Menjadi Selingkuhan Suamiku

Menjadi Selingkuhan Suamiku
Part 48


__ADS_3

Mobil melaju membelah keheningan malam, Suara Kennan yang sedang bercanda dengan mba Yun di bangku belakang, tidak mampu membuyar lamunan Danu. Ia terus memikirkan ucapan sang mama. Tidak di pungkiri, ia pun membenarkan apa yang di katakan wanita yang ia hormati.


"Apa aku harus melakukan tes DNA" Batin Danu, sejenak ia melirik wajah Kennan dari pantulan kaca Spion.


Danu, mba Yun dan Kennan bersiap untuk turun saat mobil sudah berada di halaman depan rumah abi dan umi.


Dengan terburu-buru Kenan keluar dari mobil lalu berlari. "Hati-hati ken, jangan sampai jatuh" teriak Danu mengingatkan.


Jedug.. brugh.. Kennan terjatuh saat sedang berlari, padahal baru saja Danu memperingatkannya.


Danu dan mba Yun yang panik, Dengan gerak cepat mereka berlari, lalu Danu menggendong Kennan dengan kondisi bibir pecah dan dagu tergores kerikil kecil, darah segar pun mengalir dari bibir dan luka di dagunya. Anak itu terus menangis memanggil bunda dan maminya.


"Sakit om" rintih Kennan saat sudah berada di gendongan Danu. Melihat Kennan kesakitan dan menangis sesenggukan, Danu menjadi tidak tega "Tidak apa-apa sayang, Ayo kita obatin lukanya" Danu terus berjalan memasuki rumah mertuanya.


"Ada apa dengan Kennan Nak" tanya umi sesaat setelah membuka pintu, lalu segera meraih kotak obat di lemari.


"Jatuh tadi um" Kata Danu menyahut pertanyaan ibu mertuanya.


"Sayang ayo duduk"


"Di bersihin dulu lukanya" umi meletakan kotak obat di atas meja. "Sebentar umi ambilkan air hangat untuk membersihkan lukanya"


"Baik Um"


Sedangkan mba Yun tempak melepas kaos kaki dan sepatu yang di kenakan Kennan.


"Ini nak air dan washlapnya" Dengan telaten dan pelan, Danu membersihkan luka Kennan lalu mengoles salep antiseptik.


"Umi, kenalin ini mba Yuni, dia yang akan menjaga Kennan nanti saat aku pergi bekerja"


Yuni dan Umi tampak bersalaman, karena mereka baru pertama kali bertemu.


"Abi sepi um?" tanya Danu sambil menempelkan plester di dagu Kennan.


"Jam segini abi masih di masjid"


"Selesai, sudah tidak sakit kan?"


"Masih sakit bibilnya om" sahut Kennan dengan mata masih berkaca-kaca.!


"Besok pasti sembuh, anak laki-laki harus kuat" Danu meraih tubuh Kennan lalu mendudukan di pangkuannya. "Mba Yun, Tolong bawa barang-barang Kennan ke kamar istri saya"


"Ayo mba Yun Umi antar, nanti umi tunjukan juga kamar buat mba Yuni"


"Baik umi"


Beberapa menit setelah umi menunjukan kamar Nina pada mba Yun, Umi kembali ke ruang tamu.


"Danu, kamu bersihkan badanmu dulu, lihat ada banyak darah menempel di kemejamu" ucap Umi menunjuk noda di kemeja yang Danu kenakan. "Kennan sama Nenek umi dulu ya nak"


***********


Pelan-pelan hembusan angin memasuki sela-sela jendela. Terdengar bunyi ranting pohon berdecit. Danu menikmati suasana malam ini dari balik jendela. Sejenak tatapannya ia alihkan pada Kennan yang sedang tertidur pulas.


Malam ini benar-benar menjadi renungan untuk Danu. Perasaan yang campur aduk antara takut, sedih, khawatir, membuatnya sulit memejamkan mata. Ia merasa dunia sedang menghukumnya, namun ada harapan kecil dalam dirinya untuk bahagia.


