Menyentuh Hatimu

Menyentuh Hatimu
Lepas Kendali


__ADS_3

Setelah empat puluh menit untuk bersantai dan berlama-lama menikmati makan malam, mereka kembali berjalan. Masih di kawasan seputaran Notting Hill, Kayden memutuskan menunjukkan sebuah pasar di Portobello Road.


“Jangan jauh-jauh dariku,” Kayden memperingatkan ketika mereka berbelok di sudut menuju kios yang berjejer di sepanjang jalan dengan lautan manusia.


Gwen mengangguk serius sambil memegangi tangan Kayden erat-erat.


Mereka belum kembali ke hotel sepanjang hari. Jadi, Gwen masih mengenakan dress biru muda sederhana, dan satu-satunya aksesoris adalah tas kulit hitam kecil yang tersampir pada tali panjang serta tipis di bahunya. Isinya pun hanya lipstik murahan sehingga orang yang akan mencopetnya dipastikan kecewa.


Mereka mengeluyur di sepanjang deretan kios yang digantungi pakaian vintage dan kerajinan tangan. Sejenak, bola mata Gwen berpendar oleh pesona penuh gairah saat melihat miniature Big Ben, kamera polaroid antik hingga boneka beruang Paddington yang tampak begitu menggemaskan.


Terlintas dibenaknya yang terpana bahwa orang-orang dapat membeli barang-barang antik di sini. Lantas, Gwen akhirnya memutuskan mampir di satu kios aksesoris, mengamati sesuatu yang menarik perhatiannya.


“Kay, apa kau bisa meminjamkan uangmu padaku?” tanya Gwen ragu-ragu. “Aku tidak sempat menukarkan uangku, dan ingin membeli ini.”


“Jam tangan?” Kayden bertanya, suaranya terdengar lembut.


“He um,” Gwen mengangguk. “Jam tanganku tertinggal di rumahmu, Kay,” dia menjelaskan.


Sejenak, Kayden menatapnya sambil mengernyit. “Kau bercanda, kan?” akhirnya dia bertanya. “Kau serius ingin membeli jam tangan murahan ini?”


“Aku tidak bercanda, Kay!” tegas Gwen. “Walau menurutmu murahan, tetapi ini begitu antik dan terlebih lagi aku sangat menginginkannya. Harganya murah,” dia menambahkan dengan cepat ketika Kayden menggeleng-geleng.


“Gwen, jika kau menginginkan jam tangan,” kata Kayden datar, “ayo, kita cari toko perhiasan dan aku sangat senang hati membelikannya untukmu. Yang asli, bukan jam tangan rajut seperti ini,” tambahnya, melirik mengejek ke arah kios aksesoris.


Mata Gwen membelalak mendengar cemoohan itu, kemudian menyanggahnya dengan tidak sabar. “Oh, kau jangan meremehkannya,” katanya. “Walau tali jam tangan ini rajutan, tetapi terlihat etnik. Benar-benar fashion tahun ini, Kay,” tambahnya. “Dan tentu kau jangan takut. Besok akan kubayar setelah aku menukarkan uangku ke dollar.”


“Ini bukan tentang uang, Gwen. Tapi, kan—” Kalimat Kayden terhenti tatkala Gwen lebih dulu membuang wajahnya ke arah si penjual.


Wanita itu akhirnya tawar-menawar dengan si penjual, menurunkan harga selagi ada kesempatan. Kayden menghela napas, membiarkan dirinya menyaksikan seorang wanita yang ia nikahi ini, dengan cepat mengimbangi si penjual dalam tawar-menawar yang sulit.


Namun, Gwen menikmatinya. Terlihat dalam binar mata indahnya saat ia menoleh ke arah Kayden. “Well,” katanya cepat. “Kami sudah setuju.”


“Berapa?” tanya Kayden malas sembari berdiri dan bersedekap dengan kaki disilangkan.

__ADS_1


“Dua dollar saja,” jawab Gwen penuh kemenangan.


Kayden tersenyum kecut. “Good job,” dia memuji. “Meskipun, tawar-menawarnya alot sekali.”


Gwen menyunggingkan senyumnya sebelum ia berkata, “Pada akhirnya aku yang menang, bukan?”


