Menyentuh Hatimu

Menyentuh Hatimu
Kecemburuan


__ADS_3

“Ayo,” kata Kayden meraih tangan Gwen ketika wanita itu berhenti, karena harus berjuang menyeret udara yang dingin hingga menusuk ke pori-pori kulit. “Ada limusin menunggu kita. Ayo masuk sebelum kita membeku.”


Selang beberapa menit begitu mereka masuk ke dalam mobil, kendaraan mewah itu akhirnya melaju dengan mulus. Gwen membiarkan kepalanya terkulai ke sandaran kulit yang kembut. Ia begitu terlihat sangat lelah setelah perjalanan berbelas jam. Sementara Kayden sendiri, dia tampak terlihat masih segar seperti biasanya.


“Jam berapa sekarang?” tanya Gwen, benar-benar mengalami gejolak tidak enak pada perutnya.


“Hampir pagi,” jawab Kayden. “Kira-kira jam enam pagi waktu setempat,” dia menjelaskan saat menangkap ekspresi Gwen yang sangat keletihan hingga matanya sulit fokus.


Sepanjang perjalanan, mobil limusin yang membawa mereka tampak berjalan dengan lancar, tetapi tak ada obrolan apapun di antara suami istri tersebut. Kayden yang melihat Gwen sudah sangat kelelahan, ia memerintahkan sopir menambah kecepatannya agar sampai di tempat tujuan.


Satu setengah jam pun berlalu. Mobil yang membawa mereka akhirnya berhenti di luar tempat yang anggun dengan pintu masuk berupa beranda berpilar besar. Sementara petugas berseragam putih menunggu untuk membukakan pintu mobil bagi mereka.


“Selamat datang, Mr. Kim, Mrs. Kim,” kata seorang pemuda berseragam cokelat tua, sehingga membuat Gwen terkejut karena pemuda itu membungkuk dan mengetahui identitas mereka. Dan Kayden, dia malah terlihat biasa saja serta tidak terkejut sama sekali.


“Istriku kelelahan, Josh,” kata Kayden dengan gaya tidak formal khas seseorang yang sering berkunjung kemari. “Apakah kami mendapat suite room yang biasanya?”


“Ya, Sir.” Dengan jentikan jemari, Josh menyuruh dua pelayan berseragam putih untuk mengambilkan bawaan mereka dari bagasi limusin. “Mari ikut saya, kita akan membereskan segala formalitasnya.” Dengan langkah ringan dan lincah, Josh berjalan di depan mereka.


Gwen agak takjub dengan pelayanan istimewa yang mereka terima saat mengikuti tanpa suara. Kayden sendiri dengan posesif memegangi lengan istrinya, tetapi wanita itu membiarkan suaminya melakukannya.


Gwen tahu, Kayden adalah orang penting. Lagi pula, suaminya itu pimpinan tinggi Kim Corporation yang hebat. Jadi, selihai mungkin Gwen harus memerankan perannya sebagai seorang istri Kayden Kim yang bahagia.


Setelah chek in hotel mewah tersebut yang hanya membutuhkan beberapa detik, Josh mengantar mereka menuju lift. Dengan sopan dia mempersilahkan masuk lebih dulu sebelum menyusul di belakang dan mengatur lift agar bergerak.


Gwen sangat lelah sampai-sampai nyaris ambruk. Dan, saat Kayden merangkul bahunya agar bersandar padanya, tentu saja Gwen tidak repot-repot melawan karena ia butuh membiarkan pria itu menopang sebagai bobotnya.

__ADS_1


“Bertahanlah sebentar lagi,” kata Kayden lembut. “Setelah ini, kau bisa berendam air hangat lama-lama untuk menyegarkan diri sebelum kita makan.”


“Aku tidak ingin makan. Aku hanya mau menjatuhkan tubuhku ke tempat tidur,” kata Gwen menahan kantuk.


“Tidak bisa!” Kayden menolak. “Setelah mandi, makan, kemudian kau bisa tidur nyenyak tanpa ada gangguan. Percayalah padaku,” dia menambahkan, begitu melihat ekspresi memprotes di wajah Gwen.


“Percayalah padaku. Dua kata favorit pria ini,” pikir Gwen sambil bersandar letih pada Kayden.


Senyum tipis terulas di mulut Kayden ketika dia memperhatikan Gwen, tetapi dia tidak ada tanda-tanda melunak. Dagunya yang kokoh masih mencuat penuh tekad keras kepala.


Gwen sendiri dia hanya menghela napas tertahan. “Kau menindasku. Suatu hari nanti aku akan menindasmu, Kay,” janjinya sambil menahan kuap.


“Benarkah?” kata Kayden kemudian menyunggingkan senyumnya. “Baguslah. Aku akan menantikannya.”


Beberapa menit setelahnya, mereka sampai di kamar suite mewah dengan karpet dan perabotan bernuansa abu-abu. Gwen nyaris tak sempat mengamati ruang duduk luas dengan sofa panjang lembut melengkung dan meja makan elegan, sebelum Kayden meraih tangannya lagi. Josh sudah diizinkan pergi, dan Kayden membimbing Gwen melewati pintu lain.


