
Usai makan malam, Abi mengajak Danu dan Nina untuk membicarakan tentang status pernikahannya. Karena setahu abi, Danu memang belum pernah mengucap kata talak.
"Nak Danu, Nina, kalian jangan beranjak dulu dari sini, abi ingin bicara dengan kalian"
Kedua orang itu kompak mengangkat kepalanya menatap abi.
Umi, dan mba Yuni segera mengemasi piring-piring kotor bekas mereka makan.
Suasana mendadak hening. Danu dan Nina kini bagaikan terdakwa yang akan di adili oleh seorang hakim.
"Tahukah kalian apa itu pernikahan?" tanya abi mengawali pembicaraan
"Pernikahan memiliki kedudukan yang sangat penting dan sakral di dalam Islam. Dalam Al-Qur’an, pernikahan disebut sebagai sebuah perjanjian yang kuat dan kokoh (mitsaqan ghalizha)" Abi menjeda kalimatnya, sedikit menghirup oksigen.
"Dengan demikian, ungkapan mistaqan ghalizha digunakan untuk menunjukkan bahwa pernikahan itu merupakan ikatan yang suci. Maka, setiap pasangan suami istri harus menjaga dan mempertahankan ikatan tersebut"
"Setiap pasangan yang akan menikah terlebih dahulu harus memahami makna dan tujuan dari pernikahan tersebut, sebab dalam pernikahan, tujuannya bukan untuk merubah status saja. Sampai disini, kalian paham apa yang abi jelaskan?" tanyanya menambahkan.
"Ingat, bukan sekedar merubah status" abi mengulangnya dengan penuh penekanan. "Ada hak dan kewajiban yang harus kalian penuhi. Hak dan kewajiban menjadi seorang istri, hak dan kewajiban sebagai seorang suami, dimana keduanya harus bisa di pertanggung jawabkan di hadapan Allah kelak"
Kedua orang itu bersama-sama menganggukan kepala.
"Akan tetapi" Lanjut abi
"Setiap pasangan masing-masing dituntut supaya dapat memahami dan menerima perbedaan yang ada diantara suami dan istri, agar tercapainya kebahagiaan dan kenyamanan dalam berumah tangga, atau yang kita ketahui dengan sebutan rumah tangga sakinah, mawaddah, warrahmah".
Danu tampak serius memandang lekat wajah ayah mertuanya, mendengarkan baik-baik kalimat demi kalimat yang di ucapkan abi. Begitu juga dengan Nina, walaupun pandangannya tertunduk, tetapi dengan cermat telinganya menangkap kimat yanh keluar dari mulut abinya.
"Meskipun telah berpisah cukup lama, dua orang masih berstatus suami istri apabila belum ada ikrar talak dari sang suami. Hal ini sesuai dengan Fatawa Syabakah Islamiyah"
"Jadi Nina, dalam hal ini walaupun kamu meninggalkannya cukup lama, kamu masih berstatus sebagai istri dari suamimu, sebab Nak Danu tidak pernah mengucapkan kata talak di depan saksi" Ungkap abi panjang lebar.
"Abi minta, kalian selesaikan urusan rumah tangga kalian dengan kepala dingin, dan jangan saling menyalahkan. Akan lebih baik jika kalian sama-sama mengoreksi diri. Apa yang salah dalam diri kalian, kalian perbaiki. Kalian sudah dewasa dan berakal. Abi berharap, kalian mengambil keputusan yang terbaik untuk masa depan rumah tangga kalian"
Dalam hati Nina menyalahkan ucapan abi yang mengatakan dirinya masih sah menjadi istri Danu. Memang, secara negara mereka masih sah, tapi secara agama, mereka telah resmi bukan lagi suami istri. Nina tahu persis jika ucapan-ucapan Danu di masa lalu, secara tersirat sudah jatuh talak, dan menurut hukum agama, mereka telah bercerai. Namun, Nina sendiri masih tak berani berkata jujur kepada ustad Arifin tentang perlakuan dan semua ucapan suaminya di masa lalu.
