Menjadi Selingkuhan Suamiku

Menjadi Selingkuhan Suamiku
Part 42


__ADS_3

Nak Irma, sudah sarapan?" tanya Umi sembari tersenyum. "kalau belum, ayo kita sarapan sama-sama"


"Sudah umi"


"Mami, apa Kennan boleh ke cana" tangannya menunjuk ke arah Abi, Danu, dan Rio yang sedang menikmati sarapan di gazebo samping rumah.


Seketika jantung Irma berdegup kencang merespon permintaan Kennan "Sayang sama mami saja ya"


"Kennan mau ke cana mom"


"Sudah biarkan saja Ir, biarkan dia main Sama Danu dan Rio" sela Umi cepat.


Lagi-lagi dadanya berdesir seperti kehilangan ritmenya begitu mendengar nama Danu di sebut "Sama mami saja di sini" ucapnya dengan nada tegas.


Anak itu berlari keluar, sesaat setelah mendengar kalimat sang mami. Ia merajuk dengan larangan maminya. "Kennan" panggil Irma seraya berlari. "Sayang" teriak kian cemas.


Abi, Danu, dan Rio mengalihkan perhatiannya pada ibu dan anak yang tengah berlari seperti sedang berkejaran "Umi ada apa?" tanya Abi penasaran.


"Itu bi, tadi si Kennan minta kesini dia pengin ikut ngumpul sama kalian, tapi maminya melarangnya" ucap umi membuat Danu dan Rio saling melempar pandangan lalu kembali menatap umi.


"Kenapa maminya melarang umi? dia kan cuma pengin ngumpul" sahut Danu heran.


"Umi juga tidak tahu, tadi umi sudah bilang ke Irma, supaya membiarkan Kennan ngumpul sama kalian, tapi dengan tegas Irma melarangnya"


"Aneh" Danu membatin penuh tanya.


Dengan tergopoh Irma kembali menghampiri ke empat orang itu "Umi, aku kehilangan jejak Kennan, dia lari sangat kencang, aku tidak bisa mengejarnya" ucapnya dengan napas tersengal.


"Loh kok bisa sampai kehilangan jejak?" timpal Umi panik.


"Nak Danu, nak Rio, coba kalian bantu cari"


"Baik Bi" jawab Danu cepat.


"Tadi larinya ke arah mana Ir" kali ini Rio bertanya.


"Ke arah gedung pesantren"


"Nu, kita mencar" Danu menganggukan kepala lalu dengan cepat mereka berlari menuju gedung ponpes.


"Kennan" Rio berteriak sambil terus, mengitari seluruh ruangan pondok.


"Kennan, dimana kamu nak?" Danu pun tak kalah gesit mencari bocah berumur dua tahun itu. "Ken,," pria itu meneliti sudut ruangan, mengedarkan pendangan kesetiap titik.


"Kennan!"


Danu menghirup napas lega ketika mendapati Kennan berads di pojok ruangan tepat di samping meja. Perlahan ia menghampiri bocah itu yang sedang duduk meringkuk di lantai.


"Kennan" panggil Danu lembut, Dia ikut berjongkok di depan Kennan. Tangannya tak kalah lembut mengusap pucuk kepalanya.


"Ayo kita ke mami, mami panik mencarimu, ayo sayang"


Anak itu menggeleng, tanda menolak ajakannya. "Anak sekecil ini sudah pintar merajuk, baru dua tahun usianya, sudah mampu berlari sangat cepat" Danu mendesah.


"Sayang kita main mobil remot yuk, om juga suka banget main mobil-mobilan" bujuk Danu membuat Kennan mendongakan kepala.


Binar matanya membuat Danu merasa iba, entah kenapa, jantungnya mendadak kehilangan ritmenya, dia pun mendadak menyukainya.


"Ayo"


"Tapi tidak boleh sama mami" sahutnya parau. "Kenan nggak boleh main sama om-om"


Belum sempat Danu menyahut ucapan Kennan, Rio datang menghampirinya.


"Ternyata kalian di sini" katanya sembari melangkah.


Kennan menatap Rio penuh selidik "Oh iya Kennan kita kan belum kenalan kan" Kata Danu. "Nama om Danu, dan ini om Rio"


Danu menyentuh lengan Rio. Sementara Kennan memindai pendangan ke wajah Danu dan Rio secara bergantian. Anak itu mencoba mengingat nama mereka.