"Tidak ada salahnya mencoba untuk menjawab rasa penasaran" Batin Danu sambil melipat tangan di dada. "Ya sebaiknya aku melakukan tes DNA untuk memastikan"


Danu segera meraih benda tipisnya di atas nakas, ia berniat menghubungi Sandra adiknya untuk membantu melakukan tes DNA.


"Ada apa mas?" ucap wanita di sebrang telfon.


"San, mas mau melakukan tes DNA, apa saja yang di perlukan"


"Jadi mas Mau ngikutin saran mamah?"


"Iya, mas sendiri penasaran"


"Mas bisa bawa sampelnya seperti rambut, kuku, atau sikat giginya"

__ADS_1


"Kapan hasilnya keluar san?" tanyanya seraya memasukan tangan kiri ke saku celananya.


"Kurang lebih dua minggu mas"


"Apa tidak bisa lebih cepat lagi?"


"Ada mas, bawa sampel darahnya?"


"Darah?" tanya Danu dengan kening berkerut. "Jika darah menempel di baju, apa bisa san?"


"Bisa mas, mas bawa saja bajunya ke rumah sakit untuk pengecekan"


"Ok besok pagi mas ke rumah sakit"


Sambungan pun terputus. Danu meletakan kembali ponselnya di tempat semula, lalu merebahkan dirinya di samping Kennan.


Menghirup napas panjang, sebelum kemudian menghembuskannya perlahan-lahan. "Kennan, siapa papa kandungmu sebenarnya?" kenapa kamu begitu mirip denganku?" Danu lalu mengecup pucuk kepalanya.


"Jika Kennan benar anaku dan Irma, bagaimana nasib rumah tanggaku selanjutnya, apakah Nina akan menerimanya, kamu memang bodoh Danu, bisa-bisanya kamu melakukannya dengan Irma, tapi aku merasa tidak pernah berbuat itu pada Irma, aarrrghh". Danu menjambak rambutnya kasar, saat ini ia benar-benar merasa putus asa.


Pagi telah tiba, Danu sudah siap untuk bekerja. Tapi sebelum ke kantor, ia akan menuju rumah sakit terlebih dahulu untuk melakukan niatnya.


"Ken, om Danu berangkat dulu ya, nanti sore kita main layang-layang"


"Iya om, dada om"


"Umi, abi, aku ke kantor dulu" pamit Danu pada mertuanya.


***


Sesampainya di rumah sakit, Danu berjalan melewati koridor mencari dr Kasandra Buana, adik kandung Danu yang baru saja di lantik menjadi dokter di rumah sakit Mutiara Kasih.


"Mas" panggil Sandra lengkap dengan lambaian tangannya.


Danu segera menghampiri Sandra.


"San, ini mas bawa kemeja mas?" ucapnya setelah berdiri di hadapannya.


Danu menggeleng lesu " Ya sudah ayo ikut aku mas" ajak Sandra. Danu pun mengekor di belakang adik perempuannya, mengikuti langkahnya menuju sebuah ruangan, dimana ada berbagai alat rumah sakit keluaran dari perusahaanya.


Setelah melalui beberapa pemeriksaan, Danu segera berangkat ke kantor. Ia mengendarai mobilnya sembari terus memikirkan hasil DNA.


"Ya Allah semoga hasilnya negatif" gumam Danu penuh harap.


🌻🌻


🌻🌻


Waktu berjalan begitu cepat, pagi hari berubah menjadi siang, sore, dan malam pun menjelang. Bagi Danu, malam ini berbeda dari malam-malam sebelumnya, dengan perasaan yang menyatu keheranan, yang menjamur di kepala, kemudian mengakar di dada.


Sebuah nada dering ponsel berbunyi, di lihatnya ponsel pada genggaman tangannya.


Nina calling....


Sudah sekitar tiga minggu yang lalu Nina selalu menelfon Danu di malam hari sesuai permintaanya waktu itu.


