
“Aku sangat berbeda dengan Rainer,” ujar Kayden datar seolah bisa membaca pikiran Gwen. “Dia memang suka pilih-pilih makanan. Tak hanya itu, dia juga pemilih dalam urusan pekerjaan.”
Gwen tersenyum getir, kemudian menyahutinya, “Termasuk dalam memilih pedamping hidupnya dan memberikan cinta palsunya kepadaku.”
Seketika ruangan itu kembali hening. Kayden menoleh ke arah Gwen yang menundukkan kepalanya dan menahan kesedihan hatinya. Pria itu lantas memegang kuat pisau makannya karena menahan geram, melihat Gwen yang kembali bersedih ketika mengingat Rainer.
“Gwen,” panggil Kayden pelan.
Wanita itu pun tak merespon panggilan suaminya. Gwen masih menundukkan kepalanya yang pikirannya sekarang kembali berkecamuk.
“Gwen!” bentakan Kayden berhasil membuat Gwen tersadar dari lamunannya, dan wanita itu menoleh ke arah suaminya yang menatapnya sendu.
“Ya,” jawab Gwen lirih.
“Aku mohon padamu, jangan kau siksa dirimu sendiri seperti ini,” kata Kayden tulus. “Walau kejadian mengerikan itu terjadi kemarin, aku tahu, bahkan sangat tahu, kau butuh waktu untuk melupakannya. Kau tidak tahu, bukan? Apakah di sana Rainer memikirkanmu atau tidak sama sekali? Mungkin di sana, dia malah bersenang-senang dengan Valerie dan bercinta sepanjang waktu.”
Gwen lantas mengernyit dan alisnya nyaris tersambung. Tiba-tiba hatinya semakin sakit mendengar asumsi pria itu. “Jika kau tak menghubungi Valerie untuk kembali kepada Rainer, kejadian terkutuk ini tidak akan terjadi!” balas Gwen sengit. “Jadi dari awal, semua ini salahmu, Kayden Kim!” Gwen mengucapkannya penuh penekanan di akhir kalimatnya.
“Ya, ini memang salahku!” Kayden menjawab tak kalah sengit. Ia lantas meletakkan pisau makannya dengan kasar. “Coba kau pikir, bagaimana jika pernikahan kalian berlangsung dan akhirnya Rainer hanya selalu menyakitimu?” Kayden kemudian menarik napas panjang dan menghembuskannya dengan kasar. “Aku tidak bisa terima jika Rainer menyakitimu lebih dalam lagi. Aku tahu betul sifat Rainer adik tiriku itu walau kami beda ibu.”
Gwen bergeming menatap wajah Kayden yang memerah karena amarah. Baru kali ini dia melihat Kayden meluapkan amarahnya. Selama bertahun-tahun menjadi sekertaris Kayden, dia tidak pernah menampakkan wajah marahnya dan juga suaranya yang berapi-api seperti sekarang ini.
Bahkan jika ada salah satu karyawannya melakukan kesalahan, Kayden hanya menegurnya dengan menampakkan wajah datar dan dingin. Malahan dia akan memberi kesempatan kepada seluruh karyawan untuk memperbaiki kesalahan mereka. Menurutnya, semua orang pantas dan berhak mendapatkan kesempatan kedua sekaligus terakhir.
“Mengapa kau melakukan ini padaku?” Rasa penasaran Gwen semakin memuncak. “Bagaimana dengan wanita lainnya, jika nasib mereka sama denganku ditinggalkan begitu saja oleh calon mempelai pria di hari pernikahan? Apa kau juga akan melakukannya seperti yang kau lakukan padaku sekarang?” tanya Gwen penuh selidik seraya menahan air matanya.
__ADS_1
“Ku pastikan aku tidak akan melakukan hal bodoh itu kepada wanita lainnya!” jawab Kayden tegas. “Kau tahu betul sifatku, kan? Aku sangat tidak suka mengurusi masalah orang lain sekali pun dia adalah keluargaku. Aku tidak akan melakukan tindakan sampai sejauh ini, asal wanita yang akan dinikahi kemudian ditinggalkan begitu saja di hari pernikahannya oleh Rainer, jika itu bukan kau.”
Gwen lantas mengerutkan keningnya. “Aku? Mengapa?” cerca Gwen.
“Karena aku sangat peduli padamu,” sahut Kayden. “Aku juga tidak sanggup melihatmu terus-terusan bersedih bahkan menangisi Rainer, ketika kau tahu kenyataannya bahwa Rainer masih mencintai Valerie. Aku juga tak ingin hal buruk terjadi padamu, jika kau mengetahui Rainer yang bisa saja secara diam-diam atau bahkan terang-terangan dia berselingkuh darimu hingga mengotori janji suci pernikahan kalian.”
“Kenapa? Kenapa kau melakukannya?” desak Gwen. “Bukankah kau sangat membenciku? Bahkan sejak awal kau tidak menyukaiku jika aku berdekatan dengan Rainer. Tak hanya itu, kau juga pernah memakiku karena aku tak pantas dengan adikmu itu.”
“Astaga …” Kayden semakin frustrasi dengan pertanyaan Gwen yang semakin menuntutnya.
“Tidak seperti itu, Gwen ….”
