Menyentuh Hatimu

Menyentuh Hatimu
Tekad Kayden


__ADS_3

Reporter yang menjengkelkan membuat runyam suasana. Lampu-lampu blitz menerpa wajah mereka sejak ke luar dari rumah Kayden. Saat mobil yang dikemudikan oleh sopir menjauh dari trotoar, Gwen merasa lesu karena kelelahan bersandiwara sebagai seorang istri dari Kayden Kim yang terlihat bahagia, begitu menguras energinya habis-habisan.


“Kau, baik-baik saja?” Kayden bertanya seraya menoleh ke arah Gwen. Terlihat seraut wajah cemas yang begitu kentara dibalik wajah tampannya.


Gwen mangangguk pasrah seolah tidak terjadi apa-apa diantara mereka berdua. Amarah yang sejak tadi menyelimutinya, tiba-tiba menguap begitu saja. Ia lantas menghembuskan napasnya dengan kasar, saat dia bersandar ke kursi kulit yang empuk dan lembut. “Apakah foto kita akan terpampang lagi di seluruh surat kabar besok?”


“Tergantung,” jawab Kayden tenang, “tapi untuk saat ini, berita pernikahan kita adalah topik yang hangat untuk diperbincangkan. Dan berita kita, tentu saja akan membantu mereka untuk mencetak dan menjual tabloidnya lebih banyak.”


“Bagaimana kau bisa hidup di bawah sorotan banyaknya kamera seperti itu?” tanya Gwen agak bergidik.


Kayden tersenyum menyeringai, kemudian ia berkata dengan santai, “Aku sudah terbiasa.”


Gwen yang mendengarkannya pun kembali bergidik karena mengetahui dirinyalah penyebab Kayden harus menanggung hal itu sekarang.


“Aku …” Gwen menggantungkan kalimatnya karena ia membutuhkan keberanian diri, sebelum ia melanjutkan kalimatnya, “minta maaf.”


Kayden pun mengernyit dengan pengakuan wanita itu. “Mengapa kau meminta maaf?” tukas Kayden. “Bukan kau yang menyebabkan sensasi ini, Gwen. Tapi aku.”


“Dan Rainer,” tambah Gwen hampa.


“Kakak beradik Kim, kalau begitu.” Kayden mengangguk, lalu mencondong maju untuk berbicara kepada sopirnya. “Pastikan kau mengecohkan mereka sebelum kita menuju bandara,” perintahnya.


Sedangkan sang sopir yang mendengar perintah tuannya, ia pun mengangguk dan melirik spion. Dan dengan sigap, dia berbelok ke lajur luar, lalu berbelok ke kanan pada serangkaian lampu lintas berikutnya, kemudian berbelok ke kiri sehingga siapa pun yang mengenal Jakarta dengan baik, yakin dia akan membawa mereka langsung ke alamat rumah besar keluarga Kim.


Sopir tersebut terus-menerus memeriksa spion dengan tatapan matanya yang tajam. Dan setelah beberapa saat, dia berbalik arah untuk membawa majikannya menuju bandara.

__ADS_1


***


“Kay, bisakah kita ke toilet sebentar? Aku ingin buang air kecil,” kata Gwen ketika mereka berdua tiba di ruang keberangkatan kelas satu. Gara-gara terlalu cemas memikirkan pemberitaan dirinya yang bisa saja diberitakan negatif oleh para reporter, sepanjang perjalanan Gwen terlalu banyak minum air mineral botol, berharap sedikit mengurangi ke khawatirannya itu.


Kayden pun mengangguk sehingga Gwen bergegas menuju ke toilet.


Beberapa menit kemudian, ia kembali dan menemukan Kayden duduk santai sambil bersedekap di dekat dinding tidak sampai satu meter jauhnya. Walau dikursi itu ia tidak duduk sendirian, sosok Kayden seolah bagaikan magnet. Terbukti banyaknya sepasang bola mata wanita yang mendamba, melihat wajah tampan Kayden saat mereka berjalan di depan pria itu.


Gwen yang melihat pemandangan itu pun hanya mengernyitkan alisnya seraya berjalan menghampiri Kayden yang menundukkan kepalanya. Entah apa yang terjadi pada pria itu, sampai-sampai ia harus menundukkan kepalanya seolah-olah dia menyembunyikan wajahnya dari kerumunan orang yang melintas di depannya.


Gwen bertanya-tanya dalam hatinya hingga ia menghentikan langkahnya tepat di depan Kayden. Lantas, Gwen berkata, “Aku sudah selesai.”


Kayden yang mengenal suara itu langsung mendongakkan kepalanya dan sedikit melengkungkan bibirnya. “Ayo, kita sedikit terlambat,” katanya sambil berdiri dan mencengkram lembut pergelangan wanita itu.


