Menyentuh Hatimu

Menyentuh Hatimu
Kenyamanan Dan Perlindungan


__ADS_3

Setelah ciuman mendadak itu, Gwen seketika menundukkan kepalanya sehingga tidak ada yang bisa membaca apa yang berkecamuk dalam dirinya. Perasaan ini begitu asing baginya, sampai-sampai membuat kakinya goyah dan bagian dalam dirinya diremas oleh ketegangan.


Tapi tidak, tiba-tiba saja Gwen menerawang ke belakang ketika ia mengingat pernah mengalami keanehan ini sebelumnya. Pada hari itu saat Rainer memperkenalkan Gwen sebagai calon istrinya kepada Kayden, wanita tersebut seolah menerima sengatan listrik bertegangan tinggi. Perasaannya pun tak karuan karena diikuti rasa takut yang membuatnya memucat, sehingga Gwen harus cepat-cepat melepaskan jabatan tangan Kayden, kemudian ia bergeser lebih dekat dalam perlindungan Rainer.


Namun, ingatan Gwen tersentak bahwa ternyata Rainer bukanlah pelindungnya. Pria itu terlalu pengecut dan kebenaran bahwa Rainer tidak bertanggung jawab, sudah sangat cukup untuk membuktikan betapa egoisnya seorang Rainer Kim.


“Gwen.”


Gwen mendongak, rasa kecewa dan muak terhadap Rainer tampak dimatanya. Kayden yang dapat melihat kepedihan wanita tersebut, ia sontak meregangkan jemari dipinggangnya, manik hitamnya menyorot tajam sebelum jemarinya mencengkram kuat untuk menarik Gwen dengan marah ke arahnya. Hal yang tak terduga kembali terjadi. Kayden menunduk lalu mencium bibir ranum istrinya.


“Jangan ingat dia lagi!” perintah Kayden dengan tegas, setelah sebelumnya ia melepaskan ciumannya terlebih dahulu. “Lupakan dia, karena dia tidak pantas untuk kau ingat bahkan kau tangisi!”


Dengan wajah merah padam dan benar-benar terkejut oleh serangan Kayden, Gwen terkesiap. “Aku tidak—”


“Sebaiknya kita makan dan membiarkan mereka segera pergi,” kata Kayden ketika melihat kedatangan pelayan, menyajikan hidangan yang sudah di pesannya satu jam lalu.


Memang lega rasanya saat pelayan datang di waktu yang tepat karena Gwen mulai sangat tertekan sehingga ia perlu duduk.


Namun sayangnya, ternyata waktu makan malam mereka tak kunjung usai. Hidangan demi hidangan yang disajikan langsung muncul untuk siap dicicipi, sementara percakapan yang nyaris tidak bisa dimengerti oleh Gwen, terus berlangsung di sekitarnya.


Gwen merasa seolah ia tersesat dan terdampar di suatu tempat yang asing, sampai-sampai ia harus mengerahkan segenap upaya menarik kedua sudut bibirnya ke atas, berkonsentrasi pada pertanyaan yang ditujukan kepada dirinya. Wanita itu sendiri menjawab dengan tidak penuh minat, tetapi ia harus melemparkan balasan senyuman untuk menjaga kehormatan nama baik suaminya.


Tidak ada yang bersikap kejam atau tidak peduli kepada Gwen. Namun, ia merasa kewalahan oleh persahabatan kalangan atas diantara mereka. Walaupun Kayden menyadari dan Gwen yakin jika suaminya itu memahami kecanggungan dirinya, tetap saja pria itu tidak mengatakan apa-apa.


Akan tetapi, setiap kali Gwen melirik sang suami, Kayden ternyata sedang menatapnya. Manik hitam indahnya menyorot tajam wajah istrinya, memberikan tatapan yang tidak dimengerti oleh wanita itu. Gwen merasa semakin tidak nyaman sehingga ia mengernyit sambil menyesap setengah gelas anggur merah, berharap dapat mengurangi keresahannya.


“Mau berdansa denganku, Nyonya Kim yang cantik?” tanya Evan Sandres, salah satu teman Kayden. Tampak seulas senyum dari bibir sensualnya yang sedikit menggoda saat melihat Gwen mengerjapkan matanya berkali-kali karena keterkejutannya.


