Menjadi Selingkuhan Suamiku

Menjadi Selingkuhan Suamiku
Part 46


__ADS_3

Saat ini Rio dan Irma sama-sama menyenderkan punggungnya di kepala ranjang.


"Sayang, kamu bilang Kennan anak Danu dan Nina?"


"Iya mas"


Rio masih belum percaya dengan ucapan istrinya "Berarti saat Nina jadi Nesa dia hamil?"


"Loh mas tahu tentang Nesa?" tanya Irma memicingkan mata.


Rio menganggukan kepala "Tahu lah, Nesa itu kan Nina" sahut Rio santai. "Sayang kamu berani sekali menyembunyikan rahasia ini"


"Mau bagaimana lagi mas, aku ngikutin permintaan Nina, tapi dia sudah janji sepulang dari Australi, dia akan menceritakan semuanya"


"Entah apa yang terjadi padamu, jika Danu tahu kamu merahasiakan Kennan darinya"


"Memangnya kenapa mas?" Perasaan takut mulai menghantui Irma.


"Kamu bisa di cekik, lalu di gantung sama tu orang"


Seketika Irma memegang lehernya, padahal ucapan Rio hanya candaan semata.


"Mas mau kemana?" tanya Irma memegang lengan Rio yang hendak beranjak dari kasur.


"Mas mau ke kamar mandi sebentar" jawabnya lalu melangkahkan kakinya, Rio sedikit melirik ke arah sang istri yang tampak sedang mencemaskan sesuatu.


"Hhhhh Mampus loh aku kerjain, kamu juga ngeprank aku dengan keperawananmu, hikss mana mungkin Danu berani melakukan itu sayangku, kalau dia sampai mencekikmu, akan ku gantung duluan si Danu" Batin Rio dengan sudut bibir sedikit terangkat, lalu menutup pintu kamar mandi.


Sedangkan Irma, saat ini dia sedang gelisah memikirkan ucapan Rio. Berkali-kali ia melirik pintu kamar mandi. Suaminya yang sedang berada di dalam sana tak kunjung keluar, membuatnya bosan dan tidak mengantuk sama sekali.


"Sayang, kenapa belum tidur?" tanya Rio saat baru saja keluar dari kamar mandi.


"Mas apa Danu begitu menyeramkan, sehingga Nina pun takut padanya"


"Kata siapa bos bodoh itu menyeramkan? Ayo kita tidur saja!" Rio merebahkan tubuh, tangan kirinya ia jadikan bantal untuk sang Istri.


"Mas berani sekali bilang atasannya bodoh, tidak takut di pecat memangnya?"


"Mana berani dia mecat mas" sanggahnya lalu mengecup pucuk kepala Irma.


"Tadi mas bilang, mas tahu tentang Nesa, apa mas Danu juga tahu? terus, sejak kapan kalian mengetahuinya?"


"Tahu sejak lama" jawab Rio seraya menguap tanda sudah mulai mengantuk.


"Terus bagaimana saat dia tahu bahwa Nesa itu Nina, Nina bilang Danu sangat mencintai Nesa"


"Nyesel lah, sebelum Danu tahu tentang penyamaran Nina, dia sudah lebih dulu menyesal. Kata Danu, saat mereka sedang berhubungan badan, bayangan Nina seolah sedang menyaksikan adegan mereka, saat Danu sedang bersama Nesa, dia juga pernah merasa sedang bersama Nina, dan ternyata Nesa dan Nina memang orang yang sama, yaitu istrinya sendiri.


"Terus, siapa yang di cintai Danu setelah dia tahu semuanya, Nesa atau Nina?" tanya Irma penasaran.


"Jelas Nina lah sayang, semenjak Nina pergi, hidupnya sangat kacau, dia tidak bisa melakukan apapun karena mulai dari bangun tidur, sampai bos bodoh itu tidur lagi, Nina yang mengurusnya"


"Nina juga cerita gitu sama aku mas"

__ADS_1


"Tapi mas salut sama dia, bisa bertahan dalam waktu dua tahun. Kamu tahu sayang kenapa Nina melakukan itu?"


"Nina cuma mau ngetes suaminya saja waktu itu, apalagi jika malam minggu Danu jarang pulang, Nina pikir dia berhubungan dengan wanita lain di luar sana, tapi saat penyamarannya berhasil, dia justru kebawa suasana. Dan dengan menjadi Nesalah dia benar-benar mendapatkan kasih sayang dan perhatian dari suaminya, dia merasa menjadi istrinya. Sebenarnya selain senang, dia juga selalu di hantui rasa takut"


"Kira-kira, bagaimana nanti reaksi Danu saat tahu tentang Kennan"


Bukannya menjawab, Irma justru membicarakan hal lain


"Mas apa benar dia akan mencekikku?" Irma bertanya seraya mengeratkan pelukannya.


Tik...


Rio menjentikan jarinya di kening istrinya. dengan cepat Irma mengusap bekas jentikan itu.


"Tidaklah sayang, dia tidak akan berani mencekik istri dari Rio Anggara, jika dia melakukannya, sudah pasti akan ku gantung terlebih dulu sebelum dia mencekikmu"


Sebuah kecupan mendarat di kening yang baru saja di usap oleh sang istri.


"Tidurlah, besok pagi sebelum subuh akan ada siaran ulang"


"Siaran ulang apa?" Suara Irma mulai serak karena efek mengantuk


"Mencetak bayi" bisik Rio sambil mengeratkan pelukannya.


