Menyentuh Hatimu

Menyentuh Hatimu
Pengakuan Kayden


__ADS_3

Dagu Gwen terangkat dengan sikap membangkang, mengenyahkan niatnya semula untuk tersenyum kepada sang suami. “Bukan urusanmu.”


“Jelas ini urusanku, karena kau istriku!” kata Kayden marah. “Tahukah kau betapa aku mencemaskanmu? Saat itu aku sudah menjambak-jambak rambutku karena beberapa pegawaiku tidak berhasil menemukanmu. Aku seperti orang gila mencarimu ke sana ke mari dan hampir memanggil polisi jika saja kau tidak muncul di depanku sekarang!” tukasnya tajam.


Karena dikejutkan nada agresif Kayden serta kenyataan bahwa orang-orang mencarinya, Gwen menatap pria itu dengan bingung. “Mencariku? Kenapa?”


“Kenapa?” Kayden mengerutkan dahinya dalam sehingga alisnya nyaris tersambung, sedikit geram karena pertanyaan Gwen terdengar biasa saja dan tanpa rasa bersalah. “Karena kau menghilang, Gwen!”


“Aku tidak menghilang,” sahut Gwen datar. “Aku hanya pergi jalan-jalan.”


Tatapan Kayden terkunci pada Gwen. Pria itu lantas melepaskan jasnya dengan kasar dan melemparkannya ke sembarang arah. Berikutnya, ia membuka kancing paling atas kemejanya dengan jemari gemetar seolah-olah udara di sana sangat menyesakkan. “Jika kau ingin jalan-jalan setidaknya bersabarlah sedikit saja untuk menungguku pulang.”


Gwen melepaskan tasnya sembari berjalan ke arah kursi di samping Kayden berdiri. “Kesabaranku sudah habis ketika pagi tadi kau meninggalkanku sendirian di sini.” Ia meletakkan tasnya di kursi. “Kemudian, hanya sepucuk surat yang kudapati di atas meja saat aku bangun tidur.”


“Tapi aku sudah menuliskan di sana bahwa aku sedang rapat—”


“Persetan dengan rapat sialan itu!” ketus Gwen. Wajahnya tampak merah padam karena geram. “Seharusnya, kau bisa membangunkanku terlebih dulu, kan?”


“Astaga …” Kayden mulai frustrasi. “Apakah penjelasan di isi surat itu masih belum cukup?”


“Tidak sama sekali!” jawab Gwen cepat dengan matanya yang berkilat-kilat saat tubuhnya menghadap Kayden dan menatap wajahnya.


Kayden terdiam, tetapi rahangnya mengeras sebab tuduhan dari istrinya yang bertubi-tubi. Tidak sadarkah dia, telah menciptakan monster baru bernama Mrs. Gwen Kim, yang sangat bertolak belakang dengan Gwen yang lama?


Oleh sebab itu, jadi sebaiknya Kayden menerimanya, Gwen memutuskan dengan gaya membangkang ketika ujung sarafnya menjerit begitu suaminya menarik pergelangan tangannya sehingga kepalanya hampir saja membentur dada bidang suaminya.


Walaupun menyisakan sedikit jarak, kilatan amarah terpancar jelas tatkala bola mata mereka beradu. Deru napas Gwen pun makin tak teratur akibat luapan emosi yang tak bisa ditahannya.


“Lepaskan tanganku, Kay!” seru Gwen yang mendongak karena tubuh Kayden yang tinggi.


“Tidak akan!” sahut Kayden tak kalah sengit. “Sebelum kau jawab pertanyaanku, tadi kau pergi ke mana?”


“Persetan,” kata Gwen ketus. “Kesempatanmu mendapatkan penjelasan sudah lewat.”


“Setidaknya beri tahu aku, kau pergi dengan siapa!” tukas Kayden.


“Tidak mau.” Gwen menghempaskan tangan Kayden saat ia merasakan cengkraman tangan suaminya di pergelangan tangannya sedikit melonggar. Wanita itu pun sontak mundur, ingin menjaga jarak dengannya.

__ADS_1


“Oke,” kata Kayden. Ia mengambil napas dalam-dalam, kemudian menghembuskannya secara perlahan, mencoba sedikit bersabar menghadapi istrinya yang tak kalah keras kepala. “Apa tadi kau pergi sendirian?”


“Aku pergi dengan teman baruku,” akhirnya Gwen menjawabnya.


“Teman baru apa?”


Gwen mengatupkan bibirnya. Namun, indra-indranya mulai berdengung waspada karena ia bisa merasakan rasa frustrasi dan amarah Kayden mulai menjangkau kembali ke arahnya.


“Apakah laki-laki?” Kayden bertanya sambil mengernyit.


“Ya!” sembur Gwen. “Laki-laki dari Cina, dia sangat sopan, sangat perhatian, terlalu peka, dan yang terpenting lagi, dia banyak tersenyum!” tambahnya tajam. “Pemandangan yang lebih menyenangkan dari pada dicemberuti.”


Kayden berjalan cepat ke arah Gwen dengan tatapan yang sulit terbaca. Hal itu membuat jantung Gwen berdegup kencang dan matanya mengerjap saat pria itu berdiri di depannya.


“Dengar, Gwen,” kata Kayden. “Kau marah, aku juga marah. Kita perlu meluruskan masalah ini dengan kepala dingin.”


“Tentu saja.” Gwen menolak menatapnya, matanya jelalatan sebab tidak ingin berserobok pandang dengan Kayden.


