Menjadi Selingkuhan Suamiku

Menjadi Selingkuhan Suamiku
Part 45


__ADS_3

Demi sang bos, Rio rela manjadi pencuri. Mencuri nomor ponsel milik Nina. Dia juga melibatkan Kennan untuk melakukan misinya. Entah bagaimana caranya, Rio bisa dengan mudah mendapatkan nomor ponsel milik teman dari calon istrinya.


"Mas Danu"


"Jangan di tutup Nin"


Dengan cepat Nina menundukan kepala, dia tidak berani menatap Danu barang sebentar meskipun hanya lewat telfon.


Untuk sesaat, suasana hening menyelimuti mereka. Perasaan canggung mulai muncul dari keduanya.


"Karenina, lihat aku!"


Nina menggeleng, ia mengunci rapat mulutnya. Nyalinya benar-benar menciut di hadapan Danu.


"Kalau tidak aku akan.."


Seketika Nina mengangkat wajah begitu mendengar ucapan sang suami yang terselipkan seperti sebuah ancaman, lalu menatap Danu penuh selidik "Akan apa?" tanya Nina penasaran.


Nina berfikir bahwa Danu akan mengambil Kennan darinya.


Alih-alih menjawab, Danu justru menyunggingkan senyuman. Ternyata ancaman recehnya mampu mengecoh sang istri agar menatap dirinya.


"Akan apa?" Nina mengulangi pertanyaannya.


"Tidak apa-apa" sahut Danu. Terlihat di layar ponsel ia mencubit lembut hidunganya.


"Bohong!"


"Aku belajar bohong darimu Karenina"


"Aku?" Nina menunjuk hidungnya sendiri dengan jari telunjuk.


"Memangnya siapa lagi yang sedang ku ajak bicara saat ini?"


Nina kembali mengatupkan bibir.


"Kalau kamu diam, itu artinya kamu ingin aku menyusulmu"


"Ti-tidak perlu mas" sergahnya cepat.


"Kalau aku tidak boleh menyusulmu, maka setiap malam kamu wajib menelfonku"


"Untuk apa?"


"Untuk memastikan supaya aku tidak kehilangan kontak deenganmu, atau untuk menjadi selingkuhanmu misalnya"


Deg...Tiba-tiba jantungnya berdetak dengan kurang ajarnya, membuat Nina kian gugup bahkan salah tingkah. "Apa Irma sudah menceritakan semuanya, dan mas Danu sudah tahu tentang Kennan?"


"*Apa mas Danu akan merebut Kennan dariku?"


"Tidak, Kennan harus tetap berada dalam asuhanku*"


"Nin?" panggil Danu. Dia menyadari bahwa istrinya sedang merasa gugup saat ini.


"A-aku sibuk mas" Dengan terbata Nina mengucapkannya, keringat dinginpun mulai membanjiri tubuhnya.


"Baiklah, aku akan menelfonmu lagi nanti, jam berapa kamu selesai kerja"


"Aku selalu sibuk"


"Ya sudah aku akan menyusulmu besok"


Tut..tut.. Danu memutuskan panggilan secara sepihak.


"Apa mas Danu benar-benar akan menyusulku kemari?"


"Irma, kenapa dia begitu ceroboh memberikan nomor ponselku?"


"Aku belum merancang kata-kata untuk menjelaskan semuanya tadi"


Nina merasa panik, ucapan Danu membuat konsentrasinya menghilang. Ia sampai tidak bisa bekerja sebab perkataan Danu selalu terngiang di telinganya.


Sekian detik kemudian, Ia mencari kontak bernama Irma, lalu menekan tombol dial untuk memanggilnya.


"Hallo" Suara anak kecil terdengar di telinga Nina.


"Kennan, Mami mana sayang?"


"Mami" Anak itu berteriak sambil berlari memanggil Irma yang sedang berada di dapur, membuat Nina reflek menjauhkan ponsel dari telinga sebab suara Kenna terlalu kencang terdengar di telinganya. Reflek bibirnya tersungging ketika mendengar suara anak lelakinya.


"Mami, bunda telfon"


Irma menerima uluran ponsel dari tangan kecil Kennan, lalu menempelkan di telinga.


