
"Nak Irma bilang, saat ini Nina di Australia Nu" Abi mengawali pembicaraan di ruang tv selepas mereka menikmati makan malam.
"Australia" Dahi Danu mengerut membentuk lipatan. Ia terkesiap dengan menegakkan posisi duduknya. "Sedang apa di sana Bi?"
"Dia sedang menggarap gaun untuk pernikahan anak dari bosnya. Hanya dua bulan di sana, Irma juga bilang, sebenarnya Nina ingin pulang dari dulu, tapi dia terlalu takut, Entah apa yang di takuti Nina, Irma bilang Nina yang akan menjelaskan semuanya"
"Apa dia takut untuk menjelaskan tentang Nesa? wanita yang sudah mengecohku yang tak lain adalah dia sendiri. Seharusnya kamu tidak perlu takut sayang, aku sudah tahu sejak lama. Aku juga sudah menyadari kesalahanku padamu"
Abi menatap Danu yang tampak sedang melamun dengan tatapan penuh mengintimidasi "Nak, ada apa?"
"Tidak ada apa-apa bi" Danu menggaruk dagunya yang tak gatal.
"Apa aku jujur saja pada abi, kalau aku berselingkuh, dan selingkuhanku adalah Nina, istriku sendiri? ah itu tidak mungkin, nanti kalau abi tanya alasan Nina berselingkuh dengan ku, aku harus jawab apa?"
"*Sabar Danu, tunggu dua bulan. Setelah itu, kalian selesaikan permasalahan kalian"
"Danu kamu juga harus jujur tentang perasaanmu*"
"Kamu sanggup menunggunya selama beberapa tahun. Dan sekarang, kamu hanya perlu menunggunya dua bulan saja" batin Danu menyugar rambutnya sedikit kasar.
🌺
🌺
🌺
"Bagaimana pertemuan kemarin Ri?" tanya Danu. Mereka kini sedang fokus membicarakan pekerjaan di dalam ruangan Rio.
"Berjalan lancar, aku sudah meringkas poin utama dari pertemuan dengan Investor" Danu tampak antusias mendengar penjelasan sang asisten.
"Kami memulai pertemuan dengan menyetujui perubahan sistem laporan penjualan yang di bahas pada bulan lalu. Setelah sempat merevisi perubahan yang terjadi. Setelah itu kami pindah ke sesi brainstorming mengenai perbaikan dukungan pelanggan. Semua salinan ide-ide utama yang di kembangkan sudah ku copy paste di flashdisk, kamu bisa pelajarinya nanti di rumah" Rio menyerahkan sebuah benda kecil berisi file-file penting perihal perusahaan milik Danu.
Danu meraih benda itu "Pulanglah sudah jam sembilan malam" Perintah Danu sebelum keluar dari ruangan Rio.
Rio mengusap wajahnya gusar, sebenarnya dia sedang ada misi perkenalan dengan seorang gadis secara online, namun tidak ada yang sreg di hati Rio. "Susah amat nyari istri huuuhhh" Keluhnya lalu menutup laptop dan memasukan ke dalam tas kerja. Ia bersiap untuk pulang.
Rio segera keluar dari gedung tempatnya bekerja, ia berjalan menuju tempat parkir.
Nyetir mobil di malam hari jauh lebih berisiko ketimbang pagi atau siang hari. Keadaan gelap dan penerangan minim dapat membatasi jarak pandang. Belum lagi kondisi tubuh yang lelah. Oleh karena itu, Rio mengendarai mobilnya dengan sangat pelan. Tiba-tiba matanya mendapati seorang wanita berhijab seperti sedang kebingungan. Rio bergegas menepikan mobilnya tepat di belakang mobil milik wanita itu. Rio melepaskan seatbelt lalu bersiap turun dari mobil dan menghampirinya.
"Ada apa mba?"
