Menjadi Selingkuhan Suamiku

Menjadi Selingkuhan Suamiku
Part 37


__ADS_3

Sebuah mobil honda brio berwarna merah, memasuki pelataran rumah Ustadz Arifin.


Hari ini Irma mengunjungi rumah orang tua Nina. Tujuannya datang ke sini untuk memberitahukan pada abi dan umi, tentang kondisi putrinya.


"Assalamu'alaikum"


Terdengar seorang wanita paruh baya menjawab salamnya dari dalam rumah.


Saat pintu terbuka menampilkan wajah wanita yang ia hormati. Dengan cepat ia meraih tangan wanita itu lalu menciumnya takzim.


"Nak Irma?" Umi segera menghambur ke pelukan gadis yang menjadi teman Nina sejak Mts. "Syukurlah kamu datang, banyak hal yang ingin umi tanyakan padamu. Ayo sayang masuk dulu". Umi membawa Irma menuju sofa "Bi Tati, tolong buatkan teh untuk Nak Irma" sambungnya sedikit berteriak.


"Bagaimana kabar umi?" Irma dan umi tampak duduk berdampingan dengan tangan saling bertaut.


"Alhamdulillah Umi sehat, Nak Irma sendiri bagaimana?" tanyanya dengan wajah berbinar


"Alhamdulillah juga umi, saya sehat"


"Nak, katakan bagaimana kondisi Nina, kamu tahu keberadaan dia kan? Umi yakin kamu pasti mengetahuinya"


"Umi, mba, silakan di minum tehnya" sambar Tati seraya meletakan dua cangkir teh di atas meja.


"Terimakasih Bibi Tati"


"Sama-sama mba Irma"


"Umi, Nina baik-baik saja, maaf saya tidak bisa mengatakan dimana Nina, dia ingin menenangkan diri umi"


"Tapi kenapa harus memutus kontak"


"Kami tidak bermaksud memutus kontak umi, waktu itu ponsel kami di rampok orang, kami tidak hafal semua nomor yang tersimpan di ponsel kami" Sergahnya berusaha mengelak.


"Di rampok?" Umi tampak terkejut, lengkap dengan dada bergetar. "Tapi kalian baik-baik saja kan?"


"Iya umi kami baik-baik saja, mereka hanya meminta ponsel dan uang kami"


"Syukurlah"


"Umi, untuk sementara, abi dan umi jangan mencari keberadaan Nina dulu ya, Nina butuh waktu untuk menjelaskan semua"


Umi tampak mengerutkan dahi, ia menatap lekat wajah Irma "Menjelaskan tentang apa nak? umi tidak butuh penjelasan apapun, umi hanya ingin melihat wajahnya saja"


Irma merasa iba pada Umi, betapa ia merindukan anak perempuan satu-satunya.


"Nina, apa yang harus ku lakukan, di satu sisi aku kasihan melihat umi, di sisi lain, kamu memintaku untuk tutup mulut, aku merasa ada di posisi serba salah"


"Umi, Nina punya alasan kenapa dia pergi, dia harus mencari uang sebanyak-banyaknya"


"Mencari uang?" untuk ke sekian kalinya umi terkejut mendengar ucapan Irma " Untuk apa?"


"Untuk mempertahankan anaknya, jika suatu saat suaminya merebutnya" Irma hanya mampu mengatakan dalam hati.


"Suaminya punya banyak uang, kenapa tidak minta tolong pada Danu, suaminya?"

__ADS_1


"Danu" Lirih Irma gugup.


Umi menganggukan kepala "Danu juga mencarinya selama ini, waktu itu umi dengar Nina ada di jakarta pusat, mereka mencari ke sana, tapi belum ketemu sampai sekarang"


"Jakarta pusat?" kita kan di Jakarta Timur?" tapi untuk apa Danu mencari Nina, apa dia tahu kalau Nina hamil anaknya. Benar kata Nina, Danu pasti berniat merebut anaknya dari Nina"


"Nak Irma"


"Iy-iya umi?"


"Ada apa? kenapa melamun?"


"Ti-tidak umi" Dengan terbata Irma menjawabnya.


"Kalau begitu, katakan pada umi dimana Nina sekarang, biar suaminya menjemputnya"


"Umi, boleh saya minta nomor ponsel mas Haidar" Alih-alih menjawab, ia malah mengalihkan topik.


"Saya akan mengatakannya pada mas Haidar?"