Gwen tidak menjawab, tetapi ia mengikuti langkah Kayden yang telah membimbingnya melewati kerumunan yang lalu lalang. Mereka tampak berjalan tergesa-gesa dan kadang harus berlari menuju barisan panjang gerbang keberangkatan.


“Ke mana kita akan pergi?” tanya Gwen setelah beberapa menit yang lalu mereka berdua tidak membuka suara, dan baru menyadari ia tidak tahu ke mana tujuan mereka.


Kayden lantas mengernyit, kemudian sedikit menyunggingkan senyumnya. “Aku sedari tadi penasaran, kapan kau akan menanyakan itu?”


Gwen langsung menjadi salah tingkah. Dia berdeham sebelum menjawab, “Aku baru ingat.”


Kayden kembali menyunggingkan senyumnya. “Kita akan pergi ke tempat yang jauh,” jawabnya. “Tepatnya London.”


“London?” tanya Gwen kemudian ia mengerjap. “Berapa lama perjalanannya?”

__ADS_1


“Sekitar empat belas jam jika beruntung, dan enam belas jam jika tidak,” jawab Kayden. Ia lantas memanggil pramugari dan memesan minuman ringan untuk mereka berdua, lalu duduk bersandar lagi.


Ketika pramugari tersebut berpamitan kepada Kayden untuk mengambilkan pesanannya, dengan bersamaan Gwen mendengus kesal. Tepatnya ia benar-benar kesal sampai harus mengepalkan tangannya di atas pahanya saat menyandarkan tubuhnya di kursi.


“Perjalanannya terlalu lama dan sangat membosankan!” keluh Gwen. Rasanya ia tak sanggup menyimpan kalimat itu dibenaknya.


“Penerbangan ini memang sangat panjang,” kata Kayden lembut. “Lebih baik kau melewatinya dengan tidur sebanyak mungkin.”


“Menyebalkan!” Gwen menggerutu kesal.


Kayden yang paham akan kekesalan istrinya, ia hanya menanggapi dengan tersenyum samar. Ia sebaiknya diam dan tak menyahutinya yang bisa membuat Gwen semakin kesal kepada dirinya.


Tak dipungkiri, pria itu memang merasa bersalah hingga detik ini karena mempunyai andil menggagalkan pernikahannya dengan Rainer. Namun, satu hal yang harus Gwen tahu, cintanya begitu besar dan sangat tulus untuk dirinya. Seumur hidupnya, ia tidak akan menyesali keputusannya tersebut.


Justru ia akan semakin bersalah dan menyesal, jika membiarkan Gwen menikah dengan Rainer adik tirinya, yang pasti tidak akan setia kepada istrinya mengingat hati dan pikiran Rainer masih terngiang-ngiang nama Valerie. Kayden tak bisa membiarkan itu terjadi pada hidup Gwen.


Ketika Kayden mengucapkan janji suci pernikahan, ia bertekad akan selalu setia menjaga kesucian pernikahannya dan memberi banyak cinta untuk Gwen seorang. Dan ia akan secara suka rela ataupun dengan senang hati menerima perlakuan buruk istrinya yaitu Gwen, kepada dirinya sebagai bentuk kekesalannya. Menurut pria itu, salah satu wujud ungkapan cinta adalah dengan membiarkan pasangan kita bertindak atas keinginannya sendiri.


Saat pramugari berwajah oriental kembali dengan membawa minuman yang dipesan Kayden, ia tersenyum lembut kepada pria itu. Kayden mengambil minuman itu dan memberikannya kepada Gwen.


“Minumlah!” perintah Kayden datar setengah memaksa dan mendekatkan sekaleng minuman orange jus ke bibir Gwen.


Tanpa repot-repot membantah, Gwen melakukan yang disuruh Kayden. Bukankah sedari dulu bosnya ini sekaligus suaminya adalah seorang Kayden Kim yang tak menerima penolakan? Pikirnya.


“Sudah waktunya kau harus membuka lembaran baru bersamaku.” Kayden memberitahunya ketika kembali bersandar ke kursi sambil menghela napas. Dan Gwen menoleh untuk menatapnya penuh tanya. “Aku tidak akan memaksamu mencintaiku. Tetapi …” jedanya, kemudian menoleh dan menatap lekat-lekat manik cokelat terindah milik istrinya. “Aku tak akan lelah menunggu sampai kau secara suka rela memberikan hatimu untukku. Asal kau tahu, Gwen. Aku adalah seorang pria yang hanya mencintai satu wanita, dan akan selalu setia kepada pasanganku yang sudah ku nikahi.”

__ADS_1


Gwen terkejut mendengar pernyataan tegas Kayden, tetapi ia menyembunyikannya dalam-dalam. Dengan susah payah wanita itu menelan ludah setelah Kayden mengalihkan pandangannya ke depan, lalu memejamkan matanya.


__ADS_2