
Gwen menurunkan pandangan, menekuri jemarinya yang berada di atas dada Kayden sementara pikirannya mencoba mencari tahu masalah tersembunyi di balik hal ini. Karena pasti ada masalah di baliknya, kan? Ia merasa semua ini terlalu indah untuk menjadi kenyataan dan itu menusuk titik sakit kecil lain yang selama ini sulit diabaikannya.
Dalam hati Gwen berharap, semoga kali ini ia tidak mudah tertipu. Tertipu oleh pesona palsu Rainer sebelumnya, tertipu sifat Kayden yang ternyata lebih agresif, dan tertipu oleh seperti malam ini. Kebutuhan untuk merasa diinginkan dengan semenggebu-gebu, sebergairah yang ditunjukkan Kayden padanya.
“Jangan berpikir apapun, Gwen.” Perkataan Kayden membuyarkan lamunan istrinya sehingga wanita itu sontak mendongak, matanya menatap lekat-lekat wajah Kayden.
“Kau hanya perlu percaya padaku sebab aku mencintaimu lebih dari aku mencintai diriku sendiri,” tuturnya pelan, tetapi tatapannya menghujam dalam hingga Gwen merasa tenang. “Aku ingin kau tahu bahwa aku sangat serius denganmu—terutama hubungan pernikahan kita.”
Gwen bergeming, entah berapa kali Kayden mengucapkan cinta padanya dalam satu malam ini. Namun, satu hal yang Gwen tahu, sorot mata suaminya begitu hangat—terdapat sebuah kejujuran yang dipancarkan kembali oleh manik hitam kesukaannya.
“Oke. Kalau begitu kita mulai dari nol,” Gwen memutuskan. “Kita bisa membangun apapun dari nol. Bahkan, menurut pendapatku,” dia menambahkan, “mungkin jauh lebih mudah memulai dari nol ….” Sejenak, ia terdiam. Kemudian, sambil menghela napas, dia menuntaskan. “Aku akan percaya padamu sepenuhnya,” ujarnya sehingga Kayden sontak tersenyum puas mendengar perkataan istrinya. Namun, detik berikutnya senyumnya langsung surut saat Gwen kembali berkata, “Tapi tidak jika aku melihatmu bersama wanita lain.”
“Ku pastikan itu tidak terjadi, Sayang,” tutur Kayden. “Kau boleh meninggalkanku jika melihatku bersama wanita lain,” tambahnya mencoba meyakinkan.
“Kay, kalau begitu kita bisa …” Gwen mencoba menarik napas dan bersiap melanjutkan kalimatnya. Akan tetapi, sebelum sempat mengeluarkan suara, Kayden membungkam bibirnya dengan ciuman—terasa panas saat mendesak bibirnya untuk terbuka.
Ketika Gwen mengangkat tangan supaya bisa membenamkan jemari di rambut Kayden dan menahan bibirnya, pria itu menangkap satu tangan istrinya, menautkan jemari mereka dan menyalurkan kehangatan satu sama lain.
Darahnya juga mendadak berdesir, terasa menggelitik di sekujur tubuhnya saat tangan Kayden kini beralih menelusuri perutnya yang datar, berusaha menyelinap masuk ke dalam balutan piyama yang ia kenakan.
Gwen menggeletar hebat. Bibirnya sejenak meninggalkan Kayden sehingga dia bisa melepaskan udara dari paru-parunya yang tegang dalam desiran nikmat. Dan setelah semua hal yang mereka lakukan selama beberapa hari terakhir ini, Gwen tak pernah begitu menyadari—keinginannya begitu besar agar Kayden berada di sisinya.
Kali ini, wanita itu begitu menikmati—tersesat di dalamya. Matanya terpejam, ekspresinya tegang oleh gairah Kayden yang membara. Ia merasakan ujung lidah suaminya yang merah muda serta lembut menyelinap di antara gigi putihnya. Selanjutnya, secara perlahan Gwen membuka kancing piyama suaminya satu persatu, kemudian menyentuh bahu kekarnya sebelum telapak tangannya berakhir menyentuh dada bidang Kayden.
__ADS_1
“Kay ….” Suara Gwen mendayu setelah sebelumnya melepaskan ciuman terlebih dahulu. Dan hal itu malah membangkitkan keinginan Kayden yang lainnya.
“Dasar penyihir,” gumam Kayden goyah. “Kau telah memantraiku.” Seulas senyuman yang mengait di bibir Kayden membuat Gwen tidak bisa menolak untuk melayani suaminya. Ciuman yang kembali Kayden benamkan di bibir istrinya, kini memulai percintaan di antara mereka.
