Menjadi Selingkuhan Suamiku

Menjadi Selingkuhan Suamiku
Part 52


__ADS_3

"Ayah" Panggil Kennan dengan suara imut khas anak kecil.


Danu tampak tak bergeming, dengan mata berkaca-kaca, ia menatap dalam wajah sang anak yang sangat mirip dengannya saat dia seusianya. Sesuatu yang tidak pernah ia sangka sebelumnya.


"Ayah" panggilnya lagi.


Danu merangkum wajah Kennan, lalu mengecup keningnya lama. "Maafin ayah Ken, ayah tidak bersama kalian selama ini"


Pengakuan Nina barusan, membuat Danu sangat bahagia, tanpa mengindahkan keberadaan Nina, Danu segera memeluk dan mencium bertubi-tubi anak laki-laki yang berada di hadapannya, ia sangat bersuka cita melepas rindu pada putranya. Beberapa saat kemudian, Danu kembali menyadari keberadaan Nina dengan pandangan tertunduk.


"Om Danu benar ayahnya Kenan?"


Danu tak mampu berkata, ia hanya mengangguk menimpali ucapan Kennan.


"Ayah jangan pelgi lagi"


"Tidak sayang, ayah tidak akan meninggalkan kalian" Kata Danu masih dengan memeluk Kennan. "Nanti pulang kerumah ayah ya, kita tinggal sama-sama di rumah ayah, kita main-main, kita bahagia sama-sama, bujuk bunda juga supaya mau ikut kita pulang"


"Ayah punya lumah?" tanya Kennan dengan polosnya.


"Punya" sahut Danu lalu mengurai pelukannya. Ia mencubit gemas kedua pipi Kennan.


"Kenapa om Danu nggak bilang dari lama kalau om adalah ayah Kennan?"


Belum sempat Danu menjawab, suara Yuni tiba-tiba menyela.


"Mba Nina sudah sore, Kennan belum mandi" Ucap mba Yuni saat ia menghampiri mereka.


"Kennan akan mandi sama ayahnya mba"


"Oh ya sudah"


"Kennan sayang, sudah sore nak, Ken mandi dulu ya"


"Mandi sama om Danu boleh bun?"


"Ayah sayang" sambar Danu cepat.


"Eh iya ayah"


Danu tersenyum.


"Ya udah mandi sama ayah sekaran, nanti setelah mandi bisa main lagi"


"Ken, ayo kita mandi, setelah mandi, kita ke masjid" kata Danu riang.


"Mandi sama ayah kan?"


"Iya dong" Danu lalu menggendong Kennan di punggungnya. Kennan tergelak ketika berada di gendongan Danu. Ayah dan anak itu terlihat sangat bahagia. Kebersamaan Kennan dan Danu selama hampir dua bulan, tidak membuat mereka canggung satu sama lain, justru kekompakanlah yang mereka tunjukan.


Sembari menunggu kedua pria itu selesai membersihkan diri, Nina pergi ke dapur untuk membantu bi Tati dan umi memasak, sebelumnya dia sudah menyiapkan pakaian ganti untuk suami serta anaknya.


"Nina, kapan kamu pulang ke rumah suamimu? tanya umi seraya memotong bawang.


"Kenapa umi?"


"Akan lebih baik jika istri tinggal di rumah suami nak, tiga tahun kamu meninggalkannya tanpa kabar, kamu sudah sangat berdosa, sekarang waktunya kamu menebus kesalahanmu"


"Umi, jika Nina bercerai dengan mas Danu, apa umi setuju?"


Mendengar ucapan putrinya, umi seketika menghentikan gerakan tangannya yang tengah memotong bawang "Astaghfirullah Nina, kenapa kamu ingin bercerai dengannya?" dia sudah setia menunggumu, dia bahkan selalu menghibur umi saat umi sedang merindukanmu"


"Umi, jika umi tahu kelakuan mas Danu, apa umi tetap ingin aku mempertahankan rumah tanggaku" Nina membatin.


"Nak, perceraian itu sangat di benci oleh Allah, apalagi kalian sudah di karuniai anak, bagaimana nasib anakmu jika kalian bercerai, Kennan baru saja merasakan kebahagiaan bertemu dengan ayahnya, apa kamu tega merusak kebahagiaan anakmu sendiri"


"Nin, aku harus pulang sekarang, ada zoom meeting mendadak dengan investor dari China" ucap Danu tiba-tiba sambil mengendong Kennan "Um aku pulang dulu" Danu meraih tangan ibu mertuanya. Nina diam menatap lekat wajah Danu.


