Menyentuh Hatimu

Menyentuh Hatimu
Tidur Seranjang


__ADS_3

Rona merah jambu yang bersemu cantik di pipi Gwen karena malu bercampur letih, begitu kentara saat mereka kembali ke hotel. Kayden sendiri yang berdiri di sebelahnya, tertawa geli sembari menopangnya di sudut lift, menahannya di sana ketika mereka meluncur naik.


“Ini tidak lucu!” Gwen memprotes.


Kayden yang mendengar keluhan istrinya, ia seketika berdeham, kemudian berkata, “Maaf.”


“Aku merasa seperti zombie yang terjaga selamanya.”


“Kau zombie yang cantik dan memikat.” Setelah mengatakan demikian, Kayden kembali tertawa pelan. Tetapi beberapa detik kemudian, ia berdeham tatkala melihat Gwen yang telah memberinya tatapan tajam begitu menusuk.


“Ini benar-benar tidak lucu, Kay!”


“Gwen …” kata Kayden lembut. “Sekarang baru jam sepuluh malam.”


“Apa?” Bola mata Gwen tersentak membuka dan ia menatap Kayden dengan tak percaya.


Kayden mengangkat sebelah alisnya, matanya masih menyorot tawa. Gwen terkejut sebab ia tak pernah melihat tawa dalam ekspresi pria itu sebelumnya. Dan rasanya sangat menyenangkan melihat pemandangan langka teresebut, sehingga Gwen mendapati dirinya tersenyum kepada Kayden, meskipun masam.


“Orang-orang di sini cenderung makan malam agak larut,” Kayden menjelaskan. “Mereka suka menikmati suasana malam hari. Tapi aku hanya setuju untuk datang ke acara makan malam seperti tadi, dan kita bisa makan lebih awal. Jika tidak, bisa-bisa kau baru melihat hidangan yang kesekian kalinya untuk sekarang ini.


“Astaga …” Gwen bergidik. “Memangnya kau tidak lelah?” tanyanya. Bagaimanapun juga, Kayden sudah terjaga selama dirinya.


Kayden tersenyum masam. “Aku sudah terbiasa,” jawabnya santai.


“Kay, apa teman-temanmu tidak marah jika kita berpamitan pulang lebih awal, sementara acaranya belum selesai?”


“Tidak akan,” jawab Kayden. “Mereka sangat memahami kita sebagai pengantin baru.”


Pengantin baru? Mendengar kalimat itu, Gwen langsung mengingat ciumannya bersama Kayden saat acara makan malam tadi. Pikirannya pun melayang mempertanyakan apakah pria itu menciumnya hanya untuk menciptakan kesan yang baik di hadapan teman-temannya? Dan untuk mengurangi rasa penasarannya, ia memberanikan diri bertanya langsung kepada suaminya.


“Kay,” Gwen memanggil pelan sambil mendongak ke arah pria itu yang masih berdiri di sebelahnya, sehingga Kayden yang mendengar namanya disebut, ia sedikit menundukkan kepalanya, memandang seraut wajah kebimbangan istrinya. “Aku ingin bertanya sesuatu padamu.”


“Bertanyalah selagi aku bisa menjawabnya, Gwen.”

__ADS_1


Gwen menelan ludah, mempersiapkan diri sebelum melontarkan pertanyaan, “Mengapa kau menciumku secara tiba-tiba di depan teman-temanmu?”


“Karena aku ingin!” jawab Kayden tegas.


“Bukan karena yang lain?”


Kayden mengernyit sambil bertanya, “Apa maksudmu, Gwen? Aku tidak mengerti.”


“Maksudku, apakah kau menciumku hanya berpura-berpura kita adalah pasangan yang saling mencintai dan romantis, supaya teman-temanmu terksesan dengan hubungan pernikahan kita?”


“Tentu saja tidak!” sahut Kayden cepat, sedikit tersinggung dengan pertanyaan tersebut. “Aku menciummu karena aku menginginkannya.”


