Menyentuh Hatimu

Menyentuh Hatimu
Headline News Kim Bersaudara


__ADS_3

Cahaya matahari menembus jendela kaca hingga membuat seseorang terbangun dari tidurnya. Dengan pikiran kosong, Gwen berusaha menggerakkan tubuhnya untuk berguling turun. Kakinya mengambang sebentar di tepi tempat tidur, sebelum benar-benar menyentuh lantai.


Gwen lantas mengedarkan pandangannya ke semua sudut ruangan tersebut, hingga kemudian ia menghirup napas panjang dan menghembuskannya dengan kasar. Sambil terduduk di tepi ranjang tidur, Gwen menoleh ke belakang ke arah kursi kulit yang memanjang, kursi yang dipakai Kayden semalam untuk mengistirahatkan tubuhnya. Wanita itu sedikit mengernyit karena kursi itu tampak kosong, tak ada keberadaan Kayden di sana.  Namun, Gwen tak mau ambil pusing dan tak ingin memikirkannya.


“Selamat pagi.” Suara berat Kayden menyapa Gwen yang tiba-tiba saja masuk ke dalam kamarnya, dan langsung berdiri tepat di depan wanita itu. “Ini, teleponmu sedari tadi berdering.” Kayden memberitahunya seraya mengulurkan tangannya untuk menyerahkan telepon genggam milik Gwen.


Gwen lantas menatap telepon genggamnya yang sudah tak berdering dan masih ditangan Kayden. Ia lalu mendongakkan kepalanya untuk beralih menatap Kayden yang tampak sudah membersihkan tubuhnya. Terlihat dari rambutnya yang basah dan tersisir rapi. Hingga pakaian yang dikenakannya yaitu kaos putih bermerek dan celana jins birunya, juga sangat cocok ditubuh kekarnya.


Memakai pakaian formal ataupun tidak formal, pria itu sebenarnya sangat tampan. Maka tak heran banyak wanita disekelilingnya yang begitu memuja ketampanan Kayden. Akan tetapi, hal itu tidak berlaku bagi Gwen karena ia hanya memiliki rasa tidak suka kepada Kayden.


“Bagaimana bisa handphoneku ada ditangan, Mr. Kayden?” Gwen bertanya sedikit selidik.


“Oh, tadi pagi aku meminta anak buahku untuk pergi ke rumah paman dan bibimu, mengambil beberapa barang penting milikmu,” ujar Kayden datar memberitahu Gwen.


“Untuk apa repot-repot ke sana?” Gwen bertanya sambil mengernyit. “Tapi—” Ia tak melanjutkan kalimatnya karena tiba-tiba handphonenya kembali berdering.


“Angkatlah!” perintah Kayden. “Kita akan melanjutkan pembicaraan ini nanti.”


Tanpa menungga lama Gwen langsung menyambar handphonenya dari tangan Kayden. Dilihatnya nama yang tertera dilayar telepon genggamnya itu, dan ternyata yang meneleponnya adalah sahabatnya yaitu Lusia.


Sebenarnya, Gwen begitu enggan mengangkat telepon dari sahabatnya karena ia belum terlalu siap untuk bicara dengan siapa pun, terutama Lusia. Gwen sangat tahu, bahwa sahabatnya itu tidak bodoh. Lusia sangat menyadari betapa Gwen cinta mati kepada Rainer.


“Ya, Lusia.” Gwen akhirnya memberanikan diri mengangkat telepon dari sahabatnya. Namun, ekor matanya melirik ke samping kiri, melihat Kayden yang melangkahkan kakinya meninggalkan ruangan kamar tidur nan elegan itu.


“Hallo, Gwen. Sejak tadi aku mengirimmu pesan dan juga meneleponmu,” seru Lusia yang khawatir kepada sahabatnya.


“Maafkan aku, Lus. Aku baru bangun tidur. Setelah kejadian kemarin seluruh tubuhku terlebih lagi pikiranku begitu sangat lelah.”

__ADS_1


Lusia menghela napas. “Ya, aku tahu, Gwen. Tapi apa yang sebenarnya terjadi?” Ia bertanya begitu menuntut. “Aku masih tidak percaya dengan pengakuan Mr. Kayden kemarin tentang hubungan jatuh cinta kalian yang menurutku sangat konyol. Dan aku merasakan ada hal yang aneh pada dirimu, Gwen.”


Gwen menarik napas panjang kemudian menghembuskannya sebelum ia menjawab, “Tidak ada apa-apa, Lusia.” Ia terpaksa berbohong.


“Demi Tuhan, sayangku, apa yang kau lakukan kemarin adalah salah.”


“Itu tidak salah. Inilah yang ku inginkan,” kata Gwen pelan. Ia lantas memejamkan mata agar air mata tidak tumpah. “Dan inilah yang kami berdua inginkan.”


“Tapi kau tidak menyukai Mr. Kayden!” seru Lusia , terdengar marah dan bingung. “Dulu, kau bahkan mengaku agak takut padanya!”