"Tidak makan dulu Nu?"

__ADS_1


"Tidak umi, nanti saja di rumah"


Sedikit canggung Nina mencium punggung tangan Danu "Kennan sini sama bunda, ayah mau pulang dulu sayang"


" Mau ikut ayah, bunda"


"Besok saja, ayah ada kerjaan" Nina mengulurkan tangannya hendak meraih Kennan dari gendongan Danu.


"Kennan mau ikut" Kennan melingkarkan tangannya di leher Danu. Lingkaran tangan Kennan di leher Danu semakin mengerat.


"Tidak apa-apa Nin, Kennan ikut denganku"


"Dia akan mengganggu mas nanti"


"Tidak, Kennan tidak akan ganggu ayah" sambar Kennan cepat.


"Tidak apa-apa Nin"


"Sudah biarkan saja dia ikut ayahnya. Kennan jangan ganggu ayah kerja nanti ya" sambung umi


"Iya nenek"


Tak ada pilihan lain, akhirnya Nina menyetujui permintaan Kennan.


"Hati-hati mas"


Danu menganggukan kepala lalu mengucap salam.


****************


Sesaat setelah kepergian Danu, terdengar ada seseorang mengucapkan salam.


Dengan tergopoh Nina dan umi berjalan menuju pintu utama.


"Haidar" pungkas umi.


Mereka tampak bersalaman, lalu saling berpelukan secara bergantian.


"Nina, bagaiman kabarmu?" tanya Haidar saat dia memeluk tubuh adiknya.


"Baik mas, mas sendiri bagaimana, kenapa tidak mengajak mba Dini dan Jenaira?"


"Mas baru pulang tugas langsung ke sini, Irma bilang kamu sudah pulang" Haidar mengedarkan ke setiap sudut ruangan "Dimana Kennan?" tanyanya. Nina terkejut mendengar pertanyaan Haidar.


Umi tersenyum melihat kedua anaknya saling melepas rindu, ia mengusap punggung putranya lembut "Umi ke belakang dulu bikinin teh ya mas" sela umi


"Iya um"


Nina menatap punggung umi yang berjalan ke arah dapur. Setelah hilang dari pandangan, Nina kembali mengarahkan fokusnya ke wajah sang kakak.


"M-mas Haidar tahu tentang Kennan?" tanya Nina dengan terbata. "Ayo kita duduk mas"


"Tahu lah, selama ini kan mas mengintaimu dari jauh, Irma sudah cerita semua tentang rumah tanggamu, tentang Nesa dan juga kehamilanmu" Begitu mendengar ucapan Haidar, Seketika Nina membawa sang kakak keluar menuju gazebo depan rumah.


"Jadi Irma cerita semua ke mas?" tanya Nina saat sudah jauh dari jangkauan uminya. Ia merasa malu di depan sang kakak telah melakukan perselingkuhan dengan suaminya sendiri hingga hamil.


"Iya, sesaat setelah kita melakukan panggilan conference dulu, mas Haidar langsung bertanya pada Irma, Mas khawatir padamu, jadi mas memaksa Irma menceritakan semua yang terjadi padamu dan meminta alamat tempat tinggalmu di Jakarta"


"Itu sebabnya aku tidak berani pulang mas, aku malu"


"Malu kenapa?" Haidar memeluk Nina dari samping.


"Apa mas marah sama mas Danu setelah tahu semuanya?"


"Bukan hanya marah Nin, bahkan waktu itu mas ingin sekali menghajarnya, tapi mas urung melakukannya karena dia ayah dari keponakan mas"


"Mas benci sama mas Danu?"


"Dulu benci, tapi abi terus menasehati mas untuk tidak membencinya"

__ADS_1


Nina menoleh ke samping menatap Haidar penuh intens "Apa abi juga tahu?"


Haidar mengangguk. Nina kembali menundukan kepala.


"Karena itulah mas melarang Danu mencarimu. Mas juga sengaja menyembunyikanmu dari Danu selama ini, padahal mas sangat tahu kondisi kamu seperti apa. Dan seiring waktu, sepertinya dia benar-benar berubah menjadi lebih baik lagi. Mas juga pernah beberapa kali, malah sering pura-pura merayunya lewat telfon, tapi dia selalu mengacuhkan lalu memblokir nomor yang mas pakai untuk menghubunginya"


"Aku tidak tahu jika abi juga mengetahuinya mas, apa mas Haidar memberitahu umi juga?"