Gwen bergeming. Ia menyelami manik hitam Kayden mencari celah kebohongan. Namun sialnya, ia tidak menemukannya. Hanya kejujuran yang terpancar dari bola mata suaminya, dan diam-diam entah sejak kapan Gwen sangat menyukai warna bola mata itu.


Beberapa detik kemudian, lift berhenti. Gwen pun harus memaksa menegakkan tubuh walaupun dengan bantuan Kayden lagi. Lengan pria itu bergeser mengelilingi pinggangnya, menawarkan dukungan selama mereka menyusuri koridor menuju kamar suitenya.


Sungguh menyenangkan bisa masuk ke dalam kamarnya dan mengetahui inilah akhirnya yang sangat Gwen inginkan. Bisa merangkak ke tempat tidur dan mengistirahatkan tubuhnya tanpa gangguan sedikitpun.


Seseorang telah membereskan ranjang saat mereka ke luar, dan baju tidur sutra berwarna merah menyala telah terlipat rapi di sisi tempat tidur, serta sepasang piama sutra hitam tergeletak di sisi lain. Gwen sengaja mengabaikan piama hitam tersebut. Ia lebih memilih mengambil gaun tidur merahnya dan membawanya ke kamar mandi.


Lima menit setelahnya, Gwen ke luar dari kamar mandi dan tampak menggerai rambutnya, wajahnya juga terlihat bersih dari riasan. Wanita itu lantas merangkak ke tempat tidur, menarik selimut hingga menutup bahu, kemudian menjatuhkan kepalanya secara perlahan di atas bantal empuk yang siap membawanya dalam mimpi indahnya.


Gwen benar-benar mengabaikan keberadaan Kayden di ruangan mewah dan elegan tersebut. Namun, seulas senyum kegelian merekah di bibir Kayden, sebab memperhatikan tingkah lucu istrinya yang mulai memejamkan mata sembari tersenyum tipis.


“Selamat malam istri tercintaku,” gumam Kayden pelan, dan ia yakin Gwen tidak bisa mendengarnya. “Nice dream, Sweety,” tambahnya, lalu tersenyum puas.


***


Karena tenggorokannya kering dan butuh segelas air minum, Gwen tiba-tiba terbangun ketika masih gelap. Dan ia terbangun sambil mengernyit, menyadari ada hembusan napas pelan beraturan yang menerpa wajahnya.


Matanya mengerjap terbuka kemudian hanya menatap, dan sensasi menggelenyar menjalarinya saat mendapati dirinya menatap langsung wajah lain, berbaring tidak lebih dari dua puluh lima sentimeter jauhnya dari wajah wanita itu.


“Kayden,” kata Gwen lirih.

__ADS_1


Kayden tampak tertidur di sampingnya. Bulu mata tebalnya membentuk dua bulan sabit di tulang pipinya yang menonjol. Bibirnya agak terbuka sehingga ia menghembuskan napas dalam-dalam, lembut, dan beraturan.


Bagi Gwen, tidur seranjang dengan orang lain adalah pengalaman baru. Apalagi tidur seranjang dengan pria yang benar-benar terasa asing dan agak … menggelitik. Gwen sedikit menarik sudut bibirnya ke samping, sebab ternyata ia bisa berbaring dengan sangat nyaman di sebelah Kayden yang jelas tertidur pulas.


Dalam kegelapan yang sunyi dan tenang, Gwen hanya bisa melihat bahu telanjang serta bayangan dada Kayden yang lebar karena selimutnya telah terdorong ke antara rusuk dan pinggangnya yang ramping, juga …kencang.


Gwen bisa merasakan napas Kayden di wajahnya, kehangatan yang memancar dari tubuh Kayden serta bobot lengan pria itu yang tersampir di lekuk pinggulnya. Dalam keremangan, Gwen bisa melihat otot yang berkembang dengan baik di warna kulit kuning langsat suaminya.


