
Langkah demi langkah di iringi dengan debaran jantung yang semakin menderu. Di ikuti oleh sang mama yang mengekor di belakangnya. Semakin dekat, obrolan dua pria beda generasi itu semakin bisa di tangkap oleh telinga Irma.
Pandangan kedua pria itupun teralihkan pada wanita dengan pakaian yang tertutup rapat menutupi tubuhnya, serta bergo yang ia kenakan untuk menutup kepalanya.
"Irma, duduklah" perintah sang papa.
Irmapun duduk bersebrangan dengan pria yang pernah menolongnya malam itu. Sedangkan bu Bambang, memilih duduk di sebelah suaminya.
"Ir, ini teman kamu, benar?" tanya Bambang penuh timidasi.
"Benar pah" Irma menjawab tanpa menatap sang papa, pandangannya fokus ke lantai Dengan menggigit bibir bawahnya berharap mampu mengurangi rasa gugup, dan debaran jantungnya yang semakin tidak sopan.
"Nak Rio bermaksud untuk melamarmu" ucapan papa membuat Irma mengangkat kepala. Ia menatap papanya yang juga sedang menatapnya.
"Kami baru saja kenal pah, aku rasa ini sangat terburu-buru" sahut Irma reflek. Memang begitulah kenyataannya. Mereka baru saja kenal dan belum mengenal satu sama lain.
"Saya serius Ir, Maukah kamu menjadi istriku?" ucap laki-laki itu tegas "meskipun kita baru saja kenal, tapi hatiku mantap untuk menikahimu"
Wanita itu masih ambigu seraya mencerna ucapan lelaki di hadapannya.
"Irma, jika kamu mau, aku pastikan orang tuaku akan datang ke sini untuk menemui orang tuamu, dan meminta ijin untuk meminangmu"
Sungguh laki-laki yang sangat berani, dia mengungkapkan keinginannya di depan papa dan mamanya secara langsung.
Irma yang merasa terkejut dengan ungkapan hati Rio, hanya bisa diam dan sekelebat ingatan masa lalu muncul di kepalnya. Dimana dia pernah mencintai laki-laki dalam diam, dan tak ada debaran yang ia rasakan. Namun semenjak kenal dengan Rio, jantungnya mendadak hobi melompat-lompat seperti bola bekel.
Tiba-tiba suara Rio pun kembali terdengar di telinganya, membuyarkan ingatan gadis berhijab itu.
"Irma, saya sedang menunggu jawabanmu"
"Hmmn tapi ada yang ingin saya tanyakan" ragu-ragu Irma meluncurkan kalimat itu.
"Tanyakan saja"
"Berapa usia mas Rio saat ini?"
"Tiga puluh dua tahun" Pertanyaan Irma sedikit membuatnya pesimis. Bagaimana tidak, Rio merasa usia mereka terpaut cukup jauh, Irma yang saat ini berusia dua puluh lima tahun, mungkin akan lebih memilih laki-laki yang sebaya dengannya, atau dengan jarak paling tidak tiga hingga empat tahun. Dengan gusar Rio mengusap keringat di tengkuk lehernya.
"Boleh tanya satu lagi?" ucap Irma membuat Rio seketika mempertemukan netranya.
"Boleh"
__ADS_1
"Apa yang membuat mas memilih saya untuk di jadikan istri sebagai pasangan potensial?" Pak bambang serta istrinya, sangat serius mendengar pertanyaan dari putrinya.
"Saya ingin melengkapi hidumu. Maaf mungkin jawaban saya tidak tepat, karena kita memang baru kenal" Dalam pikiran Rio yang ia maksud adalah melengkapi hidup Irma sekaligus menjadi papi untuk Kennan.
"Mas paham betul kalau kita memang baru kenal, dan belum memahami karakter masing-masing, kenapa mas buru-buru melamar saya?"
"Karena saya sangat yakin denganmu, serta ingin terhindar dari Zina" Rio menjawabnya asal.
"Kita bisa berkenalan nanti setelah menikah, dan insya Allah saya menerima apapun kekurangan kamu" tambah Rio tanpa ragu.
"Kalau begitu saya akan memberikan jawabannya besok, saya akan mengirim pesan pada mas Rio" Irma memindai pandangannya pada papanya "Papa bisa simpan nomor ponsel mas Rio di handphone papa?"
"Bisa sayang, sebentar papa ambil ponsel. Ada di mana ponsel papah mah, tanya pak Bambang pada sang istri.
"Di kamar pah, kalau tidak salah di laci nakas" Pak Bambang berdiri lalu melangkahkan kakinya menuju kamar.
"Kenapa menyuruh papa untuk menyimpan nomorku, kenapa tidak kamu saja?" tanya Rio lalu mengusap keringat di dahinya.