“Lantas apa?” tanya Gwen sedikit meninggikan suaranya, menuntut penjelasannya.
Kayden pun masih terdiam, tetapi manik hitamnya menyorot tajam manik cokelat Gwen.
“Karena aku menyukaimu, Gwen Sandriana Decker.” Kalimat itu akhirnya lolos dari bibir Kayden.
Gwen seketika tersentak dari tempat duduknya karena terkejut dengan pangakuan Kayden. “Mustahil,” katanya sambil menggelengkan kepalanya sambil berdiri. “Omong kosong apa ini?”
“Ini bukan omong kosong!” tegas Kayden.
“Aku memang menyukaimu sebelum Rainer menyatakan cinta padamu. Aku memang pria pengecut dalam urusan cinta. Aku takut mengungkapkan perasaanku kepada wanita yang ku sukai sejak tiga tahun lalu.”
Karena amarah masih menyelimutinya, Gwen pun kembali mengerutkan keningnya dengan sorot matanya yang tajam. “Aku tidak peduli dengan urusan cintamu dan aku juga tidak mau tahu.” Setelah berkata demikan, Gwen akhirnya melangkahkan kakinya untuk meninggalkan Kayden sendirian di dalam ruangan itu. Ia masih shock mendengar pengakuan Kayden.
__ADS_1
Walau hati Kayden sedang bergemuruh, ia mencoba setenang mungkin dan melihat punggung Gwen yang semakin menjauh hingga tak terlihat. Namun, ada setitik kelegaan yang ia rasakan karena semua perasaan yang selama bertahun-tahun ia pendam, akhirnya bisa ia luapkan saat ini.
Dan Kayden berjanji pada dirinya sendiri, hanya untuk kali ini ia tak mempedulikan perasaan Gwen. Ia menyadari bahwa ungkapan cinta mendadaknya kepada Gwen akan membuat wanita itu marah sekaligus membencinya. Dia akan memberikan waktu untuk Gwen agar bisa mencoba mencintainya.
***
Sore itu, teriknya matahari masih belum menghilang. Hawanya pun bisa menyengat pakaian yang dikenakan hingga menembus ke kulit. Tak hanya itu, panas matahari juga bisa menyengat perasaan.
Seperti saat ini, sepasang suami istri tampak berdiam diri di dalam mobil yang terpakir di halaman depan rumah mewah itu. Kayden yang terlihat begitu tenang dengan pandangan matanya yang lurus ke depan, berbanding terbalik dengan Gwen yang hatinya gelisah tak menentu sambil mengerutkan dahinya begitu dalam, karena ia melihat segerombolan orang yang berdiri di luar pagar.
Ingin rasanya Gwen bertanya kepada Kayden, tapi ia urungkan karena melihat Kayden yang banyak diam dan tak bicara sepatah kata pun. Selain itu, Gwen pun masih geram dengan Kayden karena ia mengingat kejadian pagi tadi di ruang kerja pria itu.
Sedangkan sang sopir, terlihat sangat canggung dan bingung karena tidak ada perintah dari kedua majikannya yang tidak saling bicara sejak lima menit yang lalu ketika mereka masuk ke dalam mobil. Selain itu, mereka berdua pun saling membuang wajah mereka ke arah berlawanan.
Paman Robbert yang berada di luar mobil dan berdiri di samping pintu mobil penumpang, seketika mengetuk jendela pintu mobil. Ia tak bisa menahan diri karena melihat mobil mewah yang ditumpangi tuan dan nyonya rumah belum juga berangkat. Padahal, sekitar lima belas menit yang lalu Paman Robbert sudah memasukkan koper gelinding mereka berdua di dalam bagasi mobil.
“Ya,” kata Kayden, setelah sebelumnya membuka setengah kaca jendela mobil.
Paman Robert sedikit membungkuk agar dapat melihat wajah Kayden. Pria paruh baya itu lantas bertanya dengan sopan, “Apa ada yang tertinggal, Tuan?”
Sebelum menjawab, ekor mata Kayden terlebih dahulu melirik ke arah Gwen, berharap wanita itu mengeluarkan suaranya yang masih memalingkan wajahnya. Namun, hingga beberapa detik tidak ada sahutan dari Gwen, akhirnya Kayden terpaksa membuka suaranya, “Tidak ada.”
“Lalu, mengapa Anda dan Nona tidak segera berangkat, Tuan?”
“Aku—”
__ADS_1
“Paman Robbert,” panggil Gwen memutus kalimat Kayden. Dengan perasaan terpaksa, ia akhirnya memberanikan diri menoleh ke arah pria paruh baya itu, dan mengabaikan tatapan Kayden kepadanya. “Siapa segerombolan orang-orang yang berdiri di luar pagar besar itu, Paman?”
Paman Robbert mengerutkan dahinya. “Segerombolan pria?” Karena penasaran, ia menegakkan tubuhnya dan segera memasang kaca mata minusnya yang ia gantung dilehernya dengan rantai kecil berbahan emas. Paman Robbert lantas mengalihkan pandangan matanya ke arah pintu pagar besi yang tampak menjulang tinggi itu, dan betapa terkejutnya dia melihat banyak orang yang sedang mengambil gambar rumah besar Kim dengan camera mereka.