“A-aku—”


“Kau jangan cari mati denganku, Evan!” sahut Kayden memotong kalimat Gwen. Walau suaranya datar, tetapi kilatan amarah dari manik hitamnya yang menyorot tajam terpancar sangat jelas, menyiratkan bahwa ia tidak rela jika istrinya disentuh pria lain.

__ADS_1


Sejenak, Evan terkekeh kemudian ia langsung mengangkat kedua tangan, telapaknya terbuka ke depan sebatas dada, memberi tanda menyerah, sambil berkata, “Oke, Brother. Kau jangan marah dulu. Aku hanya bercanda.”


“Tapi aku tidak suka cara bercandamu itu!” sergah Kayden. “Gwen adalah istriku.”


“Astaga, Tuhan … Kau terlalu serius menanggapi—”


“Ayo, Gwen. Kita berdansa.” Kayden mengajaknya, dan memang sengaja memotong kalimat Evan yang belum terselesaikan sehingga pria malang itu hanya bisa menggelengkan kepalanya sambil menyunggingkan senyumnya.


“Kau ternyata pecemburu akut, Kay,” batin Evan.


Bagi Gwen, memang sungguh melegakan ketika Kayden tiba-tiba menggenggam lengannya, menariknya untuk berdiri. Ia sendiri selalu siap melakukan apa saja demi menjauhi dari kesulitan yang dialaminya, termasuk saat ini mengiyakan ajakan Kayden untuk berdansa dengannya.


Dalam alunan musik pelan dan ringan, Kayden menarik istrinya ke pelukan, membawanya lebih dekat sehingga dagu Gwen menyentuh kerah jasnya, mendesaknya dalam gerakan mengayun lambat, satu tangan bertumpu ringan di pinggang, tangan lain menggenggam tangan Gwen di dekat jantungnya.


Gwen bisa merasakan napas Kayden mengusik rambut-rambut halus di pelipisnya, begitu hangat dan agak beraroma anggur merah gelap yang tadi mereka minum. Tangan Gwen yang lain diletakkan di bahu pria itu, agak rendah di tempat otot melengkung ke dadanya yang menonjol.


“Sekarang kau aman,” kata Kayden, membuat Gwen sangat sadar bahwa ketegangan yang dideritanya pasti sangat kentara.


“Maaf,” Gwen merasa terpaksa mengatakannya. Detik kemudian ia menghela napas lelah, lalu berkata, “aku tahu, aku tidak dapat memberikan kesan baik bagi teman-temanmu.”


Gwen mendesah muram ketika melihat seraut wajah tampan Kayden. “Aku masih berpikir mereka menganggapmu bodoh atau sinting, karena menikahiku yang jelas-jelas aku tidak sederajat dengan mereka.”


“Dan kau pikir aku peduli dengan anggapan mereka?” Kayden membalas.


“Tidak,” Gwen menjawab dalam hatinya. Ia mengakui sambil mendesah pelan. Pria ini tidak peduli sedikit pun pada apa yang dipikirkan orang-orang tentang dirinya. Jika tidak, Kayden tidak akan menikahi mantan adik tirinya sejak awal, bukan?


“Kalian terlihat akrab satu sama lain,” kata Gwen, sengaja mengganti topik pembicaraan.


“Selama beberapa tahun, aku pernah tinggal di London bersama kakek dan nenekku sebelum mereka meninggal,” gumam Kayden sambil tersenyum tipis begitu melihat ekspresi terkejut istrinya. “Dua tahun kemudian, aku kembali ke Jakarta untuk menjalankan perusahaan setelah ayahku meninggal. Tapi hampir sebulan dua kali aku rutin kemari, melihat perkembangan perusahaan di sini. Dan kami bertemu setidaknya sekali dalam sebulan untuk makan malam seperti ini sembari membicarakan pekerjaan.”


Gwen mengernyit. “Tapi bukannya kau bilang ini makan malam bersama relasi kerjamu?”