Nina pun menuruti untuk menelfonnya setiap malam. Tidak ada sesuatu yang mereka bicarakan, karena setiap kali Nina menelfon, dia akan langsung memejamkan mata, sementara Danu hanya bisa mendengarkan hembusan nafasnya dari balik telfon.


"Nin, kapan kamu pulang? Tanyanya Sendu. "Aku sangat merindukanmu, aku butuh bahumu sekarang"


"Ada apa denganmu mas?"


"Tidak mungkin aku ceritakan tentang Kennan pada Nina, aku belum siap dengan responnya. Hidupku baru akan di mulai kembali, tapi Kennan dan Irma harus muncul, takdir macam apa ini?" Danu membatin di tengah-tengah lamunannya.


"Kamu tidak apa-apa kan mas?" tanya Nina, Suaranya yang lembut walau lewat telfon, membuat Danu merasa tenang.


"Tidak apa-apa Nin, temani aku tidur"


"Biasanya juga begitu kan mas"

__ADS_1


"Tidak, biasanya aku yang menemanimu, sampai kamu tidur, dan malam ini kamu yang harus menemaniku, kamu tidak boleh tidur sebelum aku memejamkan mataku"


"Bagaimana aku tahu mas sudah tidur? kita hanya bicara lewat telfon"


"Seperti nafasmu saat kamu terlelap, begitupun denganku, nafasku akan teratur jika aku sudah pulas"


Tidak ada sahutan lagi dari Nina. Malam ini Nina benar-benar menemani Danu hingga ia tak bisa lagi mendengar panggilan dari Nina. Tepat pukul dua dini hari, Nina mematikan telfonnya sebab orang di balik sambungan telfon sudah menjelajahi alam mimpi.


Benar kata Danu, nafasnya begitu teratur saat seseorang sedang tertidur pulas. Kedengaran begitu menenangkan bagi Nina.


"Lusa aku akan kembali, aku akan hadapi mas Danu, aku akan meminta maaf padanya atas kebohongan besar yang sudah ku lakukan tentang Nesa dan juga Kennan" Nina melirik dua koper, satu koper kecil berisi pakaiannya, dan satu koper besar berisi mainan serta makanan kecil untuk oleh-oleh putranya.


"Kennan, bentar lagi bunda pulang sayang, bunda janji, akan kasih tahu siapa ayah Kennan. Bunda ikhlas kalau ayah membawamu pergi"


"Maafin bunda sudah ninggalin Kennan" lirih Nina dengan pandangan tertunduk. Tangannya mengusap layar ponsel yang menampilkan foto anak laki-lakinya.


...&&&&&&&...


Hari yang di nanti Nina pun tiba, dua bulan bahkan lebih lama dari tiga tahun, kini ia akan kembali kepada abi dan uminya, ia bertekad akan meminta maaf pada orang tua yang sudah ia tinggalkan. Rasa malu karena sudah membohongi sang suami hingga hamil, rasa takut akan kehilangan putranya, dan khawatir yang selama ini menghantuinya, sudah ia singkirkan jauh-jauh. Walau bagaimanapun, masalah harus di hadapi, bukan malah melarikan diri.


"Bu saya mohon pamit, maaf tidak bisa menghadiri acara pernikahan anak ibu" ucap Nina pada bu Agata. Ia merasa tak enak hati padahal pernikahan itu akan berlangsung tiga hari mendatang.


"Iya nin, sebenarnya saya ingin sekali kamu bisa hadir melihat gaun rancanganmu di pakai oleh anak saya. Tapi tidak apa-apa Nin, saya mengerti, kamu pasti sudah sangat merindukan Kennan"


Nina tersenyum tipis "Terimakasih bu, sudah mempercayai saya untuk merancang gaun di hari spesial anak ibu, terimakasih sudah menampung saya selama di sini"


"Saya yang terimakasih Nina" Sahut bu Agata mengusap lengan Nina "Kamu hati-hati ya, salam buat Kennan, mba Yuni dan Mba Irma"


Nina mengangguk lalu memeluk tubuh wanita yang menjadi atasannya "Sampai jumpa Bu"


Sebuah pesawat landing dengan sempurna di bandara Juanda Surabaya, Nina menghela nafas lega, kini ia akan mencari taksi untuk pulang menuju rumah orang tuanya dengan jarak yang di tempuh dalam waktu kurang lebih setau setengah jam.


