Menjadi Selingkuhan Suamiku

Menjadi Selingkuhan Suamiku
Epilog


__ADS_3

Bacanya pelan-pelan ya, biar paham ini waktunya kapan 😊😊


anggap aja authonya lagi kumat lompat lompat ke beberapa tahun kemudian


Danu Abraham


Setiap orang pasti pernah melakukan kesalahan, dan pada kesempatan kedua, seseorang bisa membuktikan untuk memperbaiki diri menjadi lebih baik.


Menyandarkan punggung ke sandaran kursi, meregangkan otot-otot dan pundak yang terasa sedikit kaku, setelah 8 jam bekerja. Ku pejamkan mataku sembari mengatur napas, berharap lelah yang ku rasa sedikit reda.


Biasanya di hari sabtu, aku akan bekerja dari rumah, namun karena ada pekerjaan yang harus di selesaikan, mau tidak mau aku harus berangkat ke kantor.


"Pak Danu!" panggil suara yang sudah ku hafal pemiliknya. Membuat mataku terbuka dan menemukan sosok Arumi berdiri di ambang pintu.


"Pak apakah ada pekerjaan lain yang harus saya kerjakan?" tanyanya ramah.


Arumi atau Arum sekertaris yang sudah bekerja selama satu tahun menggantikan Rara, adalah sosok yang memiliki sifat berbanding terbalik dengan Rara. Mulai dari busana yang ia kenakan, selalu bersikap sopan terutama pada istriku. Dia adalah sekertaris pilihan Nina, yang tak lain adalah anak dari ustadz pengajar di MA milik Abi.


"Tidak ada Rum, sudah waktunya kamu pulang, pulanglah"


Dia menganggukan kepala sambil tersenyum, lalu menutup pintu setelah mengucapkan salam.


Hampir 15 menit, aku diam dan tak melakukan apapun, saat ku lihat jam di pergelangan tanganku, waktu sudah menunjukan pukul setengah 5 sore.


Segera ku kemasi berkas-berkas yang akan aku bawa pulang lalu ku masukan ke dalam tas, kemudian bersiap untuk pulang.


******


Sesampaianya di rumah, kulihat putraku yang baru beberapa bulan ini sudah masuk SD, tampak sedang membaca buku pelajarannya di ruang TV.


"Assalamu'alaikum"

__ADS_1


"Walaikumsalam yah" jawabnya lalu mencium punggung tanganku


"Kalau baca, jangan sambil tiduran nak"


"Kennan enggak baca yah, cuma lihat gambar aja" Aku mengangguk mengerti "Bunda di mana?"


"Ada di kamar, tadi abis bikin kudapan buat Kennan, bunda ijin mau sholat asar"


"Ayah naik dulu ya" Setelah putraku mengiyakan dengan anggukan kepala, aku langsung menuju ke kamar.


Pintunya tertutup, perlahan aku membukanya agar tak mengejutkan Nina yang ada di dalam. Ketika pintu terbuka, ku lihat wanita dengan rambut panjangnya di ikat tinggi, sedang duduk di lantai dengan punggung bersender pada sisi ranjang, yang posisinya membelakangiku.


Menutup pintu perlahan, aku berjalan mendekat dan tersadar kalau dia tengah memegang benda tipis bernama testpack, dengan deraian air mata, lalu menghembuskan napas berat.


Tepat ketika dia menaruh benda pipih itu di lantai, tubuhnya berjengit karena terkejut.


Sepasang mata indah Nina membelalak ketika netra kami akhirnya bertemu. Aku ikut duduk di lantai tepat di sampingnya. Tak ada sepatah katapun yang keluar, namun aku tahu seberapa sedihnya ketika hasil yang muncul pada tespek itu tidak sesuai harapan.


Wanita ini, menarik napas panjang ketika aku melingkarkan tangan dan membawanya bersandar di bahuku, lalu mengecup pucuk kepalanya


"Memangnya sudah telat berapa hari?" tanyaku dengan nada selembut mungkin


"4 hari"


"Baru 4 hari sayang, jangan buru-buru"


"Apa mas tidak merasa iri dengan mas Rio?"


Ku tautkan ke dua alisku lalu menatap wajah wanita yang sudah menemaniku selama ini "Iri?


Ku rasakan anggukan kepala darinya "Mas Rio dan Irma saja dalam waktu tiga tahun, sudah mau 2"

__ADS_1


Sekarang aku paham maksudnya, mungkin istriku merasa iri pada sahabatnya, yang beberapa bulan lalu mengumumkan kehamilan ke duanya.


"Jangan jadikan orang lain sebagai patokan goals sayang" ucapku berniat menghibur. "Kapan kamu hamil, dan berapa anak yang akan kamu miliki, semua sudah di atur. Mas rasa kamu sangat paham dengan rencana-Nya. Apa yang kita inginkan, akan di kabulkan pada waktu yang tepat. Kamu juga sangat paham kan, kalau rencana-Nya adalah yang terbaik bagi umat-Nya"


"Jangan melow dengan kabar kehamilan Irma, nanti malah kamu sakit"


"Siapa yang melow?" sanggahnya cepat


"Kamu lah, lagian kita sudah punya Kennan, di tambah Zara juga anak kita kan, Apalagi semenjak Irma hamil, gadis kecil itu sering menginap di rumah kita, di karenakan dia harus bolak-balik keluar masuk rumah sakit, karena ngidam"


"Boleh mas beri saran?"


"Saran apa mas?" tanyanya masih dengan suara sendu


"Mulai sekarang bebaskan pikiranmu dari keinginan punya anak, jangan libatkan tespek saat kamu telat datang bulan. Di kasih syukur, enggak di kasih ya kita harus terima, dan sabar, kan memang belum waktunya. tanpa tespek, nanti juga tahu hamil enggaknya kan?"


"Ayah, bunda" Suara anak kecil di iringi ketukan pintu, menyela obrolan kami, membuatku dan Nina kompak menoleh ke arah sumber suara "Kennan sayang, sebentar mas buka dulu"


Aku berdiri di ikuti oleh Nina, ku lirik dia bergegas meraih tespek yang tergeletak di lantai, lalu membuangnya ke tempat sampah


"Yah anterin ke rumah mami dong, malam minggu kan jatahnya Ken bobo di sana" ucapnya sambil terus melangkah memasuki kamar kami. "Boleh ya bun"


"Boleh, tapi kalau udah gede tidak boleh bobo sama dede Zara"


Aku tidak terkejut mendengar Kennan ingin menginap di rumah Rio, alasannya, selalu sama, mau bobo sama Zara, anak pertama Rio dan Irma.


"Kenapa bun?"


"Nah kan, bunda enggak mau ikut campur ya, ayah silakan jelaskan, jangan libatkan bunda!" mataku fokus menatap Nina yang berkata demikian.


"Kok jadi ayah"

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2