"Iya Nin, ada apa?"


"Irma, apa kamu memberitahu mas Danu tentang Nesa dan Kennan?"


"Tidak, kenapa memangnya?" tanya Irma penasaran.


"Mas Danu menelfonku"


"Menelfonmu? Kok bisa? apa yang dia katakan?" Irma memberondong pertanyaan dengan tidak sabarnya.


"Dia akan menyusulku"

__ADS_1


"Untuk apa dia menyusulmu?, sepertinya tidak mungkin Nin"


"Apa yang tidak mungkin bagi Danu, sekarang saja bisa tahu nomorku"


"Aku yakin mas Rio yang sudah memberitahunya"


"Sudahlah, aku sudah pasrah, aku akan usahakan pulang secepatnya" Kata Nara frustasi. "Bagaimana persiapan pernikahanmu? maaf ya, aku tidak bisa membuatkan gaun untukmu"


"Iya tidak apa-apa, tapi menyedihkan sekali, padahal aku punya teman seorang designer hebat, tapi tidak bisa merancang gaun pernikahan untukku"


"Maaf" ujar Nina sendu.


"Doain saja acaranya lancar, dan kamu bisa secepatnya kembali"


🌼


🌼


Persiapan demi persiapan telah di lakukan. Tidak terasa waktu tiga minggu berlalu begitu cepat, sebentar lagi Irma akan sah menjadi Istri Rio.


Tak pernah ia sangka, gadis yang pernah mencuri perhatian hanya karena memandang foto di laman facebook, akan menjadi partner hidupnya. Dan hari ini ia akan melafazkan ijab kobul. Pernikahan di selenggarakan di aula hotel berbintang di kota Surabaya. Hiasan bernuansa klasik begitu elegan, menambah kesan glamour. Pernikahan dua orang yang saling mencintai.


Sebelum akad nikah, diketahui telah melangsungkan berbagai rangkaian acara seperti sambutan, dan pembacaan ayat suci Al-Quran.


Kini tiba saatnya pria itu akan mengikrarkan ijab & qobul untuk menghalalkan kekasihnya.


Dengan tegas Pak Bambang melafazkan ijab pada calon menantunya.


"Saudara Rio Julian Anggara, Bin Ganda Anggara, aku nikahkan engkau, dan aku kawinkan engkau dengan pinanganmu, Irma Deananda Sudrajat, dengan mahar tiga Milyar rupiah dibayar tunai."


Rio pun menjawab dengan suara lantang.


"Saya terima pernikahannya, dan perkawinannya dengan mahar tersebut tunai, dan saya rela dengan hal itu. Dan semoga Allah memberikan anugerah.


Suara Sah terdengar sangat kompak oleh para hadirin yang menyaksikan ijab kobul pernikahanya.


Kebahagiaan terpancar dari dua insan yang sudah di persatukan dalam sebuah ikatan pernikahan.


Satu hal yang belum sempat Irma ceritakan pada Rio yang saat ini sudah sah menjadi suaminya. Yaitu tentang Kennan.


"Selamat bro, semoga pernikahannya berkah" Danu menjabat tangan Rio lalu memeluknya singkat.


"Thankyou bos, jangan lupa tiket parisnya" Rio sedikit berbisik.


"Iya sudah aku siapkan tiga tiket" canda Danu, Irma hanya bengong memperhatikan dua sahabat itu saling melempar candaan.


"Kok tiga?" Danu tak merespon ucapan Rio, ia berpindah memberi selamat untuk Irma dengan menangkupkan kedua tangan di dada.


"Selamat Ir"


********


Malam melarut ditandai dengan kepulangan para tamu beberapa waktu lalu. Sang pengantin sudah memasuki kamar hotel yang sudah di boking oleh Rio.


Usai sholat sunah dua rokaat, Rio menggiring Irma menuju ranjang dan mendudukannya di pinggiran kasur.


Satu minggu sebelum pernikahan, Rio sudah mempelajari buku Qurratul Uyyun, kitab Syarah Nazam. Sebuah buku pemberian dari pak Arifin.


Dan ini, pertama kali Rio melihat Irma melepaskan hijabnya, rambut panjang sebahu tergerai indah.


