
Dengan langkah penuh wibawa, Danu memasuki gedung kantor tempatnya bekerja, tangan kanannya membawa sebuah tas berisi dokumen penting milik perusahaan yang dia pimpin.
Beberapa karyawan menunduk ramah kepada sang atasan yang datang sedikit terlambat.
"Ra bikinin saya teh ya" ucapnya saat melewati meja sang sekretaris.
"Baik pak" Rara menatap heran punggung atasannya sebelum lenyap tertelan pintu.
"Tumben, tidak sedingin biasanya" gumam Rara lalu melangkahkan kaki menuju pantry.
"Ini pak tehnya"
"Hmm, makasih Ra" ucap Danu tetap fokus menatap layar selebar empat belas inchi lengkap dengan jari tangan menari di atas keybord.
Rara menaruh cangkir itu di atas meja dengan sangat hati-hsti, ekor matanya tak berhenti melirik bosnya yang tampak sibuk berkutat di depan laptop.
"Dia terlihat sangat bahagia dan tampan hari ini, apa dia habis memenangkan lotre?"
Danu menghentikan jarinya saat menyadari tatapan Rara.
"Oh my God, tatapannya kenapa membuatku ingin pingsan?"
Melihat Sekertarisnya yang termangu, Danu menggelengkan kepalanya pelan. sekretarisnya itu, selalu saja bersikap aneh di depannya.
"Ra, bulan depan saya naikan gaji kamu"
Mendengar ucapan bosnya, Rara terkesiap. "Apa pak? naik gaji? bapak serius?" Gadis itu melempar rentetan pertanyaan dengan sorot senang.
"Tapi mulai besok, kondisikan pakaianmu, belilah baju yang sedikit tertutup, minimal untuk menutupi bagian dadamu, dan pakailah rok di bawah lutut. Jika masih berpakaian seperti itu, kamu akan saya pecat" Ucapnya lalu kembali fokus ke layar monitor. "Saya tidak mau ada kasus pelecehan seksual di perusahaan saya" sambung Danu.
Rara bergeming sambil menatap lekat-lekat atasannya, mencerna baik-baik ucapannya. Ysng ia tangkap, justru kesalah pahaman yang ia tangkap.
"Kamu boleh keluar Ra" perintah Danu saat Rara masih berdiri di samping meja kerjana.
"I-iya pak, saya permisi"
"Hmm"
Perlahan Rara melangkahkan kaki keluar ruangan, lalu dengan cepat menuju ke arah pantry untuk menaruh nampannya kembali di sana.
"Apa pak Danu mulai jatuh cinta padaku?, dan perlahan membimbingku menjadi lebih baik? Iya benar sekali. Seperti ceramah-ceramah yang pernah ku dengar, seorang lelaki pasti tidak akan suka melihat wanita yang di cintai memamerkan auratnya. Hari ini pak Danu menaikan gajiku, apa ada kemungkinan suatu saat dia akan menafkahiku?" pikirnya tanpa ragu. Ia kembali menuju mejanya lalu duduk. Iagi-lagi ia melamun memikirkan ucapan Danu.
"Saya tidak mau ada kasus pelecehan seksual di perusahaan saya"
"Aah apa pak Danu tidak suka aku berpakaian minim karena tidak mau tubuhku di lihat oleh orang selain dia?"
"Kriiingg,, Bunyi telfon membuyarkan lamunan Rara, panggilan dari Danu membuatnya tersentak kaget, detik berikutnya tersenyum penuh semangat.
"Iya pak"
"Ra, Atur jam rapat sekarang juga dengan general manager, direktur keuangan, dan Adm gudang, ada sedikit masalah tentang pencatatan keluar masuk barang, dan rekonsiliasi"
"Baik pak" jawab Rara lalu memutuskan sambungannya "Ahh pak Danu, kenapa hari ini anda begitu manis, tidak ketus seperti biasanya"
Decitan pintu membuat Rara terlonjak.
"Ra, saya tunggu di ruang meeting" ucap Danu lalu mengayunkan kaki menuju lift.
__ADS_1
"Baik pak" Pak Danu, apa kamu sudah mulai jatuh cinta padaku pak?" halaunya.
**********
Waktu semakin sore, menghabiskan waktu delapan jam sehari di kantor merupakan hal yang wajar bagi para karyawan. Interaksi dan komunikasi sudah pasti terjadi saat bekerja, baik itu dengan atasan maupun rekan kerja lainnya.