"Apa bisa di mengerti penjelasan abi?" tanyanya dengan sorot serius.
"Mengerti bi" jawab mereka kompak.
"Kalau begitu, abi permisi dulu, mau mengecek anak-anak santri di masjid"
"Iya bi"
Abi pun pergi meninggalkan mereka berdua.
Hening, hanya ada suara jangkrik mengisi kesunyian malam.
Kecanggungan masih terasa di antara keduanya, hinga mereka saling diam beberapa menit.
Selang sekitar lima detik, Danu mengubah posisi duduknya dengan bersila menghadap Nina. Ia menatap wajah sang istri dari samping sebelum kemudian berucap "Nin" lirihnya gugup. "ada banyak hal yang harus kita bicarakan, bukan?"
Wanita itu tampak menganggukan kepala.
__ADS_1
"Mari kita saling terbuka" Ucap Danu, dengan debaran jantung yang kian menggebu.
"Om Danu..." Teriak Kennan seraya berlari mendekat padanya.
Danu mengarahkan pandangannya pada Kennan. Begitu juga dengan Nina.
"Aku rasa ini bukan waktu yang tepat untuk bicara mas"
Belum sempat menjawab, suara kenan kembali terdengar.
"Om, di kopel bunda ada banyak mainan, ayo kita main" Ajak Kennan memaksa.
"Besok sepulang kantor aku akan menjemputmu, kita bicara di tempat lain" kata Danu. Ia pergi begitu saja karena Kennan terus memaksa dan menarik tangannya.
Nina terus memperhatikan dua pria beda generasi itu berlari menjauh darinya, hingga kedua pria itu tak lagi tertangkap oleh netranya sebab mereka telah masuk ke dalam rumah.
Kini Nina duduk sendiri di sebuah gazebo, pandangannya menatap kosong ke atas langit cerah yang di penuhi cahaya seperti titik. Membiarkan hijab panjangnya tertiup-tiup hembusan angin malam.
Nina terbayang-bayang wajah sang suami yang semakin tampan baginya. Sikap lembutnya yang menenangkan, tatapan mata yang seolah memancarkan kasih sayang, dan juga kedewasaannya saat bermain dengan Kennan. Sikapnya benar-benar berbeda, tidak seperti Danu yang ia lihat beberapa tahun silam.
Danu yang sekarang, baginya adalah sosok yang seolah ingin terus melindungi anak dan istrinya.
"Perasaan seperti apa yang ada di dalam hati mas Danu, apa dia masih mengharapkan Nesa, atau, apakah dia akan memilihku?" Batin Nina, Ia melirik Kennan dan Danu yang sedang asik memainkan mobil remot di teras rumah.
"Mas Danu, anak yang sedang bermain denganmu adalah anak kandungmu, dia darah dagingmu mas"
"Maaf sampai detik ini aku masih menyembunyikannya darimu"
Nina tersenyum menyaksikan dua pria yang selalu menjadi nomor satu di hatinya, selain abi.
Danu berpamitan untuk pulang kerumahnya, membiarkan Nina melepas rindu dengan abi dan uminya. Ia meraih tangan mertuanya lalu menciumnya takzim.
Sedangkan Nina, ini adalah kali kedua ia mencium punggung tangan sang suami. Pertama selepas ijab qobul lima tahun lalu, dan sekarang. Ia mengulurkan tangan pada wanitanya, dengan gugup Nina menyambut tangan kekar itu, lalu mengecupnya singkat.
Nina mengantar Danu hingga depan rumah. Banyaknya rahasia yang Nina simpan, membuatnya selalu di selimuti rasa gugup dan canggung.
"Ingat, besok aku jemput sepulang kantor"
Nina hanya mengangguk.