__ADS_1


“Dalam satu sisi memang iya,” Kayden menegaskan. “Mereka teman sekaligus relasi kerja atau relasi bisnisku. Dan begitulah cara kerjanya,” tambahnya agak muram. “Bisnis dan pertemanan cenderung melebur menjadi satu pada lingkungan kami. Karena bagaimana pun juga, aku harus menjaga perusahaan agar tetap stabil setelah ayahku meninggal.” Pria itu menyeringai tipis. “Pegawaiku banyak sehingga tanggung jawabku juga besar, bukan?”


Gwen bergeming, tetapi ia mendadak merasa semakin bersalah karena tidak bersemangat sepanjang acara tadi.


“Aku sungguh minta maaf jika semua ini membuatmu tidak nyaman.”


“Tidak,” Gwen cepat-cepat membantah. Walau ia sadar bahwa dirinya telah berbohong. “Teman-temanmu sangat baik padaku. Hanya saja aku sangat lelah …” Ia mengakhiri dengan suaranya yang lemah.


Kayden tersenyum tipis sebelum ia berkata, “Sebentar lagi kita akan pulang.” Lantas, ia semakin mendekatkan Gwen pada kehangatan tubuhnya. “Aku mohon bersabarlah.”


Gwen menghela napas lega karena jaminan itu melenyapkan sebagian ketegangannya sementara mereka terus berayun seperti ini. Meskipun rasanya sangat aneh berada dipelukan erat Kayden, tetapi Gwen tidak memungkiri bahwa dirinya begitu nyaman dalam tubuh kokoh dan otot yang menekan lembut tubuhnya itu.


“Kay …” gumam Gwen, tidak menyadari dirinya mendesahkan nama suaminya.


Kayden mendengarnya dengan jelas. Ekspresinya sulit digambarkan, tetapi caranya mengangkat tangan Gwen dengan lembut dan menautkannya di leher sebelum semakin mendekat, mengartikan sebuah pesan khusus jika saja wanita itu cukup sadar untuk memahaminya.


Gwen seketika mengangkat wajahnya untuk tersenyum kepada suaminya. Manik cokelat kehitamannya bertemu dengan manik hitam Kayden yang membuatnya benar-benar terpukau.


Gwen dapat membaca ada gairah di dalam bola mata Kayden. Gairah yang begitu kentara sehingga pria itu tidak dapat menyembunyikannya. Detik berikutnya, ia terkesiap ketika Kayden menurunkan bibir ke bibirnya.


Wanita itu berhenti bergerak karena ciuman ini benar-benar membuatnya kehabisan napas. Bibir Kayden yang mulai bergerak dengan lembut, tanpa Gwen sadari ia malah meresponsnya secara naluriah.


Dan di tengah lantai dasar, di tengah sekelompok orang yang berada di restoran ruangan vip, suatu getaran berbeda perlahan meledak di dalam diri Gwen. Sebuah ledakan gairah balasan karena sensasi tersebut menggetarkan pada indranya yang paling intim. Gwen melengkungkan punggung sehingga ia lebih mendekat, jemarinya dibenamkan ke rambut sehalus sutra di tengkuk pria itu, dan jantungnya berdegup tak karuan. Wanita itu seakan meruntuhkan dinding kokoh hatinya yang ia bangun sendiri, agar tidak cepat jatuh cinta kepada pria yang menikahinya secara tak terduga.


Semenit kemudian setelah melalui kabut gairah, Kayden dan Gwen mendengar cekikan para sepasang kekasih di ruangan tersebut yang menonton mereka.


“Wow, sepertinya kalian harus segera kembali ke kamar kalian,” kata Evan mengejek. “Dasar pengantin baru.”


Gwen sontak menarik diri saat kesadaran mulai menguasai pikirannya. Rona merah dipipinya begitu jelas karena malu dan ia merutuki kebodohannya. “Bisa-bisanya aku melakukan hal memalukan ini di depan umum,” batinnya.


Berbeda dengan Kayden, ia lebih mengabaikan perkataan Evan. Pria itu malahan tersenyum samar sebab ia terlampau senang dengan balasan ciuman istrinya.

__ADS_1


“Aku mohon, Kay,” kata Gwen lirih. “Bisakah kita pergi sekarang?” tanyanya agak putus asa.


“Ya, tentu saja,” jawab Kayden sependapat.


__ADS_2