
Seolah Kayden tahu bahwa Gwen mulai mengingat Rainer kembali, ia lantas berjalan angkuh ke arah Gwen dan berdiri di belakang wanita itu dengan sorot matanya yang tajam. Kayden lalu membalik tubuh Gwen dan mengguncangnya perlahan. “Demi Tuhan!” katanya sengit. “Aku tahu kau masih teringat Rainer! Tidak bisakah kau coba sedikit saja untuk melupakan dia?”
Bulu mata lentik Gwen kembali bergetar, dan sekilas pandangan sarat keputusasaan itu terungkap di hadapan Kayden. Ia merasa dicekam panas dan dingin, menatap kabur pria tersebut dari pandangan berkabut.
“A-aku …” Suara Gwen serasa tertahan ditenggorokannya. Dadanya kian menyesak seakan tidak ada udara yang melingkupi paru-parunya hingga dirinya kesulitan untuk berkata.
Tanpa aba-aba atau bahkan pemberitahuan terlebih dahulu, Kayden langsung menggendong Gwen dan berjalan ke ruang kerja yang letaknya bersebelahan dengan kamar tidurnya. Pria itu tak menghiraukan teriakan Gwen yang meronta dalam pelukannya untuk minta diturunkan.
Ketika sampai di ruang kerja Kayden, ia lantas menurunkan Gwen dikursi dan menghadapkannya di depan laptop. Kayden lalu menyalakan laptop tersebut, kemudian memberi paksa dokumen setebal tiga puluh halaman bertuliskan tangan di depan Gwen.
“Kau bisa mengetik, kan?” Suara Kayden terdengar datar dan dingin yang melihat Gwen bingung. “Nah, sekarang ketiklah dokumen ini! Aku membutuhkannya sebelum nanti sore.”
“Tapi—”
“Sementara aku akan turun ke bawah untuk mengambil sarapan kita berdua.” Kayden memberitahunya dengan suaranya yang masih dingin. Suaranya kali ini sungguh berbeda dengan suara lembutnya saat ia berbicara bersama Gwen di dapur tadi. “Kita tidak jadi sarapan di meja makan! Kita akan makan di sini saja sambil aku mengawasimu dan mengoreksi pekerjaanmu.”
“Apakah kita tidak bisa sarapan di meja makan saja?” tanya Gwen ragu-ragu. “Setelah itu, baru aku akan ke ruangan ini lagi untuk mengetik dokumen ini.”
“Tidak!” jawab Kayden datar dan singkat.
“Kau masih bekerja menjadi sekertarisku. Aku mengingatkanmu jika kau lupa hal itu,” imbuhnya penuh penekanan. Pria itu langsung melangkahkan kakinya meninggalkan Gwen di ruang kerjanya. Kayden tak memberi kesempatan pada Gwen untuk berbicara ataupun membela dirinya.
Sedangkan Gwen sendiri, ia sejenak terpaku dengan perubahan sikap Kayden yang kembali dingin. Hingga beberapa detik setelahnya, Gwen menarik napas panjang seolah dia kehabisan oksigen dan menghembuskannya secara perlahan.
Wanita itu lantas mengalihkan pandangannya ke luar jendela yang memang jaraknya tak terlalu jauh dari tempat duduknya. Dari atas sana, Gwen dapat melihat gerbang besi yang besar terkunci rapat untuk semua pengunjung, bahkan sekelompok kecil reporter yang mungkin sebentar lagi berkumpul di luar, mengingat berita surat kabar hari ini begitu sangat heboh.
__ADS_1
Pikiran Gwen saat ini berkelana karena kembali mengingat kejadian kemarin. Mulai dari kejadian Rainer meninggalkannya dan memilih menikahi Valerie cinta pertamanya, hingga kejadian bosnya yang sekarang berstatus menjadi suaminya. Walau ia sepenuhnya menyalahkan Kayden karena berhasil meyakinkan Rainer tak memilih menikahinya, Gwen mencoba menerimanya dengan berlapang dada. Setidaknya, satu tamparan yang dilayangkan pada pipi kanan Kayden semalam, sedikit membantu untuk mengeluarkan amarahnya yang sempat tertahan.
Tak hanya itu, Gwen telah membiarkan Kayden membangun kebohongan untuk paman dan bibinya. Ia juga telah membiarkan Kayden membawa Gwen ke rumah mewah pria itu, yang terbukti menjadi benteng pertahanannya.
Saat ini, Gwen baru tahu ternyata Kayden adalah pria paling penuh tekad bila sudah memutuskan sesuatu. Sejak kemarin, setelah Gwen resmi menikah dengan Kayden, pria itu telah mengambil alih, menuntut Gwen sepenuhnya mematuhi setiap permintaan dan perintahnya.
Dan jika pria itu menangkap basah Gwen melamun seperti tadi, Kayden akan menyadarkannya dengan geraman atau tindakan. Caranya mencoba menjauhkan pikiran Gwen dari Rainer sang adik tiri, nyaris kejam. Terbukti saat ini Kayden telah memerintahkan Gwen mengetik dokumen setebal tiga puluh halaman.
