Menjadi Selingkuhan Suamiku

Menjadi Selingkuhan Suamiku
Part 58


__ADS_3

Pov Nina


Pagi hari setelah melaksanakan sholat subuh berjamaah, aku kembali membaringkan tubuhku di atas kasur, Ku lirik dengan ekor mataku, mas Danu keluar dari kamar, membawa sehelai handuk kecil yang ia lingkarkan di lehernya. Mungkin dia akan berolahraga di ruangan khusus yang sudah mas Danu sediakan.


Aku berniat memejamkan mataku sejenak sebelum turun ke bawah untuk menyiapkan sarapan.


Entah berapa lama aku tertidur, samar terdengar gemercik air dari balik kamar mandi, ku lirik jam di atas nakas menunjukan pukul 7 pagi, itu artinya, aku tertidur lebih dari dua jam.


Aku beranjak dari kasur, meraih jilbab yang ku taruh di atas nakas, lalu memakainya dengan asal. Segera ku langkahkan kakiku menuju lemari, menyiapkan pakaian untuk di kenakan mas Danu.


Tiba-tiba pintu kamar mandi terbuka, Aku yang tengah berdiri di depan lemari, memindai pandangan ke arahnya.


Sosok lelaki tampan berdiri di ambang pintu, dengan handuk melilit di pinggangnya.


Tatapannya yang begitu teduh, membuatku jatuh ke dalam pesonanya.


"Mas Danu, tatapanmu mengingatkanku saat kamu menatap Nesa" Ku gelengkan kepalaku berusaha menyingkirkan bayang-bayang Nesa dari pikiranku.


Mas Danu menghampiriku, dan aku, ingin sekali melarikan diri dari sini. Aku berjalan mundur ketika mas Danu terus mendekat, hingga punggungku menyentuh tembok.


Kedua tangannya mengunci tubuhku "Kamu kenapa?" kamu nervous dengan suamimu sendiri?, Takut, inscure?" hah?" ucapnya


Jarak wajahnya dengan wajahku hanya sepersekian senti, Ku telan salivaku untuk menormalkan perasaanku yang sangat tidak nyaman.


"Semoga mas Danu tidak mendengar debaran jantungku"


Mas Danu menuntunku ke tempat tidur, ia mendudukanku di bibir ranjang, lalu ia turut mendudukan dirinya di sampingku


Apa yang ingin mas Danu lakukan, apa dia mau meminta haknya?


Dia menatapku dalam, dan otaku seketika membeku, tak bisa merangkai kata, bahkan untuk sekedar bertanya.


"Nina" Mas Danu memanggilku


"Ad-Ada apa mas?" sahutku dengan terbata, aku tak berani membalas tatapanya, aku memilih untuk menundukan kepala


Mas Danu menggeser duduknya menjadi lebih dekat denganku, ia mengangkat daguku agar aku menatapnya.


Dia mengusap pipi dan bibirku, pelan-pelan satu tangan lainnya menanggalkan kain penutup kepalaku, tak lupa melepas ikat rambutku, seketika rambut panjangku tergerai.

__ADS_1


Mas Danu meraih tanganku dari pangkuanku, menggenggamnya, lalu mengecupnya lembut dengan tatapan masih menatapku.


Perlahan ia membaringkan tubuhku di tempat tidur, tempat yang belum pernah di basahi oleh keringat kami berdua yang berbaur dalam alunan percintaan.


Mas Danu mengungkungku dengan kedua tangannya yang kekar, Binar matanya seolah menginginkan sesuatu. Tangannya kembali mengitari wajahku, lalu turun ke leher, ku pejamkan mataku menikmati sentuhan sensualnya. Ku rasakan wajahnya semakin dekat hingga hembusan nafasnya terasa begitu hangat menyapu wajahku.