"Aku pulang" pamit Danu. Baru beberapa langkah, ia mendengar suara wanita di belakangnya memanggil, Danu menghentikan langkahnya lalu berbalik
"Iya"
"Apa mas sakit?" tanya Nina menunduk, Danu sedikit menyunggingkan senyum, baginya ini adalah suatu perhatian kecil dari wanitanya.
"Aku akan jawab, tapi kamu juga harus menjawab pertanyaanku" sahut Danu membuat Nina seketika mengangkat kepala.
"Apa?"
"Apa Kennan anak kandungmu, dia terlahir dari rahimmu?"
Tanpa ragu, Nina mengangguk merespon pertanyaan Danu.
__ADS_1
"Lalu kenapa dia memanggil Irma dengan sebutan mami?" tanyanya lagi.
"Irma membantuku merawatnya dari kecil mas, dia yang meminta Kennan memanggilnya mami"
"Oohh, ya sudah, aku pamit" Danu hendak berbalik namun ia mengurungkan niatnya ketika Nina memanggilnya kembali.
"Mas"
"Apa lagi?"
"Mas belum menjawab pertanyaanku"
"Pertanyaan yang mana?" Danu seolah lupa dengan apa yang di tanyakan Nina.
"Apa mas sakit?"
"Tidak" jawabnya singkat "Aku pamit Nin, Assalamu'alaikum"
"Walaikumsalam, hati-hati" Nina masih berdiri di depan rumah, hingga mobil itu lenyap dari pandangannya.
********
Keesokan harinya, Danu sudah bersiap dengan setelan kantornya. Sebuah kemeja berwarna Silver, di padukan dengan jas dan celana panjang warna hitam, penampilannya benar-benar menunjukan bahwa dia adalah seorang pemilik perusahaan.
Sebelum melajukan mobilnya ke kantor, ia akan ke rumah sakit terlebih dulu untuk melihat hasil kecocokan garis keturunan antara Kennan dengan dirinya. Ada keyakinan dalam diri Danu bahwa Kennan adalah anak kandungnya dari Nina, yang saat itu berperan sebagai Nesa.
Sesampainya di gedung kesehatan, Danu berjalan melewati koridor rumah sakit menuju ruangan Adiknya.
"Bagaimana san?" tanya Danu saat ia sudah duduk di dalam ruangan dr Sandra.
"Aku belum melihatnya mas, ini masih tersegel, Mas Danu buka di sini ya, aku juga pengin lihat"
Dengan hati berdebar, Danu membuka amplop berwarna putih, ia raih satu lembar kertas di dalamnya, perlahan ia buka lipatan itu.
Danu mengusap wajahnya saat membaca data yang tertulis di kertas itu.
Dari hasil pemeriksaan DNA, di ketahui bahwa Kennan dan dirinya, memiliki tingkat kemiripan yang tinggi yakni 99,8%.
Air mata Danu luruh seketika, Genangan air di matanya tak mampu ia pertahankan.
"Bagaimana mas, boleh aku lihat?" tanya sandra penasaran. Danu segera menyerahkan kertas itu kehadapan adiknya, tanpa sepatah katapun.
"Positif?" gumam Sandra lirih "Mas Danu adalah ayah dari anak Irma, istrinya mas Rio?" Sandra dan orang tua Danu memang belum mengetahui kepulangan Nina, mereka juga belum tahu apapun mengenai Kennan.
"Bukan Irma ibu kandung Kennan san"
"Lalu?" Sandra mengangkat satu alisnya.
"Nina ibu kandungnya"
"Mbak Nina?" sahut sandra dengan raut muka terkejut. Danu mengiyakannya dengan mangangguk. "Jadi saat itu mba Nina hamil?"
Sandra menyenderkan punggung di kursi kebesarannya "Terus mba Nina sekarang dimana?"
__ADS_1
"Besok akan mas jelaskan padamu dan juga papa mama. Mas permisi dulu"
BERSAMBUNG