk sebelah tangan, namun Kennan membawaku kembali kedalam istana yang kamu bangun. Istana yang awalnya bukan untukku.
Aku pernah bertahan dalam kesendirian, aku pernah berharap cintaku terbalaskan, namun semenjak kamu bilang takan pernah tertarik padaku, di situ pertahananku runtuh seketika.
Dan akhirnya aku pernah menjadi gila hanya untuk mencuri hatimu, mengendap-endap menyusuri kedalaman benakmu, hingga aku berhasil bersemayam di dalam sana. Akan tetapi, pencuri tetaplah pencuri, bahkan aku tak pernah tenang setelah berhasil mencuri hatimu.
Kini kamu benar-benar miliku seutuhnya.
Anna uhibbuka fillah...lillah
Salam
Karenina😙
...🌹🌹🌹🌹...
"Kupikir kamu menjadikan Nesa sainganmu" Dia melirikku seraya mengulum senyum, netra kami bertemu lewat pantulan kaca
"Aku akan anggap Nesa adalah istri kedua mas, aku ikhlas"
"Kalau Nesa bukan kamu, apa masih bisa bilang ikhlas?"
__ADS_1
"Tidak" lagi-lagi mas Danu tersenyum miring "Mungkin kaburnya akan lebih jauh lagi ya dek?"
"Mas" Aku reflek mencubit pinggangnya, yang ia respon dengan kekehan.
"Mas lapar dek" ujarnya setelah selesai mengeringkan rambutku.
"Mau makan?, Aku panasin lauk tadi mau?, nanti aku bawa ke kamar" tanyaku sambil menatapnya.
"Tidak usah di bawa kamar, mas akan ikut ke dapur"
*******
"Sekarang katakan kenapa kamu selalu melarang Ken untuk tidak berenang terlalu lama"
Mas Danu tampak menghentikan gerakan menyuapkan nasi ke mulutnya, ia meraih gelas yang isinya tinggal setengah. "Sepertinya mas menangkap jawaban lain dek" ujarnya seraya menatapku, wajahku mendadak memanas, mendapatkan tatapan yang begitu mengintimidasi.
"Apa?" tanyaku gugup. Dia menarikku hingga duduk di pangkuannya. Kedua tanganku, aku daratkan di pundak mas Danu "Kalau alasanya cuma itu" mas Danu membelai pipiku "Kenapa kamu begitu panik dan terlihat sangat marah, saat Kennan tak menuruti perintahmu untuk berhenti bermain air?"
Belum sempat menjawab, tubuhku reflek berjengit saat ku rasakan telapak tangan mas Danu menyusup di balik piyama dan menyentuh punggungku. Gerakan yang sebenarnya tidak benar-benar mengusap, karena jemarinya membuat getaran asing ke tubuhku "Serius cuma itu alasanmu?"
"Mm-mas, bisa tidak kita bicaranya baik-baik?" Mas Danu mengangkat satu alisnya.
__ADS_1
"M-maksudku bu___" belum sempat aku menjawab, Kennan sudah berdiri tidak jauh dari kami.
"Aku yang tadinya berada di pangkuan mas Danu seketika berdiri "Haist dia lagi" Gumam mas Danu sangat lirih, namun masih bisa ku dengar.
"Aku bilang juga apa mas"
"Memangnya kamu bilang apa?" mas Danu menatapku tajam.
"Aku sudah bilang buat kita bicara baik-baik, maksudnya dengan duduk baik-baik tidak seperti tadi"
Mas Danu tidak menyahutiku, dia kembali bertanya pada Kennan "Kenapa bangun anak ayah?"
"Di kamar Kennan gerah yah" jawabnya sambil menggaruk bagian lehernya "Basah" ucap mas Danu saat menyentuh kaos bagian belakang leher Kennan "Kamu nggak nyalain AC dek?"
"Lupa mas"
"Hufft, ayo bobo sama ayah di kamar bunda" Mas Danu mengangkat tubuh Kennan. Sebelum benar-benar melangkah, dia mengucapkan sesuatu "Kita belum selesai bicara dek"
Selang sekitar sepuluh menit, aku menyusul mas Danu ke kamar, lalu ikut berbaring di atas kasur. Kali ini posisi mas danu berada di tengah-tengah antara Aku dan Kennan yang sudah kembali terlelap. Kurasakan gerakan mas Danu seperti membalikan badannya miring menghadapku yang membelakanginya. Lalu memelukku dari arah belakang.
"Sekarang tidurlah, besok pagi kita lakukan lagi"
__ADS_1
Jantungku bertalu-talu mendengar ucapan mas Danu. Sampai aku tidak tahu bagaimana caranya menenangkannya. Lantas bagaimana aku bisa tidur jika detakannya seliar ini?
BERSAMBUNG