Ku beranikan diri untuk membuka mata, ku tatap bola matanya, yang juga sedang menatapku penuh cinta. Dengan jarak sedekat ini, ketampanannya semakin terlihat jelas


"Mas" panggilku ragu "Aku mencintaimu, tetapi pada hari itu, aku justru mendapati diriku kesakitan, ketika mas memberikan senyuman dan cinta untuk wanita lain, meskipun wanita itu adalah aku. Ku ikhlaskan waktuku selama dua tahun untuk mengabdikan diriku padamu, aku ikhlas bertahan di sini sendirian saat itu, tapi sampai detik ini, bayangan Nesa masih menari dengan lincah di pikiranku"


Ku lihat mas Danu menelan salivanya. "Lalu aku harus apa agar bayanganmu sendiri menghilang dari pikiranmu?" Aku harus apa, agar kamu percaya, bahwa aku sudah tidak pernah memikirkannya apalagi membayangkannya. Asal kamu tahu Nin, saat ini, di otaku hanya ada kamu. Tolong jangan memintaku untuk melepasmu"


"Bersikaplah seperti ini, hingga aku benar-benar bisa melupakan perlakuan mas pada Nesa"


"Tapi tolong jangan terlalu lama, karena aku ingin mendapatkan cintamu, aku pun ingin bermanja denganmu. Aku berjanji itu akan menjadi kesalahanku untuk yang pertama dan terahir, percayalah dengan janjiku Nina"


Ku hirup nafas dalam-dalam, mencoba percaya dengan kata-kata mas Danu.


"Mas sudah mendapatkan cintaku, beri aku ruang sedikit saja untuk menghapus ingatanku tentang Nesa, juga tentang deritaku di rumah ini"


"Apa perlu kita pindah rumah, agar kamu lebih nyaman?"


"Tidak perlu" jawabku seraya menggelengkan kepala "Bangunlah aku akan menyiapkan sarapan"


Ku anggukan kepala sebagai jawaban, sesaat setelah itu, mas Danu mengecup bibirku singkat.


Masih dengan posisi seperti ini, tiba-tiba dering ponselku berbunyi, mas Danu membantuku meraih benda itu, tampak bu Agata memanggil


"Siapa dia?" tanya mas Danu


"Dia atasanku"


"Angkat dan loudspeaker"


Ku geser tombol hijau, lalu melakukan apa yang di perintahkan mas Danu untuk mengeraskan suaranya


"Hallo Nina?" terdengar suara bu Agata di sebrang telfon


"Iya bu, apa kabar?"

__ADS_1


"Saya baik Nin, bagaimana dengan kamu, Irma, Kennan, dan juga mba Yuni?"


Alhamdulillah kami baik juga bu"


"Syukurlah oh ya Nin, kenapa belum kembali ke Jakarta, kedatanganmu selalu saya tunggu lho, saya ingin kamu bekerja lagi di shevano"


Kulirik mas danu menggelengkan kepala, mungkin maksudnya tidak mengijinkanku untuk bekerja


"Maaf bu, sepertinya saya tidak bisa"


"Yah ko gitu Nin, padahal saya sudah membeli butik yang lebih besar, dan sudah menjual butik yang lama, berniat mengembangkan usaha lebih besar lagi"


"Tapi mohon maaf bu, saya benar-benar tidak bisa"


"Ya sudah deh, tapi seandainya kamu ingin bekerja lagi, jangan sungkan menghubungi nomor saya ya"


"Iya bu, Insya Allah"


Panggilan terputus, mas Danu meraih ponsel di tanganku dan menaruhnya kembali di atas nakas. Dia kembali menatapku, tak lama setelah itu terdengar pintu di ketuk dari luar


Mas Danu hendak beranjak dari kasur, dengan cepat aku tahan "Mas pakai baju dulu, pintunya biar aku yang buka"


Aku segera bangun, lalu menyambar jilbabku.


"Iya teh"


"Ada pak Rio dan istrinya di bawah bu"


"Oh iya, suruh tunggu sebentar ya"


Ku lihat mas Danu sudah memakai pakaiannya


"Siapa yang datang? tanyanya


"Mas Rio sama Irma"


"Kamu cuci muka dulu, mas akan temui mereka"


Mas Danu bergegas turun. Dan aku masih memikirkan tentang ucapannya beberapa menit yang lalu. Semoga tidak butuh waktu lama untuk melupakan sakit yang ku rasakan.

__ADS_1


**BERSAMBUNG


Sisa 6 part menuju end 😊**


__ADS_2