Menjadi Selingkuhan Suamiku

Menjadi Selingkuhan Suamiku
Part 40


__ADS_3

Sebuah pesawat Garuda Indonesia, dengan Nomor penerbangan GA-285, lepas landas dari bandara International Soeta, menuju bandara Internasianal Australia.


Pesawat yang di tumpangi Nina dan juga atasannya, akan mendarat tepatnya di Melbourne International Airport. Mereka akan menempuh perjalanan udara selama enam jam lima belas menit.


Di dalam pesawat, Nina terus memikirkan putranya dengan perasaan yang semakin membelitnya.


"Maafin bunda sayang, bunda janji setelah dari sini, bunda akan mempertemukanmu dengan ayahmu. Apapun akan bunda lakukan untuk mempertahankanmu jika ayah membawamu pergi. Bunda tidak mau kamu jatuh ke tangan ayahmu"


Nina terus menatap ke arah jendela, beruntung dia duduk tepat di samping jendela pesawat. Ia terus berdecak kagum dengan ciptaan-Nya. Sungguh pemandangan yang indah bisa menatap awan dari jarak yang sangat dekat.


...🌸🌸🌸🌸🌸🌸...


"Mami Ilma mo bawa Kennan kemana?"


"Mami mau bawa Kennan ke rumah kakek?" Jawab Irma dengan tangan sibuk memakaikan baju di tubuh anak kecil itu.


Irma, Kennan dan Yuni, sudah sekitar empat hari berada di Surabaya, mereka tinggal di rumah pak Bambang dan bu bambang. Orang tua Irma tahu kalau Kennan adalah anak Nina, mereka pun senang dengan adanya Kennan di rumahnya.


"Ini kan lumah kakek, emangnya Kakek Kennan ada belapa mom?"


"Ada banyak sayang. Ayo sekarang pakai kaos kakimu, setelah itu kita berangkat"


"Mami, boleh bawa mainan mobil remotnya tidak?" ujar Kenan dengan suara khas anak kecil.


"Boleh dong, nanti Kennan bisa memainkannya di sana"


Irma menggandeng tangan Kennan keluar dari rumah orang tuanya. Sebelumnya mereka sudah pamit dengan papa dan mama, Kennan memanggilnya Kakek dan nenek.


"Are you ready boy" ucap Irma saat hendak menancapkan pedal gas.


"Yes Mom" Lets go!" seru kenan riang.


Irma mengendarai mobilnya dengan penuh hati-hati. Tidak butuh waktu lama, mereka pun sampai di rumah orang tua Nina.


Irma dan Kennan sudah di sambut oleh umi Lela, karena sebelum kemari, Irma sempat mengirim pesan padanya. Dan memberitahukan bahwa dia akan mengunjunginya.


"Assalamu'alaikum umi" Irma meraih punggung tangannya, setelah itu memeluk tubuh umi yang tidak menunjukan perubahan sama sekali dalam waktu tiga tahun.


Umi mempersilakan masuk setelah menjawab salamnya. "Ini siapa?" tanya umi seraya menyunggingkan senyum, dan mendaratkan tangannya di puncak kepala Kennan.


"Kennan Umi" jawab Kennan lalu mencium tangan umi Lela dengan sopan.


"Panggil nenek sayang jangan ikut-ikut mami panggil umi"


"Pinter sekali Kennan" Umi menyangka jika Kennan adalah anak dari Irma "Lama tidak bertemu, kamu sudah punya anak sebesar ini"


Irma menatap nanar wajah umi,


"dia anak Nina, cucu umi, tapi Nina yang akan menjelaskannya nanti, maaf umi?" Irma membatin dengan perasaan bersalah.


"Nikah kok tidak bilang-bilang, Kenapa tidak mengajak suaminya sekalian, kenalin ke umi"

__ADS_1


"Aku tidak ada suami umi"


Umi terhenyak mendengar jawaban Irma "Ohh maaf umi tidak tahu" Umi ingin sekali menanyakan tentang suaminya, namun urung di lakukan karena ini baru pertemuan pertama setelah hampir satu tahun tidak bertemu.


"Umi, Insya Allah dua bulan lagi Nina kembali, saat ini dia sedang berada di Australia, dia ada pekerjaan di sana"


Seketika umi menatap wajah Irma "Australia?" tanyanya seraya mengernyitkan dahi.


"Nina sangat sibuk sekarang um, dia berhasil menjadi designer berkancah Internasional, rancangan gaunnya telah di akui di berbagai negara. Umi sabar untuk dua bulan ke depan ya, Nina akan pulang dan menceritakan kenapa dia pergi"


"Sudah jangan bahas Nina, hati umi sakit mendengarnya"


"Umi, apa umi membenci Nina?" tanya Irma penuh selidik.


"Seorang ibu tidak akan pernah membenci anaknya, sekalipun si anak sudah menyakiti hati ibunya. Umi tidak marah, umi cuma kecewa sama sikap Nina"


"Tolong maafin Nina ya umi, dia punya alasan" Tangan Irma meraih tangan umi, sedikit memberikan usapan di punggung tangan umi dari sahabatnya.


"Apapun alasannya, itu tidak di benarkan Irma"


"Aku tahu umi"


Tiba-tiba muncul abi keluar dari dalam rumah "Loh ada nak Irma" ucapnya. Irma segera berdiri lalu mengulurkan tangannya.