Kayden tidak menjawabnya, tetapi ia menggeleng-gelengkan kepalanya. Perlahan dia menguraikan lengan untuk merogoh saku celana. Kemudian, seolah-olah kewibawaannya sebagai pria berkurang bila membiarkan seorang wanita menutup transaksi, dia berbalik ke arah si penjual dan menyerahkan dua dollar.


Si penjual menerima uangnya, lalu menyerahkan sesuatu kepada Kayden yang membuatnya harus berjuang mengenyahkan kengerian dari wajahnya.


“Ini memang jam tangan,” batin Kayden. “Tapi—” Kayden mengernyit tidak sabar karena melihat jam tangan dengan tali rajutan lebar warna merah biru menyala, dan jarum jamnya sendiri berupa tangan Hello Kitty.


Gwen bahkan tidak memilih jam tangan dari merek berkelas seperti wanita pada umunya dengan bersuamikan seorang milliuner.


“Ya, ampun …” gerutu Kayden tak percaya sembari menggelengkan kepalanya. “Kau lebih memilih jam mainan ini!”


“Ini kan, antik dan lucu,” kata Gwen, mengulurkan lengan kirinya sehingga Kayden bisa memasangkan jam tangan tersebut di pergelangan tangannya sambil mengerucutkan bibir, “Apakah waktunya sudah tepat?” tanyanya, begitu Kayden selesai.


Kayden mengulurkan lengannya ke depan, mengecek Rolex emas murni asli miliknya, lalu melihat waktu yang ditunjukkan jarum jam Hello Kitty dan meringis. “Sudah tepat.”


“Karena itukah kau menginginkannya?”


“He um,” Gwen mengiyakan. “Dan aku juga menyukainya,” tambahnya, giginya yang putih menggigit bibir bawahnya yang penuh ketika ia memandang polos ke arah Kayden. “Dulu pertama kali Rainer—” Karena ia menyadari ada kesalahan dalam kalimatnya, ia mengulum bibirnya ke dalam untuk membungkam mulutnya. “Kau bodoh sekali, Gwen! Mengapa kau harus menyebut nama pria sialan itu,” batinnya.


Kayden menatapnya tajam bersamaan dengan rahangnya yang mengeras, sebab ia tidak menyukai nama pria itu jika disebut oleh bibir istrinya. “Kau Nyonya Kim yang suka memanas-manasiku,” tuduhnya.


Gwen mengerutkan dahinya bingung sebelum ia bertanya, “Maksudmu?”


Kayden menggertakkan giginya, tidak menyukai pertanyaan tersebut. Dan ketika ia ingin membalas pertanyaan lebih kejam lagi dari pada itu, tiba-tiba seseorang tanpa sengaja mendorong Gwen dari belakang, membuatnya maju selangkah ke arah suaminya. Lantas, secara naluriah lengan Kayden terulur untuk memeluk melindunginya.


Tubuh mereka bersentuhan. Gairah berpijar bagaikan listrik di sekujur tubuh keduanya. Gwen menggeletar, sedang dada Kayden kembang-kempis dengan keras, berjuang menghirup udara.


“Kita sudahi jalan-jalan kita,” kata Kayden serak. “Ayo, pergi dari sini!”

__ADS_1


Gwen tidak mendebat, malahan membiarkan Kayden merangkulnya di bawah lekukan lengan yang posesif, dan mereka pun menerobos kerumunan orang-orang untuk menuju stasiun terdekat.


***


Kereta yang mereka naik tampak begitu padat. Gwen berdiri dengan punggung bersandar ke dinding logam di dekat pintu. Sedangkan Kayden berdiri di depannya, sebelah tangannya ditopangkan pada pegangan, sementara tangan satunya melingkari pinggang istrinya itu. Kayden tidak berbicara dan Gwen juga mengatupkan bibirnya. Akan tetapi, ia bisa merasakan ketegangan terbangun di antara mereka ketika kereta panjang itu meliuk-liuk menuju perhentian mereka.


Pada saat mereka turun, Gwen sulit bernapas. Wajah Kayden tegang—tidak tersenyum sama sekali ketika mereka naik eskalator ke permukaan jalan.