Irma terlonjak kaget dengan kemunculan Rio yang tiba-tiba. Saat pandangan mereka bertemu, Rio terkesima dengan wajahnya yang ayu, hingga ia tak berkedip membuat Irma semakin panik.
Irma segera membuka pintu mobil lalu masuk untuk berlindung di dalam mobil.
"Mba, saya bukan orang jahat, saya akan membantumu" ucap Rio seraya mengetuk kaca mobil. "Keluarlah saya tahu mobilmu mogok"
Dengan ragu dan dada sedikit bergetar, Irma membuka pintu mobilnya.
__ADS_1
"Kenapa dengan mobilnya mba?"
"Saya tidak tahu, tiba-tiba saja berhent. Pas saya starter terus nyala, baru berjalan paling lima puluh meter macet lagi, sampai berulang kali, dan terahir malah sama sekali tidak bisa di nyalakan" jelas Irma tanpa menjeda kalimatnya.
"Begitu ya" Responnya sambil melirik ke arah bagian depan mobil. "Coba akan saya cek mesinnya dulu, mbaknya masuk saja ke dalam, di luar dingin"
Sebelum mengecek mesinnya, Rio tampak memikirkan sesuatu.
"Aku seperti pernah melihat wanita ini, tapi dimana?" Rio mengernyitkan dahi, ia berusaha keras mengingat kapan dan dimana pernah melihatnya. Tapi ingatannya tidak sampai ke sana. Tak mau larut dengan pikirannya yang belum tentu benar, dia mulai mengecek mesin yang berada di bagian depan mobil. Hampir sepuluh menit ia mengutak atik mobil milik Irma.
"Coba mba, nyalakan mobilnya" teriaknya.
Irma pun menuruti perintah Rio.
"Bisa mas" sahut Irma sedikit mengeluarkan kepalanya melalui kaca mobil yang ia buka lebar-lebar "Makasih mas"
"Kemungkinan nanti akan mogok lagi mba" kata Rio saat sudah berada di samping kaca.
"Tidak apa-apa mas, nanti aku tinggal saja mobilnya kalau mogok lagi dan akan mencari taksi"
"Aku akan mengikutimu dari belakang sampai ke rumahmu, ini sudah malam, takutnya ada orang jahat"
"Tidak usah mas, pasti akan merepotkanmu nanti"
"Tidak, santai saja" ucap Rio, Irma pun terpaksa menyetujui niat Rio.
Kini mereka mengendarai mobil mereka masing-masing. Mobil Rio tepat berada di belakang mobil Irma. Sesekali Irma melirik spion memastikan apa pria itu benar-benar mengikutinya, dan ternyata benar. Irma sedikit menyunggingkan senyum lega. Hingga mobil telah sampai di depan gerbang rumah Irma.
"Apa ini rumahmu?" Rio mengedarkan pandangan pada rumah berlantai dua yang tidak terlalu besar.
"Iya, ini rumah orang tua saya, apa mau mampir?"
"Tidak usah, lain kali saja"
"Baiklah kalau begitu saya masuk dulu" Irma hendak berjalan membuka pintu gerbang namun langkahnya terhenti saat Rio memanggilnya.
"Mba"
"Iya" sahutnya sersya berbalik.
"Boleh kita kenalan" Rio tampak ragu mengatakannya lengkap dengan jantung melompat-lompat seperti mau lepas dari tempatnya.
Irma tampak menyunggingkan senyum tipis.
"Cantik" batin Rio ketika sepasang matanya mendapati Irma tengah mengulas senyum.
"Saya Irma"
"Saya Rio" lelaki itu mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan, namun dengan cepat Irma menangkupkan kedua tangan di dada, membuat Rio mengikuti gerakannya. "Ok masuklah, saya akan menunggumu sampai kamu masuk ke dalam"
__ADS_1
Tak berbeda dengan Rio, Irma pun merasakan debaran jantung yang sama sepertinya.
