
Mendengar itu Kayden langsung menghentikan langkahnya. Dia membalikkan ledakan penuh amarah pada Gwen ketika berputar menghadap istrinya. “Apa maksudmu?” tanyanya.
“Aku melihatmu bersama wanita lain!” sembur Gwen.
“Apa?” Giliran Kayden yang mengernyit bingung. “Kapan?”
“Hari ini, tepatnya di tangga Ritz Carlton Hotel.” Dengan rasa jijik ia melanjutkan, “Jadi jangan berani-beraninya kau lah yang paling benar di sini, seakan-akan aku lah yang tidak bermoral dengan menuduhku bertemu Rainer. Padahal kau sendiri tidak lebih baik!”
Kemudian, seketika itu pula ia berharap telah menahan lidah bodohnya saat melihat ekspresi Kayden—amarah dahsyat digantikan kecerdasan tajam.
Dan karena marah pada dirinya sendiri, Gwen akhirnya berbalik memunggungi suaminya. “Pergi dari sini!” desaknya, memecah keheningan baru yang mencengangkan. Ia berharap bahwa pengusirannya akan membuat pria itu teralihkan.
Namun, sayangnya itu tak mungkin. Kayden malah berjalan mendekati Gwen.
“Itu masalah sebenarnya, kan? Semuanya ini gara-gara itu, kan?” cerca Kayden. “Bukan tentang kau dan Rainer, melainkan aku dan wanita lain yang sempat kau lihat tadi.”
Gwen menggertakkan giginya sebelum ia kembali memerintah Kayden, “Cepat kau ke luar dari sini!”
“Tidak, sampai aku mendengar kebenaran dari bibirmu!”
Gwen dapat merasakan sosok Kayden berdiri tepat di belakangnya. Tiba-tiba saja saraf-sarafnya tersengat, hatinya pedih, dan air matanya membakar tenggorokannya karena ia sangat ingin berbalik dan menghambur ke arah suaminya. Namun, dia tidak ingin melakukannya sebab ke egoisan masih menyelimutinya.
Tak disangka, sepersekian detik Kayden memegang ke dua pundak istrinya, membalikkan tubuh Gwen menghadap ke arahnya, kemudian menariknya ke dalam pelukan sehingga ia dapat mendekap erat Gwen sementara wanita itu meronta untuk membebaskan diri.
“Lepaskan aku!” seru Gwen.
__ADS_1
“Tidak,” kata Kayden, mengencangkan pelukan. “Sekarang, aku menginginkan kebenaran.” Dia bersikeras. “Apakah kau pernah menemui Rainer sejak menikah denganku?”
Rasanya Gwen ingin berbohong dan berteriak ‘ya’ karena tahu hal itu akan menyakiti Kayden. Tidak peduli bagaimana perasaan Kayden saat ini, Gwen tahu ia masih memiliki kekuatan untuk menyakitinya dengan menggunakan Rainer.
Namun, Gwen tidak bisa berbohong karena ia sudah muak dengan kebohongan. “Sudah kubilang, aku tidak menemuinya!” bentak Gwen.
“Kalau begitu, apakah kau cemburu dengan wanita yang kau lihat tadi sehingga kau pergi begitu saja tanpa bertanya padaku dan mendengarkan penjelasanku?” desak Kayden.
“Sebelumnya aku sudah memperingatkanmu, Kay,” kata Gwen sambil meronta dari pelukan Kayden yang semakin erat, dan sayangnya usahanya sia-sia. “Aku akan meninggalkanmu begitu saja, jika aku memergokimu bersama wanita lain.”
“Bukan jawaban itu yang ingin ku dengar. Aku—”
“Aku harus melihatmu diam-diam bertemu wanita berpakaian seksi itu dan terang-terangan di depan mataku dia mencium pipimu!”
“Itu tidak penting. Kau bertemu dengannya, aku melihatmu, dan sekarang aku tidak bisa hidup bersamamu lagi.” Gwen mencoba menjauhkan diri dari suaminya.
“Tidak bisa!” seru Kayden. “Kau harus merasakan ini ….” Tiba-tiba Kayden mencium bibir Gwen tanpa ampun dalam kobaran gairah sehingga melemparkan istrinya itu ke pusaran hasrat yang tak bisa dibendungnya, dan tidak peduli seberapa hebat ia menyakiti wanita tersebut. “Ayo, katakan padaku bahwa kau mulai cemburu dengan wanita itu. Jika kau tak menjawabnya, jangan harap aku akan melepaskan bibirmu begitu saja—”
“Ya, aku cemburu jika melihatmu bersama atau berdekatan dengan wanita lain!” Gwen berteriak, melepaskan semua beban berat yang mengganjal dihatinya sedari tadi. “Apakah kau mencium wanita itu sepanas ini?” dengus Gwen ketika Kayden menarik diri.
