
Nina di antar oleh Yuni menuju ruang NICU menggunakan kursi roda untuk melihat bayinya.
Betapa mirisnya pemandangan itu di mata Nina, saat melihat sang anak dari balik kaca ruangan yang di jaga ketat oleh paramedis. Bayi mungil yang sedang berjuang mempertahankan hidupnya, namun meskipun berbagai alat ditempel di tubuh kecilnya, seperti Ventilator, feeding tubes, selang infus, dan alat-alat lainnya, bayi laki-laki yang berada di dalam inkubator tampak aktif seolah menunjukkan semangat hidup yang begitu besar.
Menyaksikan anaknya yang begitu semangat, membuat Nina turut bersemangat. Seketika semburat bahagia terlukis di wajahnya.
"Bunda akan semangat juga demi kamu nak. Jika ayahmu tahu tentang ini, pasti kebencian ayah terhadap bunda akan bertambah, Maafin bunda sayang, harus memisahkanmu dari ayahmu"
"Bayinya mau di beri nama siapa mba Nina?" tanya Yuni memecahkan keheningan.
Nina mengusap pipinya yang basah karena air mata.
"Siapa ya mba, aku belum menyiapkan nama untuknya, ini sangat mendadak bagiku"
"Iya mba, saya juga tidak menyangka, mba Nina akan melahirkan secepat ini. Tapi tidak apa-apa, pelan-pelan saja, lagian baru mau dua hari, mba Nina bisa cari nama yang tepat untuk bayinya"
Setelah puas melihat anaknya, Nina menyuruh Yuni mendorong kursi roda kembali ke kamarnya. Saat Yuni tengah memutar handle pintu, sosok wanita yang masih cantik di usianya yang sudah menginjak kepala lima, memanggil nama majikannya, membuat Yuni dan Nina menengok ke sumber suara.
"Bu Agata?" sahut Nina.
Wanita itu berjalan sedikit berlari menghampiri Nina dan Yuni yang termangu.
"Apa kabar Nina?"
"Baik bu"
"Mari bu kita masuk dulu" Sela Yuni seraya mendorong kursi roda.
Bu Agata tampak mengangguk, lalu mengekor di belakang Yuni memasuki ruangan VVIP tempat Nina di rawat. Bu Agatalah yang sudah memilih kamar ini untuk perawatan Nina. Dia merasa bahwa dialah yang menyebabkan Nina seperti ini.
Yuni membantu Nina untuk duduk di ranjang rumah sakit, lalu mengatur senderan punggung agar Nina bisa duduk lebih nyaman. Setelah itu bergegas meraih sebuah kursi untuk tamunya.
"Silakan duduk bu" ucap Yuni sopan.
__ADS_1
"Terimakasih mba Yuni.." Agata mendudukan tubuhnya "Nin maafkan saya ya, gara-gara saya kamu jadi seperti ini" Tukasnya dengan penuh penyesalan.
"Tidak apa-apa bu, saya sudah melupakan kejadian itu, ini sudah menjadi kehendak-Nya" jawab Nina mencoba menangkis rasa bersalah bisnya. "Tapi bu, sebenarnya apa yang terjadi, sampai mba Sinta di tangkap polisi?"
"Dia sudah sering sekali melakukan penggelapan dana butik Nin, dia juga mengubah harga kain. Kain-kain yang dia beli, harganya sangat mahal, padahal harga sebenarnya tidak segitu. Setelah saya telusuri ternyata benar, selama ini dia menambahkan harga-harganya di nota pembelian. Satu kali, dua kali tidak masalah Nin, ini sudah berualang kali. Selain itu dia sering mencuri omset hasil penjualan butik. Kemarin saya melihat melalui CCTV yang sudah saya pasang hampir satu minggu. Ketika Sinta sedang mengambil uang di lemari besi, di situlah saya segera menelpon polisi, dan menyuruhmu menguncinya dari luar. Saya tidak menyangka kalau Sinta akan mendorongmu. Sekali lagi maafkan saya Nin" pungkasnya tanpa jeda.
"Tidak perlu minta maaf bu. Kemarin saya juga sempat lihat dia membuka lemari itu, tapi saya pikir itu perintah ibu"
Bu Agata tampak menyunggingkan senyum "Itu bukan perintah saya Nin"
"Kalau begitu saya minta maaf, nyali saya menciut saat ingin menegurnya" Sesal Nina lirih.
