Menyentuh Hatimu

Menyentuh Hatimu
Malam Yang Hangat


__ADS_3

Kayden tersenyum tipis. “Jika ada pepatah mengatakan cinta itu buta, memanglah benar. Aku merasakan cintaku kepadamu terlalu besar, Gwen,” ungkapnya. “Oleh sebab itu, aku akan melakukan segala cara untuk mengenyahkan pikiranmu tentang—”


“Rainer,” sahut Gwen muram.


Kayden menghela napas lelah sebelum ia menjawab, “Ya. Dan selama ini yang aku lakukan dengan sikapku yang menurutmu otoriter, semata-mata hanya ingin melindungimu. Tapi faktanya tetap saja caraku melindungimu, salah. Tanpa sengaja aku telah menyakitimu berkali-kali.” Ia menatap lekat-lekat bola mata Gwen yang malam ini memancarkan kehangatan. Begitu nyaman dan menenangkan. “Kau tahu, Gwen? Yang ku inginkan adalah kau bisa mengandalkanku setiap waktumu. Karena aku akan menjadi alasan mengapa kau tersenyum, menemanimu ketika tak ada yang mau bersamamu, dan menghapus setiap tetesan air mata yang kau jatuhkan sebab aku ada untuk menjadi bagian dari sejarah hidupmu.”


“Kay …” Suara Gwen seakan tersekat di tenggorokan. Wanita itu tak mampu mengatakan apapun akibat semua pernyataan Kayden. Matanya berkaca-kaca memandang wajah teduh sang suami. Sebuah dorongan kuat yang bergejolak dalam dirinya dan tidak bisa dibendung lagi, rasanya harus segera dia keluarkan. “Satu hal yang harus kau ketahui, Kay. Aku telah melupakan Rainer dari pikiran dan hatiku. Setelah kebersamaan kita selama ini, aku menyadari bahwa aku membutuhkanmu di sampingku.”


Seketika Kayden tersenyum puas mendengarnya. Walaupun sekarang dari bibir istrinya belum melontarkan kalimat cinta untuk dirinya, tetapi hal itu tidak jadi masalah sebab dia akan tetap bersabar. Setidaknya, biarlah malam ini dia mendekap hangat istrinya dan menghujaminya dengan seluruh cintanya.


“Terimakasih, Gwen,” ujar Kayden. “Aku mencintaimu, Sayang. Sangat mencintaimu.” Pria itu membenamkan kepala Gwen didadanya. Sebelum kemudian, ia meninggalkan ciuman di puncak kepala istrinya dan membalutkan selimut di tubuhnya.


Secara naluriah tangan Gwen terulur memeluk tubuh suaminya dengan tersenyum malu-malu. Dan ini sungguh mengejutkan. Tidak peduli seberapa intimnya mereka beberapa hari terakhir, baru kali ini Gwen dengan sukarela menyentuh sang suami seperti ini.


Dalam dekapan hangat Kayden, ia merasakan kebahagiaan yang sebelumnya tidak pernah Gwen rasakan ketika bersama Rainer. Sekarang Gwen memahami bahwa dari semua sikap Kayden yang tidak dia sukai sebelumnya, sebenarnya pria itu terlalu mencintai dan hanya ingin melindungi istrinya dengan caranya sendiri. Pada akhirnya Gwen bisa bernapas lega, mensyukuri karena Tuhan telah mempertemukan untuk menikahi pria yang saat ini sedang membelai lembut rambutnya.


“Tidurlah, Gwen. Bukankah, kau tadi mengatakan sudah mengantuk?”


Gwen mengernyit, kemudian mendongak agar bisa menatap wajah suaminya. “Aku belum mengantuk,” katanya sambil mengerucutkan bibirnya sehingga membuat Kayden gemas dibuatnya.


“Belum mengantuk?”


“He em,” jawab Gwen. “Aku masih penasaran, mengapa kau tidak menanyaiku lagi, tadi aku pergi dengan siapa?”


“Seingatku … kau sudah mengatakannya bahwa kau pergi bersama seorang pria, kan?”

__ADS_1


“Dan kau tidak ingin tahu siapa namanya?”


Kayden mengerutkan dahinya. “Untuk apa?”


“Untuk apa?” seru Gwen mengulang pertanyaan suaminya. “Berarti kau tidak cemburu dengan pria itu …” Ia menarik tubuhnya menjauh dari Kayden dengan tatapan penuh kekecewaan. Namun, tangan suaminya tak melepaskannya.


“Dengar, Sayang,” kata Kayden lembut, mencoba memahami suasana hati istrinya yang tiba-tiba berubah. “Aku sudah mengatakan sebelumnya, bukan? Aku cemburu dengan semua lelaki yang mendekatimu.”


Bola mata Gwen berbinar kegembiraan mendengar jawaban suaminya. Namun, beberapa detik kemudian, seakan kurang puas akan penjelasan Kayden, ia kembali berkata, “Tapi seharusnya kau bertanya, aku seharian tadi pergi ke mana?”