Suasana ruangan tempat persembunyian Kennan begitu sunyi karena para santri sudah berkumpul di aula untuk mendengarkan kajian ahad dari pengasuh ponpes yang tampak sudah di mulai.


"Ayo, om Rio gendong ya" Anak itu masih bergeming sambik mengatupkan bibirnya rapat-rapat. Dia seperti sedang menimbang-nimbang ajakan Rio.

__ADS_1


"Nanti mami marah bagaimana, Kennan kan udah nakal, gak nurut sama mami"


"Nanti kalau mami marah, biar om Rio marahin balik" Kennan menatap bola mata Rio dengan sorot serius seolah memastikan ucapan lelaki dewasa itu.


"Ayo" sambung Rio dengan seulas senyum.


Selang sekian detik, akhirnya Kennanpun segera menghambur ke gendongan Rio.


Rio serta Danu kompak berdiri.


"Sekalian saja halalin emaknya, terus jadi papinya ni bocah" Seloroh Danu pada temannya. Rio sama sekali tak menanggapi candaan Danu. Ia memilih fokus dengan Kennan yang ada di gendongannya.


"Kennan, bilang sama mami minta om Rio jadi papinya" celetuknya tanpa dosa.


"Emang bisa ya om?"


"Bisa dong"


"Nu jangan gila kamu?"


Danu terkikik meresponnya.


"Ya deh nanti Kennan bilang sama mami, kan Kennan pengin punya papi"


Ucapan Kennan membuat Danu dan Rio kompak menatap Kennan.


"Memang papi Kennan kemana?" tanya Rio ingin tahu, mereka ngobrol seraya melangkahkan kaki ke rumah Abi.


"Mami sama bunda bilang, nanti kalau udah gede Kennan pasti tahu papinya, sekarang belum boleh tahu dulu, soalnya masih kecil"


Rio menghentikan langkahnya, begitu juga dengan Danu "Bunda?" ucap Danu mengernyit bingung.


Kennan mengangguk "iya bunda"


"Maksud Kennan bunda itu mami?"


"Bukan om Rio, Kennan kan punya mami sama punya bunda"


"Kennan" panggil Irma sedikit berteriak, lalu bergegas melangkah menghampirinya. sontak ketiganya mengalihkan pandangan pada Irma yang sedang berjalan mendekatinya


Saat sampai di hadapan Rio, Kennan justru melingkarkan tangannya di leher Rio" dia tidak merespon uluran tangan Irma yang hendak mengambil alih gendongannya.


"Sayang sini gendong mami" anak itu memberingsut, lalu membenamkan wajahnya di pundak Rio.


"Mami minta maaf nak"


Mendengar permintaan maaf dari maminya, Kennan segera marangkum wajah Irma. Posisi Kennan yang masih berada di gendongan Rio, membuat Rio leluasa menatap wajah gadis yang selalu membuat jantungnya tiba-tiba berdebar tidak karuan.


"Sialan nih jantung gak ada ahlak, Irma pasti mendengar suaramu tung jantung hufftt" batin Rio dengan keringat dingin membasahi pelipisnya.


Baru kali ini dia melihat Irma dari jarak yang sangat dekat.


"Im So sorry mami" ucap Kennan lalu mengecup singkat pipi Irma.


Danu menyunggingkan senyum melihat Rio, Irma, dan Kennan. Segera ia merogoh saku celana lalu meraih ponsel pintarnya. Ia mengabadikan mereka bertiga di kamera ponselnya.


"Manis sekali, mereka terlihat seperti satu keluarga" gumam Danu sambil melihat hasil jepretannya.


"Sini gendong mami"


"Nak Danu, Nak Rio, kajian sudah mau di mulai, segeralah kesana" sela Umi dari balik punggung Irma.


Rio pun memindai Tubuh Kennan ke gendongan Irma "Kuat kan?" ucap Rio lirih.


"Kuat" jawab Irma tak kalah lirih. "Sayang kita bantu nenek siapin snack yuk"


...@@@@@@@@@...


"Nin, tinggal berapa minggu lagi kamu di situ?" tanya Irma, mereka kini sedang berbicara melalui telfon.


"Baru dua minggu Ir, kenapa memangnya?"


Irma menggelang "Kenapa baru telfon, biasanya kan selepas maghrib kamu udah telfonan sama Kennan. Anakmu menunggu telfonmu sampai tertidur, kamu tidak merindukannya?"