“Aku takut bagaimana dia membuatku merasa—”


“Karena kau jatuh cinta padanya?”


“Ya,” jawab Gwen bohong. Walau sebenarnya sedari dulu ia merasa Kayden adalah ancaman bagi kebahagiaannya.


“Ya,” kata Gwen lagi. “Kau seharusnya lega, bukannya marah padaku,” ujarnya, lalu menambahkan dengan datar. “Bukankah kau selalu menganggap rendah Rainer?”


“Dia licik, Gwen.” Lusia membela pendapatnya. “Orang yang banyak tersenyum seperti Rainer pasti menyembunyikan sesuatu. Terbukti dia telah meninggalkanmu dihari pernikahan kalian. Tapi sejenak pun aku tak pernah mengira, dia ternyata mencintai wanita lain.”


Gwen seketika tersentak kaget karena penuturan sahabatnya. “Ba-bagaimana kau tahu tentang itu, Lus?”


“Aku tahu, Gwen.” Lusia lantas menghela napas sebelum ia melanjutkan kalimatnya kembali, “Maafkan aku. Kemarin, sepintas aku tak sengaja mendengar percakapanmu bersama Mr. Kayden. Aku tak banyak bertanya kepadamu atau Mr. Kayden karena aku kasihan dengan paman dan bibimu. Terlebih lagi aku sangat menghormati mereka berdua. Selain itu kau sudah memutuskan untuk menikahinya. Jadi aku bisa apa?”


“Terimakasih atas perhatianmu terhadap paman dan bibiku, Lusia.” Gwen mengucapkannya dengan tulus. “Tapi aku minta tolong kepadamu, jangan kau beri tahu kepada paman dan bibiku tentang masalah ini.”


“Aku pasti tak akan memberitahu mereka, Gwen,” ujar Lusia sungguh-sungguh. “Tapi aku tak menjamin keadaan ini akan baik-baik saja, jika paman dan bibimu sudah membaca surat kabar pagi ini.”

__ADS_1


Gwen mengerutkan dahinya dalam di balik telepon genggamnya. “Apa maksudmu?”


“Astaga … jangan bilang kau belum membaca isi surat kabar pagi ini?” seru Lusia.


“Bukankah tadi sudah aku katakan, bahwa aku baru saja bangun tidur, Lusia …”


“Ya Tuhan, Gwen …” seru Lusia lagi. “Cepatlah, segera kau baca surat kabar pagi ini!”


Tanpa menunggu lama, Gwen langsung berdiri dari tempat tidur kemudian berjalan dengan tergesa-gesa menuruni anak tangga untuk mencari surat kabar. Sambil menggenggam benda pipihnya yang masih ditempelkan pada telinganya sebelah kanan, wanita itu berlarian ke sana ke mari hanya untuk mencari surat kabar berita hari ini.


“Aku harap paman dan bibimu tidak membacanya. Demi Tuhan, Gwen! Aku juga mengharapkan isi berita itu lenyap, andai itu bisa terjadi,” Lusia berkata tak kalah heboh. “Bagaimana, kau sudah mendapatkannya?”


“Belum.” Gwen menjawab dengan cepat karena kepanikan mulai menyelimutinya. Ia terus melangkahkan kakinya


dengan cepat di setiap sudut ruangan yang berada di dalam rumah besar itu. Hingga akhirnya, ia memutuskan berjalan menuju ke arah dapur bersih.


“Astaga … mengapa rumah sebesar itu sangat sulit sekali menemukan surat kabar harian satu pun?” Lusia menggerutu yang tak kalah panik.


“Aku sudah mendapatkannya,” kata Gwen cepat. “Lusia, nanti aku akan menghubungimu kembali,” imbuhnya dari balik benda pipihnya seraya memegang surat kabar tersebut. “Dan, terimakasih kau telah memberitahuku tentang hal ini.” Gwen segera memutus sambungan teleponnya terlebih dahulu karena penasaran dan tak sabaran ingin membaca isi surat kabar yang diberitakan hari ini.


Kim Bersaudara Bertukar Pengantin! Begitulah headline news pagi ini. Judulnya pun tertulis tebal dan menjadi topik utama yang dipasang di halaman depan surat kabar ternama di kota itu.


“Sungguh konyol,” pikir Gwen getir.


Pada saat Paman Robert berjalan ke dapur bersih tersebut untuk menyiapkan sarapan tuannya beserta istrinya, pria paruh baya itu langsung membelalakkan matanya karena terkejut, melihat nyonya barunya di rumah besar Kim yaitu Gwen yang sedang membaca koran sambil mengernyitkan alisnya.


“Astaga … maafkan saya tidak segera membuang koran itu, Nona,” kata Paman Robert dengan bibirnya yang bergetar karena panik.

__ADS_1


Gwen hanya diam. Ia tak menanggapi pernyataan bersalah dari kepala asisten rumah tangga di rumah besar milik Kayden Kim itu. Ia masih serius membaca artikel tersebut sambil mengernyit dan matanya menyorot tajam pada tulisan yang diberitakan.


__ADS_2