Hotel keduanya beberapa langkah jauhnya. Di sana, mereka harus naik lift bersama beberapa orang yang berpasang-pasangan. Kayden dan Gwen tidak berbicara sepatah katapun untuk meredakan sesuatu yang berdenyut di antara mereka.


Kayden berdiri sangat dekat di sampingnya, setengah memutar ke arahnya sehingga Gwen bisa merasakan kehangatan napas pria itu di pipinya. Sejenak, napas wanita itu terhenti saat pandangan mereka bertubrukan, dan sepasang manik hitam berkilat-kilat yang seolah mengirimkan gelombang panas.


Tiba-tiba Gwen merasakan sang suami jauh di dalam dirinya lagi. Ia sangat tahu bahwa Kayden saat ini amat sangat marah padanya. Sebuah nama seseorang yang seharusnya tidak terlontar dari bibirnya, membuat kehangatan kebersamaan mereka berjam-jam yang lalu hilang seketika, tergantikan oleh suasana yang dingin dan Gwen pun menyadari dirinya tak menyukai situasi ini.


Gwen mengumpat dalam hatinya sambil memalingkan wajahnya cepat-cepat. Mulutnya mengering, jantungnya berdebar dalam campuran penyesalan dan kegelisahan.


Beberapa detik kemudian, tanpa Gwen sadari dirinya telah melewatkan sisa perjalanan pendek ke lantai kamar mereka. Ia terus saja menunduk agar rambutnya bisa menyembunyikan rona yang membakar pipinya.


Saat mereka melangkah ke koridor, Kayden meraihnya lagi, menariknya sepanjang karpet tebal abu-abu menuju kamar mereka. Dia tidak berhenti sampai melangkah ke kamar tidur, tempat Kayden akhirnya melepaskan Gwen. Cepat-cepat pria itu menutup pintu, lalu bersandar di sana. Matanya seketika terpejam, dadanya naik turun oleh helaan napas tegang.


“Ka-kay,” Gwen akhirnya memberanikan diri memanggilnya. “Maafkan aku, jika—” Tiba-tiba keberanian wanita itu menguap, tidak melanjutkan kalimatnya saat melihat Kayden yang langsung membuka matanya. Lantas, Gwen pun melangkahkan kakinya ke belakang karena terkejut melihat sorot membara di sana.


“Kayden!” Gwen terkesiap ketika pria tersebut berjalan cepat ke arahnya, kemudian membuka kancing depan gaunnya dengan kasar. “Hentikan, Kay!” pintanya sambil memegang kuat lengan suaminya untuk mencoba menghempaskannya. Namun, Gwen tidak berdaya karena tenaga Kayden lebih kuat dari dirinya.


Kayden yang benar-benar lepas kendali, ia tidak mendengar permohonan Gwen. Pria itu malah semakin merobek kain tersebut hingga sebagian lekuk tubuh istrinya terlihat jelas.


Ini sungguh tidak benar. Seharusnya seorang suami harus memperlakukan istrinya dengan lembut, bukan kasar seperti sikap Kayden sekarang, pikir Gwen.


Gwen tidak ingin harga dirinya harus direndahkan seperti ini oleh suaminya sendiri. Jadi, masih memakai flatshoes berwarna biru muda, ia langsung menginjak kuat kaki Kayden berbalut sepatu hitam sehingga pria tersebut berdesis kesakitan, lalu menarik tubuhnya sedikit ke belakang.


Dan sepersekian detik, dengan deraian air mata, Gwen langsung melayangkan tamparan di pipi kanan Kayden. Lantas, ia berteriak, “Aku bukan jalang, camkan itu!”


Kayden tersentak. Tangannya mengusap pipinya yang terasa panas akibat tamparan keras istrinya.

__ADS_1


“Maaf,” kata Kayden parau, setelah jeda yang panjang. “Aku sudah berperilaku kasar kepadamu seperti—” Dia terdiam, rupanya kehilangan kata-kata. Rahangnya langsung menegang karena muak pada diri sendiri. “Aku minta maaf,” tukasnya. Tanpa menoleh sekilas pun ke arah Gwen, pria itu berjalan cepat ke kamar mandi dan mengurung diri di dalam sana.


__ADS_2