
Masih pov Nina
Saat ini, kami sedang berada di meja makan bersiap untuk sarapan. "Ken" panggil mas Danu tiba-tiba, "Kalau Ken masuk rumah orang, ataupun kamar orang, harus ketuk pintu dulu, ngerti ya?"
Anaku mengangguk...
Anaku memang jail dan selalu bertanya hal apa saja yang tidak dia mengerti, terkadang saking geramnya, aku sampai melemparkan tatapan tajam padanya. Dulu saat terus menanyakan ayahnya, bahkan aku membentaknya.
Kulirik mas Danu menghirup napas panjang.
"Ayah sama bunda sibuk ya tadi jadi enggak bisa di ganggu?"
"Iya sayang" jawab mas Danu sambil menganggukkan kepala.
"Bunda sibuk makan ayah ya?
Aku berdehem lirih, membuat mas Danu mengalihkan pandangan ke arahku sambil tersenyum.
"Ken Ingat tadi ayah bilang apa?" mas Danu bertanya dengan tangan ia daratkan di kepala Kennan
"Ingat yah"
"Apa coba?"
"Ayah sama bunda lagi sibuk, kalau masuk kamar harus ketuk pintu dulu"
"Pintar" Sahut mas Danu sambil menoel pipi Kennan "Apa sekarang kita sudah bisa sarapan?"
"Iya ayah"
__ADS_1
"Ayo bun, kita sarapan" ucap mas Danu. Dengan cepat aku menyidukan nasi untuknya dan Kennan.
Hari ini aku akan ikut mas Danu ke kantornya, dia menyuruhku untuk menyelesaikan masalahku dengan sekertarisnya, hingga tidak ada lagi pikiran buruk yang mengusiku.
Aku dan mas Danu berpamitan pada Kennan, ia akan tinggal di rumah bersama teh Wati. Hingga sudah berada di dalam mobil, aku masih belum tahu apa yang akan aku katakan pada Rara nanti. Ku lirik mas Danu yang berada di kursi kemudi, bersiap menginjak pedal gas untuk ia lajukan.
"Mas" panggilku hati-hati.
"Hmm," Respon mas Danu seraya memutar roda kemudi ke arah kanan.
"Apa yang harus ku katakan nanti sama sekertaris mas?"
"Katakan apa saja yang membuatmu tersinggung" jawabnya sambil meliriku sekilas.
Perjalanan menuju kantor kami lalui dengan kebisuan hingga tak terasa tahu-tahu kami sudah sampai di kantor mas Danu dan kami tengah berjalan menuju pintu lift.
***
"Ra, ke ruangan saya sebentar" ucapnya melalui gagang telpon. Tidak menunggu lama, sekretaris itu memasuki ruangan mas Danu yang sebelumnya telah mengetuk pintu.
"Silahkan duduk Ra"
Aku melihat ada gestur kegelisahan di tubuh Rara, bisa di pastikan, dia membatin kalau aku sudah mengadu ucapannya pada mas Danu.
"Silakan duduk Ra" wanita itu duduk setelah di perintahkan oleh suamiku untuk yang ke dua kalinya, dia duduk di kursi kosong di sebelahku.
"Ra" panggil mas Danu "Istriku tersinggung dengan ucapanmu kemarin"
Mas Danu begitu frontal mengucapkan kalimat itu. Ku lirik Rara berjengit, mungkin dia terkejut dengan ucapan mas Danu.
__ADS_1
"Ra saya menaikan gaji kamu, agar kamu membeli pakaian yang lebih tertutup, tidak ada maksud lain dari ucapan saya waktu itu" Mas Danu menjeda kalimatnya sejenak. "Bukan berati saya tertarik sama kamu, karena sudah memberi perhatian lebih. Kamu adalah sekertaris saya, yang setiap waktu menemani pekerjaan saya. Saya hanya tidak mau memandangmu sebagai wanita nakal, kamu tahu kan bagaimana latar belakang keluarga istri saya?" Mas Danu tampak berhenti, mungkin sedang menunggu jawaban dari sekertarisnya.
"Kalau kamu masih ingin kerja di sini, tolong berpakaianlah yang tertutup, agar nanti jika mertua saya datang kamari, beliau tidak berfikir buruk tentangmu, meskipun saya tahu beliau tidak pernah berprasangka buruk terhadap orang lain. Mengerti?"
Rara menganggukan kepalanya, kupikir dia sedikit mengerti dengan perkataan mas Danu.
"Dan kamu" kali ini mas Danu menunjuku membuatku persekian detik terlonjak kaget. "Jika kamu datang kesini, lalu seseorang membuatmu tersinggung, kamu bisa menegurnya pelan-pelan. Paham!!"
Akupun mengangguk sama halnya Rara. Benar-benar priaku lebih tegas dan bijaksana dalam menyelesaikan masalah. Tiga tahun aku meninggalkannya, bahkan wajah yang selalu ku lihat menakutkan waktu dulu, kini menghilang entah kemana.
"Ra, dia istri saya, dia tidak minta kamu untuk menghormatinya, tapi bersikaplah sopan, seperti kamu bersikap patuh terhadapku"
"Maafkan saya pak" jawabnya "Maafkan saya bu, saya hanya syok, dan belum percaya jika bu Nina kembali dengan membawa anak, apalagi kepergian bu Nina sangat lama. Sekali lagi saya minta maaf"
"Saya tidak akan memecatmu Ra" sambar mas Danu, "tapi saya minta, jangan salah paham dengan apa yang saya katakan padamu, ataupun sikap baikku padamu, karena itu hanya sebatas antara atasan dan bawahan, tidak lebih. Tidak ada saya tertarik padamu"
Mungkin saat ini Rara merasa sangat malu, hingga ku dengar dia mengucapkan permintaan maaf untuk yang kesekian kalinya.
Sesaat setelah Rara keluar dari ruangan, mas Danu beranjak dari kursinya, lalu berpindah duduk di sebelahku, kursi yang tadi di duduki oleh Rara.
"Mulai sekarang, jangan khawatirkan tentang apapun. Kamu cukup fokus mengurus anak dan suamimu, juga rumah tanggamu, Ingat ya, kamu dan juga Kennan, adalah tanggung jawab mas, jadi kalau ada apa-apa, jangan di pikir sendiri, apalagi sampai bersikap dingin pada suamimu, dan sedikit membentak Kennan hanya karena dia terlalu lama berenang. Mas tahu kemarin kamu sedang melampiaskan kejengkelanmu, setelah bilang sekretaris kesayangan"
"Maaf" jawabku menunduk.
"Sudah percaya sama suamimu?"
Lagi-lagi aku mengangguk "Mau mas yang antar pulang, atau sopir kantor?"
"Sopir saja"
__ADS_1
"Terimaksih sudah mengerti kesibukan mas di sini"
BERSAMBUNG