Menjadi Selingkuhan Suamiku

Menjadi Selingkuhan Suamiku
Part 44


__ADS_3

Setiap orang memiliki cara tersendiri dalam menggambarkan rasa cinta. Dalam menyatakan perasaan mereka terhadap pasangannya, dan dalam bagaimana mereka melakukan setiap jurus untuk membuat sang pujaan hati tahluk serta menerima pinangannya.


"Aku memang terlalu cepat, tapi untuk apa jika terlalu lama, lebih cepat kan lebih baik" Rio membaringkan tubuhnya di atas kasur setelah sebelumnya membersihkan diri. Sejenak ia mengingat ucapan Danu.


"Lamar saja dia langsung ke rumahnya, bilang ke orang tuanya, soal jawaban urusan nanti, yang penting usaha dulu"


"Kalau dia tidak mencintaiku?" Tanya Rio saat itu.


"Ya kamu siap-siap saja di tolak, pepet terus Ri, kalau sana yes, aku kasih tiket bulan madu ke paris"


Keesokan harinya, saat jam makan siang, Rio sudah mendapat jawaban dari Irma. Sesuai janjinya, Rio akan membawa rombongan keluarganya untuk meresmikan lamaran mereka.


Saat waktu menunjukan jam pulang kantor, Rio segera keluar dari gedung tempatnya bekerja. Ia berniat pulang ke rumah orang tuanya, meminta mereka untuk melamar gadis yang menjadi pilihannya.


"Kamu mau menikah sama janda Ri?" tanya sang mama memastikan.


Orang tua Rio sempat terkejut mendengar anak lelakinya akan menikahi seorang janda beranak satu.


Rio menganggukan kepala "Kenapa mah, apa mama tidak setuju?"


"Bukan begitu Rio, mama hanya memastikan saja, kalau kamu sudah mantap, mama bisa apa?"


"Insya Allah mantap mah, dia masih muda dan cantik, dia juga gadis yang pandai menjaga auratnya mah, papa juga setuju kan?" kali ini pandangan Rio ia arahkan pada sang papa.


"Papa terserah kamu, yang terpenting baik buat kalian kedepannya, lalu kapan kami pergi untuk melamarnya?"


"Kalau lusa bagaimana pah, mah"


"Apa tidak terlalu terburu-buru Ri?"


"Lebih cepat lebih baik mah, lagian untuk apa berlarut-larut, toh usiaku sudah cukup matang untuk menikah, sudah mapan dari segi financial. Dia juga gadis yang baik" pungkas Rio berusaha membuat orang tuanya tidak meragukan keputusannya.


"Ya sudah besok mama akan bantu kamu mempersiapkan segalanya"


"Makasih ya mah" ucapnya berbinar.


...*********...


Hari yang di tunggu pun tiba, Rio benar-benar menepati janjinya. Dia membawa papa dan mamanya, kakak perempuan beserta suami dan dua anaknya, untuk melamar Irma menjadi istrinya.

__ADS_1


Kedatangan merekapun di sambut oleh keluarga calon istrinya. hanya saja tidak ada kakak atau adik, karena Irma adalah anak tunggal.


Penampilan Irma begitu cantik, Ia mampu membuat Rio dan keluarganya terpesona.


Setelah mamah dari Rio menyematkan cincin di jari manis calon menantunya, begitu juga sebaliknya, mama Irma menyematkan cincin di jari manis Rio sebagai tanda bahwa Irma telah resmi di lamar oleh seorang pria, kini giliran mereka membicarakan tentang rencana pernikahannya.


Hampir satu jam dua keluarga itu berunding mengenai tanggal pernikahan, Akhirnya mereka memutuskan jika Rio dan Irma akan menikah tiga minggu yang akan datang.


Kedua belah pihak pun setuju, sementara Rio dan Irma berseru bahagia dalam hati.


Sepulang dari rumah Irma, malam pun semakin larut, hawa dingin mulai terasa, Rio tidak bisa memejamkan mata bukan karena hawa dingin yang membuatnya terjaga, namun rasa bahagia yang sebentar lagi akan melepas masa lajangnya.


Mentari bersinar cerah, kicau burung mulai terdengar bersahutan. Rio begitu semangat untuk menjalani aktifitas hari ini.


"Selamat bro, ahirnya sebentar lagi sah jadi bapaknya Kennan" Ucap Danu sesaat setelah mereka selesai meeting dengan para karyawan. Saat ini mereka masih betah di dalam ruangan pertemuan itu.


"Aku juga tidak menyangka berjodoh dengan Irma"


"Ri, kamu kan sudah sah jadi tunangannya sekarang, dan hanya Irma yang tahu nomor ponsel Nina, bisakah kamu meminta padanya untukku?"