***
Pelepasan gairah antar keduanya mengakhiri percintaan panas yang terjadi cukup lama. Rasanya Kayden dan Gwen tidak ingin menghentikan kegiatan panas tersebut, seolah takut jika mereka tidak akan pernah bisa merasakannya kembali. Gwen pun ingin sekali mengumpat kata-kata yang pantas untuk kenikmatan yang ia terima saat ini.
Selanjutnya, karena kelelahan dan mengantuk, kini Gwen mendahului Kayden untuk tidur lebih dulu. Sebuah ciuman mendarat di puncak kepala Gwen sesaat setelah tatapan mata Kayden memandangnya berlama-lama. Tangan pria itu mengusap-usap telapak tangan istrinya yang bertumpu pada dada bidangnya yang masih telanjang dan lembab akibat keringatnya yang sepenuhnya belum mengering.
Beberapa menit kemudian seakan mengingat sesuatu, Kayden perlahan memindahkan tangan Gwen supaya tidak membangunkan istrinya tersebut. Ia bermaksud hendak turun meninggalkan tempat tidur. Akan tetapi, Gwen semakin mempererat pelukannya, seolah takut jika pria itu pergi meninggalkannya.
“Don’t leave me alone, Kay ...” Rancauan itu lolos dengan samar dari bibir Gwen. Lantas, Kayden mencoba meregangkan pelukan tangan Gwen dari tubuhnya. Namun, kedua mata wanita itu seketika terbuka.
“Mau ke mana?” tanya Gwen dengan suara parau.
“Ini sudah malam, Kay.” Tatapan mata Gwen begitu sendu serta penuh larangan—berharap suaminya itu tetap berada di sampingnya. Dan, seakan memiliki senjata baru, ia mulai merayu sang suami dengan ciuman lembut yang diselingi dengan, “Kumohon … Jangan pergi.” Ujung jemarinya membelai rambut Kayden dengan sensual, membuat pria itu semakin kembali bergairah sehingga mengurungkan niatnya untuk meninggalkan tempat tidur.
“Astaga …” kata Kayden sedikit frustrasi. “Dasar penyihir cantikku,” tambahnya hingga membuat Gwen tertawa penuh kemenangan.
Inilah dia, tindakan ketika merayu sang suami hingga jantung Kayden berdebar-debar oleh gairah—membuat kulit pria itu terbakar di bawah sentuhan lembutnya.
“Kay …” Gwen memanggil pelan namanya. Matanya yang tampak terbuka membuat tatapan Kayden terpaku padanya.
__ADS_1
“Hem?” Kayden menyahut sambil mengalihkan beberapa sulur anak rambut yang menutupi wajah Gwen. Kini, ia bisa lebih leluasa memandangi wajah cantik bercampur lelah istrinya.
“Aku rindu paman dan bibiku …” lirihnya.
“Kau bisa menghubungi mereka besok, Sayang.”
Gwen tersenyum sebelum ia berkata, “Tapi aku juga rindu kembali ke Indonesia.”
Kayden mengerutkan dahinya, sedikit ragu dengan keinginan istrinya yang satu itu. “Kau sudah siap kembali ke sana?”
“He em,” jawab Gwen sembari mengangguk.
“Kau yakin?”
“Sangat yakin, Kay ...”
“Oke, jika itu yang kau mau.” Kayden memutuskan sehingga bola mata Gwen berbinar kesenangan. “Tapi tunggulah beberapa hari lagi karena aku harus menyelesaikan sebagian pekerjaanku di sini. Setelah itu, kita berdua bisa kembali ke Indonesia.”
Gwen kembali mengangguk sebagai jawaban yang diselipi seulas senyuman. Hatinya sungguh berbunga-bunga malam ini.
“Tidurlah.” Kayden membenamkan kepala Gwen di dadanya yang masih telanjang dan sedikit lembab. Sebelum kemudian, ia meninggalkan ciuman di puncak kepala wanita itu serta membalutkan selimut di tubuh polosnya.
***
__ADS_1
Jadi, keesokan harinya setelah Gwen puas melepas rindu dengan menghubungi paman dan bibinya, ia lalu mengupayakan hubungan romantis bersama suaminya selama sisa enam hari mereka di London, dan minggu-minggu berikutnya ketika mereka kembali ke Indonesia.
Pernikahan mereka pun berjalan sangat baik karena dibantu oleh dorongan keinginan keduanya untuk menghabiskan sebagian besar waktu berdua saja. Hal itu berarti tidak ada pengaruh luar biasa yang bisa merusaknya. Hubungan tersebut benar-benar mereka perjuangkan sebelum sesuatu atau seseorang yang mungkin datang dan menghancurkannya.