"Selamat malam" ujar Irma lalu melangkah membuka pintu gerbang, Rio pun turut membantu menggeser benda besi itu membuat Irma salah tingkah.
"Untung malam hari, jadi dia tidak menyadari wajahku yang memerah" batin Irma menahan senyum.
Selama beberapa menit Rio masih berada di depan rumah Irma. Ini kali pertamanya dada Rio bergetar hebat saat berhadapan dengan wanita. "Di mana aku pernah melihatnya? apa di dalam mimpi? ah aku benar-benar lupa" Ia tersenyum simpul membayangkan wajah Irma. Lalu menyalakan mobil dan menjalankannya menuju rumah pribadinya.
Saat baru saja sampai rumah, terdengar bunyi notif pesan di gawainya, ia segera melihat dan membuka pesan yang ternyata dari Danu
Danu : "Besok pagi kesini, kita berangkat sama-sama ke rumah abi, ada kajian ahad seperti biasa"
Rio hanya membaca pesannya tanpa membalas. Ia melemparkan gawainya di atas kasur, lalu melangkahkan kaki menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.
**********
Keesokan paginya, Danu dan Rio sudah berada di rumah Abi, mereka sedang menikmati sarapan bersama, seperti sebelumnya, sarapan selalu di adakan secara lesehan.
Saat sedang sarapan, bola mata Rio menangkap wanita yang semalam ia tolong. Irma sedang berjalan bersisian dengan umi, ada juga seorang anak kecil berada dalam gandengan tangannya. Pandangan mereka pun bertemu membuat mereka kikuk sekaligus salah tingkah.
"Rio, kenapa kamu?" Tanya Danu ketika Rio menatap Irma dengan ekspresi yang berbeda. "Biasa saja natapnya, matamu hampir lepas dari sana" Bisik Danu sangat lirih "Dia Irma, teman Nina?"
Mendengar ucapan Danu, seketika Rio ingat jika dia memang pernah melihatnya. Wanita itu ada di profil Facebook milik Karenina.
"Ya aku ingat sekarang. Wajah itu yang terpasang di profil facebook milik Nina, Jadi dia teman Nina" batin Rio sedikit tak tenang.
Rasa bahagia Rio sebab bertemu kembali dengan gadis yang membuat jantungnya bertalu-talu persekian detik kemudian langsung pupus saat anak kecil berjenis kelamin laki-laki memanggilnya "MAMI"
Ia menghirup napas frustasi. "Sudah punya suami to" Gumam Rio lirih, sangat lirih, namun masih bisa di tangkap oleh telinga Danu.
Ia menundukan wajahnya, kembali menikmati makanan yang mendadak berasa hambar.
"Umi bilang dia janda beranak satu" Rio mendongakan kepalanya dan langsung menoleh ke kiri mempertemukan netranya penuh selidik "Maksudmu?" tanya Rio mengernyit.
"Dasar ogeb, kamu tahu janda itu apa kan?" Celetuk Danu. "dia tidak ada suami, kalau kamu mau, deketin saja dia, walau janda, dia tetap daun muda, usianya seplantaran Nina, dia temannya sejak bersekolah di Mts"
"Janda?"
"Jangan keras-keras OGEB" Danu sengaja menekan kata OGEB "Nanti dia dengar"
Rio pun membekap mulutnya. Tampak Danu menggelengkan kepala, lalu melanjutkan menyuap nasi ke mulutnya.
BERSAMBUNG
*Maaf untuk besok, tidak up dulu ya, authornya ada dinas keluar kota... gak bisa nyambi..
yang mau ngebuli Danu-Nina atau Rio-Irma, di persilahkan 😀 atau mau ngebuli authornya, aku terima saja kok hehe. yang penting jangan membenciku hikss
maaf sudah mencabik-cabik perasaanmu Para reader kebanggaanku 😚😚😚..
__ADS_1
ketemu lagi hari Jum'at*