Sebenarnya, Gwen bermaksud menyindir dengan mengatakan itu, tetapi dampaknya hanya membuat Kayden mengulum bibirnya ke dalam menahan senyumnya. Kayden mengalihkan tatapannya dari mata Gwen yang penuh tuduhan ke bibir istrinya, tempat bibir bawah wanita itu berdenyut karena dahsyatnya ciuman panas yang diberikannya.
“Wanita itu bernama Ava,” kata Kayden lembut. “Ava tidak bisa merasakan gairah terhadapku. Seperti ini,” tambahnya lembut, mengulum bibir bawah istrinya yang berdenyut dengan begitu sensual sampai-sampai Gwen mengerang oleh kenikmatan yang dibencinya. “Sementara kau, Sayangku, bisa merasakannya karena kau menginginkanku dan aku menginginkanmu. Kau milikku dan aku milikmu.”
Dan Kayden bertekad membuat Gwen menghadapi kebenaran itu dengan menahan bibirnya hanya beberapa senti dari bibir Gwen. Ia kemudian menunggu sampai Gwen tidak tahan lagi dengan pesona mematikan suaminya sehingga wanita itu terpaksa bereaksi.
__ADS_1
Kayden berhasil dan mengetahuinya. Cara Gwen mengangkat tangan serta memeluk lehernya, menegaskan hal itu. Jemarinya yang dibenamkan ke rambut gelap Kayden agar bisa membiarkan bibir Kayden memagut bibirnya sendiri, begitu kentara. Dan cara tubuh ramping Gwen mulai menggelatar hebat pada tubuh Kayden yang keras jelas menegaskannya.
Sebuah keharusan menggunakan segenap tenaga untuk menghentikan ciuman dan menjauhkan Gwen darinya menjadi penegasan terakhir.
“Aku membencimu, Kay,” bisik Gwen menahan geram.
“Benci tapi cinta,” kata Kayden lambat-lambat, mengejeknya dengan sorot mata penuh kemenangan. “Kebencian memiliki kebiasaan jelek untuk menguasai segalanya. Bahkan cinta, pada akhirnya. Sekarang, ayo ikut aku,” dia menambahkan dengan arogan yang memunggugi Gwen. “Kita pulang ke rumah.”
“Tidak mau!” Gwen memprotes dalam semburan emosi yang benar-benar baru saat kengerian mendengar ucapan pria itu menjalarinya. “Aku tidak akan kembali padamu sebelum kau mengatakan siapa wanita itu dan kau mempunyai hubungan apa dengannya.”
Kayden menghela napas lelah sebelum ia memutar tubuhnya ke arah istrinya. “Wanita itu punya nama, Gwen …” Ia mengoreksi. “Namanya adalah Ava—”
“Masa bodoh dengan namanya. Aku tidak peduli!”
“Tentu kali ini kau harus peduli,” ujar Kayden. “Maka dari itu kau harus ikut aku untuk mengetahui kebenarannya,” Kayden bersikeras.
“Tapi kenapa?” seru Gwen. “Kenapa aku harus mengikutimu untuk mengetahui kebenarannya? Kau bisa saja menjelaskannya di sini. Lagi pula, kau tahu aku adalah boneka mainanmu. Boneka yang bisa kau perdaya sesuka hatimu.”
“Aku tidak pernah menganggapmu seperti itu,” ujar Kayden sungguh-sungguh. “Kau tidak tahu apa yang ku inginkan, Gwen,” tambahnya muram. “Jadi, kau punya waktu hanya tiga menit untuk mengunci rumah ini, kemudian kita pulang ke rumah yang sebenarnya. Bahkan jika perlu, aku akan mengikatmu dan membungkammu untuk membawamu ke sana.” Nadanya terdengar mengancam.
Dan Gwen percaya bahwa Kayden akan melakukannya. Ada sesuatu dalam tekad sekeras baja yang tersirat dalam ekspresi tegang Kayden, seakan memperingatkan Gwen bahwa dia akan melakukannya.
“Tiga menit,” ulang Kayden ketika Gwen hanya berdiri di tempatnya, mencoba mencari tahu apa yang pria itu rencanakan terhadapnya.
Namun, sayangnya tidak ada pilihan yang dapat menguntungkan wanita itu. Pada akhirnya Gwen menuruti perintah Kayden setelah sebelumnya ia menghentakkan kakinya karena kekesalannya terhadap sifat otoriter suaminya yang kembali muncul.
__ADS_1