
...___________...
Pov Nina
"Apa sedikitpun kamu nggak pernah bosan denganku yang suka kekanak-kanakan?"
Kepalaku menggeleng tanpa ragu. Kedua tangan memeras kain sebelum ku tempel pada dahinya "Sampai kapanpun, hingga kita tua dan rambut kita memutih, aku nggak akan pernah bosan untuk selalu mengurus mas, baik dalam kondisi sehat, maupun sakit"
Setelah mendengar ucapanku, mas Danu terdiam, fokusnya masih tertuju pada manik hitamku, sementara aku, jelas tahu apa yang di rasakannya hari ini.
Semalam, kami kembali membicarakan kegilaan dan kekonyolan yang pernah kami lakukan saat itu, semua kenangan yang kami punya, baik dua tahun saat dia mengasingkanku, hingga aku harus menjadi wanita lain untuk merayunya, masih terekam jelas di ingatan mas Danu dan juga aku.
Mas Danu, betapa dia merasa bersalah dengan perbuatannya padaku, sama halnya aku, yang juga merasa bersalah telah menipu dan meninggalkannya bertahun-tahun.
"Anak-anak kemana?" Tanya mas Danu memecah keheningan yang kami ciptakan.
"Kennan sama Ayu pergi belanja bahan kue"
"Beneran anak gadis kita akan membuatnya?"
"Hu'um" Jawabku sambil mengangguk lengkap dengan senyuman. "Mas kayak nggak tahu Ayu, Dia kan selalu bikin kue kalau salah satu di rumah ini ada yang ulang tahun. Katanya nggak lengkap kalau perayaan ultah nggak ada kue sama nasi kuning dan tumpengnya"
Kali ini ku lihat bibir mas Danu melengkung ke atas.
Mas Danu terkekeh, sambil meraih kedua tanganku.
__ADS_1
Aku menggeleng untuk kesekian kalinya, sosok pria yang menurutku memiliki ego level teratas, sudah tak terhitung berapa kali mengucapkan kata maaf padaku.
Mas Danu tersenyum lembut, ketika wajahku berada dalam tangkupan tangannya. "Mas harap, kamu menangis bukan kerana mas menyakitimu, ataupun mengecewakanmu" ujarnya dengan kedua ibu jari mengusap pipiku. Telapak tangannya terasa panas saat menyentuh kulit wajahku. Sedangkan aku, terdiam dengan kedua tangan masing-masing memegang pergelangan tangannya.
"Kamu yang terbaik yang mas miliki" usai mengatakan itu, mas Danu mengecup keningku. Hangat napas dan lembut bibirnya yang menempel di sana merasuk hingga kedalam jiwa.
"Kalau belum baikan juga" kataku sambil mengusap punggung tangannya. "Kita pergi ke dokter"
Tak ada jawaban dari mas Danu kecuali tatapan yang kian lekat menyoroti netraku.
"Ada apa?" tanyaku ketika sorot matanya kian hangat.
"Nggak bantuin Ayu bikin kue sama tumpengnya?"
"Ayu bilang, dia sama mas Ken yang akan mengatur semuanya di hari anniversary kita"
"Dua puluh dua tahun" jawabku lalu tersenyum.
"Bicara soal anniversary, mas jadi ingat lagi bagaimana kita bisa menikah, dan serta merta ingat dengan dosa mas sama kamu"
"Mas tahu" pungkasku kemudian. "Enggak ada yang perlu kita ingat atau khawatirkan lagi tentang masa lalu kita, karena itu sudah lewat. Apalagi yang berurusan dengan perasaan, itu hanya akan menyiksa diri kita sendiri, contohnya mas, gara-gara semalam kita ngomongin anniversary, mas jadi sakit"
"Mas sudah sering loh ingatin aku, buat jangan nengok ke belakang, iya kan?
"Ngomong-ngomong, yakin Ayu bisa buat sendirian, biasanya kan kamu yang bantuin bikin kuenya" tanya Ayah sembari cium-cium tangan bunda.
__ADS_1
Jujur keromantisan mereka bikin aku baper. Meskipun sudah biasa lihat ayah gombalin bunda, atau cium-cium bunda, tapi aku masih suka melting lihat cara ayah memperlakukan bunda.
"Dia nggak akan pernah bisa kalau kita selalu mendampinginya, jadi biarkan dia mengatur apa yang dia inginkan"
"Kita harus percaya dan membiarkan dia untuk melakukan sendiri" imbuh bunda yang tidak ku tahu seperti apa ekspresi wajahnya. "Biarkan dia membuktikan kalau dia bisa melakukannya tanpa kita. Sekarang, dia mulai memasuki fase baru dalam hidupnya, kita cukup berdiri di belakangnya, mendukung dan meluruskan jika dia berbelok pada titik yang seharusnya tidak di lalui"
Aku terdiam sekaligus kagum dengan ucapan bunda, sikapnya yang tegas, dan tutur kata beliau, begitu lembut dan menenangkan.
"Fase baru?" tanya Ayah sambil memicingkan matanya.
Bunda menjawab dengan bahasa tubuhnya, mengangguk. "Ayu sudah SMP loh, dan bulan lalu, dia dapat menstruasinya yang pertama"
"Oh ya?"
"Hu'um, jadi mulai sekarang mas jangan terlalu memanjakannya, biarkan dia mandiri, dan belajar bahwa setiap perbuatannya, harus di pertanggungjawabkan
"Aku tahu, tapi selain di sekolah, dia juga harus belajar mengerjakan pekerjaan rumah, karena suatu saat, dia akan menjadi seorang istri yang setiap hari harus bangun pagi untuk mengurus suami dan anaknya. Iya nggak?"
Masih dalam tahap revisi...
Karya lain..
Rahasia hati (End)
Terjerat ikatan perjodohan (End)
__ADS_1
Merindukanmu daddy (On going)
Macau love story (End) dan akan ada ekstra part