
Setelah Gwen kembali ke Indonesia satu minggu yang lalu dan ia sudah rindu dengan sahabat baiknya, akhirnya Gwen menghubungi Lusia untuk bertemu dengannya di sebuah resto favorit mereka sebelumnya.
Mereka pun melepas kerinduan masing-masing dan bertanya kabar satu sama lain. Namun, sebuah pertanyaan yang lolos dari bibir tipis Lusia sontak membuat Gwen bingung menjelaskannya.
“Jadi, bagaimana?” desak Lusia sembari menyesap secangkir teh madu hangat yang sebelumnya telah di pesan. “Kau mencintainya atau tidak?” Lusia yang mengenakan setelan celana panjang berwarna cokelat bergaya kasual dan tampak mahal, mengangkat sebelah alisnya—tatapannya penuh menyelidik saat memandang wajah sahabatnya yang duduk di depannya.
Gwen sejenak terdiam, tetapi pandangan matanya mengamati pelanggan yang sedang makan siang dan berada di sekitarnya sementara ia menuntaskan cara terbaik untuk menjawab.
“Sekarang, kau terlihat aneh dan berbeda, Gwen,” ujar Lusia. Sebenarnya, ia akan mengatakan bahwa dirinya tidak tahu siapa Gwen Sandrian Decker lagi, karena Mrs. Kim adalah orang yang sama sekali berbeda.
Memang benar adanya, setelah dua minggu di London dan selama berminggu-minggu itulah Gwen Kim tercipta—dibentuk oleh tangan-tangan pintar agar sesuai dengan pria yang sekarang dinikahinya. Dalam artian mulai dari pakaian, caranya membawa diri, cara memandang kehidupan, bahkan cara memandang dirinya telah sepenuhnya berubah.
Akan tetapi, bahwasannya yang terpenting dari semua itu adalah lenyapnya makhluk berwajah tegang, pandangan mata kosong, dan tampak tersesat sehingga membuat Lusia khawatir pada kali terakhir dia melihat Gwen.
Sekarang, sebagai gantinya ia malahan melihat Gwen yang duduknya semakin anggun dengan dress casualnya bermotif bunga-bunga—mengesankan kemewahan dan elegan. Meskipun, riasan wajah Gwen terlihat sederhana, tetapi ia tampak seksi dan memikat. Dan hal itu membuat radar kaum lelaki menyala dibuatnya.
Singkatnya, Gwen begitu istimewa. Dan ia milik seseorang yang istimewa, jika menilai dari cara mata seksi itu nyaris tidak memperhatikan lelaki lain. Siapa pun lelaki itu pasti mereka akan iri padanya, bahkan mereka barangkali tinggal di resto tersebut lebih lama dengan harapan bisa sekilas melihat orang yang cukup beruntung untuk memiliki wanita ini.
“Apakah jawabannya sesulit itu?” Lusia mengejek datar ketika keheningan di antara mereka merentang terlalu lama.
“Ya, sebenarnya …” gumam Gwen sambil memfokuskan pandangannya dengan senyuman yang sangat misterius sampai-sampai nyaris membuat Lusia terkesiap. “Sesulit itu.”
__ADS_1
“Katamu kau mencintainya,” Lusia mengingatkan. “Setelah pernikahan tak terdugamu terjadi, kau bersumpah padaku bahwa kau mencintainya.”
“Argh …” Gwen mengerang saat bersandar ke kursi seraya mengangkat segelas jus jeruk. “Entahlah, Lus,” katanya dengan sedih. “Tapi waktu itu kami berpura-pura semua berjalan sempurna karena itu satu-satunya cara kami menghadapi kisah sedih sesungguhnya.”
“Dan sekarang?” tanya Lusia sambil mengernyit. Ia tidak buta ketika melihat kesadaran sensual baru bersinar di mata berkilauan Gwen—ia juga dapat merasakannya.
“Kisah sedihnya bukan lagi kisah sedih,” jawab Gwen sederhana. “Aku dan Kayden, kami saling memahamai satu sama lain.” Menurut dia, itu penjelasan terbaik. “Kami bahagia.” Di dunia kecil kami sendiri, selama tidak orang lain yang menyusupinya, tambahnya diam-diam.
“Well … kelihatannya seperti itu. Kalian bahagia dengan banyak hal,” dengus Lusia, tidak puas dengan jawaban sahabatnya. Sebelumnya ia memang tidak merasa nyaman dengan hubungan sahabatnya itu bersama Rainer, apalagi si kakak yang lebih keras dan jauh menakutkan.
“Ada apa, Lusia?” tanya Gwen ceria. “Bukankah … menurutmu aku seharusnya bahagia?”
“Mana aku tahu kalau kau tidak memberitahuku apa pun?” Lusia menghela napas putus asa.