Bu bambang tersenyum mendengar pertanyaan dari Rio, dia sangat berharap Irma menerima lamarannya.
"Tidak kenapa-kenapa kok mas" Irma tersenyum tipis lalu menundukan pandangannya kembali"
"Kenapa kamu senang sekali menatap lantai, saya jadi ingin tidur di lantai, supaya sering di tatap sama kamu" cicit Rio.
Begitu juga dengan Irma, ia mengulum bibirnya menahan senyum, lalu sedikit menggelengkan kepala.
"Berapa nomornya nak Rio, biar papa simpan" tanya Pak Bambang lalu mendudukan kembali tubuhnya di atas sofa.
Rio pun menyebutkan nomornya satu persatu. Setelah nomor tercatat di layar ponsel milik pak Bambang, ia segera menyentuh pilihan save untuk menyimpan di kontak ponsel.
"Ayo nak Rio di minum tehnya, tidak perlu malu-malu"
"Iya bu" sahut Rio seraya tersenyum "Saya hanya sedikit segan, dan canggung"
"Jangan merasa seperti itu, kami ini orang biasa, tidak seperti Nak Rio" pak Bambang menimpali.
"Sama dengan saya pak, Saya hanya seorang asisten, seorang pesuruh"
"Ah Nak Rio bisa saja"
Ketika sedang asik mengobrol, sesekali Rio mencuri pandang pada Irma, membuatnya merasa kikuk. Rio pun semakin gemas dengan wanita yang menurutnya sangat pemalu.
__ADS_1
"Kalau begitu saya permisi pak, bu" pamit Rio lalu mencium punggung tangan Pak Bambang dan juga istrinya, kemudian menangkupkan tangannya saat pamit dengan Irma.
Mereka mengantar Rio hingga ke depan pagar, tak lupa pak Bambang mengingatkan untuk berhati-hati dalam berkendara.
"Pelan-pelan saja nak Rio, sudah malam"
"Baik pak" Rio menekan klaksonnya lalu melaju meninggalkan rumah calon istrinya. Setelah mobil Rio pergi hingga mengecil dari pandangan, merekapun kembali masuk ke rumahnya.
"Ir, menurutmu bagaimana? mama rasa dia orang baik" Irma menutup pintu dan menguncinya.
"Papa setuju sama mama, jarang loh ada laki-laki yang berani datang terus meminta putrinya, walaupun papa belum mengenalnya, tapi dia memiliki aura positif. Papa juga ingin kamu segera menikah, mumpung papa masih sehat, biasanya kan papa sakit-sakitan, nanti kalau kamu sudah menikah, papa jadi tenang, kamu sudah ada yang bertanggung jawab"
"Papa akan sehat selalu pah" Perintah Irma. "kalian istirahatlah, sudah malam"
"Kamu juga istirahat nak" ucap mama sambil menyunggingkan senyum.
"Hemm" Irma hanya berdehem, lalu melangkah ke kamarnya.
Setelah sampai di kamar, Irma meraih ponselnya yang sebelumnya ia lempar begitu saja di atas kasur.
^^^"Nin, kamu kenal mas Rio kan temannya mas Danu?" dia melamarku, menurutmu dia orangnya bagaimana?"^^^
Tidak perlu menunggu lama, Irma pun mendapat balasanya
Nina : "Kamu serius Ir?" menurutku dia baik, saran aku si terima saja, tapi itu terserah kamu, kalau ragu, sholat istikharah"
^^^"Apa aku harus memberitahu pada mas Rio tentang Kennan jika aku menerimanya?"^^^
Nina : "Beri tahu saja, tapi pastikan mas Rio tetap menjaga rahasia sampai aku kembali"
Irma tak membalas kembali pesan dari sahabatnya, matanya seolah sudah tidak bisa di ajak kompromi, dan akhirnya tertidur dengan ponsel berada di atas perutnya.
...***********...
Di sana, Nina sedang berusaha menyelesaikan rancangannya agar bisa rampung secepat mungkin.
Ucapan Irma saat di telfon beberapa jam lalu, membuatnya semakin ingin pulang dan menjelaskan pada sang suami. Bahkan ia sudah pasrah jika Danu semakin membencinya jika tahu kebenaran yang ia sembunyikan. Nina pun pasrah jika Danu merebut hak asuh Kennan darinya.
Selain itu, dia sudah sangat merindukan anak dan orang tuanya. Ingin sekali dia memeluk dan menggendong tubuh putranya.
"Benarkah mas Danu belum menceraikanku, dan ia mempertahankanku bukan karena harta seperti yang Irma katakan?"
__ADS_1
BERSAMBUNG