Sebelum pulang, Danu mengirimkan pesan pada sang istri untuk bersiap-siap karena sebentar lagi akan menjemputnya. Danu membawa serta Cincin dan kertas hasil DNA Kennan. Rasanya sudah tidak sabar ingin segera menemuinya dan menyelesaikan kesalah pahaman di antara mereka.
Sebuah mobil yang mula-mula diam, kemudian bergerak saat gas terinjak, lalu kecepatan perlahan di percepat hingga mobil pun melenggang menjauh dari area parkir.
"Assalamu'alaikum" Danu melangkah memasuki rumah mertuanya.
"Wa'alaikumsalam" Nina menjawab dari balik kamar lalu bergegas keluar menemui Danu.
"Nin, kemana Kennan dan yang lainnya?" tanya Danu, netranya memindai ke seluruh ruangan.
"Umi mengajaknya ke supermarket" Danu menyahut hanya dengan ber oh ria.
"Mas lebih baik kita bicara di sini saja, kita ke gazebo belakang rumah"
Danupun menuruti ajakan Nina, lalu berjalan di belakangnya menuju sebuah pendopo kecil berukuran tiga meter persegi.
Danu duduk dengan menyilangkan kakinya tepat di depan Nina yang duduk bersimpuh.
"Siapa yang akan berbicara terlebih dahulu?" tanya Danu seraya menegakan posisi duduk.
Nina mengusap buliran bening yang tiba-tiba menempel di keningnya, dengan pandangan tertunduk, ia mulai membuka mulutnya.
"Maaf mas sudah meninggalkanml mas" katanya pelan.
"Aku yang minta maaf karena sudah menyakitimu" sahut Danu.
Selang hampir sepuluh detik, Danu bergerak meraih selembar kertas yang ia simpan di saku celananya. "Bisa kamu jelaskan apa yang tertulis di sini Nin?" Danu menggeser kertas itu ke hadapan Nina.
Sepersekian detik, rasa gugup menghampiri Nina ketika sepasang netranya menangkap sebuah tulisan yang membuatnya tercengang.
"Bagaimana bisa Kennan adalah darah dagingku, padahal aku tidak pernah menyentuhmu?"
Seketika Nina mengangkat kepala menatap dalam bola mata Danu yang juga sedang menatapnya. Ia menelan salivanya, berusaha menormalkan detak jantungnya yang semakin memburu. Mulutnya seolah terkunci, kata-kata yang sudah ia rangkai seketika buyar entah kemana.
Sedetik kemudian Danu mengeluarkan sebuah cincin dari saku kemejanya.
"Apa ini punyamu?" Danu meraih tangan Nina, lalu meletakan cincin itu di telapak tangannya yang dingin. Nina menatap cincin yang pernah Danu berikan pada Nesa, seketika ia ingat telah melempar cincin itu di kamarnya dulu.
"Maaf mas" Nina menunduk, hanya itu yang bisa dia katakan.
"Aku sudah tahu sejak lama tentang Nesa, dan aku baru mengetahui tentang Kennan tadi pagi" Danu menjeda ucapannya, ia menghirup nafas dalam dan mengeluarkannya perlahan. "Aku tidak akan bertanya kenapa kamu melakukan itu"
"Maafkan aku mas, aku tidak tahu bagaimana caranya menarik perhatianmu, saat itu, aku selalu membayangkan mas punya hubungan dengan wanita lain, lalu ide itu muncul begitu saja di kepalaku" ucapnya nyaris tanpa jeda. "Maaf"
"Kenapa meminta maaf, bahkan aku tidak tahu apa kesalahanmu. Kebohonganmu menyadarkanku arti dirimu yang sebenarnya bagiku. Aku tidak bisa membayangkan, jika Nesa itu bukan kamu, dosaku pasti berlipat-lipat, Nesa adalah teguran untuku, dan aku berterimakasih padamu"
Untuk sesaat mereka diam....