******


Keesokan paginya, Rio dan Irma harus cek out dari hotel tempat mereka menghabiskan malam pengantin. Mereka akan pulang ke rumah orang tua Irma.


"Mami.." Teriak Kennan setelah mengetahui suara klakson mobil milik Rio. Ia berlari lalu menghambur ke pelukan maminya.


Irma segera mengulurkan tangan, dan menggendongnya.


"Sini biar papi yang gendong" Sambar Rio. "Maminya lagi sakit sayang"


Anak itu memandang lekat wajah Irma, lalu menyentuh dahinya dengan serius. Kennan hanya melakukan apa yang sering di lakukan oleh Nina dan Irma saat dia sedang sakit, maka bunda atau maminya seketika menyentuh keningnya "Mami sakit?"


"Sedikit"


Kennan pun mengulurkan tangannya untuk beralih ke gendongan Rio.


"Kalian sudah pulang?" tanya mama.


"Sudah mah"


"Kalian istirahat dulu, mama dan mba Yuni sedang menyiapkan makan siang. Kennan sama nenek dulu yuk?"


Anak itu menggelengkan kepala.


"Tidak apa-apa mah, Kennan akan kami bawa ke kamar" sahut Rio. Usai mengatakan itu, Mereka bersama-sama melangkah menuju kamar sambil sesekali mencandai Kennan.


"Sayang, kamu packing sekarang, nanti malam kita terbang ke paris" pinta Rio setelah mereka tiba di kamar.


Irma menatap Rio, memastikan apa yang baru saja ia dengar sambil menutup pintu.

__ADS_1


"Kita mau ke paris?" tanya Irma bingung.


"Heemm" Rio hanya berdehem, Tangannya tampak sibuk menyalakan playstation dan pandangan matanya tidak berpindah dari layar televisi. Dia akan bermain playstation dengan Kennan. Sudah lama Irma menyediakan mainan itu di kamarnya untuk di mainkan oleh Kennan.


Mereka berdua langsung mengadu kecepatan sepeda motor masing-masing. Sementara Irma masih terpaku memikirkan kepergiannya ke Paris.


“Wahhh, gawat nih motornya menabrak pagar pembatas,” kata Rio Matanya tidak lepas dari layar monitor. Sementara itu tangannya gesit sekali memainkan stick.


“Yeeyyy, motol Ken sebental lagi akan melewati galis finish,” Kennan tak kalah seru dengan suara lantangnya. Irma menggelengkan kepala melihat kelakuan anak angkat dan suaminya itu, senyum tipis seketika terbit dengan keakraban mereka.


"Kita tunggu Nina pulang gimana mas, sebentar lagi kan dia kembali" kata Irma tiba-tiba berusah mengeluarkan apa yang ada di kepalanya.


"Tidak perlu sayang, nanti mas akan bicara pada Danu"


"Bicara apa mas?"


"Yeeyy Kennan menang" teriaknya berseru riang.


"Aahh gara-gara mami nih ngajak ngobrol terus jadinya papi kalah deh"


"Mas mau beritahu Danu, jika Kennan anaknya?"


"Tidak sayang, mas akan titipin Kennan di rumah abi, nanti biar Danu yang menemaninya di sana, aku akan menyuruh Danu untuk tidur di rumah abi sampai Nina pulang. Soalnya kan duluan Nina pulangnya dari pada kita. Sekalian beri waktu supaya Danu dan Kennan lebih akrab lagi"


"Tapi kenapa di titipin ke abi dan umi, kenapa tidak tinggal dengan kakek neneknya? setahu mereka kan Kennan cucu mama dan papa, apa kata abi dan umi nanti"


"Ayo pi, main lagi" ajak Kennan, Namun ajakannya tidak mendapat respon dari Rio, karena sedang fokus bicara dengan Irma.


"Soal itu biar mas dan Danu nanti yang urus, kita akan cari alasan kenapa Kennan kita titipin di sana"


Merasa di abaikan, Kennan pun berteriak tepat di telinga Rio "Papiiiii, ayo main lagi"


"Iya, iya ayo" jawabnya dengan tangan mengusap telinganya. "tapi nanti kalau Kennan kalah, Kennan harus mau bobo sama om Danu di rumah kakek abi dan nenek umi, ya"


"Kennan gak mau, maunya bobo cama bunda Nina cama mami Ilma"


"Ya nanti kan bunda Nina juga akan pulang ke rumah kakek abi" ucap Rio.


Anak itu tampak sedang berfikir, menimbang-nimbang tantangan papinya.


Kakek Abi dan nenek Umi adalah panggilan dari Kennan untuk kakek neneknya, orang tua Nina.


"Mau ya, nanti papi beliin mobil remot yang banyak"


Kalau Kennan mau, nanti om Danu juga akan ajak Kennan jalan-jalan, main playstation sama om Danu, main mobil-mobilan juga, oh ya, om Danu juga hobi main layang-layang loh" ujarnya berusaha membujuk.


"Layang-layang?" sahut Kennan, dia sangat antusias dan penasaran dengan permainan layang-layang "Iya Ken mau pi"


Rio tersenyum puas dengan jawaban bocah kecil yang tak lain adalah anak kandung atasannya. "Ok, sekarang ayo kita main lagi, mami gak boleh ngomong dulu, jangan ganggu papi, biar papi bisa menang"


Rio mengalihkan pandangannya pada Istrinya yang sedang membopong pakaian kotor hendak ia bawa ke belakang untuk di cuci, Ia mengedipkan mata kanannya membuat Irma mengerucutkan bibir, lalu segera melangkah keluar dari kamar, membiarkan mereka bermain playstation.


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2