__ADS_1


"Rindulah, aku sangat sibuk, dan ini baru sempat, maaf" ucapnya penuh sesal. "Tumben Kennan jam segini sudah tidur?"


"Iya tadi siang mereka main sama mas Danu dan temannya, mungkin dia kecapean.


"Main sama mas Danu?" tanya Nina dengan jantung berdebar.


"Iya, sama temannya juga namanya Rio"


"Mas Danu ada di rumah abi?"


"Nin, dia selalu datang ke sana, bahkan Umi bilang dia sering menginap dan tidur di kamarmu"


Disana Nina mengernyitkan dahi "masa si? kamu tidak bilang padanya tentang Nesa dan Kennan kan?"


"Tidak Nin, kamu tenang saja" sahutnya pelan. "Nin, mas Danu belum menceraikanmu?"


"Apa, belum menceraikannku? kata siapa?"


"Umi, beliau bilang dia menunggumu selama ini"


"Menungguku, maksudmu?" tanya Nina kian tak tahu apa maksudnya.


"Dia mau memperbaiki rumah tangganya denganmu"


Nina tersenyum getir "Ir, dia mempertahankan rumah tangganya, pasti karena tidak ingin kehilangan hartanya, karena wanita yang sangat dia cintai tiba-tiba menghilang"


"Tidak Nin, aku lihat dia berharap besar padamu, umi juga bilang dia sangat mencintaimu, makannya sampai sekarang dia tidak menceraikanmu karena dia ingin kembali padamu" Terangnya mantap. "Nin, cepatlah pulang, aku ketakutan saat berhadapan dengan mas Danu"


"Kenapa kamu yang takut, seharusnya aku yang takut karena sudah membohonginya, mempermainkannya, dan juga menyembunyikan anaknya"


"Kamu ini gimana Nin, aku kan juga ikut berperan menyembunyikan Kennan darinya, kalau bertemu dengannya, jantungku tidak bisa berhenti berdegup. Kalau mas Danu tahu, pasti dia akan melemparku ke laut, kamu bilang dia kan sangat dingin dan kaku, sangat menyeramkan"


"Aku tidak akan membiarkan dia melemparmu ke sana, ini semua salahku, tidak ada alasan mas Danu marah sama kamu, ngerti"


"Cepet pulang ya Nin, aku benar-benar ketakutan, apalagi bayangan jeruji besi selalu terbesit di otakku"


"Selama kamu tutup mulut, dia tidak akan tahu Ir, dan nanti saat aku menjelaskan semuanya, aku tidak akan membawa namamu ke dalam masalahku"


"Tapi pikirkan baik-baik, aku rasa mas Danu memang mencintaimu, dia ingin mempertahankan rumah tangganya bukan karena harta"


"Ir, Irma" Irma mendengar suara panggilan dari mamahnya.


"Bentar Nin"


"Iya mah" Irma menyahut panggilan sang mama.


"Ir, di luar ada tamu untukmu, dia bilang temanmu"


"Temanku? siapa mah?"


"Mama juga tidak tahu, kayaknya dia baru pertama kali ke rumah kita. Dia laki-laki tampan, mobilnya pun sangat mewah"


Irma mengerutkan dahinya, melemparkan sorotan mata penuh selidik ke arah sang mamah.


"Mobil mewah, siapa dia?" tanyanya dalam hati.


"Cepat temui dia, mba Yuni sudah membuatkan teh untuknya, biar Kennan mama yang nemenin"


"Kennan sudah tidur mah" Detik berikutnya, kemudian Irma menempelkan kembali ponselnya di telinga "Nin sudah dulu ya, aku ada tamu"


"Ya sudah, besok pagi aku telfon lagi"


Sesaat setelah memutuskan panggilan telfon, Irma berjalan ke ruang tamu, ia sangat penasaran dengan tamunya di jam seperti ini.


Namun dadanya berdesir, wajahnya seketika memanas, mendapati wajah sang tamu yang baginya tidak asing. Laki-laki yang berkunjung ke rumahnya, sedang di temani ngobrol oleh sang papa.


"Papa terlihat sangat tegang, apa yang sedang mereka bicarakan?" Batin Irma sembari terus melangkah. "*A*pa papa sedang memberitahu tentang Kenan padanya?"


Irma menggeleng kemudian segera mempercepat langkahnya "Jangan sampai papa cerita tentang Kennan"


Dia sangat takut papanya membongkar tentang Kennan pada pria itu.


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2