Jelas-jelas itu pengelakan, dan Lusia juga menyadarinya. Akan tetapi, ia tetap berkeras menyampaikan pendapat. “Yah, seharusnya kau berhati-hati jika tidak ingin hatimu tersakiti kembali,” dia meramalkan.
Tapi setelah hanya menerima senyuman misterius menyebalkan sebagai balasan, Lusia membiarakan pembicaraan dialihkan ke topik yang tidak terlalu menggemparkan tentang pertunangannya sendiri yang dijadwalkan berlangsung seminggu lagi.
Dan mungkin seharusnya Gwen mendengarkan peringatan terakhir sahabatnya. Namun, bagaimanapun ia tetap bahagia. Dan ketika bahagia, kau tidak ingin merusak segalanya dengan membayangkan pikiran-pikiran tidak bahagia, bukan?
“Lus,” panggil Gwen. “Aku sudah putuskan tidak kembali bekerja di perusahaan Kayden lagi," ungkapnya, setelah sesaat Lusia menjelaskan sebagian rencana pertunangannya.
__ADS_1
Lusia membelalakkan matanya karena terkejut. “Mulai kapan?”
“Lima hari yang lalu setelah kepulanganku ke Indonesia.”
“Secepat itu?" protes Lusia. "Mengapa kau berhenti, Gwen?” tanyanya penasaran. “Kau sudah menjadi Nyonya Kim. Jadi seharusnya tidak ada masalah jika kau kembali bekerja di perusahaan suamimu sendiri, bukan?”
“Memang itu tak masalah, Lusia …” terang Gwen. “Tapi aku merasa reputasi Kayden akan rusak jika istrinya masih bekerja sebagai sekertarisnya,” ungkapnya. “Dan aku bukan wanita bodoh, apabila orang-orang yang bekerja bersamaku sebelumya pasti tidak akan nyaman saat berada di dekatku sekarang.”
“Karena kau menjadi istri pemimpin mereka,” timpal Lusia.
Gwen menghela napas lelah sebelum berkata, “Ya, kau benar.”
Wanita itu menyadari bahwa suaminya tersebut memang bukan tipe pria yang ambil pusing apakah dirinya disukai atau tidak. Dia adalah pria yang berada di puncak dan dikagumi orang lain. Seorang pria yang mengambil keputusan besar dengan merekrut bahkan memecat, mempromosikan karier atau menghancurkan mereka jika merasa ingin. Sangat berbanding terbalik dengan sang adik tiri, Rainer, yang lebih senang disukai, selalu melontarkan lelucon ringan dan senyum riang yang membantu orang di sekitarnya merasa nyaman.
Tiba-tiba Gwen tak bisa membayangkan apabila Kayden memasuki ruangannya dan terang-terangan duduk di sudut mejanya, mengajaknya mengobrol ringan seperti yang biasa dilakukan Rainer dulu sehingga tidak membuat orang lain mengedipkan sebelah mata sekali pun.
Dengan kata lain, Kayden pria yang harus dikagumi—bukan orang yang kehadirannya membuat nyaman. Karena itu, tak seorang pun akan merasa nyaman jika Gwen bekerja di antara mereka lagi—yang ditakutkan adalah pasti Gwen akan tahu serta mendengarkan percakapan mereka, mendengarkan keluh kesah mereka, dan mungkin melaporkannya ke pada suaminya. Meskipun, Gwen tidak ada niatan untuk mengadukannya, ia merasa seperti mata-mata di tengah mereka.
Lebih dari apa pun itu, sebenarnya Gwen tidak menyukai menghadapi asumsi-asumsi para pegawai perusahaan Kim tentang peristiwa ganjil pernikahannya. Jadi, pada akhirnya keputusan untuk tidak kembali bekerja di sanalah amatlah mudah. Dan Kayden sendiri tidak berusaha mengubah pikirannya, berarti dia pun tidak menyukai gagasan istrinya bekerja untuknya lagi.
Namun, ia juga tidak siap diam saja di rumah seperti boneka manja tanpa apa pun yang bisa dilakukan selain mengisi hari-hari dengan membuat dirinya diinginkan ketika sang suami pulang kerja setiap malam. Oleh sebab itu, ia menyetujui gagasan suaminya untuk membuka perusahaan sendiri di bidang perjalanan wisata dengan dua karyawan. Tentu, suami tampannya itulah yang berbaik hati memodalinya sebagai langkah awal.
__ADS_1
Selama beberapa hari ini Gwen begitu menikmati dan sangat nyaman dengan pekerjaan barunya itu. Ia merasa tidak harus berada di satu tempat cukup lama sehingga siapa pun tak akan penasaran dan mulai mengajukan pertanyaan tentang kehidupan pribadinya.