Kayden menghela napas lelah. Rasanya ia begitu enggan mendebat istrinya. “Oke, oke,” katanya sebelum melanjutkan kalimatnya, “akankah kau memberitahuku ke mana kau pergi seharian tadi tanpa suami tampanmu ini, Nyonya Kim?”


Gwen tersenyum lebar, sensasi penuh kemenangan menjalarinya ketika Kayden mengulurkan tangannya untuk menarik tubuh istrinya lebih dekat sehingga tatapan mereka kembali bertemu. Dan pria itu tampak bersiap diri untuk menjadi pendengar setianya.


“Tapi tidak kalau kau mulai berteriak-teriak memanggil namaku seperti biasanya,” Gwen memperingatkan. “Karena aku lebih baik mendengarkanmu saja kalau begitu.”


“Ya, sepanjang waktu.”


“Dan kau tidak menyukainya?”


“Tidak sama sekali.”


Kayden terkekeh, menyertai belaian lembut jarinya di bibir Gwen yang ranum. “Baiklah, aku minta maaf dan tidak akan mengulanginya,” ujarnya sungguh-sungguh. “Sekarang, jika aku berjanji tidak akan berteriak, bagaimana?” katany malas.


“Endru,” kata Gwen. “Aku bersama pria Cina bernama Endru.” Belaian itu terhenti. “Istrinya bernama Emma dan mereka seumuran dengan paman dan bibiku. Awalnya aku bertanya kepada mereka, apakah aku bisa bergabung dengan tur mereka. Lalu mereka mengiyakan, dan ternyata aku menikmati saat yang menyenangkan itu.”

__ADS_1


Kayden tidak mengatakan sepatah kata pun selama beberapa detik yang menegangkan. “Demi Tuhan, Gwen!” seru Kayden seraya menarik tubuhnya sedikit menjauh. “Kau sangat tahu bagaimana cara menghukum suamimu ini,” gumamnya tak lama kemudian. “Kau sengaja membiarkan aku membayangkanmu menjelajahi London bersama pria seumuranmu!”


“Kau sudah berjanji tidak akan berteriak-teriak.” Gwen mengingatkannya sambil cemberut.


“Memang,” Kayden kembali mendekatinya, dan jarinya mulai bergerak lagi, membelai lembut rambut di belakang telinga istrinya sementara sesuatu yang lain berkelebat di matanya.


Gwen sendiri tidak yakin itu apa, tapi pada saat melihat manik hitam suaminya, ada tempat khusus dalam dirinya yang terasa hangat. Dan itu adalah sebuah kelembutan serta kesenangan yang masam untuk menggoda Kayden.


“Jadi, ke mana kau pergi bersama orang-orang Cina baik hati yang menjadi penjagamu itu?” tanya Kayden penasaran.


Gwen akhirnya memberitahu Kayden secara mendetail untuk menceritakan pengalamannya seharian. Sambil bercerita, sesekali ia mencuri-curi pandang tatkala suaminya itu tersenyum lebar—terlihat tampan dan menawan. Sungguh pemandangan yang begitu mengagumkan hingga napas Gwen tertahan beberapa saat.


“Kau cantik,” gumam Kayden serak. “Aku memujamu.”


Gwen bergeming. Akan tetapi, detik berikutnya tatapan mereka beradu, begitu sulit diartikan satu sama lain sebelum wanita itu melontarkan pertanyaan yang membuat Kayden sedikit terkejut. “Kay, apakah kau lelaki yang setia?”


“Ya,” jawab Kayden.


Dan Gwen menyadari ia memercayainya. Ada sesuatu tentang percakapan ini yang menekankan kejujuran. Namun, tetap saja ia menginginkan klarifikasi. “Tidak ada wanita lain? Tidak ada perhentian singkat di setiap pelabuhan?”


“Siapa yang bilang begitu?” seru Kayden.


“Jawab saja pertanyaannya, Kay …” desak Gwen. “Aku baru diperdaya oleh seorang pria, dan tidak ingin membiarkan pria lain menggiringku ke perangkap yang sama.”


“Demi Tuhan, Gwen!” ujar Kayden sungguh-sungguh, mencoba meyakinkan istrinya. “Tidak ada wanita lain, karena hati dan pikiranku sudah terkontaminasi oleh nama Gwen Sandriana Decker yang sekarang menyandang status sebagai istri Kayden Kim.” Matanya menangkap mata wanita itu lagi. “Hanya kau, aku, dan kesempatan memiliki sesuatu yang istimewa.”

__ADS_1


Sesuatu yang istimewa adalah hal yang sudah mulai Gwen rasakan terhadap pria rumit yang sedang mengusap lembut pipinya. Dengan tampilan luarnya yang keras dan sensualitasnya yang dahsyat, wanita itu sangat menghargai kejujuran tulus ini dari bibir suaminya.


__ADS_2