Bagian dalam dirinya berdenyut-denyut oleh keinginan untuk membebaskan diri dari semuanya. Rasanya sungguh melelahkan mendebat dan menghadapi Kayden yang tidak peka kepada dirinya. Ledakan tangisan semalam hanyalah langkah kecil. Sekarang, semua menggelegak dalam diri wanita tersebut.


“Jangan lakukan itu lagi, Kay.” Tukasnya, membiarkan matanya menatap Kayden sejenak sebelum mengalihkan pandangannya lagi.


Kayden mengerutkan dahinya karena bingung dan sedikit terkejut dengan pengakuan istrinya. Lantas ia bertanya, “Lakukan apa?”


“Meninggalkan surat dan kau pergi tanpa sepengetahuanku,” ujar Gwen muram, nyaris tidak bisa menahan diri.


“Dan kau tidak menyukainya?”


“Tidak,” kata Gwen serak sambil menggelengkan kepalanya. “Aku tidak suka,” tambahnya, bibirnya sedikit bergetar, menahan terbitnya air mata.


“Kalau begitu, aku sungguh minta maaf,” kata Kayden lembut. “Aku tidak akan mengulanginya lagi.” Kemudian, dia mendesah berat, matanya dipejamkan saat dia berusaha mengendalikan diri. “Mandilah, segarkan tubuhmu,” gumamnya muram. “Aku akan memesan makan malam untukmu.”


“Aku belum lapar, Kay,” sahut Gwen pelan. “Setelah mandi aku ingin tidur,” tambahnya sembari melewati Kayden untuk menuju ke kamar mandi. Langkahnya gontai, lelah melumasi sekujur tubuhnya, bahkan kini telah mengkontaminasi seluruh jiwanya.


Kayden yang sepintas melihat wajah letih istrinya, ia tidak mendebatnya. Pria itu membiarkan Gwen melakukan apa yang diinginkannya. Ia pun berjanji pada dirinya sendiri, akan sedikit demi sedikit mengubah sikapnya agar Gwen tidak terluka karena dirinya.


***

__ADS_1


Kini, Kayden dan Gwen merebahkan tubuh mereka di tempat tidur, setelah sebelumnya keduanya membersihkan diri, mengganti pakaian mereka dengan baju tidur. Posisi tidur mereka pun saling membelakangi satu sama lain dengan pikiran yang sama-sama berkecamuk.


“Kau belum tidur?” Kayden memberanikan diri bertanya sebab mendengar helaan napas kasar Gwen berulang kali.


“Aku tidak bisa tidur,” jawab Gwen muram. “Padahal aku sudah mengantuk dan—” Gwen tidak melanjutkan kalimatnya karena ia tersentak, merasakan uluran lengan kiri Kayden sebagai bantalan di bawah tengkuknya.


“Pejamkan matamu, Gwen,” kata Kayden lembut sehingga membuat tubuh Gwen terpaku karena deru napas suaminya terasa hangat, menyapa kulit lehernya. “Tapi sebelumnya, aku ingin mengungkapkan sesuatu kepadamu dan kau cukup mendengarkan saja.”


Gwen mengernyit, kemudian membatin, “Selalu saja memerintah.”


“Aku minta maaf tentang semalam,” ujar Kayden sungguh-sungguh. “Aku tidak bermaksud membuatmu marah. Jika kau tak menyadarinya, aku juga gusar. Jujur,” jedanya. “Aku cemburu saat kau mengingat ataupun menyebut nama Rainer, terlebih lagi aku cemburu pada semua pria yang mendekatimu, Gwen.”


Dalam diam, Gwen terkejut mendengar kejujuran suaminya. Ia ingin bertanya, tetapi mengurungkan niat tersebut tatkala mendengar suara Kayden melanjutkan kalimatnya.


“Aku tidak benar-benar marah padamu,” katanya. “Aku marah pada diriku sendiri karena kehilangan kendali seperti itu, sampai-sampai aku tidak mempunyai keberanian diri menatap wajahmu pagi ini. Jadi sebelum kau terbangun, kuputuskan menulis surat dengan tergesa-gesa. Sungguh …” lirihnya. “Sekali lagi, maafkan semua kesalahanku yang menyakiti hatimu. Aku terlalu mencintaimu, Gwen ….”


“Kay …” Gwen membalikkan tubuhnya sehingga tatapan mereka bertemu, dan hanya menyisakan jarak beberapa senti saja. Ia sudah tak sanggup menahan gejolak akan siksaan oleh rasa penyesalannya. Maka dari itu, jemarinya terangkat menyentuh lembut pipi suaminya. “Selain tampan dan juga tidak peka, ternyata kau sungguh bodoh,” katanya, diakhiri seulas senyuman.


***


Hai, hai, hai, Readers ....😉


Akhirnya Dhi nambain bab nya, kan?


Gimana, apa kalian masih semangat dan penasaran dengan cerita mereka selanjutnya?


Sampai di Bab ini, mungkin kita bisa metik pelajaran ya...


Bahwa, kejujuran dan keterbukaan dalam menjalin suatu hubungan, swangat pwenting lho...😁


Emang sih ... krikil-krikil dalam masalah asmara, sebenarnya hal biasa. Akan tetapi, tinggal pinter-pinter kitanya menyikapi secara dewasa. Jangan seperti Gwen yang maunya dimengerti. Lahh...emangnya si Kay cenayang, bisa baca pikiran biniknya 😁😁😁


Yaa....tapi begitulah cinta. Biarkan si Kay mencintai Gwen dengan caranya sendiri 😊


Dhi harap, kalian masih enjoy yaa baca Kayden dan Gwen 😘


Terima kasih, Readers ... 😍😍😍

__ADS_1


__ADS_2