“Gwen!” Bentakan itu memenuhi telinga Gwen sehingga membuatnya berjengit, menggeletarkan sarafnya ketika ia memaksa matanya kembali fokus dan menemukan Kayden melototinya sambil memegang nampan berisi makananan juga minuman. Manik hitam Kayden menyorot bagaikan laser perak menembus dirinya, membakar sesuatu selain kekuatan kehadirannya.
“Jangan melamun!” perintah Kayden tegas yang meletakkan nampan berisi makanan itu di atas meja, kemudian menarik kursi dan duduk di samping Gwen. Dari samping, Kayden dapat melihat jelas kegugupan wanita itu di balik wajah cantiknya yang tanpa polesan make up. “Ayo, kita sarapan dulu. Dari semalam kau belum mengisi perutmu.”
Gwen mengernyit ketika dia melihat hanya ada dua buah sandwich di atas pring, tetapi piring itu sudah di raih Kayden terlebih dahulu. Tak ada sepiring sandwich lagi di atas nampan tersebut, yang ada hanyalah segelas susu, segelas air putih dan secangkir cappuccino.
“Aku akan turun ke bawah untuk mengambil sarapanku?”
“Tidak perlu.” Kayden menjawab singkat. “Ini sarapanmu!” Ia memberitahunya seraya memotong satu buah roti lapis itu menjadi empat bagian.
“Tapi itu hanya ada satu piring yang berisikan dua buah sandwich saja, Mr. Kayden. Jadi aku harus—” Gwen tak dapat melanjutkan kalimatnya karena Kayden langsung memasukkan potongan roti lapis itu ke dalam mulutnya sehingga Gwen membelakkan matanya. Dan dengan terpaksa ia mengunyahnya, karena roti lapis tersebut membuat mulutnya terisi penuh.
“Bukankah sudah ku katakan? Panggil saja nama depanku tanpa ada kalimat Mister di depannya.” Kayden mengingatkannya sambil mengunyah potongan sandwich lainnya setelah ia menyuapi paksa Gwen. “Mulai sekarang, kita akan makan sepiring berdua jika kita makan di dalam rumah.”
Gwen yang mendengar penuturan konyol Kayden, ia lantas menelan makanan dengan susah payah, dan mengerutkan dahinya untuk melayangkan protes. “Hei, Mister—” Gwen menggantungkan kalimatnya karena melihat mata Kayden yang melototinya. Seakan ada yang salah, ia mengoreksi kalimatnya sendiri. “Maksudku, Ka-Kayden,” katanya lirih di akhir kalimat.
“Ya, benar. Mulai sekarang kau harus membiasakan diri hanya memanggil namaku saja. Termasuk sekarang ini yang kita lakukan bersama. Makan pagi, siang, dan malam, kita hanya makan dalam satu piring.”
__ADS_1
“Tidak boleh!” seru Gwen tidak terima dengan perintah Kayden yang satu ini. “Bagaimana jika aku tak suka dengan makanan yang di sajikan di piring itu, sedangkan kau menyukainya? Bukankah itu akan menyulitkan kita untuk makan?”
“Aku sekarang adalah suamimu dan aku kepala keluarga.” Manik hitam Kayden menyorot tajam manik cokelat Gwen. “Sebagai suami dan kepala keluarga, aku tak menerima penolakan dari istriku sendiri,” ujarnya. “Lagi pula, aku tidak pemilih dalam urusan makanan. Apa yang kau makan, aku juga akan memakannya.”
“Termasuk misalnya jika aku ingin makan nasi dan garam, atau hanya roti tawar saja tanpa mentega ataupun selai?”
“Ya,” jawab Kayden singkat. “Bukankah sudah ku katakan? Aku bukan pemilih makanan. Dari kecil aku tidak rewel jika hanya ingin makan.”
Gwen sejenak bergeming memandang wajah Kayden yang menyesap secangkir cappucinonya. Ia membenarkan pernyataan Kayden tersebut. Bekerja sebagai sekertarisnya selama tiga tahun, Gwen sangat tahu bahwa Kayden memang tidak memilih dalam urusan makanan. Terbukti ketika dulu ia mendampingi pria itu menghadiri rapat bersama investor, Kayden menyuruh Gwen untuk memilih dan memesan makanan.
Dan setiap pagi sebelum Kayden datang, Gwen selalu menyiapkan secangkir cappucino hangat untuk pria itu dan meletakkannya di atas meja kerja ruangan kantornya. Maka tak heran, ia sangat tahu bahwa pria tersebut memang menyukai minuman itu.
“Kau sangat berbeda dengan, Rainer,” gumam Gwen dalam hati. “Rainer yang selalu banyak tersenyum dan pemilih dalam urusan makanan. Termasuk pemilih dalam urusan wanita yang bersanding dengannya,” pikir Gwen suram.
***
Hi, Readers ....
Gimana, sampai bab ini kalian masih tertarik baca Kayden Gwen, kan?
Dian Dhi pengen denger komentar kalian, nih ...😊
Semoga cerita Menyentuh Hatimu dapat menghibur kalian, yaa 😉
O ya, selamat menunaikan ibadah puasa ramadhan 1442H untuk kalian yang menjalankannya. Semoga amal ibadah kita dibulan yang penuh berkah ini, diterima Allah SWT. Aamiin 😊
__ADS_1