Menjadi Selingkuhan Suamiku

Menjadi Selingkuhan Suamiku
Part 55


__ADS_3

Di sebuah gazebo yang terletak di depan rumah, Nina menikmati malam dengan hembusan angin yang menyejukan, hati dan pikiran berperang melawan rasa yang dia sendiri tidak memahaminya. Logika ingin pergi jika mengingat perlakuan sang suami terhadap Nesa, namun hati meminta untuk tetap bertahan.


Nina menyilangkan kedua tangannya di dada saat udara malam semakin dingin di jam 10.


"Nina" Panggilan dari abi membuyarkan lamunannya


"Abi" Sahut Nina, ia membetulkan posisi duduknya menjadi lebih tegap, tangannya yang menyilang, ia biarkan terurai lalu ia daratkan di pangkuannya.


"Kenapa belum tidur?"


"Nina nunggu abi, apa abi sudah selesai Sema'an?"


"Sudah. Apa ada masalah?"


Seketika Nina memeluk tubuh abi yang tengah duduk di sebelah kanannya


"Maafin Nina bi" kepalanya ia daratkan di pundak lelaki yang menjadi ayahnya


"Kenapa minta maaf, apa kesalahanmu, coba jelaskan?"


"Maafin mas Danu juga"


Lelaki paruh baya itu mengerutkan dahinya "Memang kesalahan apa yang kalian lakukan?"


Hening, seolah mulutnya terkunci tak mampu menjelaskan pada abinya.


"Apa kesalahan kalian pada abi, kenapa minta maaf?"


"Abi sudah tahu dari mas Haidar kan, kenapa abi masih bertanya?"


"Abi ingin dengar darimu Nina"


"Maaf bi, Nina bukan anak yang baik, Nina sudah melakukan perselingkuhan dengan mas Danu, itu sebabnya Nina tidak berani pulang, Nina sudah sering buat abi malu"


"Dari mana Nina dapat ide seperti itu?"


"Ide itu ngalir sendiri di pikiran Nina bi"


Abi menghela nafas dalam lalu mengeluarkannya perlahan "Maafkan abi juga, seharusnya dulu abi percaya pada kalian, dan tidak menikahkan kalian dalam kondisi seperti itu"


"Apa abi marah dan membenci mas Danu?"


"Apa ada hak untuk abi membencinya?"


"Tapi mas Danu sudah menyakiti Nina bi, putri abi satu-satunya"


"Nina percaya dengan hari pembalasan?" tanya abi


Nina mengangguk "Jika kita ikhlas, dengan perlakuan orang lain yang telah menyakiti kita, insya Allah tidak ada kebencian di hati kita. Rasa benci adalah salah satu penyakit hati, Suatu saat, setiap manusia akan menerima balasan atas apapun yang di lakukan di dunia, perbuatan baik, akan mendapatkan balasan baik, sebaliknya, perbuatan buruk, akan mendapatkan keburukan"


"Apa abi meminta pada-Nya untuk membalaskan perbuatan buruknya mas Danu?"


"Untuk apa abi meminta itu, Allah maha tahu segalanya, abi tidak memintanyapun Dia akan membalasnya. Justru abi selalu mendoakan agar suamimu, menjadi manusia yang lebih baik lagi"


"Lalu bagaimana pendapat abi tentang mas Danu sekarang, apa dia benar-benar berubah?"


"Abi rasa begitu, dia benar-benar menjadi manusia yang lebih baik"


"Apa salah jika Nina memilih kembali pada suami Nina bi?"


"Tidak salah, jika suamimu pun menginginkannya"


"Tapi Nina takut jika mas Danu mengulanginya dengan wanita lain bi"

__ADS_1


"Seseorang yang mengulangi kesalahan yang sama, termasuk golongan kaum yang merugi, dan itu tugasmu sebagai istri, bagaimana caramu menyenangkannya, akan menentukan nasib rumah tanggamu. Suami istri itu harus saling mengingatkan, Ingatkan jika perbuatannya sudah mendekati dosa, dan kamu, harus menurut padanya, karena suamimu yang menanggung dosamu"


"Bi, Nina sudah memutuskan untuk memberi mas Danu kesempatan, apa abi setuju?"


"Apapun keputusanmu, abi setuju, abi hanya bisa mendo'akan anak-anak abi supaya hidup di jalan yang benar, agar selamat dunia akherat, dan kita bisa berkumpul kembali di surga-Nya"


"Jadi abi memaafkan Nina dan mas Danu?"