"Tidak, mas hanya memberitahu abi, dan abi melarang mas memberitahu umi, abi takut umi semakin kepikiran tentang kamu"


"Bagaimana tanggapan abi mas, beliau tampak biasa saja ke mas Danu"


"Abi juga marah, dan sangat kecewa, bukan hanya pada Danu, tapi padamu juga. Tapi kamu tahu sendiri kan bagaimana abi"


Nina mengangguk "Aku memang anak tidak tahu diri mas, seharusnya aku membicarakan masalah rumah tanggaku pada kalian, bukannya mengambil keputusan menjelma sebagai Nesa. Tapi saat itu aku berfikir, tidak etis jika menceritakan masalah rumah tanggaku pada kalian"


"Sudah-sudah" ucap Haidar mengeratkan pelukannya "Nanti minta maaf sama abi"


"Maafin mas Danu ya mas"


"Adik mas ini memang yang terbaik. Bagaimana rumah tanggamu sekarang?"


"Sebenarnya aku ingin bercerai mas, tapi mas Danu tidak mau menceraikanku"


"Mas dan abi juga sering menyuruh Danu untuk menalakmu, tapi dia menolaknya, dia bersikeras untuk menunggumu dan mempertahankan rumah tangganya" ujar Haidar.


"Apa aku harus memberikan kesempatan pada mas Danu mas?"


"Kenapa bertanya pada mas, ikuti kata hatimu, jika masih kurang yakin, lakukan Istikharah"


"Tapi jika aku memberinya satu kesempatan, apa mas dan abi setuju?"


"Jika adik mas sudah memutuskan mau bagaimana lagi, sepertinya Danu juga sudah berubah, mas juga tahu kalau kamu sangat mencintainya. Mas yakin kamu menyamar jadi Nesa karena kamu tidak mau suamimu berselingkuh dengan wanita lain" Haidar menjeda ucapannya untuk menghirup udara.


"Wanita yang menjadi selingkuhannya itu kamu Nin, istrinya, jangan pernah membayangkan jika Nesa itu orang lain. Kalau kamu selalu membayangkan Nesa itu orang lain, kamu akan menderita sendiri, sedangkan kamu masih mencintainya. Dan jika Nesa itu benar-benar bukan kamu, tidak seperti ini ceritanya, dan yang pasti, rumah tanggamu sudah berahir dari dulu. Atau kalau kamu masih ragu, kamu minta pendapat sama abi"


"Mas Danu berselingkuh karena dulu dia tidak mencintaiku mas, kalau dia mencintaiku, mungkin dia akan berfikir lagi jika akan berselingkuh"


"Nah sekarang bisa di lihat bagaimana dia mempertahankanmu, menunggumu selama tiga tahun. Dan mas pastikan akan langsung menghajarnya jika dia mengulangi perselingkuhan lagi" Kata Haidar seolah menenangkan adiknya.


"Ayo kita masuk sudah mau maghrib, mas juga pengin mandi"


"Ayo"


Seraya berjalan memasuki rumah, Nina bertanya tentang kakak ipar dan keponakannya, dengan tangan melingkar di lengan kiri sang kakak.


"Jadi mba Dini saat ini sedang hamil mas"


"Iya, dia suka marah-marah tanpa sebab, padahal mba Dini kan tidak suka marah, tapi semenjak hamil anak kedua dia berubah menjadi sangat galak, mas dan Jenaira tidak berani berkutik saat mba sedang marah"


"Jennaira pasti sudah gede ya mas"


"Nanti kalau liburan semester pasti Aira minta nginep di sini"


"Kalian ngobrol apa, kenapa harus kedepan, teh yang umi buat kan jadi dingin" Ucap Umi saat kedua anaknya memasuki rumah.


Kedua anaknya tersenyum.


"Meski dingin tetap enak kalau buatan umi" sahut Haidar seraya menyeruput teh buatan umi.


"Mandi dulu mas, sudah mau maghrib"


"Abi tidak di rumah ya um?" tanya Haidar.


"Abimu sedang ada undangan ceramah di Jogja" umi lalu menyerahkan handuk pada putra sulungnya.


"Bagaimana aku menghadapi abi, yang ternyata tahu tentang kegilaan anak dan menantunya, aku seperti tidak punya muka di depan abi. Jika mas Danu tahu, pasti dia juga akan sangat malu sama abi" Batin Nina lalu melipat mukena usai sholat maghrib.


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2