"Assalamualaikum Abi" Sapanya sembari mengecup punggung tangannya. "Abi sehat?"


"Waaliakumsalam. Alhamdulillah abi sehat" Abi turut duduk bersama umi dan Irma "Kamu gimana?"


Abi tampak manggut-manggut lengkap dengan senyum terulas lebar dari bibirnya.


"Apa ini putramu nak?" tanyanya seraya menunjuk Kennan dengan dagu. Anak itu sedang asik menjalankan mobil remot di teras rumah.


"Itu anak Irma bi" sambar umi menjawab pertanyaan abi, "Kennan namanya"


Tiba-tiba, wajah abi berubah. Namun entah apa yang membuatnya demikian. "Masya Allah, lucu sekali dan juga tampan. Kenapa tidak mengajak suaminya kesini nak Irma?"


Belum sempat Irma menjawab, Umi buru-buru memberikan cubitan lembut di lengan pak Arifin lengkap dengan picingan matanya lalu menggelengkan kepala.


***


Irma, Abi, dan Umi sedang terlibat pembicaraan santai.


Sedangkan Kennan, dia masih asik menjalankan mobil mainannya menggunakan remot control. Pandangan abi sama sekali tak teralihkan pada sosok Kennan yang mirip dengan nama sang cucu yang kerap di ceritakan oleh Haidar tanpa sepengetahuan siapapu. Hanya Haidar dan Abi Arifinlah yang tahu.


Cukup lama berlalu, Suara decitan mobil mainanpun masih bisa di tangkap dari bilik ruang tamu, tiba-tiba sebuah mobil memasuki rumah milik pak Arifin. Pemiliknya adalah Danu yang baru saja pulang dari kantor dan mampir ke rumah orang tua istrinya. Selama Nina pergi, Danu lebih sering menginap di sini dan tidur di kamar milik Nina. Itu ia lakukan untuk menghibur serta menemani abi dan umi agar tidak terlalu larut memikirkan anak perempuannya.


Mobil mainan milik Kennan tidak sengaja menabrak sepatu yang sedang di kenakan oleh Danu saat sedang melangkahkan kakinya


Ciiiitttt Dug ...


Danu menatap ke bawah, mendapati sebuah mobil mainan yang juga menjadi mainan favoritnya saat dia masih kecil.

__ADS_1


Dia membungkukan badan lalu meraih mobil-mobilan itu. Sementara Kennan berlari menuju arah Danu.


Dada Danu berdesir hebat, saat menatap wajah anak kecil yang berada di hadapannya saat ini. Ia mematung sembari terus menatap wajah anak kecil itu lekat-lekat. Kenan pun membalas tatapannya dengan mendongakkan kepala kerena perbedaan level mata mereka yang cukup jauh.


"Itu punyaku om?" ujar Kennan seraya menengadahkan tangan kanan.


"Siapa anak kecil ini, aku baru melihatnya"


"Om keciniin mobilnya!"


"Oh ya ini" sahut Danu sambil menyerahkan mobil milik Kennan.


Danu berlutut mensejajarkan tinggi bandannya "Siapa namamu?"


"Kennan om"


"Namanya bagus, Kennan baru datang kesini ya, om baru pertama kali lihat kennan di sini"


"Iya om, Kennan datang cama mami"


"Mana mami mu?" Tanya Danu ingin tahu.


Kennan mengulurkan tangan, jari telunjuknya ia arahkan pada wanita dengan memakai gamis warna peach. Pandangan Danu terarahkan mengikuti tangan mungil milik Kennan. Danu melihat Irma yang berdiri membelakanginya, tampak sedang mencium punggung tangan abi dan umi secara bergantian, karena sudah waktunya mereka pulang Irma pun tampak tengah berpamitan.


"Nina" batinya. Dia teringat dengan Nina yang juga selalu memakai pakaian seperti Irma, gamis dan hijab yang menjuntai panjang menutupi punggung dan dadanya.


"Mami" teriak Kennan lalu berlari ke arah Irma. Irma terkejut mendapati Danu sedang bersama Kennan saat dia menoleh panggilan anak sahabatnya. Wajahnya seketika pucat pasi.


"Ku pikir Nina, ternyata bukan" gumam Danu sangat lirih.


Irma segera mengangkat tubuh Kennan ke gendongannya "Sayang sun dulu tangan kakek dan nenek" Kennan pun segera mematuhi perintah wanita yang ia panggil mami.


Danu tampak berjalan ke arah mereka menyiskan debaran jantung yang masih berdetak tak beraturan. "Assalamualaikum umi" ucap Danu dengan jas yang menggantung di lengan kirinya serta tas kantor di tangan kanan


"Waalaikumsalam nak, sudah pulang"


"Sudah umi" lalu meraih tangan abi dan umi bergantian.


"Nak, kenalin ini Irma, teman Nina sejak Mts" ucap Umi.


Danu memindai pandangannya pada Irma. Mereka sama-sama menangkupkan kedua tangan di dada mereka masing-masing


"Danu"


"Irma" sahut Irma tak berani menatap wajah Danu. "Abi, umi, aku permisi pulang dulu" tambahnya berpamitan.


"Hati-hati di jalan, nak"


"Iya umi. Mari" ia sedikit membungkukan badanya saat berpamitan dengan Danu di iringi desiran hebat yang mendadak singgah di dadanya.


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2