"Kenapa kamu minta maaf, percuma juga kamu menegur, saya yang tantenya pun sudah berulang kali menegurnya, dan itu sia-sia"
Nina tidak memberitahukan pada atasannya, kalau Sinta juga sudah mengajaknya bekerja sama untuk menyingkirkan, dan membuatnya bangkrut. Walau bagaimanapun itu bukan ranahnya, Nina merasa hanya perlu menolak kerjasamanya, itu sudah cukup.
"Nina" Ragu-ragu bu Agata memanggilnya.
"Iya bu" sahutnya seraya menatap wajah bu Agata "Ada apa bu?"
"Bisa bu" jawabnya lalu melangkahkan kaki menuju pintu.
"Ada masalah apa bu? sepertinya sangat serius" Wajah Nina berubah sedikit khawatir.
"Hmm, Apa suamimu tahu kondisimu saat ini Nina? maaf saya bertanya hal pribadi"
Nina memaksakan diri untuk tersenyum. "Tidak tahu bu, saya sengaja tidak memberitahunya, dan mungkin suami saya juga sudah menceraikan saya"
Bu Agata tertegun mendengar jawaban Nina "Maaf sekali lagi Nin"
"Tidak apa-apa bu"
"Oo ya Nin, untuk biaya rumah sakit, saya yang menanggung, jadi kamu tidak perlu khawatir tentang biayanya, tinggalah di sini sampai pulih, urusan pekerjaan, nanti saya yang handel sementara ini"
__ADS_1
"Terimakasih bu, tapi untuk biaya rumah sakit, tidak perlu ibu yang tanggung, saya sudah mempersiapkan jauh-jauh hari"
"Tidak Nina, itu fasilitas buatmu karena sudah bekerja sangat baik di butik saya, butik saya semakin terkenal dan laris berkat rancangan-rancangan kamu. Saya yang harus berterimakasih padamu"
"Sama-sama bu, saya senang bisa bekerja di butik Shevano"
"Kamu cepat sembuh ya Nina" ucapnya lalu menatap jam di tangannya "Kalau begitu saya pamit dulu, banyak pekerjaan di butik"
"Iya bu, sekali lagi terimakasih"
Wanita itu menganggukan kepalanya, mengusap lengan Nina lembut. "Saya permisi Nina" lalu melenggang ke luar ruangan.
********
Pekat malam hari semakin terasa, hawa dingin seolah menusuk tulang, di temani sang ART yang sudah menjelajahi alam mimpi di sofa sebalah ranjang, Nina masih belum bisa memejamkan mata.
Serabut bayangan Danu mampu menerobos hingga ke otak kirinya, sejenak ia merasa rindu pada sosok lelaki dingin yang menjadi suaminya. Suami di atas kertas lebih tepatnya. Danu selalu mengatakan bahwa Nina hanyalah bencana baginya. Meski begitu, tidak ada rasa benci untuknya, justru cintanya tumbuh semakin besar.
Menggunakan kedua tangan, Nina mengusap kasar wajah mulusnya, sebisa mungkin dia memejamkan mata. Lagi-lagi ucapan Danu terngiang di telinganya.
"Untuk apa kamu melepas jilbab di depanku?", kamu mau menggodaku?" percuma saja, aku tidak akan tertarik padamu"
"Kamu berpakaian kurang bahan seperti itu, mau jadi wanita malam? pergilah! dengan senang hati aku mengijinkanmu"
"Tidak usah buang-buang uang untuk membeli make up, mau berdandan secantik apapun juga sia-sia, tetap saja aku enggan menatapmu"
"Mas Danu, ucapan-ucapanmu dulu, sungguh menyakitkan, tapi hatiku menolak untuk membencimu. Walau begitu aku tetap mendoakanmu, semoga kamu mendapatkan wanita yang benar-benar ingin kamu miliki"
Bismika Allahumma ahyaa wa bismika amuut.
“Dengan nama-Mu ya Allah aku hidup, dan dengan nama-Mu aku mati”
Wanita itu, berusaha memejamkan matanya dengan lembut selepas melantunkan sebait Doa. Membayangkan tentang sebuah mimpi indah yang akan menemani lelap tidurnya. Wajah Danu lah yang terlukis di angannya, hingga kesadaran mulai menghilang, dan alam mimpi mulai bersambut.
__ADS_1
BERSAMBUNG