"Sebelum abi menjawabnya, abi ingin memastikan, apa Nina akan mengulangi perselingkuhan dengan laki-laki lain?"


"Naudzubillah abi, tidak akan"


"Nah beruntung Danu berselingkuh dengan istrinya, dan kamu dengan suamimu, meskipun perbuatan itu juga tidak di benarkan, tapi coba bayangkan jika saat itu, wanita itu bukan kamu, dan laki-laki itu bukan suamimu?" Naudzubillah'mindzalik, abi ngeri membayangkannya"


"Sekali lagi Nina dan mas Danu minta maaf bi"


"Abi sudah memaafkan kalian"


"Abi memang idolaku, coba bukan abinya Nina, pasti Nina mau jadi istrinya abi?"


"Memangnya Nina mau punya suami tua seperti abi"


"Mau aja abi, Aisayah saja terpaut jauh dengan Baginda Nabi Muhammad"


Abi tersenyum mendengar ucapan putrinya "Tapi abi tidak mau jadi suamimu" Seketika Nina mengurai pelukannya, lalu menatap dalam abinya "Kenapa bi, putri abi ini kan cantik, selalu menutup auratnya"


"Karena abi tidak mau menduakan umimu"


"iihh abi so sweet, oh ya bi, besok mas Danu akan menjemputku dan juga Kennan, abi mengijinkannya kan bi?"


"Tentu saja, abi akan berdosa jika melarang seorang suami menjemput istrinya. Berumah tanggalah yang baik, jika memang perlu menceritakan masalah rumah tanggamu, setidaknya ceritakan pada umi, minta nasehat pada umimu"


"Baik abi"


"Sudah malam, ayo kita tidur"


Pagi ini Danu akan menjemput sang istri dan anaknya, namun sesuai kesepakatan kedua keluarga, setelah mengikrarkan ijab qobul ulang. Semua sudah di persiapkan oleh Abi, umi, dan juga Nina.


Di sebuah aula pondok, sudah berkumpul para santri, ustadz, dan ustadzah yang akan menyaksikannya. Ada abi yang akan menjadi wali, ada Rio sebagai saksi dari Danu, Haidar sebagai saksi dari pihak Nina, dan juga penghulu. Keheningan menyelimuti ruangan itu, menit kemudian, suara lantang dari abi mengikrarkan ijab, lalu setelahnya di jawab oleh Danu dengan suara tak kalah lantang


"Saya terima Nikah dan kawinnya Karenina Larasati Arifin, dengan mahar tersebut tunai"


"Bagaimana para saksi, Sah?" tanya penghulu


Kedua saksipun menjawab seraya menganggukan kepala.


Di sebrang telfon, ada papah dan mamahnya Danu yang menyaksikan ijab qobul ulang melalui vidio call, karena posisi mereka yang tengah berada di luar kota, dan akan kembali pada siang harinya.


Mereka tidak perlu lagi mendaftarkan pernikahan ke negara, karena secara negara, mereka memang masih sah sebagai suami istri.


Ya, semua yang terjadi di dunia ini memang sudah tertulis di sebuah kitab kehidupan Lauhul mahfuz. Tentang wanita lain dalam rumah tangganya yang ternyata adalah istrinya sendiri, anak laki-lakinya yang tidak pernah ia sangka, dan kesetiaan mereka berdua, itu semua sudah di gariskan oleh Tuhan sebagai pengatur kehidupan. Dan semua kejadian yang menimpa mereka adalah sebuah teguran dari-Nya.


"Bi, aku mau jemput istri dan anaku untuk pulang" ucap Danu pada ayah mertuanya. Mereka tengah duduk di ruang keluarga


"Silakan nak, mereka milikmu, kamu berhak membawanya pulang ke rumahmu. Didiklah anak dan istrimu, tegur mereka jika salah, sayangi dan cintai sepenuh hati. pesan abi, jadilah suami dan ayah yang baik untuk anak dan istrimu, Baik buruknya mereka ada di tanganmu"


"Insyaa Allah bi"


"Jadikan pelajaran kejadian di masa lalu, dan jangan sampai mengulangi kesalahan yang sama"


"Baik bi"


Umi dan Nina tampak keluar dari kamar, membawa serta koper berisi pakaian miliknya dan Kennan, ia berjalan menuju sofa. "Sudah siap Dhe?" sebuah panggilan baru dari Danu untuk Nina, membuat jantungnya berdetak secara tiba-tiba, Nina menganggukan kepalanya lalu segera duduk di sebalah abi.