Setelah puas mengamati, Gwen seketika membulatkan matanya saat menyadari bahwa Kayden tidak mengenakan atasan piamanya. Ia mengernyit sambil berkata, “Berani-beraninya dia naik ke tempat tidur dan tidur di sebelahku dengan bertelanjang dada!” batinnya.


Detik berikutnya, entah mengapa tiba-tiba saja pandangan matanya turun ke bentuk tubuh panjang dan melengkung suaminya yang tersembunyi di balik selimut. Gwen menelan ludah dengan susah payah, setelah sebelumnya ia membasahi bibirnya. Wanita itu bertanya-tanya dalam benaknya, seperti apa bentuk tubuh suami tampannya ini?


Padahal, ia tidak pernah sekali pun membayangkan sosok Rainer tanpa busana. Tidak ada kontak fisik saat mereka berpacaran. Gwen juga tidak pernah merasakan dorongan nyaris tak terkendali untuk menyentuh kulit telanjang Rainer, seperti yang dirasakannya sekarang terhadap Kayden.


Gwen juga tidak pernah berbaring seperti ini bersama Rainer. Meskipun saat itu ia mencintai Rainer, Gwen tidak pernah membiarkan pria itu menyentuh tubuhnya sebelum ada ikatan perkawinan di antara mereka. Walau Rainer sempat sesekali mendesaknya dengan dalih penuh kata-kata seperti cinta, Gwen tetap pada pendiriannya. Kesuciannya hanya bisa dinikmati oleh suami sahnya nanti.


Tapi sekarang, setelah dipikir-pikir lagi, mau tidak mau Gwen bertanya-tanya apakah sebetulnya deklarasi cinta yang hampir tiap hari Rainer ucapkan adalah sebuah kebohongan belaka, hanya demi ingin menyentuh tubuh langsingnya?


Seberkas bayangan menggelapkan hatinya. Kesadaran penuh bahwa Rainer sebenarnya tidak sungguh-sungguh mencintainya, membuat hatinya semakin perih. Gwen akhirnya menyimpulkan, ternyata Rainer hanya menginginkan tubuhnya saja.


“Gwen?”


Seperti biasa, saat pikiran tentang Rainer menyiksa benaknya, suara berat dan serak milik Kayden selalu bisa menembus selubung awan tebal wanita itu. Gwen mendongak dengan mata berkaca-kaca ke wajah Kayden, menemukan suaminya terjaga serta mengamatinya dengan muram.


“Kau harus melupakannya,” kata Kayden serak. “Bukankah sudah ku katakan padamu, kau tidak pantas menangisinya karena setetes air matamu sangat berharga, Gwen.”


“Rainer ternyata tidak sungguh-sungguh mencintaiku, Kay …” gumam Gwen hampa. “Dia tidak menginginkan cinta tulusku. Rainer hanya ingin tubuhku,” tambahnya, mengungkapkan sebenarnya.


Kayden mendesah berat, manik hitamnya semakin menggelap bersama bayangannya sendiri. Lantas, lengan Kayden bergerak, mengencang di pinggang Gwen dan menariknya lebih dekat ke tubuh hangat serta keras miliknya.


Sepersekian detik, bibir Kayden memagut bibir istrinya dengan lembut. Sedang Gwen sendiri, ia tidak menarik diri dan tidak menegang oleh penolakan, bahkan nyaris tidak melakukan sesuatu selain membiarkan dirinya tenggelam dalam kenyamanan yang Kayden tawarkan.


Ciuman itu berlanjut, seperti campuran hangat dalam kegelapan, tempat kesenangan menutupi kesedihan. Gwen semakin mendekati suaminya, tangannya seketika meluncur naik, menyentuh lengan atas Kayden yang hangat dan kencang, lalu mengusap pelan bahunya.

__ADS_1


__ADS_2