"Kenapa tidak kamu minta sendiri?"


"Tidak berani" jawab Danu seraya menyenderkan punggung di kursinya.


"Ya kamu usahain lah, kamu kan calon suaminya, pinjam ponselnya sebentar kan bisa, terus kamu catat diam-diam"


"Eh tidak benar itu, curang namanya" Cicit Rio menolak ide Danu. "Dah lah mau balik ke ruangan, kerjaan numpuk" Rio berdiri dari tempat duduk lalu keluar dari ruangan meeting, tidak lama kemudian Danu pun beranjak dari sana mengikuti langkah Rio.


🌺


🌺


🌺


Bibir Nina mengulas senyum kecil, dalam waktu kurang lebih satu bulan, ia sudah berhasil membuat gaun pengantin satu pasang, dan enam dresscode untuk bridemaids, perempuan dan laki-laki, tentu saja tidak sendirian dalam mengerjakannya, Nina di bantu oleh tiga asisten yang sudah di tunjuk oleh bu Agata. Sangat mudah bagi Nina untuk membuat rancangan sebuah gaun pengantin.


Karya-karya costum made gaun pesta mewah rancangannya, terbukti sangat di cintai oleh banyak orang.


Hasil karya gaunnya yang meliputi berbagai macam aliran gaya pernikahan pun telah sukses merancah ke dunia International.

__ADS_1


Cantik dan cetar, begitulah yang di gambarkan dari tampilan sang calon pengantin ketika melakukan fitting dress. Apalagi jika di padukan dengan riasan di wajahnya, sudah pasti akan menambah penampilannya menjadi lebih memukau.


"Hebat kamu Nin, anak saya sangat suka dengan rancanganmu" puji sang atasan.


"Biasa saja bu, itu sudah menjadi pekerjaan saya, saya menikmatinya, jadi sangat mudah untuk di lakukan"


"Benar sekali, jika kita menjadikan pekerjaan kita sebagai hobi, pasti kita akan sangat ringan menjalankannya, selalu ada kemudahan dalam mengerjakan" katanya menmbenarkan pendapat Nina. "Berarti tinggal empat belas seragam keluarga kan Nin?"


"Betul bu"


Bu Agata tampak menganggukan kepalanya pelan.


"Kira-kira mampu kah di kerjakan dalam waktu satu bulan?"


"Akan saya usahakan bu, Insya Allah mampu, malah target saya selesai dalam waktu kurang dari sebulan, karena kan, enam di antaranya setelan untuk pria, tidak ada model yang harus menguras otak"


"Benar sekali, setelan Pria lebih mudah di kerjakan. Terimakasih banyak Nin, sudah bersedia merancangnya untuk saya"


"Sama-sama bu, saya senang bisa membantu untuk acara spesial ibu"


Wanita itu tampak menyunggingkan senyum, lalu mengusap lengan Nina "Ya sudah bisa di lanjut lagi aktifitasmu Nin, saya permisi dulu, ada banyak hal yang harus saya urus sebelum pernikahan anak saya"


"Baik bu"


Seperginya bu Agata, Nina melipat tangannya di dada. Ada sebuah pita ukur yang melingkar di lehernya, ia berdiri tepat di depan sebuah patung manekin, memandang sekali lagi pada gaun yang terpampang di sana. Ia menggelengkan kepalanya seolah tidak percaya bahwa ini adalah hasil karyanya.


Tiba-tiba ingatannya kembali ke lima tahun lalu, Keinginannya memakai gaun pengantin rancangannya sendiri pun telah sirna karena sebuah tuduhan yang membuatnya terjebak dalam sebuah pernikahan mendadak.


Sebuah deringan ponsel, membuyarkan konsentrasinya yang sedang hanyut traveling ke masa lalu. Nina memijat pelipisnya berusaha menghapus kenangan buruk yang ia alami.


Bergegas ia melangkahkan kaki menuju meja tempat ia menaruh benda tipis yang sedang menyala berkedip, lalu meraihnya.


"Nomor baru" Nina menatap heran layar ponselnya, sebuah panggilan vidio call masuk melalui aplikasi whatsapp tanpa ada foto profil pemiliknya.


"Ini kode nomor Indonesia? Ini pasti Irma, kenapa pakai nomor baru?" Dengan gerak cepat, Nina segera menggeser tombol berwarna hijau. Panggilan pun tersambung.


Dia tercengang lalu menelan salivanya, saat melihat wajah seorang pria di layar ponsel miliknya. Perasaan gugup dan debaran jantung mulai mendominasi.


Telinganya, seketika memanas ketika mendengar suara di sebrang sana mengucapkan salam.

__ADS_1


"W-Wa'alaikumsalam" jawab Nina terbata.


BERSAMBUNG


__ADS_2