__ADS_1


"Abi, Nina pamit bi" Nina mencium khidmat punggung tangan abinya.


"Nina patuhi suamimu dengan penuh cinta dan ketaatan. Abi tidak mau lagi mendengar hal-hal seperti kemarin. Selalu ingat pesan abi, layani suamimu dengan kehangatan, manjakan dengan kelincahan dan kecerdasanmu, bantu dengan kesabaran dan doamu, hiburlah dengan nasehat-nasehatmu, muliakan ahlakmu untuk menutup kekurangannya, dan ingat lakukan semua dengan lembut dan ikhlas"


"Iya bi, Insya Allah" jawab Nina


Selain berpamitan pada abi dan umi, Nina juga berpamitan pada mba Yuni, yang akan tetap tinggal di sini untuk menemani abi dan uminya.


Kini mereka berada di dalam mobil, Danu akan membawa istri dan anaknya pulang ke rumah mereka. Dengan kecepatan sedang ia mengendarai mobilnya menyusuri jalanan yang sedikit padat.


"Kita akan tinggal di lumah ayah ya bun?"


"Iya"


"Telus lumah kita yang di Jakata gimana bun, kita kapan pulang ke lumah bunda"


"Besok-besok sayang kita tengok rumah kita di sana"


Danu menoleh pada dua orang kesayangannya yang sedang terlibat pembicaraan "Bunda punya rumah nak?"


"Punya yah, tapi kecil, gak kaya lumah ayah besal" Kennan merentangkan tangannya


"Ayah mau ikut dong kalau ke rumah bunda" Danu mengemudikan mobilnya sembari ikut mengobrol.


"Boleh kan, ayah ikut bun?" tanya Kennan sambil mendongakan kepala menatap bundanya


"Boleh sayang"


"Kita sudah sampai" Danu menekan klakson memberi kode pada satpam untuk membukakan pintu gerbang setinggi 2 meter


"Aku pikir tidak akan pernah kembali ke rumah ini, apa aku bisa menjalaninya tanpa ada bayang-bayang Nesa?"


"Dhe, ayo turun" ucapan Danu membuyarkan lamunannya. Ia mengambil alih Kennan yang berada di pangkuan Nina.


"Selamat datang bu Nina" pak Tomo beserta teh Wati dengan kompak menyambut kedatangan Nina dan juga Kennan.


"Teh Wati ini Nina istriku"


"Selamat pagi bu Nina saya Wati bu, ARTnya pak Danu, saya istri pak Tomo"


"Iya teh Wati, saya Nina"


"Pak Tomo, tolong bawa masuk kopernya ya. Ayo sayang kita masuk" Danu meraih tangan Nina yang sedikit gemetar


Dada Nina berdesir dengan perlakuan Danu yang begitu manis


"Mas lepaskan, tidak enak sama teh Wati dan pak Tomo" Nina berusaha melepas genggamannya"


"Tidak enak kenapa, kita kan suami istri. Sayang kenapa tanganmu berkeringat, kamu pasti nervous, iya kan?"


"Sudah tahu kenapa masih pegang juga" Nina membatin


Danu terus melangkahkan kakinya menuju kamar, yang dulu pernah di tempati oleh Nina, yang sekarang juga menjadi kamarnya.


"Apa mas Nanti tidur di sini"


"Tentu saja, aku kan sudah bilang, kita tidak akan tidur terpisah"


"Pak Bu, ini kopernya" Pak tomo berdiri di ambang pintu kamar, dan Danu gegas meraih koper tersebut "Dhe kamu masukin bajumu ke lemari, mas akan mengajak Kennan melihat kamarnya"


"Sudah jangan memikirkan Nesa, sudah sejak lama mas melupakan wanita itu" Bisik Danu "Aku mencintaimu" bisiknya lagi, membuat jantungnya berpacu lebih cepat, getaran yang tidak nyaman, seolah ia tak mampu menopang berat badannya.


BERSAMBUNG....

__ADS_1


Semaan : Tradisi membaca, menyimak dan mendengarkan bacaan Al-Qur'an.


Biasa di lakukan di pondok pesantren atau komunitas islam atau majlis ta'lim


__ADS_2