Reflek, dia melihat jam di pergelangan tangannya. "Jam 15:30, semoga sebelum maghrib, sudah sampai di rumah abi" gumamnya.


Di dalam taxi, suasana sangat hening, Nina hanya diam seraya menikmati pemandangan kota kelahirannya dari balik jendela mobil, sedangkan sang sopir, tampak fokus mengemudikan mobilnya.


"Pak, kita mampir dulu ke masjid untuk sholat ashar boleh?" tanya Nina penuh harap.


"Boleh mba, kebetulan saya juga mau sholat"


Taksi pun berhenti di pelataran masjid. Usai sholat, Nina berdoa memohon kekuatan dan kemudahan untuk setiap urusan. Setelah itu, Taxi kembali melaju membelah jalanan.


Detik berganti menit, lalu berubah menjadi jam, taxi pun sampai di kediaman Ustad Arifin. Setelah membayar ongkos pada sang sopir, Sekali lagi Nina membetulkan jilbabnya, sopirpun sudah menurunkan dua koper miliknya. Perlahan ia membuka pintu mobil lalu turun.


Terlihat di sana Danu dan Kennan sedang bermain mobil remot, mereka sama-sama sedang mengendalikan mainannya. Tiba-tiba Kennan menjatuhkan remot kontrol yang sedang ia pegang membuat Danu heran, lalu ekor matanya mengikuti kemana Kennan berlari melangkahkan kakinya.


"Bundaaaa" teriak Kenan seraya berlari ke arah Nina.


Remot control di tangan Danu seketika terjatuh, di iringi dengan getaran hebat di dalam dadanya, keringat dingin mengucur deras saat ia mendengar Kennan memanggil bunda kepada Nina.


Umi yang sedang menyiram tanaman pun tak kalah terkejut dengan kedatangan putri yang selama ini Ia rindukan, di tambah Kennan yang memanggilnya bunda, membuat selang air pun reflek terjatuh, kedua tangannya ia daratkan di dada.


"Nina" gumam Umi di iringi dengan jantung berdebar.


Nina merentangkan kedua tangan bersiap memeluk putranya. Ia menciumi kening dan pipi milik Kennan bertubi-tubi.


Sementara Danu perlahan melangkahkan kaki hendak menghampiri Nina dan juga Kennan, Nina masih belum menyadari bahwa disana ada Danu yang memperhatikannya. Hingga beberapa menit berlalu, ia menyadari pria tampan yang masih berstatus suami berdiri di depannya dengan jarak sekitar tujuh meter.


Sesaat pandangan mereka bertemu. Selama beberapa menit, kedua orang itu saling menatap satu sama lain. Seolah tatapannya menjelaskan perasaan cinta di antara keduanya.


Danu dan Nina, sama-sama membeku dengan irama jantung yang terasa lebih cepat. Ada rasa yang sulit di jelaskan.


"Bunda ayo masuk" goncangan di lengannya dan ucapan dari putranya, menyadarkannya dari aksi saling menatap. Nina menunduk memindai pandangan ke arah Kennan, Ada binar bahagia terlukis jelas di wajah sang putra. Nina lalu tersenyum, kedua tangannya menarik koper yang bertengger di belakangnya.


Langkah demi langkah sudah di tempuh oleh Nina dan juga Kennan. Tepat di depan Danu, dengan jarak satu meter, Kennan menghentikan langkahnya.


"Om, ini bundanya Kennan, bunda Nina" Ucap Kennan dengan nada khas suara anak kecil.


Entah apa yang di rasakan Danu saat ini, yang jelas jantungnya seakan berdetak dengan sangat kencang.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2