Menyentuh Hatimu

Menyentuh Hatimu
Fakta Terbesar


__ADS_3

Gwen terduduk muram. Pandangannya yang kosong, terpaku pada lantai marmer ruangan itu. Ia tidak mengetahui bahwa hari ini adalah ulang tahun suaminya. Dalam hati, dia merutuki kebodohannya karena sikapnya yang tidak dewasa dalam menyikapi kesalah pahaman yang sempat terjadi antara dirinya dan Kayden.


Seharusnya, ia tidak pergi meninggalkan suaminya. Seharusnya, dia menunggu Kayden pulang ke rumah dan meminta penjelasannya terlebih dahulu. Akan tetapi, Gwen tidak melakukannya sebab kecemburuan sudah menyelimuti dirinya.


Sekarang, ia menyesal. Sambil mengambil napas dalam-dalam, ia harus berpikir keras agar menemukan cara terbaik untuk meminta maaf kepada Kayden.


“Sejak Kayden jatuh hati kepadamu, dia melarang Ava untuk tidak lagi datang ke kantor, dan lebih memilih bertemu dengannya di luar jika sekedar hanya merayakan hari ulang tahunnya.” Rainer mencoba menjelaskan sementara Gwen tersentak mengangkat kepalanya. “Kau tahu, Gwen? Kayden melakukan itu semua hanya semata-mata agar kau tidak salah paham kepadanya. Dia tidak ingin kau mendengar gosip murahan tentang dirinya akibat semua karyawan yang membicarakan hubungannya dengan Ava.”


“Tapi kau kan bisa membantu Kayden meluruskan gosip itu?”


Rainer tersenyum sinis. “Untuk apa? Biarkan saja mereka mencari tahu sendiri. Lagi pula, sekarang mereka mengetahui siapa yang menjadi nyonya besar Kim sebenarnya.”


“Kau egois, Rai,” sembur Gwen marah. “Kau hanya mementingkan dirimu sendiri.”


Rainer tetawa keras sebelum berkata, “Aku egois sebelumnya karena ayahku sendirilah yang menciptakan Rainer Kim seperti ini. Kau tidak tahu bagaimana rasanya seorang anak tiri yang diasingkan dalam keluarga ayahnya.”


“Tapi—”


“Aku muak mendengar semua orang mengagumi Kayden. Aku juga muak mendengar nama Kayden yang selalu dibanggakan ayahku dan keluarganya,” seru Rainer. “Dan bodohnya aku sangat terlambat saat menyadari bahwa Kayden lah yang ternyata memberiku kasih sayang seorang kakak sekaligus ayah sebagai gantinya. Dia melindungiku seperti melindungi Ava. Kayden selalu melindungi adik-adiknya,” ujarnya parau.


Sekali lagi, Gwen terenyuh mendengar kisah pilu Rainer. Di balik sikap egoisnya, mendiang ayahnya lah yang menyebabkannya karena membedakan kasih sayangnya kepada anak-anaknya.


“Lalu, bagaimana hubungan Kayden dan Valerie? Bukankah mereka akan menikah?” Gwen bertanya untuk mengganti topik pembicaraan. Menurutnya, ia tidak perlu lagi mendengar kisah tragis Rainer Kim.

__ADS_1


“Valerie?” Rainer sedikit menegang. “Valerie sudah melupakannya sekarang,” katanya. “Itu cuma cinta monyet konyol terhadap Kayden,” dia menjelaskan. “Dan sebelumnya Kayden memang sering menyampaikan padaku, tetapi aku tak sudi mendengarnya,” tambahnya. “Tapi rasanya sungguh menyakitkan, jika Valerie akan berpaling dariku kepada Kayden. Dan kurasa pada akhirnya, Kayden pastilah cukup kasar saat menyadarkan Valerie sewaktu wanita itu terlanjur berbohong kepada wartawan, bahwa Kayden akan menikahinya. Tapi,” Rainer menghela napas, “waktu itu aku tidak ingin berurusan dengannya lagi. Jadi, Valerie pergi ke rumah ibunya di paris, dan kami tidak bertemu lagi sampai Kayden menyeretnya ke sini ketika menayadari apa yang sedang ku coba lakukan padamu.”


Rahang Gwen mengeras, ia tidak terima dengan perlakuan Rainer. “Katakan, Rai,” tanyanya pelan, “saat itu, apakah kau akan tetap menikahiku jika Valerie tidak kembali?”


Bahu Rainer terkulai dalam balutan jaket kulit cokelatnya, dan kepalanya sedikit tertunduk. “Aku tidak membatalkan pernikahan kita demi Valerie,” katanya. “aku melakukannya karena Kayden datang kepadaku, memohon agar aku tidak menikah denganmu.”


“Astaga … yang benar saja, Rai!” tuduh Gwen marah. “Kau sudah mengatur pernikahanmu dengan Valerie pada hari yang sama kau seharusnya menikahiku!”