"Maaf Nin, aku sudah sangat menyakitimu, seharusnya aku menyadari keberadaanmu dari dulu. Dan aku, menyesali hubunganku dengan Nesa, meskipun Nesa adalah kamu, aku benar-benar menyesalinya, hidupku kacau tanpamu Nina"
"Sekarang mas sudah tahu semuanya, jika mas ingin mengambil Kennan, mas bisa melakukannya, mas juga berhak atas Kennan"
__ADS_1
"Apa maksud kamu? Kennan milik kita Nin, kita akan selalu bersamanya"
"Aku tidak bisa mas, mari kita bercerai"
Danu menatap wajah sendu wanitanya, Irama jantungnya semakin tidak karuan, keringat dingin mendadak muncul, gemetar serta lemas mulai menyeringai tubuhnya, ia tidak percaya dengan apa yang di katakan oleh sang istri.
"Kamu ingin kita bercerai?" Tanya Danu memastikan.
Nina mengangguk.
"Kenapa?" tanyanya lagi seolah mengintimidasi.
"Ucapan manismu pada Nesa selalu mengiang di telingaku"
"Sudah ku bilang aku menyesalinya" tangkas Danu cepat.
"Tapi tidak semudah itu aku melupakannya. Mas ingat, betapa gigihnya mas memilih Nesa di depan papa dan mama, bahkan mas rela hidup miskin demi Nesa. Coba bayangkan jika Nesa bukan aku, pasti aku sudah tersingkirkan dari dulu dan mas pasti sudah menikah dengannya"
"Aku tahu Nina, tapi selama tiga tahun aku hidup dalam penyesalan, tiga tahun aku menganggap bahwa kamu sedang menghukumku, tiga tahun aku menantimu. Aku ingin mencarimu saat itu, tapi mas Haidar selalu melarangku, aku takut dengan ancamanmu jika aku mencarimu, kamu tidak akan kembali, itu yang selalu mas Haidar katakan, dan aku kalah Nin, aku menyerah. Selama tiga tahun pula, aku tidak tertarik pada sekretarisku yang selalu menggodaku, klien-klienku yang berusaha menarik perhatianku, juga seorang dokter teman Sandra, aku tidak pernah menerima ajakan mereka untuk menjalin hubungan dengannya, karena aku berharap kamu kembali kedalam hidupku"
Nina mengangkat kepala, ia melihat lelaki itu meneteskan air mata, Ia berusaha menyusuri bola matanya, berharap ada kejujuran di dalam sana.
"Aku mencintaimu Nin, aku pernah mencoba hidup tanpamu, tetapi tidak bisa" Danu meraih salah satu tangan Nina lalu menggenggamnya erat-erat. "Tolong jangan pergi lagi dariku" Tambahnya dengan binar mata berkaca-kaca.
Sementara Nina kembali menundukan kepala, genangan air di sudut matanya, tak bisa lagi ia pertahankan. "Beri aku waktu mas"
"Apa yang harus ku lakukan agar kamu percaya? tapi aku mohon jangan meminta untuk bercerai dariku"
"Bundaa" tiba-tiba teriakan Kennan menggema di telinganya. Danu dan Nina kompak menoleh pada bocah yang sedang berlari, ia segera melepaskan tangannya dari genggaman Danu, lalu mengusap pipinya yang basah sebelum Kennan mendapatinya menangis.
Nina meraih tubuh putranya, lalu memangkunya.
"Bunda, tadi Ken beli jelli banyak, nenek umi belikan untuk Kennan"
"Oh ya?"
"Iya bunda"
"Kennan tidak bertanya lagi dimana ayah, siapa ayah Kennan?" tanya Nina setelah Kennan tak lagi bersuara.
"Tidak" jawab Kennan tegas. "Ken takut bunda malahc
Danu tehenyak mendengar jawaban polos Kennan, Ia tak mengerti dengan ucapan putranya.
"Apa kamu selalu memarahinya Nin?"
Nina melirik Danu seraya menggigit bibir bawahnya.
"Maafin bunda Ken, sekarang akan bunda kasih tahu siapa ayah Kennan"
"Siapa bun?" bocah itu menatap bola mata sang bunda lekat-lekat.
"Om Danu adalah ayah Kennan" ucap Nina pelan.
Mendengar ucapan sang bunda, tanpa ba bi bu, Kennan langsung mengalihkan pandangan ke arah Danu. Anak itu termangu dengan sorot tak percaya.
"Ayo Ken sun tangan ayah" perintah Nina, "jangan panggil om lagi, mulai sekarang panggil ayah" sambung Nina.
__ADS_1
"A-ayah"
BERSAMBUNG