
“Sangat bagus,” gumam suara berat parau dari belakang Gwen, sehingga pandangan wanita itu yang waspada tersentak ke atas dan berserobok dengan Kayden di cermin.
“Aku—” Hanya itu yang bisa dilontarkan Gwen. Ia mendadak kehabisan napas dan membisu karena sosok menjulang Kayden. Dada bidang suaminya yang lebar seakan memberikan daya tarik kuat pada wajah rupawannya yang tangguh dan agresif.
Sorot mata Kayden begitu tajam saat membalas tatapan Gwen dari atas kepala istrinya itu.
Dan dengan susah payah, Gwen menyeret pandangannya kembali ke pantulannya di cermin. “Gaun ini berlebihan,” keluhnya. “Terlalu mewah.”
“Gaunnya sangat sempurna.” Suara berat Kayden membuat ujung-ujung saraf Gwen menggelenyar, “Kau sungguh terlihat cantik mengenakan gaun itu, Gwen.” Terlihat seulas senyum tipis kepuasan dari bibirnya. “Aku tidak salah menyuruh Alberto mendesain gaunmu,” tambahnya sembari melangkahkan kakinya untuk berdiri di hadapan istrinya.
“Astaga, Tuhan …” Gwen sontak terkejut dan jantungnya tiba-tiba berdesir. Bukan karena perkataan Kayden yang menyuruh desainer pribadinya untuk mendesain gaunnya, tetapi ia terpesona dengan penampilan suaminya sendiri.
Kayden yang telah mengenakan pakaian serba hitam seperti dirinya—setelan jas hitam dengan dasi kupu-kupu hitam ramping yang diikat rapi di kerah kemeja seputih salju, sehingga kemeja itu telah gagal menyembunyikan tonjolan daging padat di baliknya. Aroma Kayden pun juga berbeda—hangat, sensual dan sangat memikat hingga Gwen mendadak mendapati dirinya diliputi sensasi maskulinitas suaminya.
Tetapi tidak, wanita itu meyakinkan dirinya bahwa ia tidak bisa secepat ini jatuh cinta kepada pria tersebut. Semakin Kayden memberikan perhatian khusus kepada dirinya terlepas dari sikap pemaksanya, sikap manis itu akan semakin menjerat Gwen untuk menyerahkan hatinya kepada Kayden.
“Kenapa?” Kayden bertanya sambil mengernyit.
“Ti-tidak. Tidak ada apa-apa.” Gwen seolah kesulitan mengatakan sesuatu karena aura Kayden yang terlalu mendominasi.
“Gwen?” Kayden mendesaknya saat melihat secuil kebohongan di mata istrinya.
Gwen bergidik, merasa mual hingga terpaksa menatap Kayden karena selama seharian ini ia telah dikondisikan untuk menanggapi nada khusus dalam suara pria itu. Namun, detik kemudian matanya seolah mengungkapkan penderitaan dan tiba-tiba saja bibir lembutnya bergetar memohon.
“Kumohon, Kay,” bisiknya, “hentikan semua perhatianmu padaku.”
Kayden mengernyit terkejut. Perkataan Gwen sangat menyinggungnya. “Kenapa tidak? Kau adalah istriku. Jadi wajar saja kalau aku memberikan perhatianku sepenuhnya kepadamu.”
“Benar,” Gwen mengakui. “Aku memang benar istrimu. Tapi …” Ia menarik napas yang sesak sehingga tubuhnya gemetar hebat. “Tapi itu tidak ada artinya, bukan?” semburnya penuh kesedihan, matanya meminta permohonan kepada Kayden untuk memahami apa yang sedang ia coba sampaikan. “Aku tidak ingin menyakitimu terlalu dalam, Kay. Aku bingung dengan perasaanku sendiri,” jedanya. “Kita menikah bukan karena cinta, tetapi kau terpaksa menikahiku. Dan kau berhak bahagia dengan wanita yang kau cintai.”