Kepala Rainer tersentak, rona bersalah merambati tulang pipinya. “Aku bermaksud meninggalkan Valerie di altar, bukan kau, Gwen ….”


Dan Rainer menerima raut wajah Gwen yang terkejut dengan ringisan penuh celaan terhadap diri sendiri.


“Aku memang akan menikahimu,” Rainer mengakui, “jika Kayden tidak mendatangiku pagi itu dengan wajah putus asa dan begitu terluka sampai-sampai aku ….” Dia berhenti sejenak untuk menelan ludah, kemudian sambil menghela napas tegang melanjutkan, “Kau tahu, Gwen. Kayden mengungkapkan seluruh isi hatinya sambil berlutut kepadaku, memohon agar aku melepaskanmu,” katanya serak. “Dan aku tidak pernah merasa begitu hina seumur hidupku yang terkutuk karena memaksa kakakku melakukan itu.”


Gwen lagi-lagi dibuat terkejut oleh penjelasan Rainer. Suaranya serasa tertahan di tenggorokannya. Dadanya kian menyesak seakan tidak ada udara yang melingkupi paru-parunya hingga dirinya kesulitan untuk berkata.


“Dia sudah mendapatkannya, Rai …” lirih Gwen.


***


Butuh waktu lama bagi Gwen untuk menemukan Kayden karena pria itu tidak berada di lantai bawah, meskipun dia sudah memeriksa ruangan-ruangan di sana satu per satu. Akhirnya Gwen mencarinya di lantai atas, di kamar pribadi mereka dan menemukan Kayden tertidur di kursi balkon.


Kayden tampak baru selesai mandi karena Gwen melihat rambut hitamnya yang masih basah, dan tidak mengenakan apa pun selain jubah mandi putih. Kelelahan, Gwen teringat Kayden mengatakan sebelumnya. Seketika ia merasakan jantungnya berdebar oleh rasa simpati sebab sang suami sampai-sampai tidak merasakan kesakitan yang tertidur di kursi rotan.

__ADS_1


Berhati-hati agar tidak membangunkannya, Gwen berdiri sambil bersandar pada pagar balkon. Wanita itu berdiri tepat dihadapan Kayden, meluangkan waktu sejenak untuk mereguk pemandangan pria itu dengan penuh cinta sementara Kayden mustahil tahu ia melakukannya.


Pria ini sangat mencintainya, batin Gwen. Pria ini sampai mendatangi adiknya sendiri dan memohon agar sang adik melepaskan Gwen sehingga adiknya membatalkan pernikahannya. Pria ini begitu mencintainya dengan caranya sendiri sampai-sampai dia mengambil alih Gwen, menikahinya agar Kayden bisa memilikinya untuk mempertahankannya.


Kayden membungkus Gwen dalam kemewahan, menyelubungkannya dalam kehangatan kasih sayang dari pria itu. Kayden berjuang untuknya, mempermalukan diri sendiri demi Gwen di mata teman-temannya. Dan akhirnya hal yang terindah dari semuanya, Kayden telah mempertaruhkan harga dirinya untuk kedua kali dengan membiarkan Rainer mengungkapkan kebenaran kepada Gwen.


Kebenaran? Gwen memeluk tubuhnya sendiri sehingga ia bisa memeluk kebenaran berharga itu erat-erat. Sebuah kebenaran yang pantas mendapat kebenaran juga sebagai balasan, Gwen memutuskan ketika berdiri di sana dan hanya memandangi suaminya.


Dan mendadak Gwen teringat kali terakhir ia menemukan Kayden terduduk di kursi seperti ini. Hanya saja saat itu sang suami belum tidur, sekedar bersantai ditemani secangkir cappuccino kesukaannya.


Hal tersebut membuat Gwen tersenyum karena ia masih bisa mendengar gema tawa menggodanya sendiri saat melenggang dari kamar tanpa mengenakan apa-apa selain kemeja Kayden yang longgar ditubuhnya.


Dengan rambutnya yang acak-acakan karena perbuatan suaminya yang melahapnya malam itu, ekspresi kepuasan maskulin murni terpampang pada wajah Kayden yang keras dan tampan.


“Kau tampak berantakan, Sayang,” kata Kayden sambil terkekeh.


“Salahkan saja dirimu, Kay. Kau yang membuatku seperti ini,” Gwen menyahut sambil mengerucutkan bibirnya sehingga membuat Kayden gemas dibuatnya.


Hal indah itu terjadi seminggu yang lalu. Namun, Gwen masih bisa merasakan dari setiap sentuhan Kayden saat menarik pinggulnya lebih dekat. Sekali lagi, Gwen merasakan kehangatan tubuh Kayden yang memeluknya, seakan berusaha memberi seluruh dirinya kepada Gwen.


***


Hai, Readers ...

__ADS_1


Tinggal satu bab lagi Dhi akan menamatkan kisah Kayden Gwen. Oleh sebab itu, komentar kalian sangat diperlukan di bab ini.


Terima kasih ya ...😊😉🙏


__ADS_2