"Masya Allah" Batin Rio dengan pandangan tak teralihkan menatap Irma.


Rio memegang tangan istrinya. Sementara keringat dingin keluar dari dahinya. Wajar saja hal ini terjadi, sebab seumur hidupnya baru kali ini ia memegang jemari perempuan yang pada akhirnya menyatakan sebagai kecintaan. Bahkan terasa sekali tangan Irma juga bergetar, rasa gugup benar-benar menyelimuti hati keduanya.


Rio mengecup dahi Irma sedikit lebih lama.


"Mas" panggil Irma.


"Apa?" Rio menyahut dengan bisikan, tepat di telinga Irma, membuat Irma memberingsut.


"Ada sesuatu yang ingin aku katakan" ucapan Irma membuat Rio menautkan alis.


"Apa?" katakan saja cepat, aku sudah tidak tahan" Rio berusaha mencairkan suasana yang mulai sedikit menegang.


Sudah beberapa menit Irma tak kunjung bersuara. Rio melihat sang istri justru menunduk memainkan kuku yang membuat Rio justru berdecak gemas. Dengan gerak cepat, ia mengecup bibir Irma dan sedikit memberikan lum*atan serta gigitan lembut.


Karena ini pengalaman pertama untuk Irma, dia tidak membalas ciuman sang suami, tetapi gigitan itu membuat Irma membuka mulut, memudahkan Rio untuk menelusup lebih dalam. Hingga mereka kehabisan oksigen, Rio melepaskan pag*utannya.


Irma tertunduk malu, Tangan Rio mengusap bibir ranum milik istrinya lalu beralih pada anak rambut yang sedikit menutupi mata.


Rio mengangkat dagu Irma, menatapnya dalam. pandangan mereka pun bertemu, membuat Irma tersipu malu.


"Sudah siap ibadah sama-sama?" tanya Rio memegang tangan Irma.


Irma mengangguk meski pelan. "tapi aku ingin mengatakan sesuatu"


"Tentang apa?" tanya Rio penasaran. Tangannya sudah bergerak liar di bagian dada wanita yang kini sudau berada di bawah kungkungannya.


"Tentang Kennan"


Belum sempat Irma melanjutkan kalimatnya, Rio sudah menyapu bibirnya sejenak lalu melepaskan "Aku menerima Kennan menjadi anaku sayang, aku akan menyayanginya seperti anak kandungku sendiri"


"Tapi mas"


"Tidak usah tapi-tapian, ayo kita berdoa" sambar Rio cepat.

__ADS_1


Sebuah doa sudah Rio lantunkan, ia melanjutkan aktifitasnya menjelajahi tubuh sang istri.


Perlahan tapi pasti, sebuah pengalaman pertama bagi Rio, Satu persatu ia lepaskan pakaian milik Irma. Menciumi tubuhnya dan meninggalkan begitu banyak tanda merah di sana. Entah bagaimana caranya, tahu-tahu pakaian mereka sudah terlepas dari tubuhnya. Kini mereka bersembunyi di balik selimut tanpa busana sehelai pun.


Seperti berjalan dalam kegelapan, mencari celah menuju lautan madu, hingga harus ada bagian yang terkoyak, Irma mengerang kesakitan, membuat Rio menatap heran istrinya.


"Apa sakit?" tanyanya mengernyit.


Melihat anggukan kepala Irma, Rio mengalihkan pandangan pada bagian yang paling sensitif di bawah sana. Ada darah segar mengalir di paha mulus sang istri.


"Sayang, apa ini, kenapa ada darah?" tanya Rio mengintimidasi.


"Kenapa memangnya?" sahut Irma seraya menahan sakit.


"Bukannya kamu seorang janda?" Rio mengusap peluh di dahi Irma "Ah sudahlah, nanti saja kamu jelaskan, sekarang apa masih sakit?" lanjutnya.


Wanita itu mengangguk, Rio segera mencium dahi istrinya, berusaha menetralisir rasa nyeri yang di alami sang Istri, lalu turun ke bawah mengecup ceruk lehernya "Ternyata kamu masih perawan sayang" bisik Rio lembut.


Irma mengernyitkan dahi, ia benar-benar tidak mengerti maksud ucapan Rio.