"Boleh, sebentar umi ambil ponsel umi dulu di dalam"


"Iya Umi"


Umipun beranjak dari sofa ruang tamu menuju kamar.


Irma meraih cangkir berisi teh yang masih menampakan kebulan asap tipis, lalu meneguknya pelan


Tidak lama setelah itu, Umi membawa selembar kertas tertulis nomor Haidar di sana.


"Terimakasih um. Umi jangan khawatir tentang Nina ya, beri Nina sedikit waktu, nanti Nina akan menjelaskan semuanya"


"Umi bisa apa, kalau kamu tidak mau memberitahu umi" keluh umi pasrah.


"Maaf umi, maaf"


"Tidak apa-apa nak, umi sedikit lega karena Nina baik-baik saja, karena beberapa hari ini, hati umi mencemaskan Nina. Tapi, jika terjadi sesuatu, tolong segera beri tahu kami"


"Pasti umi. Terimakasih umi sudah mau mengerti, umi doain Nina terus ya, sekarang dia sedang merintis karirnya. Oh iya umi, abi kemana?" tanya Irma melihat ke sekeliling rumah.


"Abi sedang ada undangan ceramah"


"Dimana umi?"


"Di Palembang"


"Kok Umi tidak ikut, biasanya umi selalu menemani abi"


"Ya, karena sudah beberapa hari ini perasaan umi gelisah, umi merasa badan umi sedikit meriang, jadi tidak ikit abi mengisi ceramah di sana"


Hampir satu jam Irma berbincang dengan umi. Ia melirik jam yang menggantung di dinding.


"Umi, saya mohon pamit, sudah sore, kalau ada waktu, saya akan datang lain kali"

__ADS_1


"Baiklah Nak, janji ya kalau ada apa-apa pada Nina, segera beri tahu umi"


"Pasti Umi" sahutnya mengusap lengan umi, lalu mencium punggung tangannya. Irma melangkahkan kaki setelah mengucapkan salam. Menekan tombol klakson saat mobilnya bergerak keluar dari gerbang.


...🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺...


Malam harinya, Irma berusaha menelfon Nina, namun ponselnya tidak bisa di hubungi.


"Ada apa dengan Nina, kenapa nomornya tidak bisa di hubungi"


Tak berhenti di situ, Irma segera menelfon Yuni, dan panggilan pun tersambung.


"Assalamualaikum mba Irma" jawabnya di balik telfon.


"Walaikumsalam mba Yun, kok nomor Nina tidak bisa di hubungi ya?"


"Iya mba, ponsel mba Nina drop, sudah tiga harian, lupa tidak di isi batre"


"Kenapa, kok bisa sampe tiga hari?"


"Begini mba, hmm sebenarnya mba Nina sudah melahirkan?" ucap Yuni ragu-ragu.


"Apa?" Irma tampak kaget "Bukannya masih dua bulan ke depan?"


"Mba, nanti biar mba Nina saja yang menjelaskan, sekarang mba Nina sudah tidur"


"Tapi bayinya?" tanya Irma penasaran.


"Bayinya masih di ruang NICU mba, karena lahir prematur"


"Ya Allah Nina" gumam Irma lirih, sekarang Nina gimana mba?"


"Mba Nina juga masih di rumah sakit, tapi kondisinya sudah mulai pulih, hanya saja terkadang masih terasa nyeri pada bekas jahitannya pasca operasi caesar"


"Mba Yun, kenapa tidak memberitahuku?"


"Maaf mba, saya tidak kepikiran, saya fokus pada mba Nina"


"Ya sudah, besok aku telfon lagi. Titip Nina ya mba, tolong jaga Dia"


"Pasti mba Irma"


"Aku tutup ya mba"


Kini giliran Irma menelfon Haidar, namun saat panggilan tersambung, Irma segera memutus panggilannya. Rasa takut dan ragu yang begitu besar, mengurungkan niatnya berbicara pada kakak dari temannya.


"Sebaiknya, aku telfon Nina terlebih dahulu, siapa tahu, ada yang ingin Nina sampaikan pada kakaknya"


"Tapi kenapa Nina bisa melahirkan bayi prematur, ada kejadian apa kira-kira?"


"Nina, kamu kenapa menyulitkan dirimu sendiri si?"


Pikiran Irma terus tertuju pada sahabatnya, hingga ia tertidur di balik selimutnya.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2