
Memasuki trimester akhir, dengan kondisi perut yang semakin membesar, membuatku tidak bisa bergerak maksimal.
Menuangkan isi toner di atas kapas, aku mengusapkannya di area wajahku dan leher, mas Danu tiba-tiba meraih penjepit kuku, lalu menyuruhku duduk dan merentangkan kaki, dia memotong kukuku dengan pelan.
"Maaf aku merepotkanmu"
"Enggak dek" sahutnya
"Enggak salah?"
"Aku tuh senang merawatmu, jadi jangan banyak protes"
"Semalam aku pasti mengganggu tidurmu kan mas?" tanyaku merasa bersalah. Dengan perut yang besar, membuatku sulit menemukan kenyamanan saat berbaring, dan ahirnya aku membuat mas Danu terjaga hingga dini hari.
Dia menggeleng, ku lihat mas Danu bergerak merebahkan diri di sampingku
"Sudah berkali-kali mas bilang kan, mas nggak merasa terganggu apalagi di repotkan" ujarnya sambil meraih remot AC, lalu mengatur suhunya "Mas maklum, jika kamu kesulitan mencari posisi tidur yang enak"
"Tapi aku merasa bersalah karena mas pasti cape, selain ngurus pekerjaan di kantor, mas harus mengurus rumah, aku dan juga Kennan"
"Kamu ngomong apa si dek, kamu dan Kennan adalah tanggung jawab mas, jadi stop berfikir seperti itu. Masih mau ngobrol, atau mau tidur?"
__ADS_1
"Apa mas sudah mengantuk?"
Mas Danu menggeleng "Mas akan menemanimu sampai kamu tidur"
Ku lihat mas Danu sedikit menyunggingkan senyum "Mas ada apa kok senyum-senyum?" tanyaku penasaran
"Enggak, mas hanya membayangkan, kalau misalnya anaknya cowok, itu artinya Ken akan memiliki teman, dan mas, akan selalu mengajaknya berolahraga setiap hari, sepertinya menyenangkan bisa balapan renang dengan kedua jagoanku"
"Kalau cewek?" Aku sedikit memicingkan mataku
"Kalau cewek, pasti juga menyenangkan buatmu, kamu bisa shoping bareng sama anak gadismu"
"Mas nggak nyesel bilang begitu?" pasti aku dan anak gadismu akan sering menghabiskan uangmu nanti"
Kami saling memandang, seraya tersenyum, selama beberapa detik, senyum mas Danu semakin lebar, sebelum ahirnya kami berciuman.
"Kamu harus bahagia lahir dan batin" ucapnya dengan posisi kening yang masih saling menempel.
___________
Pagi hari, aku beraktifitas seperti biasa, membuat sarapan untuk kedua lelakiku, yang sudah siap duduk di tempat makan, ku lirik mas Danu dan Kennan sedang terlibat pembicaraan.
__ADS_1
"Astagfirullah" Seruku sedikit berteriak, membuat kedua lelaki itu menoleh ke arahku, sebelum kemudian, Kennan memanggilku
"Bunda"
Mas Danu langsung berlari saat tahu aku terjatuh dengan posisi duduk, dia membantuku berdiri, namun gerakanku terhenti, ketika melihat darah, dan air yang agak keruh mengalir di betisku, seketika aku merasakan sakit yang luar biasa.
Pikiranku tertuju pada beberapa tahun yang lalu saat aku di dorong oleh rekan kerjaku, hingga membuatku pendarahan persis seperti ini.
"Kennan, tolong panggil mang Tomo buat telfon nenek umi, atau omma, cepat"
"Tenang mas, jangan terburu-buru, aku tidak apa-apa"
"Bagaimana bisa kamu bilang tidak apa-apa dek, kamu pendarahan" ucapnya dia menggendongku lalu memasukanku ke dalam mobil, Ku lihat dan ku dengar tangisan Kennan di gendongan mang Tomo"
"Mang, tolong telfon mama, untuk secepatnya kesini nemenin Kennan, dan telfon umi untuk menyusulku ke rumah sakit"
Kudengar mang Tomo mengiyakan perintah suamiku
Dengan gerak cepat, mas Danu mengemudikan mobilnya menuju rumah sakit, tangan kirinya berusaha menyentuh pipiku "Jangan tidur dek" ucapnya.
Dan aku sudah tidak bisa lagi mendengar suaranya.
__ADS_1
Ayu Afifiah Buana, anak kedua kami yang berjenis kelamin perempuan lahir dengan selamat.
END