Sesaat, Kayden tidak mengatakan apa-apa. Ia hanya menatap sorot menderita di mata Gwen ketika emosi yang mencengkramnya seolah membuat rusuknya nyeri karena tegang.
__ADS_1
Lantas, dengan kejam Kayden berkata, “Kau ingin kita berpisah, Gwen?” Seketika rahangnya mengeras. “Sedang diriku terlampau bahagia dengan istri tercintaku yang menurutnya kunikahi dengan terpaksa. Aku sangat mencintaimu, Gwen Sandriana Decker.”
Seketika wanita itu tersentak dengan penuturan Kayden. Bibirnya mengatup rapat karena suaranya seperti tercekat ditenggorokan.
“Katakan padaku, Gwen?” pinta Kayden putus asa. “Apa yang harus aku lakukan untuk meyakinkan hatimu agar ada sedikit saja namaku di sana? Katakan padaku, Gwen?” Ia menghela napas panjang sebelum melanjutkan kalimatnya, “bagaimana caranya agar nama Rainer sepenuhnya terhapus dari pikiranmu terutama hatimu?” Sambil menggertakkan giginya, manik hitamnya menyorot tajam bola mata cokelat kehitaman milik Gwen. “Aku benci melihatmu saat kau melamunkannya.”
Gwen memejamkan mata, kebenaran dari perkataan keji itu mengenainya hingga membuat dadanya sesak dan ia nyaris terhuyung.
Seolah tak ada jawaban, Kayden kembali bertanya dengan perasaan menggebu sebab ia terlampau penasaran terhadap jawaban dari bibir tipis istrinya. “Katakan sejujurnya padaku, Gwen? Apa kau ingin kita berpisah? Atau apa kau sangat membenciku karena sikapku yang menurutmu otoriter? Begitu menjijikkan kah, diriku dimatamu?”
Selama beberapa detik Gwen masih mengatupkan bibirnya. Akan tetapi, bola matanya memandang manik hitam keputusasaan milik suaminya.
“Jawab aku, Gwen?” sentak Kayden karena tak sabaran.
“Aku …” Gwen menarik napas panjang. “Aku tidak ingin kita berpisah, Kay,” jawabnya parau dan sedikit sesak. “Walau kadang aku membencimu dengan sikapmu, tapi entah kenapa ketika aku melihat bola mata hitammu, aku tidak bisa terlalu membenci keberadaanmu di sampingku.”
Jantung Kayden berdebar, tangannya keringat dingin dan ia sontak menelan ludah dengan susah payah. “Ja-jadi, artinya—”
“Kau …” Kayden tidak bisa melanjutkan kalimatnya seakan suaranya tercekat ditenggorokan. Ia terlampau bahagia hingga mengedipkan mata berkali-kali seolah tidak percaya dengan pernyataan Gwen yang barusan didengarnya. “Kau tidak bercanda, kan? Kau tidak bohong, kan, Gwen? Kau benar-benar tidak ingin kita berpisah dan memberiku kesempatan untuk meyakinkan hatimu, kan?”
Gwen tersenyum tipis dengan pertanyaan Kayden yang beruntun. “Ya, Kay. Yakinkan hatiku agar aku bisa membalas cintamu.” Detik kemudian, bola matanya kembali menyorot tajam manik hitam milik Kayden. “Aku tidak ingin ada penghianatan yang berikutnya. Dan jika itu terjadi, aku pastikan aku akan pergi dari pandanganmu dan kita berpisah.”
“Tidak akan!” jawab Kayden dengan tegas.
“Aku tidak akan membiarkanmu pergi dari pandanganku dan tidak terbesit sedikitpun pemikiran akan menghianatimu karena aku sangat mencintaimu,” ujarnya sunguh-sungguh. “Percayalah padaku.”
Gwen menyeringai tipis. “Rainer dulu juga pernah berkata begitu.” Ia sedikit menjilat bibir yang tak terlalu kering. “Dan sekarang aku tidak membutuhkan kalimat itu terlontar dari bibirmu, Kay,” tambahnya. “Cinta tak harus memiliki,” jedanya. “dan mencintai bukanlah menguasai. Aku ingin melihatmu bahwa kau mencintaiku dengan caramu sendiri.”