Gwen menghela napas ketika melewati kamar tidur luas dan mewah yang dilengkapi dengan selimut satin berwarna abu-abu. Lantas, ia membatin, “Astaga … tempat tidur itu sepertinya berteriak memanggil namaku.”


“Kamar mandi di sana,” kata Kayden memecah lamunan Gwen. “Mandilah biar tubuhmu segar. Sementara aku akan memeriksa tas-tasnya.”


Sambil menggerutu kesal dan tanpa berpikir lama, Gwen langsung masuk ke kamar mandi. Ia lalu berendam di bak saat air hangat menyejukkan dan menghangatkan kulitnya. “Dasar Kayden Kim otoriter! Selalu memerintah susuka hatinya. Menyebalkan, menyebalkan, menyebalkan!” ucap Gwen kemudian menenggelamkan tubuhnya di bawah busa.


Gwen sebenarnya sadar, bahwa ia tidak bisa santai terlalu lama. Wanita itu terlalu tegang setelah perlakuan Kayden yang kadang manis, lalu kembali memerintahnya dengan paksa.


Tiga puluh menit berlalu, Gwen membungkus tubuhnya dengan jubah mandi seputih salju yang tergantung di balik pintu kamar mandi. Gwen kembali ke kamar dan menemukan barang bawaannya sudah dibongkar serta disiapkan untuknya.

__ADS_1


Di dalam lemari, tampak tergantung satu set seperangkat pakaian baru yang Gwen tidak ketahui. Kayden ternyata memilihkan gaun kemeja linen polos berwarna cokelat dengan kancing kulit cokelat di bagian depan dan ikat pinggang kulit yang warnanya senada.


Gwen mengernyit karena belum pernah melihat setelan pakaian itu seumur hidupnya—begitu pula blazer cokelat serasi yang tergantung di sampingnya. Bahkan, sepatu kulit cokelat yang diletakkan dengan rapi di lantai, serta pakaian dalam sutra krem yang dihamparkan di ranjang.


“Apa-apaan ini?” seru Gwen. “Sangat, sangat, dan sangat mengejutkanku. Aku nyaris tak mengenali satupun barang-barang itu,” ujar Gwen yang masih mengernyitkan alisnya, kemudian mulai merasakan gemuruh pemberontakan pertama menggelegak dalam dirinya.


“Sudah merasa baikan?” Tiba-tiba Kayden muncul di pintu kamar.


Gwen memasukkan tangan ke saku jubah mandi dan perlahan berpaling menghadap pria itu. “Dari mana barang semua ini?” tanyanya sambil mengerutkan dahinya dalam hingga alisnya nyaris menyambung.


“Kenapa?” Kayden menanggapi dengan santai. “Kau tidak suka?”


“Bukan masalah suka atau tidak suka,” sahut Gwen sedikit meninggikan suaranya. “Ini bukan pakaianku. Ke mana perginya semua pakaianku yang sudah aku siapkan sendiri sebelum kita kemari?”


“Oh,” ujar Kayden singkat. “Itu semua pakaian barumu,” pria itu menjelaskan. “Sebelum kita sampai kemari, aku sudah menelepon Josh untuk memberitahunya agar membelikan semua pakaian barumu sesuai dengan ukuranmu. Jadi, seharusnya pas dan—”


“Apa?” Mata Gwen membelalak karena terkejut. “Kau sudah gila, ya? Bagaimana bisa kau menyuruh orang asing membelikan semua pakaian termasuk pakaian dalamku,” serunya menahan geram.


“Ibunya Josh yang berbelanja, Gwen …” Kayden memberitahunya lalu menghela napas lelah. “Maka dari itu kau jangan buru-buru menyimpulkan. Lagi pula, otakku juga masih waras. Aku tidak akan pernah menyuruh pria lain membelikan pakaian apalagi pakaian dalammu.”


Gwen seketika menghela napas lega. Lantas, ia bertanya sambil mengerutkan dahinya dalam, “Tapi di mana barang-barangku sendiri, Kay?”


“Aku buang!” jawabnya singkat tanpa rasa bersalah sambil mengangkat bahu. Memang benar apa yang dikatakannya. Diam-diam tanpa sepengetahuan Gwen, dia telah memerintahkan Paman Rob untuk membuang semua barang-barang dan pakaian Gwen, ketika wanita itu berada di dalam mobil sebelum berangkat ke Bandara. Dia membuang semuanya yang menyangkut masa lalu istrinya. Masa lalu ketika bersama Rainer. Kemudian, ia terang-terangan melirik jam tangannya. “Dengar, Gwen. Aku harus melakukan dua panggilan telepon sebelum kita—”


“Astaga …!” seru Gwen frustrasi. “Kayden!” Ia menghentikannya sebelum pria itu sempat berbalik. “Kapan? Kapan kau membuang semua barang-barangku, Kay?” tanyanya tidak percaya.

__ADS_1


__ADS_2