"Bisa kita lanjutkan?"


Lagi-lagi Irma hanya mengangguk.


Sebuah gerakan membuat Irma tak mampu lagi menahan lenguhan. Dia hanya pasrah membiarkan sang suami melakukannya.


Rin*tihan dan de"sahan saling berpadu. Rio mempercepat rytme gerakannya semakin cepat hingga erangan panjang mengakhiri penjelajahannya di malam pertama mereka.


"Tunggu di sini, aku akan ambil handuk basah di kamar mandi" pungkas Rio.


Sebelum beranjak dari kasur, Rio terlebih dulu menutup tubuh istrinya dengan selimut.


Beberapa menit setelahnya, Dia keluar dari kamar mandi dengan hanya mengenakan celana pendek.


kedua tangannya membawa sebuah baskom kecil berisi air hangat dan handuk di dalamnya. Ia mendudukan dirinya di samping tubuh Irma.


"Mas mau apa?" tanya Irma saat mengetahui sang suami hendak menyibakan selimut yang menutupi tubuhnya.


"Mau ngelap noda di badanmu, memangnya kamu tidak merasa risih?" jawabnya santai.


"Tapi kan malu"


"Kenapa malu, aku sudah tahu semuanya, satu yang belum aku tahu" Terlihat Irma memicingkan mata usai mebdengar ucapan Rio "Kalau bukan dari perutmu, dari mana asal-usul Kennan?"


"Aku sudah bilang tadi mau membicarakan itu, tapi mas tidak mendengarkanku"


"Bagaimana aku mau mendengarmu, aku sudah tidak konsentrasi lagi, di otaku hanya ingin itu"


"Ingin apa?" tanya Irma dengan tatapan tajam.


"Sudahlah, ayo sini di buka"


Dengan paksa Rio menyibakan selimut, Irma pun tidak bisa menolaknya, ia menutup muka dengan kedua tangannya.


"Kenapa menutupi wajahmu dengan tangan seperti itu?" Rio terus mengelap tubuh Irma mulai dari dahi, leher, hingga kebawah. Berkali-kali ia membilas handuknya pada air dalam wadah.


"Malu"


"Sama suamimu sendiri malu?"


"Ya malu aja"


Hingga lewat bermenit-menit, Rio pun selesai membersihkan tubuh sang istri.


"Sudah sayang, Istirahatlah aku taruh ini dulu di toilet"


****


Beberapa hal sudah di lakukan Rio, kini waktunya ia ikut membaringkan tubuh di samping sang istri.


"Kamu belum pakai baju sayang" tanya Rio seraya memeluk tubuh Irma, ia justru senang melihat Irma tak mengenakan pakaiannya.


"Bajuku hilang"


"Oh iya, tadi aku bawa ke kamar mandi. Ya sudah begini saja, nanti kalau ada sesi ke dua tidak perlu repot lagi"


Mendengar ucapan Rio, Irma bergidik ngeri, rasa sakit masih bersarang di bagian bawah sana, seketika ia mencubit perut Rio lembut.


"Aaww" Rintihnya lalu melihat jam di layar ponsel "Baru jam sebelas sayang, belum tengah malam, sekarang ceritakan asal-usul Kennan"


Irma masih memiringkan tubuhnya, tangan kirinya memeluk perut Rio, sesekali memainkan rambut tipis di dada bidang suaminya.


"Kennan itu anaknya Nina"


Rio terkejut begitu mendengar ucapan Irma. "Apa Nina sudah menikah lagi?" tanyanya dengan sorotan mata tajam.


"Anak Nina dan Danu"


Untuk kedua kalinya Rio terkejut dan langsung mengangkat tubuhnya lalu menyandarkan punggungnya pada kepala ranjang. Irma pun ikut mendudukan tubunya, menarik selimut hingga batas leher untuk menutupi bagian yang menonjol di dadanya.


BERSAMBUNG


Nulisnya sambil istighfar, kalau banyak yang komplen karena bahasanya yang vulgar terlalu fanas, akan segera aku revisi.


maaf baru update.. sibuk menyerangku bertubi-tubi 😀 happy reading

__ADS_1


__ADS_2