Kayden mengangguk tegas. “Oke. Lihatlah nanti bagaimana caraku mencintaimu.”
***
__ADS_1
Setelah satu setengah jam yang lalu ketika kejadian di kamar suite tersebut—ungkapan isi hati sepasang suami istri yang menikah tanpa rencana dan tak terduga, Kayden dan Gwen saat ini berada di restoran terkenal London.
Satu ronde dengan durasi empat puluh lima menit yang begitu melelahkan karena penuh ucapan selamat yang hangat serta senyuman terima kasih, dan lebih buruk lagi tatapan ingin tahu yang menjelaskan bahwa semua relasi Kayden tahu, bahwa pimpinan tertinggi Kim Corporation menikahi mantan mempelai adiknya.
Namun, di atas semua itu sejak pertemuan mereka bertemu di ruang masuk elegan restoran tersebut, Gwen tahu bahwa ia sebenarnya tidak pantas ataupun sederajat dengan orang-orang ini.
Di ruangan VIP itu ada enam pasangan termasuk mereka sendiri. Bukan orang setempat, melainkan orang korea. Semua setipe dengan Kayden, membuat Gwen merasa seperti penonton kebingungan yang berdiri di pinggir percakapan seru mereka.
Para prianya adalah pengusaha lihai dan cerdas, dikelilingi aura berkuasa saat terlihat bersama pasangan masing-masing. Pasangan para pria sukses tersebut adalah wanita-wanita cantik dan glamour dengan gaya nyentriknya—senyum manis hingga mata tajam yang mengamati kejadian-kejadian di dekatnya.
Tak heran Kayden ingin Gwen tampil cantik dan mempesona. Di samping wanita-wanita ini pastilah Gwen terlihat sangat muda dan … canggung. Namun, bukan berarti mereka meremehkan Gwen.
Justru mereka malah berusaha keras membuatnya merasa menjadi bagian dari mereka. Terlihat jelas senyum mereka yang hangat dan tulus, begitu pula pertanyaan yang mereka lontarkan untuk menarik Gwen ke dalam lingkaran high class mereka. Tetapi Gwen terlihat kikuk, tidak percaya diri dan malu untuk merespons dengan mudah sebab ia belum terbiasa.
Begitu pula senyum hangat yang terus diarahkan Kayden kepadanya, ketika minuman pertama mereka tiba dan semua orang mengangkat gelas untuk bersulang memberi selamat kepada Kayden dan Gwen. Dengan sekali hentakan, pria itu menarik Gwen agar berdiri tepat di depannya, mengunci tatapan malu-malu istrinya dengan sorot intim gelap yang membuat indra-indra Gwen menggelegar.
Pada saat mereka mendentingkan gelas masing-masing, Kayden tiba-tiba saja menunduk kemudian mencium bibir tipis milik Gwen.
Gwen sontak membelalakkan matanya. Sensasi dari bibir merah Kayden begitu hangat dan lembut pada bibirnya. Ia pun bertanya-tanya dalam keterkejutannya, apakah Kayden bersandiwara lagi? Atau apakah ini merupakan bukti salah satu cara Kayden mencintainya? Dan ya, Kayden telah berhasil membuatnya resah dan bingung oleh ledakan kesenangan yang Gwen alami yaitu ciuman pertamanya bersama sang suami.
****
Hai, Readers setiaku ataupun silent Readers 😁
Maafkan bila up lama ya … tapi akan tetap thor update terus meski lelet 😁
Semangat dan mood menulis author kembali bila tahu ada yang menanti kisah Kayden Gwen selanjutnya. Tapi kadang juga, kehidupan real life minta diprioritaskan terlebih dahulu. Semoga kalian memahami ya…😊😉
Oya, thor juga ngucapin Selamat Hari Raya Idul Fitri 1442H, mohon maaf lahir & batin ya…😊🙏
Terimakasih...
__ADS_1
Dian Dhi